
Setelah merasa semuanya sudah beres dan terselesaikan, Aurelie pamit kepada tim paranormal yang telah membantunya selama ia ada di kota itu dan juga tidak lupa ia berpamitan kepada para warga setempat. Ia terbang ke Amerika Serikat, selama sebulan ia mulai mendengar isu-isu dan cerita-cerita dari orang-orang di sekitarnya kalau di suatu tempat di Amerika Serikat yang tersembunyi di antara hutan-hutan yang menjalar dan sungai yang berliku, terdapat sebuah kota yang telah lama dilupakan oleh dunia. Namanya adalah Kota Bayangan. Seiring berjalannya waktu, Kota Bayangan semakin tenggelam dalam kegelapan dan misteri. Orang-orang yang masih mengingatnya, menyebutnya sebagai tempat yang tak pernah boleh disebutkan dalam doa-doa malam. Mereka hanya berbicara tentangnya dalam bisikan-bisikan diam di bawah cahaya bulan yang samar.
Kota Bayangan terletak jauh dari jalur utama. Jalan menuju kota ini telah tertutup oleh akar-akar pohon raksasa yang tumbuh seperti penjara alam. Seakan-akan alam itu sendiri ingin menyembunyikan kota ini dari mata dunia. Namun, seperti segala hal yang paling tersembunyi, rahasia Kota Bayangan tidak bisa terus terkunci selamanya.
Di malam itu, bulan purnama menerangi langit dan menjatuhkan bayangan panjang di sepanjang jalan bebatuan yang menuju Kota Bayangan. Di kejauhan, terdengar suara angin sepoi-sepoi yang seperti bisikan hantu. Hanya beberapa petir jauh di cakrawala yang mengejutkan keheningan malam. Semua tanda-tanda itu adalah undangan untuk mereka yang berani menginjakkan kaki di Kota Bayangan.
Di pinggir kota, sebuah rumah besar yang dulunya mewah, sekarang hanya puing-puing yang tersisa. Dindingnya terkulai, atapnya bocor, dan jendelanya pecah berkeping-keping. Rumah itu adalah tanda paling jelas dari kehancuran yang pernah melanda Kota Bayangan.
Pada saat itu, Aurelie yang merasa tertarik dan terpanggil pergi dengan sebuah mobil tua dan berhenti di depan reruntuhan rumah tersebut. Aurelie dengan mata penasaran melangkah keluar dari mobil tua itu, ia kini berprofesi sebagai seorang jurnalis yang datang ke Kota Bayangan untuk mengungkap misteri yang telah lama terkubur di dalam bayangan kota itu. Dia merasa seakan-akan ada sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang tak bisa dia tolak. Matahari terbenam, dan kota itu pun menjadi semakin gelap.
Aurelie menghela nafas dalam-dalam dan melangkah ke dalam rumah yang hancur. Dia tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai, dan dia harus bersiap untuk menghadapi segala misteri yang akan diungkap di Kota Bayangan.
...----------------...
Aurelie berhati-hati melangkah melalui lorong-lorong gelap dalam rumah yang hancur itu. Langkah kakinya menghasilkan suara gemeretak di bawah puing-puing yang terbujur kaku. Keadaan rumah itu seolah mencerminkan nasib kota itu sendiri, penuh dengan kesedihan dan kelabu.
Sinar bulan masuk melalui jendela pecah, membentuk bayangan-bayangan aneh di dinding. Aurelie mengamati catatan-catatan yang tertinggal, foto-foto yang kusam, dan benda-benda pribadi yang ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah tinggal di rumah itu. Semua itu adalah saksi bisu dari masa lalu yang terlupakan.
__ADS_1
Aurelie tahu bahwa kisah itu harus diungkapkan. Dia ingin menghadirkan kembali Kota Bayangan dalam ingatan dunia, meskipun itu berarti mengungkap kisah-kisah menakutkan yang telah terkubur dalam kegelapan.
Saat itulah, dia mendengar sesuatu. Suara langkah kaki yang halus, seperti desisan sepatu di lantai. Aurelie berbalik, mencari asal suara itu. Namun, dia hanya melihat kegelapan yang menghantui lorong-lorong rumah itu.
"Mungkin hanya imajinasi saya," gumam Aurelie pada dirinya sendiri.
Tetapi sesuatu di dalam hatinya memberitahunya bahwa kota itu menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang bisa dia bayangkan.
Dengan hati-hati, Aurelie melanjutkan penjelajahannya melalui rumah itu, berharap untuk menemukan petunjuk yang akan membawanya lebih dalam ke dalam misteri Kota Bayangan. Dia merasa bahwa ada banyak cerita yang belum terungkap, dan dia bertekad untuk mengungkapkan semuanya.
Saat malam semakin dalam, Kota Bayangan tetap berada dalam bayang-bayang kegelapan. Bagi Cahaya, perjalanan itu adalah awal dari sebuah petualangan yang tak bisa dia prediksi. Di bawah bulan purnama yang bersinar terang, dia merenungkan apa yang mungkin menantinya di Kota Bayangan.
Aurelie melanjutkan perjalanannya di dalam rumah yang penuh keheningan, hanya diiringi oleh desisan langkah kakinya yang melintasi lantai yang rapuh. Di setiap sudut, ruangan yang pernah indah kini hanya tinggal kenangan. Pemilik-pemilik rumah itu yang pernah menjalani kebahagiaan dan kesedihan, sekarang menjadi bagian dari sejarah yang hampir tenggelam itu.
Ketika Aurelie mencapai ruang tamu utama, dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Di atas meja yang berdebu, terdapat sejumlah foto-foto tua. Foto-foto itu menunjukkan keluarga-keluarga yang dulu tinggal di Kota Bayangan. Ada anak-anak yang tersenyum bahagia, pasangan yang berpelukan, dan mata yang terlihat penuh harapan.
Dia meraih salah satu foto itu dan mulai mengamatinya dengan seksama. Terlihat seorang anak kecil yang tersenyum manis, tetapi matanya tampak agak aneh, seolah-olah menyimpan rahasia yang dalam. Aurelie merasa bahwa ada lebih banyak di balik foto itu daripada yang terlihat pada pandangan pertama.
__ADS_1
Tiba-tiba, foto itu jatuh dari tangannya dan tergelincir ke lantai. Saat Aurelie mencoba mengambilnya, dia merasakan sesuatu yang dingin dan tak terlihat melewatinya. Suara bisikan lembut terdengar di telinganya, seakan-akan seseorang sedang berbicara padanya dari dalam bayangan.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan gemetar.
Namun, tak ada jawaban, hanya keheningan yang menyelinap kembali ke dalam rumah yang telah hancur itu.
Aurelie merasa terbingung dan terganggu, tetapi dia tidak akan mundur. Dia merasa semakin kuat bahwa dia harus menemukan kebenaran tentang Kota Bayangan, bahkan jika itu berarti harus menghadapi misteri yang lebih dalam dan menakutkan.
Dengan foto itu kembali di tangannya, dia berdiri dan melanjutkan penjelajahannya di dalam rumah yang kelam. Dia merasa bahwa ada banyak hal yang belum terungkap, dan dia bertekad untuk menggali lebih dalam untuk mengungkap misteri-misteri yang telah lama terkubur di Kota Bayangan.
Aurelie melanjutkan perjalanannya di dalam rumah yang tampaknya terabandoned ini. Penuh tekad, dia menyelusuri setiap sudut dan ruangan, merasa bahwa setiap benda yang tersisa memiliki cerita untuk diceritakan.
Tiba-tiba Aurelie terdiam sejenak, terkejut oleh kata-kata anak kecil yang berbisik di telinganya. Suasana di ruangan itu semakin suram, dan seketika bayangan anak kecil itu muncul dan semakin menakutkan.
"Siapa kau?" tanya Aurelie dengan suara gemetar.
Anak kecil itu hanya tersenyum dan kemudian berdiri, seakan-akan menghilang di dalam kegelapan. Aurelie mencoba mengejar bayangan itu, tetapi ruangan itu sekarang kosong, kecuali suara-suara gemeretak langkah kaki yang menghilang jauh di lorong gelap.
__ADS_1
Bersambung...👉