
Angin malam berdesir melintasi kota City land, membuat daun-daun berderu dan menimbulkan rasa takut di kalangan penduduknya. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Cahaya biru misterius menyala di langit malam, membuat bintang-bintang terlihat begitu pucat. Di kamarnya yang kecil, Aurelie terbangun oleh gemuruh yang tak biasa. Aurelie merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan langkah hati-hati, dia melangkah ke luar kostnya. Aurelie terkejut bukan main dan apa yang dilihatnya membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Aurelie berlari ke luar kostnya dan bergabung dengan kerumunan orang-orang yang berkumpul di alun-alun kota.
"Ada yang tahu apa ini?" tanya Aurelie kepada seorang pria yang berdiri di dekatnya.
Pria itu menggelengkan kepala. "Tidak ada yang tahu, tapi ini pasti tidak seperti apa pun yang pernah saya lihat sebelumnya."
Warna-warna kusam menguasai seluruh pemandangan di kota, dan angin berdebu melintasi jalan-jalan.Seorang penduduk kota City Land yang sudah tua namanya Samuel, ia duduk di depan rumahnya yang retak. Wajahnya dipenuhi keriput, mencerminkan tahun-tahun kesengsaraan dan ketidakpastian. Ia mengingat cerita yang pernah diceritakan oleh kakeknya, tentang malapetaka misterius yang datang setiap beberapa generasi.
"Bisakah kita selamat kali ini?" gumam Samuel dalam hati. Dia merasa takut akan masa depan kota ini dan keturunannya. Tapi dalam hatinya, ia masih memendam harapan.
Aurelie melihat langit yang merah dan gelap, tidak seperti apa pun yang pernah dilihatnya sebelumnya. Bulan purnama yang berkilauan dengan warna merah darah mengambang di atas kota itu. Aurelie tahu bahwa ada sesuatu yang sangat salah, dan ia bertekad untuk menemukan jawaban.
Aurelie merenung sejenak, Gemuruh tanpa awan terus bergema, menggema di sekitar Aurelie, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam. Penduduk kota yang melintasi jalan-jalan berdebu tampak gelisah, mereka saling berbisik tentang tanda-tanda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Ada yang mencoba mengabaikan rasa takut mereka, tetapi kecemasan semakin merajalela.
...----------------...
Siaran Langsung Radio:
[Kemarin, hujan hitam misterius terjadi di kota City Land khususnya di kawasan balai kota City Land. Yang mengakibatkan kerusakan kurang lebih 2.500 hektar persawahan dan perkebunan di kota City Land bagian timur. Beberapa ahli berpendapat dalam curah hujan hitam misterius itu terkandung bahan kimia yang mengakibatkan kematian semalam. Pemerintah belum mengeluarkan laporan resmi dan malah memutuskan untuk melarang orang-orang untuk mengunjungi balai kota.]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurelie masuk ke dalam Balai kota tempat dimana patung Budha terkutuk di simpan. Aurelie memperhatikan patung itu dengan sangat teliti. Ia merasa ada sesuatu yang salah dan tidak benar dengan patung itu.
"Presentasi akan di lakukan di aula paviliun. Cepatlah!" kata seseorang.
"Astaga!" Ucap Aurelie.
Aurelie kemudian memanggil orang itu dan mengatakan sesuatu padanya mengenai patung itu.
"Permisi. Anda tidak boleh memajangnya secara terpisah seperti ini." kata Aurelie.
"Parah ahli sudah mengatur dan mengurusnya. Cepatlah datang ke auditorium." kata seseorang itu pada Aurelie.
__ADS_1
Aurelie kemudian tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah. Namun Aurelie merasa akan ada masalah jika penutup mata dari patung Budha itu di pisahkan dari patung itu.
"Semoga semuanya baik-baik saja." kata Aurelie.
Aurelie masuk ke dalam auditorium dan melihat begitu banyak orang didalam ruangan itu yang sedang mencari solusi untuk masalah mereka masing-masing akibat badai hujan hitam yang terjadi hingga membuat sebagian dari penduduk yang berprofesi sebagai petani dan pekebun mengalami kerugian yang sangat besar. Rata-rata mereka mengalami kerugian akibat fenomena aneh yang terjadi itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku belum perna mengalami ini sebelumnya." kata orang-orang di dalam ruangan auditorium itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" kata orang lainnya.
"Entahlah, kita tidak pernah tau.' jawab mereka.
Aurelie berjalan berkeliling ruangan itu sambil memperhatikan setiap orang yang ada dan mendengarkan setiap keluhan mereka dan percakapan-percakapan dari orang-orang yang hadir di balai kota itu.
Di tengah keramaian di ruangan auditorium itu, tiba-tiba salah satu dari orang-orang yang hadir berdiri dan tatapan mata yang kosong. Aurelie merasa ada yang tidak beres dengan orang itu, segera ia pergi menjauh dari orang itu.
Keributan mulai terjadi antara para masyarakat dan pemerintah di balai kota.
"Begini maksudku! Ayolah, apa ini terlihat masuk akal?" Teriak salah satu Masyarakat.
"Kami sedang menyelidikinya. Bisakah kalian semua tenang? Kami tidak bisa membantu kecuali jika tahu sedang menghadapi apa." kata salah satu pejabat pemerintahan di balai kota itu.
"Kalian hanya perlu menunggu!" jawab salah satu pejabat pemerintahan di balai kota.
"Ayolah! Ini sangat tidak masuk akal, sungguh sulit di percaya." kata salah satu masyarakat di dalam kerumunan itu.
Keributan yang luar biasa terjadi ruangan auditorium itu. perdebatan tiada henti antara masyarakat dan pejabat pemerintahan terus berlanjut.
"Nak Aurelie, jangan kemana-mana. Mereka akan membuat pengumuman. Mari kita tunggu dan dengarkan!" kata seorang wanita paruh baya sambil menarik tangan Aurelie.
Aurelie tidak punya pilihan lain selain bergabung dengan para masyarakat yang sedang mencari solusi untuk masalah dan kerugian yang mereka alami. Aurelie berdiri di tengah-tengah kerumunan masyarakat itu.
"Siapa yang tahu, berapa lama risetnya itu? Apa yang harus kita lakukan saat ini?" teriak salah satu masyarakat dalam kerumunan itu.
"Tolong kalian semua jangan marah! Bagaimana jika kalian semua duduk dan menunggu sebentar saja?" kata salah satu pejabat pemerintahan mencoba menenangkan situasi di ruangan auditorium itu.
__ADS_1
"Astaga! Yang benar saja. Ini tidak masuk akal!" ucap salah satu masyarakat.
"Hey, semuanya! Gubernur datang!" teriak salah satu pejabat pemerintahan.
Melihat gubernur datang masyarakat itu mencoba untuk tenang.
"Astaga, ramai sekali! Halo semuanya." ucap gubernur.
"Pak gubernur, ini sangat menyiksa kami. Ladang sudah menghitam." teriak salah satu masyarakat dalam kerumunan itu.
"Tolong jangan terlalu khawatir! Meski tidak sedap di pandang, hujan tidak merusak tanaman. Ini bukanlah apa-apa." jawab gubernur.
"Atas dasar apa, kamu mengatakan hal itu?" tanya seorang masyarakat.
"Aku sudah di beri arahan oleh para ahli yang sedang melakukan tes." jawab gubernur mencoba meyakinkan para masyarakat itu.
"Tes sudah di lakukan?" Tanya salah satu masyarakat lagi.
"Tentu saja! lagipula ini bukan saatnya mencemaskan hujan. Distrik kita harus memfokuskan perhatian pada revolusi industri dan pariwisata keempat. Aku yakin kalian semua sudah melihat patung itu di lobi balai kota. Orang-orang dari seluruh negeri akan berkunjung dan melihatnya sekilas. Dan kita harus bersiap." kata gubernur pada seluruh masyarakat.
"Apa maksudmu? sulit di percaya!" komplain salah satu masyarakat.
Tidak punya jawaban lain lagi, gubernur berpura-pura batuk dan mengatakan pada masyarakatnya kalau dia sedang tidak enak badan dan harus pergi meninggalkan mereka semua.
"Permisi. Paru-paru ku kumat lagi. Mohon tunggu sebentar!" kata Gubernur itu.
"Astaga!" kata para masyarakat.
Sementara perdebatan terjadi di ruangan auditorium. Seorang masuk kedalam ruangan auditorium dengan kondisi yang menyeramkan. Pria itu berjalan dengan Mata melotot yang seluruh matanya telah berubah menjadi putih, Pria itu masuk ke dalam ruangan auditorium dengan sebuah parang di tangannya.
"Uwaaaa!! Siapa kalian semua. Siapa semua monster ini?" teriak pria itu.
Pria itu baru saja di rasuki oleh roh-roh Jahat. Sehingga semua orang yang dia lihat dan temui berubah di pandangan. Semua orang yang dia lihat berubah wujud menjadi monster dan hantu bahkan hal-hal menakutkan dan mengerikan lainnya. Dengan mata yang berubah menjadi putih itu, membuat pria itu akan membunuh siapa saja yang dia temui dan lihat tanpa ampun.
"Pak, ada apa denganmu? Kendalikan dirimu." tanya salah seorang pejabat pemerintahan sambil berjalan mendekati pria itu.
__ADS_1
Seketika pria itu menebas leher pejabat pemerintahan itu dengan parang di tangannya. Kepala pejabat itu terlepas dari tubuhnya, dan darah muncrat keluar dan membuat suasana dalam ruangan auditorium itu seketika berubah menjadi lautan darah Karena banyaknya orang yang mati akibat terbunuh oleh orang-orang yang telah di rasuki oleh roh-roh Jahat itu.
Bersambung...