
"Sayang, ingin di bunuh dengan cara apa? Buka matamu! Bangun." Suara Bisikan membangunkan Aurelie yang tertidur kembali itu.
Ia keluar dari kamarnya dan memeriksanya. Ia berdiri di lorong-lorong kost dan memperhatikan sekitarnya. Ia mengikuti suara aneh yang memanggilnya.
Tibalah ia di ujung lorong dan seseorang menyerupai dirinya berdiri di hadapannya.
"Siapa kamu?" Tanya Aurelie.
"Lari! Lari kataku..!!!" Ucap Sosok yang menyerupai dirinya.
Aurelie terdiam membisu dan tidak bisa bergerak. Dia terbangun di atas ranjang tempat tidurnya dengan badannya yang sudah basah akibat bermimpi buruk.
Ia membuka matanya perlahan-lahan dengan suara jantungnya yang berdetak kencang. Aurelie bangun dan duduk di sudut kamarnya sambil memegang sebilah pisau di tangannya.
"Ah! Mimpi buruk ini membuat aku gila. Aku harus segera pergi dari sini." Ucap Aurelie dalam hatinya.
Kemudian ia keluar dari kamarnya. Saat Aurelie hendak pergi, tetangga barunya memanggilnya.
"Hey tunggu sebentar." Panggil penghuni kamar kost baru.
Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kabel charger milik Aurelie.
"Terima kasih untuk charger nya semalam. Berkat kamu aku bisa mengecas hpku." Ucap penghuni kost baru sambil memberikan charger.
Aurelie mengambil cas hp itu dan hendak menyimpannya di kamarnya, namun tiba-tiba penghuni kost baru itu menghentikannya.
"Eh, itu charger milik saya. Maaf." Ia mengambil charger itu dari tangan Aurelie dan memberi charger milik Aurelie kembali.
"Jadi dia punya Charger? Lalu kenapa dia meminjam charger hp ku? Ah, sudahlah kenapa aku berpikiran aneh lagi." Pikir Aurelie dan mencoba mengabaikan pikirannya sendiri.
"Ini charger mu, yang tadi itu charger milikku." Ucap penghuni kost baru.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Aurelie." Tanya Aurelie.
"Aku Anjas. Salam kenal Aurelie." Ucap Anjas.
"Kau harus bicara pelan-pelan disini." Ucap Aurelie mengingatkan.
"Maaf, maksudnya?" Tanya Anjas.
"Jangan minta maaf padaku, penghuni kost disini semuanya aneh-aneh. Pokoknya jangan berisik." Jawab Aurelie.
"Kau sudah lama tinggal disini?" Tanya Anjas.
"Tidak! Aku juga masih baru disini." Jawab Aurelie.
"Begitu rupanya. Bagaimana rasanya tinggal disini? Tempat tinggal ku sebelumnya tidak terlalu bagus." Ucap Anjas.
"Bagaimana kalau kita mengobrol sambil jalan ke luar?" Tanya Aurelie.
"Baiklah, kebetulan aku juga mau keluar." Ucap Anjas.
"Ayo." Ajak Aurelie.
"Ngomong-ngomong kau mau kemana?" Tanya Anjas pada Aurelie.
"Aku mau jalan-jalan." Jawab Aurelie.
__ADS_1
Mereka sekarang sudah ada di luar gedung Asrama Melatih.
"Wah cuacanya hari ini benar-benar akan panas." Ucap Anjas.
"Bagaimana kau bisa menemukan kost ini?" Tanya Aurelie.
"Aku melihatnya di internet. Apa ada penghuni kost yang seusia dengan kita?" Anjas bertanya.
"Tidak ada, ada beberapa yang berusia 30 tahun keatas, tapi mereka semua gila." Jawab Aurelie.
"Gila?" Anjas bertanya lagi.
"Ya, mereka semua aneh." Jawab Aurelie.
...----------------...
Sementara mereka sedang berjalan dan bercakap-cakap. Mereka dikejutkan oleh Dimas yang berdiri di hadapan mereka.
"Selamat pagi! Kamu pasti penghuni kost baru." Sapa Dimas dan bertanya pada Anjas.
"Iya, salam kenal aku Anjas. Aku baru pindah kemarin." Jawab Anjas.
"Kalian pasti sedang membahas sesuatu yang seru." Ucap Dimas.
"Kami cuma saling menyapa saja." Jawab Aurelie.
"Kau mau pergi kemana?" Tanya Dimas pada Aurelie.
"Aku hanya akan pergi jalan-jalan." Jawab Aurelie.
"Hanya jalan-jalan ya." Ucap Dimas dengan senyuman kecil.
Sementara Aurelie berpikir untuk mencari kost yang baru, sejenak ia berpikir, sementara ia belum menemukan kost baru, setidaknya ada penghuni kamar kost baru yang seumuran dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah berkeliling Aurelie kembali ke asrama melatih.
Hari sudah malam, saat Aurelie menaiki tangga, Jojo menghentikan langkah Aurelie dengan suara cekikikannya yang menyeramkan itu.
"Astaga! Dia sudah tidak waras. Sinting!" Pikir Aurelie dalam hatinya.
"Seharusnya kau berhati-hati." Ucap Jojo sambil cekikikan pada Aurelie.
"Apa maksudmu?" Tanya Aurelie kesal.
"Hey penghuni baru, kau tahu semua ini adalah salahmu bukan?" Ucap Jojo.
Aurelie mengabaikan Jojo, dan terus berjalan menaiki tangga.
"Sialan!" Ucap Aurelie.
"Hey aku sedang berbicara kepadamu." Teriak Jojo.
"Apa lagi?" Tanya Aurelie.
"Apa kau barusan meremehkan aku?" Ucap Jojo sambil cekikikan.
__ADS_1
"Astaga! Bicaralah dengan jelas agar aku mengerti. Bicaramu selalu ngawur !" Kata Aurelie kesal.
"Aku hanya bergurau. Jangan terlalu serius begitu. Penghuni yang baru itu ada di atap sekarang." Ucap Jojo cekikikan.
Aurelie pergi ke atap setelah mendengar ucapan Jojo yang mengatakan kalau Anjas ada di atap gedung asrama melatih. Ia pergi ke atap untuk menemui Anjas. Anjas 3 tahun lebih muda dari Aurelie. Anjas memanggil Aurelie dengan sebutan kakak. Aurelie merasa bertanggung jawab untuk menjaga Anjas dari penghuni kost yang aneh-aneh dan penuh Misterius itu. Ia sudah menganggap Anjas sebagai adik laki-lakinya.
"Kakak Aurelie." Sapa Anjas.
"Astaga! Mengagetkan saja!" Aurelie melompat karena terkejut.
"Maaf! Kakak kaget? Ngomong-ngomong itu tadi pria berambut cepak itu kemari." Ucap Anjas.
"Kau tidak terluka?" Tanya Aurelie.
"Tidak! Aku baik-baik saja. Tapi aku menemukan sesuatu yang sangat menarik di kamarku." Ucap Anjas sambil menunjukkan sebuah dompet.
"Apa ini punya penghuni kost sebelum aku?" Tanya Anjas sambil menunjukkan foto di dompet itu.
"Astaga! Bagaimana itu mungkin?" Jawab Aurelie melihat dompet tu adalah dompet Ronal.
"Apa ada orang mudik meninggalkan dompetnya padahal banyak uang didalam." Tanya Anjas.
"Jangan pakai uangnya. Dia mungkin akan mengambilnya. Detektif juga sedang mencari paman itu." Ucap Aurelie.
"Detektif? Kenapa?" Tanya Anjas.
"Simpan saja baik-baik." Jawab Aurelie.
"Haruskah aku menelfon polisi?" Tanya Anjas.
"Ah! Bisakah kau tidak gegabah dan mencampuri urusan orang? Ah, tidak bisa terus begini. Aku akan pindah begitu gaji bulan ini keluar. Andai aku bisa terus di sini sampai tabunganku cukup. Tapi di sini tidak enak." Ucap Aurelie.
"Bukankah jika kau pindah, ongkosnya akan mahal?" Tanya Anjas.
"Aku hanya ingin hidup normal. Bagaimana bisa aku hidup normal jika ada orang yang bawah pisau ke depan kamarku. Bayaranku kecil, tapi aku akan tetap pindah. Ah! Gara-gara para bedebah itu, aku tidak bisa menetap lama. Ibuku bilang, orang asing itu berbahaya, dan tempat ini buktinya." Ucap Aurelie panjang lebar pada Anjas.
"Benar juga." Jawab Anjas.
"Tapi, bagaimana bisa satu gedung penuh dengan psikopat? Mereka seperti dipersatukan. Kau tahu siapa yang paling berbahaya? Pria itu, pria yang tadi kita temui tadi pagi." Ucap Anjas.
"Pria yang memakai baju lengan panjang terus itu?" Tanya Anjas.
"Dia memanggil kita dengan sebutan sayang dengan senyum seramnya." Ucap Aurelie.
Tiba-tiba Anjas berbisik pada Aurelie.
"Kakak, pria yang kau sebutkan tadi ada disini." Kata Anjas.
...----------------...
Aurelie terkejut bukan main, dan berbalik. Benar saja, Dimas juga ada di atap bersama dengan mereka. Anjas berjalan ke arah mereka.
"Apa kubilang! Bukankah lega setelah mengungkapkan semua perasaanmu?"ucap Dimas sambil berjalan mendekati Aurelie.
Aurelie hanya terdiam dan tak berkata apa-apa.
"Bencilah yang ingin kau benci. Maki lah yang ingin kau maki. Bunuhlah yang ingin kau bunuh. Itu baru berani!" Ucap Dimas sambil menatap tajam Aurelie dan wajahnya hampir menyentuh wajah Aurelie.
__ADS_1
Bersambung...