ALAM MAUT

ALAM MAUT
Aurelie Kembali ke City Land Dan Misteri Badai Hujan Hitam


__ADS_3

Setelah petualangan yang panjang dalam mengungkap misteri dibalik basemen rumah warisan turun temurun dari keluarganya. Kini Aurelie kembali ke kota City Land untuk melanjutkan kehidupan kesehariannya.


Aurelie tiba di kota dan turun dari bus. Ia kebingungan karena situasi kota yang terlihat sangat mencekam dan kota tampak sepi seperti tidak berpenghuni.


"Ada apa lagi ini? Apa yang terjadi? Aku hanya pergi beberapa hari dan apakah ada kejadian aneh lagi di kota ini?" Pikir Aurelie.


Sementara Aurelie dalam kebingungan seseorang datang dan menghampirinya.


"Nak, apa yang kau lakukan disini?" Tanya wanita paruh baya itu pada Aurelie.


"Aku baru saja tiba." Jawab Aurelie.


"Seluruh kota sedang panik karena hujan hitam kemarin. Semua orang telah berkumpul di balai kota. Untuk membahas rencana tindakan. Ayo kita pergi bersama." Ajak wanita paruh baya itu.


"Maaf tapi aku sudah punya rencana lain hari ini." Jawab Aurelie menolak ajakan wanita paruh baya itu.


"Tapi, sebaiknya kita harus pergi. Entah apa kita akan mendapatkan kompensasi atas kekacauan ini. Pasti menyenangkan jika anak muda sepertimu ikut bergabung. Ayo pergi bersama. Atau kita pergi bersama sekarang?" Ajak wanita paruh baya itu lagi.


"Tidak sekarang." Jawab Aurelie.


"Aku akan mentraktir mu makan siang dalam perjalanan pulang nanti. Mari kita dengarkan penjelasan mereka di balai kota, ya?" Ajak wanita paruh baya itu sekali lagi.


Akhirnya Aurelie menyetujui ajakan wanita paruh baya itu dan pergi ke balai kota.


...----------------...


BERITA UTAMA:


[Cuaca yang tidak terduga di City Land kemarin, menyebabkan kerusakan lalu lintas dan kerusakan perkebunan. Semalam seorang sopir taxi bernama Alex menabrak pagar pembatas. Dijalan utama city land dan sopir taxi itu tewas di tempat. Jumlah perkebunan terdekat yang rusak karena hujan juga meningkat. Polisi bilang mereka bertanya kepada badan riset lingkungan nasional untuk menentukan penyebab cuaca yang tidak biasa semalam.]


Aurelie dan wanita paruh baya itu mendengarkan radio yang di putar oleh supir taxi itu sepanjang perjalanan mereka menuju ke balai kota. Setelah 20 menit di dalam taxi, mereka akhirnya tiba di balai kota.

__ADS_1


[Perhatian... perhatian...!! Selamat pagi warga City Land. Sebentar lagi rapat akan di adakan di balai kota. Tentang hujan hitam kemarin. Kami tau kalian semua sibuk, tapi ini demi kota kita. Jadi, kehadiran kalian akan sangat di hargai. Rapat tentang hujan hitam akan segera di mulai.] Pemberitahuan dari ruang informasi balai kota.


Aurelie dan wanita paruh baya itu turun dari taxi dan berjalan menuju ke balai kota.


"Ayo nak Aurelie." Kata wanita paruh baya itu.


Saat Aurelie dan wanita itu hendak masuk ke dalam balai kota, langkah Aurelie terhenti di depan sebuah spanduk besar yang di pajang di depan kantor balai kota.


[FESTIVAL BUDAYA CITY LAND. PATUNG BUDHA PENGABUL HARAPAN.]


"Patung Budha???" Ucap Aurelie sambil menatap spanduk besar itu.


"Nak Aurelie, ada apa?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Tidak, aku hanya melihat spanduk ini." Jawab Aurelie.


"Oh, patung Budha itu adalah maskot kota kami bagian timur. Patung Budha itu akan di pajang disana. Kota ini membesar-besarkannya. Mereka berharap para wisatawan akan berdatangan." Ucap wanita paruh itu pada Aurelie.


"Iya, kau tidak tahu ya?" Jawab wanita paruh baya itu.


Sementara mereka bercakap-cakap. Seorang nenek tiba-tiba memanggil wanita paruh baya itu.


"Ibu Anum, kaulah itu? Astaga, bagaimana keadaan di tempatmu?" Tanya nenek tua itu.


"Keadaan di tempat kami, kacau sekali. Seluruh perkebunan menjadi gelap." Jawab Bu Anum.


Aurelie berjalan-jalan berkeliling di balai kota itu. Dan pergi mendekati spanduk besar itu untuk melihatnya lebih jelas lagi.


"Astaga ini sangat sulit untuk di percaya. Siapa yang akan Menganti rugi untuk semua kerugian ini?" Tanya nenek itu pada Bu Anum.


"Aku tidak menduganya." Jawab Bu Anum.

__ADS_1


"Aku juga." Kata nenek tua itu.


Aurelie meninggalkan wanita paruh baya itu dan nenek tua itu yang sedang bercakap-cakap di depan kantor balai kota. Aurelie berjalan masuk ke dalam balai kota. Saat ia masuk ke dalam, ia melihat sebuah patung Budha besar yang terpajang di dalam kantor itu.


"Kenapa patung ini ada di sini?" Pikir Aurelie.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kemudian Aurelie pergi ke kantornya, dia kantor Aurelie bertemu salah satu karyawan yang tidak senang dengannya. Aurelie tersenyum pada karyawan itu dan langsung pergi ke kamar mandi. Saat Aurelie keluar dari kamar mandi, karyawan itu sudah berdiri di luar tepat di depan kamar mandi menunggu Aurelie.


"Ada apa? Kenapa kau menatap aku seperti itu?" Tanya Aurelie.


"Kau selalu tersenyum, berlagak naif dan juga ramah. Tapi kau menghina dan meremehkan orang lain di belakang. Pikirmu aku tidak mengenal dirimu? Mulai sekarang, aku tidak akan pernah berniat untuk berdamai denganmu. Jangan perna bicara atau menyapa aku lagi. Mari kita buktikan, siapa yang akan keluar duluan dari kantor ini. Kau ataukah aku!" Ucap karyawan itu.


Aurelie menatap karyawan itu dengan penuh kebingungan.


"Apa?? Cepat bekerja!" Ucap karyawan itu dan pergi meninggalkan Aurelie.


"Astaga...!! Apa itu tadi. Sekarang aku mengerti, hari ini aku sadar akan satu hal. Nerakanya bukankah kost itu, atau kantor ini, ataupun kota ini. Tapi orang-orang di sekitarku." Kata Aurelie dalam hatinya.


Karena stres di kantor, Aurelie keluar dan pergi meninggalkan Kantornya. Saat iya membuka pintu keluar di luar sedang terjadi badai hujan hitam yang sedang ramai di bicarakan di kota sejak ia tiba.


Badai hujan hitam tengah melanda kota City Land. Dalam kegelapan dan gemuruh petir, Aurelie yang memiliki bakat khusus untuk meramal cuaca melihat hal itu dan merasa ada sesuatu yang sangat salah. Aurelie merasa ada kekuatan gelap yang mengintai di balik setiap tetes hujan yang turun.


Aurelie mengeluarkan payung kecil yang hanya pas untuk ukuran tubuhnya sendiri dan pergi di tengah-tengah sedang terjadi hujan yang tidak biasa itu. Saat Aurelie berjalan menjelajahi kota yang menyeramkan karena tidak seorangpun terlihat dan kota tampak seperti kita mati dan tampak sangat berbahaya itu, Aurelie terus berpikir tentang badai hujan hitam yang mengerikan dan tidak biasa itu.


Aurelie tidak berpikir kalau dirinya sedang dihadapkan pada bahaya yang mengancam nyawanya sendiri.


Seiring berjalannya waktu, badai hujan hitam itu semakin kuat, keadaan menjadi semakin sulit bagi Aurelie untuk berjalan melanjutkan perjalanannya yang hendak kembali ke asrama melatih tempat dia tinggal. Aurelie terperangkap dalam teka-teki badai hujan hitam yang semakin membingungkan dan juga menakutkan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2