
Aurelie menemui para tetangga yang ada di sekitar rumah warisan keluarganya itu. Tetangga-tetangga yang ia temui di kota itu memberi isyarat aneh saat basemen disebutkan. Mereka memberi pandangannya yang cemas, beberapa di antara mereka bahkan menyarankan agar Aurelie tidak pernah masuk ke dalam Basemen itu. Namun, semakin diberi peringatan, semakin besar pula rasa ingin tahu Aurelie.
Pada suatu malam, ketika angin berdesir pelan dan kabut menyelimuti rumah, Aurelie mengambil senter dan memutuskan untuk menghadapi basemen itu. Dengan langkah ragu, ia menginjak anak tangga pertama menuju kegelapan yang belum pernah ia eksplor sebelumnya.
Rasa dingin langsung menyergapnya saat kakinya menginjak lantai basemen itu. Kelembaban udara membuat kulitnya berdengung, dan suasana gelap membuatnya merasa seakan-akan sedang berada di dunia lain. Cahaya senternya menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding, dan suara langkah kakinya bergema di ruang yang hening.
Di sudut ruangan, ia melihat sesuatu yang bergerak. Aurelie memutar senter ke arah itu, namun tidak ada yang terlihat. Hati-hati, ia melangkah mendekati tempat bayangan tadi, tetapi saat ia sampai di sana, tidak ada apapun. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena sensasi bahwa ia tidak sendirian di ruangan itu.
Dengan napas yang terengah-engah, Aurelie akhirnya memutuskan untuk kembali ke atas. Tetapi sebelum ia melangkah, ia merasakan sesuatu yang menyentuh lengannya dengan lembut. Ia berbalik dengan cepat, namun tidak ada yang ada di belakangnya. Kengerian mulai merayap di dalam dirinya, dan ia tahu bahwa basemen ini menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berlalu, dan rasa ingin tahu Aurelie terus membesar. Ia memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan kota untuk mencari tahu lebih banyak tentang sejarah rumahnya. Di sana, ia menemukan catatan lama yang mengungkapkan beberapa kisah mengerikan yang pernah terjadi di rumah tersebut.
"Jadi ini alasannya kenapa ayah dan ibu, bahkan nenekku tidak perna menceritakan tentang warisan turun temurun keluarga ini?" Pikir Aurelie.
Beberapa penghuni rumah sebelumnya dikabarkan menghilang secara misterius setelah memasuki basemen. Catatan itu mencatat bahwa suara-suara aneh sering terdengar dari dalamnya, dan bahkan ada yang mengklaim melihat bayangan-bayangan gelap bergerak di dalam ruangan tersebut.
Pada suatu hari, Aurelie bertemu dengan seorang tetua di kota yang menceritakan cerita tentang eksperimen gelap yang pernah dilakukan di basemen rumah itu. Katanya, seorang ilmuwan obsesif mencoba memanipulasi kekuatan gelap untuk menciptakan realitas baru. Namun, eksperimennya berakhir dengan tragis, meninggalkan jejak energi jahat yang masih berkeliaran di dalam rumah.
__ADS_1
Semakin Aurelie mendengar kisah-kisah ini, semakin ia merasa tertantang untuk mengungkap misteri yang ada di balik pintu basemen tersebut. Setiap kali ia berjalan di depannya, ia merasakan daya tarik yang kuat, seolah-olah suara-suara misterius itu memanggil namanya.
Sementara ia bertengkar dengar pikiran sendiri, Aurelie di kagetkan dengan nada panggilan telepon dari temannya Lisa.
[Lisa menelfon...]
"Halo." Ucap Aurelie.
"Kau dimana? Apa kau meninggalkan aku?" Tanya Lisa.
"Maaf, aku sangat penasaran dengan warisan turun temurun dari keluargaku. Jadi aku berangkat kesini setelah selesai bekerja. Jika kau mau, aku akan menunggu mu disini." Ucap Aurelie.
"Akan ku kirim lokasinya sekarang." Ucap Aurelie.
Aurelie kemudian mematikan panggilan teleponnya dan mengirim lokasinya pada Lisa.
Setelah menerima lokasinya, Lisa segera menyusul Aurelie. Setelah beberapa saat, Lisa pun tiba di lokasi. Karena hari sudah malam, mereka kemudian tidur di penginapan tidak jauh dari rumah warisan keluarga Aurelie.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan harinya, Aurelie dan Lisa pergi ke rumah warisan itu lagi. Lisa, merasa tidak nyaman di dekat rumah itu sejak semalam mencoba untuk menghentikan Aurelie. Lisa merasa ada sesuatu yang tidak wajar di rumah itu, dan ia merasa bahwa Aurelie sedang bermain-main dengan api. Namun, semakin Lisa berbicara, semakin besar rasa ingin tahu Aurelie.
Pada suatu malam yang gelap dan berangin, Aurelie akhirnya mengambil langkah pertama menuju basemen itu. Senter di tangannya bergetar saat ia mengarahkan cahayanya ke bawah. Ia menuruni tangga dengan hati yang berdebar kencang, merasa seolah-olah ia memasuki dunia yang berbeda.
Sesampainya di dasar tangga, keheningan yang menakutkan mulai menyelimutinya. Suara langkah kakinya terdengar berdenting di lantai yang dingin dan lembab itu. Aurelie berjalan mengelilingi ruangan itu, mencari petunjuk tentang apa yang pernah terjadi di sana. Tetapi semakin ia memperhatikan, semakin ia merasa bahwa ia tidak sendirian.
Bayangan-bayangan gelap bergerak di sudut-sudut ruangan itu, seolah-olah mereka memiliki kehidupan sendiri. Suara-suara bisikan samar terdengar di telinga Aurelie, dan rambut di lengan Aurelie berdiri tegak. Ia merasa seolah-olah ada kekuatan yang sedang mengamatinya, menilai niat dan ketakutan dalam hatinya.Saat senternya menyorot ke sudut ruangan itu, ia melihat sesosok bayangan yang terlihat lebih nyata dari yang lain. Aurelie memutar senter ke arah itu, hatinya mulai berdegup lebih cepat.
Tetapi ketika cahaya menyentuh bayangan tersebut, ia lenyap tanpa jejak. Kengerian semakin merasuki Aurelie saat ia menyadari bahwa ia mungkin telah terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia perkirakan. Dalam gelap yang mencekam itu, Aurelie merasa bahwa ada rahasia yang perlu diungkap tentang warisan turun temurun keluarganya itu. Meskipun itu berarti menghadapi kengerian yang tak terbayangkan di dalam basemen yang misterius itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurelie terus merasa tertantang oleh aura misterius yang mengelilingi basemen itu. Meskipun beberapa malam berlalu tanpa ia memasukinya lagi, rasa ingin tahu yang tak terbendung terus menggelayut di dalam pikiran Aurelie. Ia merasa seperti ada sesuatu yang ingin memberitahunya, suatu rahasia yang tersembunyi di dalam gelap yang mencekam itu.
Setiap kali Aurelie berjalan melewati pintu basemen itu, ia merasa ada getaran aneh yang berpulang dari dalam. Beberapa kali, ia mendengar suara gemuruh samar-samar, seperti suara langkah kaki yang jauh di bawah tanah. Namun, Aurelie berusaha untuk mengabaikan semua itu, mencoba memusatkan pikirannya pada hal-hal yang lebih nyata.
Namun, saat malam turun dan rumah menjadi sepi, panggilan dari basemen itu semakin kuat. Pada suatu malam, Aurelie tidak tahan lagi. Ia mengambil senter dan turun ke dalam gelap yang menyeramkan itu. Suara langkah kakinya memecah keheningan, menciptakan gema yang mencekam di dalam ruangan tersebut.
Aurelie berjalan mengelilingi ruangan basemen, senter di tangannya menerangi sekelilingnya. Tetapi semakin lama ia berada di sana, semakin ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Ia merasa seperti ada mata yang mengamatinya dari bayangan-bayangan gelap, dan suara-suara bisikan samar terdengar di telinganya.
__ADS_1
Bersambung...