
Panggung itu terasa seperti tempat yang paling menakutkan dan suasananya penuh dengan ketegangan. Aurelie menunggu dengan perasaan yang berkecamuk saat Raja Penderitaan mengayunkan tangannya, untuk segera memulai babak pertama dari penderitaan dan pelajaran yang akan dia alami oleh Aurelie di Lembah Kehancuran itu.
Di hadapan panggung yang mengerikan itu, Aurelie merasa jantungnya berdetak dengan cepat. Dia merenungkan tentang semua tindakan buruk dan dosa yang pernah dia lakukan selama hidupnya dimasa yang lalu. Rasa penyesalan dan kegelisahan mengisi pikirannya dan menciptakan badai emosi yang luar biasa di dalam dirinya.
Raja Penderitaan mengangkat tangannya lagi, dan tiba-tiba api api liar membentuk ilusi di panggung itu. Ilusi tersebut menggambarkan momen-momen paling gelap dalam hidup Aurelie. Dia melihat dirinya sendiri dalam situasi-situasi di mana dia telah menyakiti orang lain, merugikan mereka, atau mengabaikan peluang untuk berbuat baik.
Momen demi momen terungkap, dan Aurelie merasa seperti tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan. Dia melihat wajah-wajah orang yang pernah dia sakiti dimasa lalu, dan tatapan mereka penuh dengan kekecewaan dan kehancuran yang telah dia timbulkan.
Tidak tahan dengan penderitaan yang dihadapinya, Aurelie jatuh berlutut di tanah yang panas. Dia merasa sepenuhnya terbebani oleh beban dosa-dosa masa lalunya. Tangannya mengepal erat-erat, dan dia berusaha menahan air mata yang ingin meleleh dari matanya.
Raja Penderitaan memandang Aurelie dengan tatapan yang tajam.
"Penderitaan ini bukanlah hukuman semata, Aurelie. Ini adalah kesempatan untukmu belajar, tumbuh, dan berubah. Hanya dengan menghadapi kegelapan di dalam dirimu sendiri, kamu bisa menemukan cahaya untuk kembali ke dunia." Ucap isi hati Aurelie.
Aurelie mengangkat wajahnya dan matanya yang masih berkaca-kaca itu. Dia ingin percaya pada kata-kata hatinya, bahwa ada harapan dan kesempatan di tengah penderitaan itu. Namun, dia merasa lemah dan hancur oleh pengungkapan dosa-dosanya yang paling dalam dimasa lalunya.
"Sekarang, Aurelie, kamu harus memilih. Apakah kamu akan tetap terjebak dalam rasa bersalah dan penyesalan, ataukah kamu akan menghadapi setiap penderitaan sebagai pelajaran dan kesempatan untuk tumbuh?" Ujar isi hatinya lagi.
Aurelie merenung dalam diam. Pikirannya berputar-putar, mencari jawaban di tengah gelombang emosi yang meluap. Dia merasa seakan-akan di persimpangan jalan antara keterpurukan atau perubahan. Dalam hati Aurelie, dia merasakan keinginan yang kuat untuk mencari penebusan dan untuk melangkah maju.
Dengan tekad yang kuat, Aurelie mengangkat kepalanya dengan tegar.
"Saya akan menghadapinya," kata Aurelie dengan suara yang mantap.
__ADS_1
"Saya akan belajar dari penderitaan ini dan berusaha menjadi lebih baik. Saya tidak akan lagi mengulangi kesalahan masa lalu." kata Aurelie dengan suara yang mantap sekali lagi.
Tiba-tiba ilusi api mulai memudar dan hampir hilang.
"Pilihanmu adalah langkah pertama menuju pemulihan, Aurelie. Ingatlah bahwa proses ini tidaklah mudah, tetapi hasil akhirnya akan membawa perubahan dalam dirimu. Kamu akan tumbuh melalui penderitaan dan menemukan makna yang lebih dalam dalam hidupmu." Ujar isi hati Aurelie.
Aurelie mengangguk-angguk, mengisi dirinya dengan tekad yang baru. Dia tahu bahwa perjalanan yang berat telah dimulai, dan dia harus menghadapi setiap ujian dengan tekun. Dengan Raja Penderitaan sebagai saksi, Aurelie merasa semakin siap untuk menghadapi apa pun yang Lembah Kehancuran bawa padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengambil keputusan untuk menghadapi penderitaan dan belajar dari kesalahan-kesalahannya, Aurelie merasakan semacam kelegaan yang tumbuh di dalam dirinya. Meskipun situasi di sekelilingnya tetap mengerikan, dia merasa bahwa dia telah memilih untuk mengambil kendali atas nasibnya sendiri.
Raja Penderitaan menatap Aurelie
"Kamu telah membuat pilihan yang bijak, Aurelie. Tetapi ingatlah bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Penderitaan akan menguji tekadmu, dan hanya dengan tekun dan kesabaran kamu dapat mengatasi setiap rintangan." ujar raja penderitaan.
Aurelie mengangguk mengerti, merasa lebih percaya diri daripada sebelumnya. Dia tahu bahwa di hadapannya ada tantangan yang sulit dan pengorbanan yang harus dia lakukan. Namun, tekadnya telah diberdayakan oleh tekad untuk meraih penebusan dan pertumbuhan.
Raja Penderitaan bangkit dari takhtanya dan mengulurkan tangannya. Di tangannya terbentang sebuah peta yang tampak kompleks dan berliku-liku.
"Ini adalah peta Lembah Kehancuran, Aurelie. Setiap bagian dari lembah ini adalah cermin dari dosa-dosa dan penderitaan. Kamu akan mengembara melalui tempat-tempat ini, menghadapi ujian dan pelajaran yang berbeda."
Aurelie menerima peta itu dengan hati-hati. Dia melihat rute yang diilustrasikan pada peta, menyadari bahwa perjalanan ini akan berkelok-kelok melalui berbagai jenis penderitaan. Namun, di dalam dirinya ada tekad yang menggebu untuk membuktikan bahwa dia bisa mengubah dirinya.
__ADS_1
"Saat kamu siap, kamu bisa mulai perjalananmu. Ingatlah, Aurelie, bahwa tidak ada jalan pintas di sini. Setiap penderitaan memiliki hikmahnya sendiri, dan kamu harus melaluinya dengan penuh kesabaran dan tekun." kata Raja Penderitaan.
Aurelie mengangguk sekali lagi, merasa siap untuk memulai perjalanan yang penuh tantangan. Dia tahu bahwa setiap langkah akan penuh dengan kesulitan dan pengorbanan, tetapi dia juga percaya bahwa di ujung perjalanan itu akan ada penebusan dan pertumbuhan yang luar biasa.
"Dalam perjalananmu, kamu akan menemukan guru-guru yang akan membimbing mu. Dan pada akhirnya, kamu akan mengerti bahwa penderitaan itu sendiri memiliki kekuatan untuk membentuk mu menjadi versi yang lebih baik dari dirimu." kata Raja Penderitaan dengan suara lembut.
...----------------...
Aurelie mengangguk dengan penuh tekad. Dengan peta di tangannya dan tekad yang menggebu di hatinya, dia merasa lebih kuat dan siap menghadapi apa pun yang Lembah Kehancuran bawa padanya. Perjalanan menuju penebusan dan pertumbuhan telah dimulai, dan Aurelie siap menghadapinya dengan tekun dan keberanian.
Dengan peta Lembah Kehancuran di tangannya, Aurelie merasa seperti dia telah menerima sebuah tongkat pemandu di tengah kegelapan yang mengelilinginya. Dia tahu bahwa perjalanan ini akan sangat sulit, dan dia bahkan belum mengerti maksud dia di ijinkan ada di lembah kehancuran itu. Tetapi dengan tekad yang kuat dan keyakinan dalam kemampuannya untuk berubah, dia merasa siap menghadapi setiap rintangan.
Raja Penderitaan mengulurkan tangannya sekali lagi, dan kali ini ada semacam bola cahaya yang melayang di telapak tangannya.
"Ini adalah cahaya yang akan kamu bawa selama perjalananmu, Aurelie. Cahaya pengetahuan, penebusan, dan harapan. Di tengah kegelapan, Cahaya ini akan membimbing mu dan memberimu kekuatan." ujar raja penderitaan.
Aurelie menerima bola cahaya tersebut dengan penuh rasa hormat. Cahaya tersebut berkedip-kedip lembut di telapak tangannya, mengingatkan akan tujuan dan tekadnya. Dia merasa seperti dia tidak lagi sendirian dalam perjalanan itu, bahwa ada kekuatan yang mendukungnya.
...----------------...
Aurelie tiba-tiba sudah terbangun dari tidurnya. Ia duduk di depan meja kamarnya dan mulai merenung dan berpikir.
"Jadi aku sedang bermimpi? Apa arti dari semua mimpi itu? Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi. Mungkin akan aku masukan dalam novelku nanti. Aku harus pindah dari Asrama Melatih ini dulu." pikir Aurelie.
__ADS_1
Bersambung...