
Aurelie terbangun dari tidurnya.
"Apa tadi itu? Diriku sendiri, dia menyuruh aku pergi dari sini. Akan aku pikirkan nanti, masih malam. Aku harus tidur kembali." Pikir Aurelie.
Aurelie lalu tertidur kembali karena tidak tahan dengan kantuknya itu.
Angin malam berdesir pelan di sekitar Aurelie, mengirimkan getaran dingin yang menusuk tulang. Sesaat setelah Aurelie melangkah melalui gerbang, suasana berubah drastis. Hutan yang gelap tiba-tiba terganti dengan pemandangan yang tak terlukiskan.
Di hadapannya terbentang lautan api biru dan merah yang tak berujung. Cahaya menyilaukan memantul di permukaan api, menciptakan bayangan-bayangan menyeramkan pada wajah Aurelie. Aurelie merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tak berkesudahan.
"Apa aku sedang bermimpi lagi?" Pikir Aurelie.
Suara ******* dan rintihan terdengar dari kejauhan, menghantarkan ketakutan ke dalam hati Aurelie. Dia merasa gelisah dan lemah, tetapi juga penasaran.
"Mengapa aku berada di tempat ini? Mengapa aku dihadapkan dengan pemandangan mengerikan ini?" pikir Aurelie kebingungan bercampur aduk dengan ketakutan yang luar biasa.
Ketika Aurelie berjalan lebih jauh, dia melihat sosok-sosok yang berada dalam siksaan. Beberapa makhluk tampak seperti manusia dengan wajah yang dipenuhi ekspresi penderitaan, sedangkan yang lain memiliki bentuk yang tak terdefinisi. Mereka merintih dan berteriak, memancarkan aura putus asa yang paling mendalam.
Aurelie merasa cemas dan iba. Dia ingin tahu apa yang telah menyebabkan mereka berada di tempat itu dan apa yang mungkin menunggunya di masa depan. Pikirannya terus menerawang, mencari jawaban di tengah kegelapan dan api yang menyala-nyala.
Tiba-tiba, suara bergemuruh menggema di sekitar Aurelie, membuyarkan pikiran Aurelie. Sebuah siluet muncul di kejauhan, mendekatinya dengan cepat. Saat cahaya api melambung, wujud makhluk itu menjadi terlihat jelas.
Aurelie terkesiap ketika melihat wajah mengerikan makhluk tersebut. Telinga runcing, mata merah menyala, dan senyum jahat yang terpahat di wajahnya. Dia adalah penjaga neraka, makhluk yang telah mengawasi penderitaan dan hukuman di tempat itu.
__ADS_1
"Selamat datang di Lembah Kehancuran." ucap penjaga neraka dengan suara serak dan menggelikan.
"Inilah tempat bagi mereka yang harus menerima konsekuensi dari dosa-dosa mereka. Kamu punya banyak waktu untuk merenung tentang perbuatanmu." ucap penjaga neraka dengan suara serak dan menggelikan lagi.
Aurelie merasa kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau katakan. Dia hanya bisa mengikuti jejak penjaga neraka, mengarah ke arah yang belum diketahuinya, siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Aurelie berjalan beriringan dengan penjaga neraka, hatinya berdebar-debar dalam keadaan campur aduk antara ketakutan dan keingintahuan. Langkahnya yang terdengar gemetar seolah-olah teriring oleh denyut jantung yang semakin cepat.
Pemandangan di sekitarnya semakin mengerikan seiring mereka melangkah lebih dalam. Lautan api yang membentang tak terbatas mengeluarkan cahaya menyilaukan yang kontras dengan kegelapan sekitarnya. Bau hangus dan berdesakan membuat Aurelie merasa seperti tenggelam dalam kekacauan itu.
"Setiap api di sini mewakili penderitaan dan penyesalan. Setiap orang yang berada di sini membawa dosa dan kegagalan mereka. Mereka harus menghadapi akibatnya." penjaga neraka menjelaskan dengan nada datar pada Aurelie.
Aurelie tidak bisa menghindari melihat makhluk-makhluk yang merintih dalam siksaan. Beberapa dari mereka terbungkus dalam belenggu api, sementara yang lain berusaha lolos dari tangan-tangan api yang mencengkeram mereka. Wajah mereka tercermin rasa sakit dan penyesalan yang mendalam.
"Tapi mengapa saya di sini?" Aurelie akhirnya bertanya dengan suara gemetar. Dia merasa kebingungan dan cemas, mencoba mencari pemahaman tentang situasi yang tak terduga ini.
"Kamu di sini karena perbuatan-perbuatan mu sendiri, Aurelie. Setiap tindakan dalam hidup memiliki konsekuensinya sendiri. Dan di sini, kamu harus menghadapi kenyataan dari tindakan-tindakan itu." Ucap penjaga neraka itu.
Aurelie merasa paham bahwa dia harus menerima akibat dari tindakannya sendiri, tetapi rasa takutnya tidak pernah mereda.
"Apa Maksudnya? Apa aku baru saja mati?" Pikir Aurelie.
Aurelie melanjutkan perjalanannya bersama penjaga neraka, tiba-tiba Aurelie merasa terjebak dalam labirin kegelapan dan penderitaan yang tak berujung.
__ADS_1
Saat mereka melangkah lebih jauh, suara-suara mengerikan semakin nyaring, dan bayangan-bayangan menyeramkan semakin banyak. Aurelie merasa seolah-olah dia terjebak dalam mimpi buruk yang tidak ingin terjaga. Dia berharap ada cara untuk keluar dari tempat itu, meskipun dia tahu bahwa dia harus menghadapi segala hal yang datang, baik itu penderitaan atau kebenaran yang menunggunya.
Setelah berjalan beberapa saat, Aurelie dan penjaga neraka tiba di tempat yang terlihat seperti panggung besar di tengah lautan api. Di atas panggung, terdapat sosok yang duduk di takhta yang terbuat dari tulang dan api. Sosok tersebut mengenakan jubah hitam yang berkibar-kibar oleh angin panas.
"Selamat datang di hadapan Raja Penderitaan." kata penjaga neraka dengan suara rendah saat Aurelie dan dia berlutut di depan panggung itu.
Aurelie merasa getaran ketakutan dan hormat. Dia menatap sosok di atas takhta dengan kebingungan.
"Siapa kamu? Mengapa aku di sini?" tanya Aurelie dengan suara yang gemetar.
Sosok di takhta melihat Aurelie dengan mata yang terlihat tajam dan dalam.
"Aku adalah Raja Penderitaan, penguasa dari Lembah Kehancuran. Kamu di sini karena dosa-dosamu, Aurelie. Kamu akan menghadapi konsekuensi dari tindakanmu yang telah menyebabkan penderitaan bagi dirimu sendiri dan orang lain." Ucap sosok di takhta itu.
Aurelie merasa semakin cemas. Dia mulai merenung tentang segala dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan selama hidupnya. Dia menyadari bahwa dia tidak dapat menghindar dari kebenaran yang sekarang menghampirinya.
"Dalam tempat ini, kamu akan merasakan penderitaan sebagaimana yang kamu perbuat terhadap orang lain. Ini adalah tempat di mana roh-roh yang penuh dosa mendapatkan pelajaran berharga tentang arti dari penderitaan dan penyesalan." lanjut Raja Penderitaan dengan suara yang menggetarkan hati.
Aurelie merasa gemetar dan lemas. Dia ingin berbicara, ingin meminta pengampunan atau penjelasan lebih lanjut, tetapi kata-kata seolah-olah terjebak dalam kerongkongannya. Dia tahu bahwa dia harus menerima apa yang akan datang, meskipun itu berarti menghadapi konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
Raja Penderitaan mengangkat tangannya dan memandang tajam pada Aurelie.
"Penderitaan akan menjadi gurumu, Aurelie. Kau akan belajar apa yang tak dapat kau pelajari di dunia yang lain. Apakah kau siap?" ucap raja penderitaan.
__ADS_1
Aurelie menelan ludah dengan susah payah dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah. Dia tidak memiliki pilihan selain menghadapi apa yang telah diatur untuknya di Lembah Kehancuran itu. Dia tahu bahwa perjalanan penuh penderitaan dan penyesalan baru saja dimulai, dan dia harus mempertanggungjawabkan setiap dosa yang pernah dia lakukan.
Bersambung...