
Setelah mengatakan semua itu, Dimas pergi dari atap gedung asrama melatih.
"Apa dia mendengar yang aku katakan?" Tanya Aurelie pada Anjas.
"Kurasa dia sudah mendengar semuanya." Jawab Anjas.
"Sial! Ayo kita turun. Mandi lalu tidur." Ucap Aurelie.
Mereka kemudian turun dari atap dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Aurelie mengunci pintunya dan mengambil apapun yang ada di dalam kamarnya untuk digunakan menyangga pintu kamar.
Setelah dia merasa aman, ia lalu tidur.
"Kamu telah menunjukkan tekad yang kuat, Aurelie. Ingatlah, penderitaan ini adalah kesempatan untukmu meraih kebangkitan. Harapanku adalah bahwa kamu akan menemukan cahaya di dalam dirimu, dan kelak cahaya itu akan bersinar terang." Raja Penderitaan tersenyum, sesuatu yang sangat tidak dia harapkan dari penguasa tempat penderitaan.
Aurelie mengangguk dengan penuh pengertian.
"Aku pasti sedang bermimpi lagi. Astaga, apa ini lanjutkan dari mimpi buruk ku? Bahkan di dalam tidur pun aku harus merasakan neraka. Tidak cukupkah neraka yang ku hadapi dalam keseharian ku, hingga saat aku tidur aku juga pergi ke neraka? Astaga aku akan benar-benar gila!" Pikir Aurelie.
Aurelie tahu bahwa perjalanan ini akan menguji dirinya secara mendalam, tetapi Aurelie juga tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang benar untuk berubah. Dia akan menghadapi setiap rintangan dengan tekun dan kesabaran, dengan harapan bahwa dia akan menemukan jalan keluar dari kegelapan.
"Dalam setiap langkahmu, ingatlah cahaya di dalam dirimu. Jangan pernah biarkan api penderitaan memadamkan cahayamu. Biarkan cahayamu menjadi panduanmu menuju perubahan dan kedamaian." kata Raja Penderitaan sambil melihat bola cahaya itu.
Aurelie merasa terinspirasi oleh kata-kata itu. Dia merasa semakin siap untuk memulai perjalanan di Lembah Kehancuran, untuk menghadapi penderitaan dengan tekun dan keyakinan. Cahaya di dalam tangannya adalah sumber kekuatannya, dan dia tahu bahwa tidak ada batasan untuk pertumbuhan yang dapat dia capai.
__ADS_1
Dengan hati yang penuh tekad dan semangat yang membara, Aurelie berpaling untuk melihat gerbang besar yang terbuka di belakangnya. Dia merasa bahwa gerbang tersebut bukan hanya sebuah jalan masuk ke Lembah Kehancuran, tetapi juga simbol dari peluang baru yang telah dia peroleh.
"Terima kasih, Saya siap." ucap Aurelie kepada Raja Penderitaan dengan suara yang penuh rasa hormat.
Raja Penderitaan mengangguk dan memberi isyarat kepada penjaga neraka untuk membuka jalan bagi Aurelie. Dengan langkah mantap dan cahaya di tangannya, Aurelie melangkah keluar dari panggung menuju kegelapan yang menunggunya.
Perjalanan di Lembah Kehancuran baru saja dimulai, dan Aurelie siap menghadapinya dengan tekun, keyakinan, dan harapan bahwa di ujung perjalanan itu akan ada pertumbuhan, penebusan, dan cahaya yang menyinari jalannya.
Aurelie melangkah keluar dari panggung dengan hati yang penuh tekad. Cahaya di tangannya bersinar terang, memberinya keyakinan bahwa dia bisa menghadapi apa pun yang akan datang di Lembah Kehancuran. Meskipun situasinya gelap dan penuh penderitaan, dia merasa ada harapan yang memandu setiap langkah-langkahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gerbang besar terbuka di hadapannya, menghadap ke kegelapan yang tak berujung. Dia merenung sejenak, menghela nafas dalam-dalam, dan dengan langkah mantap, dia memasuki lembah itu. Langkah pertamanya menimbulkan sensasi panas yang menusuk di bawah kakinya, tetapi dia terus berjalan, mengabaikan rasa sakit yang merambat di tubuhnya.
Sesekali, dia melewati makhluk yang terjebak dalam siksaan. Dia melihat wajah-wajah mereka yang penuh penderitaan dan mendengar erangan yang menyayat hati. Meskipun itu sulit untuk dilihat, dia tahu bahwa dia harus melalui pengalaman ini untuk mencapai penebusan yang dia cari.
Perjalanan Aurelie melalui Lembah Kehancuran adalah perjuangan yang penuh ujian. Dia menghadapi berbagai jenis penderitaan, mulai dari api yang menyala-nyala hingga hujan asam yang menghanguskan. Setiap rintangan menguji tekadnya, tetapi dia tidak pernah menyerah. Cahaya di tangannya selalu memberinya kekuatan untuk terus maju.
Selama perjalanannya, dia juga bertemu dengan makhluk-makhluk yang memberinya pelajaran-pelajaran berharga. Ada yang mengajarinya tentang belas kasihan, ada yang mengajarkannya tentang keberanian, dan ada yang mengingatkannya akan nilai-nilai hidup yang sejati. Setiap pertemuan memberinya wawasan baru tentang arti dari penderitaan dan pertumbuhan.
Namun, di tengah-tengah semua penderitaan itu, Aurelie merasa semakin kuat dan semakin dekat dengan tujuannya. Dia merasakan perubahan dalam dirinya, perubahan yang mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi terasa dalam hatinya. Dia merasa bahwa dia telah melewati banyak ujian dan bahwa dia semakin mendekati penebusan yang dia cari.
Saat dia berjalan, dia sering mengingat kata-kata Raja Penderitaan dan membayangkan cahaya di dalam dirinya yang terus bersinar. Meskipun gelapnya Lembah Kehancuran mencoba memadamkan cahayanya, dia tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk mempertahankannya dan memandu jalan keluar.
__ADS_1
Setelah melewati berbagai rintangan dan pelajaran, Aurelie akhirnya melihat cahaya yang redup di ujung lembah. Cahaya itu berbeda dari cahaya api yang menyelimuti lembah, lebih tenang dan penuh harapan. Dengan langkah mantap, dia mendekati cahaya itu, merasa bahwa perjalanannya di Lembah Kehancuran hampir mencapai akhir.
Aurelie terus melangkah mendekati cahaya yang redup di ujung lembah. Dia merasakan semangat yang menggelora di dalam dirinya, merasa bahwa dia telah mengatasi banyak ujian dan bahwa dia semakin mendekati tujuannya. Cahaya itu semakin terang seiring dia mendekat, memberinya perasaan harapan yang tumbuh lebih besar.
Saat dia mencapai cahaya itu, dia merasa sensasi hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Cahaya itu memancarkan rasa kedamaian yang luar biasa, dan dia merasa seolah-olah semua beban penderitaan dan dosa telah terangkat dari pundaknya.
Di dalam cahaya tersebut, dia mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang indah dan tenang. Lingkungan di sekitarnya begitu berbeda dari Lembah Kehancuran yang gelap dan penuh penderitaan. Bunga-bunga berwarna-warni bermekaran di padang rumput hijau, dan angin lembut berdesir dengan lembut.
Seorang sosok yang bercahaya mendekatinya dengan langkah ringan. Wajahnya penuh dengan keramahan dan kehangatan.
"Selamat datang, Aurelie. Kamu telah melewati banyak ujian dan pelajaran di Lembah Kehancuran. Kini, kamu berada di tempat yang penuh dengan cahaya dan pemulihan." ucapnya dengan suara lembut.
Aurelie merasa begitu terpesona dengan keindahan tempat itu. Dia merasa dirinya bebas dari beban yang selama ini dia bawa.
"Siapakah kamu?" tanya Aurelie dengan suara gemetar.
"Saya adalah Penuntun Cahaya. Aku di sini untuk membantumu memahami pelajaran-pelajaran yang kamu dapatkan selama perjalananmu di Lembah Kehancuran." jawab sosok itu dengan senyuman lembut.
Penuntun Cahaya mengajak Aurelie berjalan melintasi padang rumput yang subur.
"Di sini, kamu akan menemukan berbagai cahaya yang mewakili nilai-nilai yang telah kamu pelajari dan tekankan selama perjalananmu. Setiap cahaya memiliki pesan dan pelajaran unik." kata Penuntun Cahaya.
Aurelie melihat di sekelilingnya dan melihat sekelompok cahaya yang terang berpencar di depannya. Setiap cahaya memiliki warna dan bentuk yang berbeda, dan dia merasa tertarik untuk mengetahui apa yang mewakili masing-masing cahaya tersebut.
__ADS_1
Bersambung...