
"Dia di sana lagi membawah pisau. Akan ku potret dan ku laporkan pada polisi." Ucap Aurelie dalam hatinya.
Aurelie kemudian mengambil handphonenya hendak merekam Cecep, belum sempat Aurelie mengambil foto Cecep, ia di kejutkan oleh suara bibi Dina.
"Sedang apa kau disana? Apa yang kau lakukan. Apa kau mau telur ini? Aku merebusnya untuk semua penghuni kost." Kata bibi Dina.
"Astaga." Ucap Aurelie kesal.
"Ada apa?" Tanya bibi Dina.
"Semuanya gagal karena bibi Dina." Jawab Aurelie kesal.
"Kak Aurelie ada apa?" Tanya Anjas keluar dari kamarnya.
"Anjas, si gila itu dia membawah pisau. Dia mencoba masuk kamarku membawah pisau." Kata Aurelie pada Anjas.
"Benarkah?" Tanya Anjas.
"Aku hampir saja berhasil mengambil fotonya. Aku melihatnya, aku melihatnya dengan jelas. Aku berniat memotretnya, tapi sial! Bibi Dina datang dan mengacaukan semuanya." Kata Aurelie kesal.
"Apa maksudmu? Jadi maksudmu kau gagal memotretnya gara-gara aku?" Tanya bibi Dina.
"Bibi Dina, kenapa juga bibi muncul di saat yang tidak tepat. Jika bibi diam dan tidak bicara, aku pasti sudah punya fotonya. Seharusnya aku punya bukti kali ini." Ucap Aurelie kesal.
"Begitukah?" Tanya bibi Dina serius.
"Sial! Seharusnya sudah ku dapat fotonya." Ucap Aurelie.
"Kau yakin sudah dapat fotonya?" Tanya bibi Dina serius lagi.
"Ya." Jawab Aurelie.
"Yakin sekali?" Tanya bibi Dina sekali lagi.
"Ya!!" Jawab Aurelie kesal.
"Bisakah kau bersumpah? Katakan! Bisakah kau bersumpah?!!!!" Teriak bibi Dina.
"Ayo masuk kekamarnya. Dia punya pisau. Ayo kita buktikan." Ucap Aurelie.
"Hey, kau saksinya." Kata bibi Dina pada Anjas.
"Aku? Baiklah." Jawab Anjas.
...----------------...
Mereka lalu berjalan menuju kamar Cecep untuk menggeledah kamar Cecep.
Cecep keluar dari kamar itu dan seketika bibi Dina menampar wajah Cecep.
"Apa maumu? Kau sadar kelakuanmu menakuti penghuni kost yang lain. Sudah telat bayar sewa, memajang foto-foto wanita! Kau sadar sudah membuat mereka tidak nyaman?" Teriak-teriak bibi Dina.
Karena suara bibi Dina yang keras, penghuni kamar kost lainnya juga bangun.
"Astaga! Aku tidak bisa tidur karena berisik sekali disini." Ucap Jojo cekikikan.
__ADS_1
Cecep tersenyum kecil di hadapan semua penghuni kost lainnya.
"Kau tersenyum saat aku menegur mu?" Tanya bibi Dina.
"Bibi Dina, kau menampar aku terlalu keras. Apa bibi punya dendam?" Tanya Cecep kembali sambil tersenyum aneh.
"Geledah kamarnya, ada pisau disana." Ucap Aurelie.
"Geledah kamarnya." Bibi Dina menyuruh Jojo.
"Aku?" Tanya Jojo cekikikan.
"Memangnya siapa lagi!!" Teriak bibi Dina.
"Ah benar! Aku manager utamanya." Jawab Jojo cekikikan.
Jojo masuk ke dalam kamar Cecep dengan terus cekikikan seperti orang gila. Jojo menemukan pisau itu, namun ia menyembunyikannya di balik pakaiannya.
"Astaga, kamar ini bau bapak-bapak!" Ucap Jojo cekikikan.
"Hey anak manis! Kalau dikamarnya tidak ada pisau, bagaimana?" Tanya bibi Dina pada Aurelie.
"Apa?" Ucap Jojo.
"Apa?! Telingamu tersumbat, ya! Kalau pisaunya tidak ada bagaimana?" Tanya bibi Dina marah-marah.
"Mana mungkin tidak ada!" Jawab Aurelie.
"Dengar!!! Gara-gara kau, semua orang bangun dan bukannya tidur!" Kata bibi Dina marah-marah.
"Bagaimana jika ini hanya salah paham?" Tanya bibi Dina.
"Salah paham!" Jawab Aurelie jengkel tidak terima.
"Bagaimana caramu meminta maaf?" Tanya bibi Dina.
"Sudah aku cari kemana-mana tapi tidak ada." Ucap Jojo sambil cekikikan.
"Harusnya sudah di temukan jika ada!" Kata bibi Dina.
"Tapi, tidak ada pisau di kamar Cecep." Jawab Jojo.
"Minggir!" Ucap Aurelie.
Aurelie sangat jengkel dan kesal. Ia lalu menyuruh semua orang minggir dan dengan kekesalannya yang luar biasa itu, ia masuk ke dalam kamar Cecep dan mengeledah kamar Cecep. Namun, sia-sia karena ia tidak menemukan pisau itu. Aurelie berteriak dengan suara keras dalam kekesalannya.
"Bagaimana bisa tidak ada? Aku melihatnya sendiri." Ucap Aurelie kesal.
Bibi Dina dan Anjas memaksa Aurelie keluar dari kamar Cecep.
"Astaga! Dia sulit mempercayai orang." Kata Jojo.
Semua penghuni kost lainnya dan bibi Dina tertawa terbahak-bahak melihat Aurelie yang menggila itu. Dimas lalu keluar dari kamarnya. Dimas tau kalau pisau itu ada pada Jojo. Dan benar saja, saat Jojo menggaruk belakangnya, Dimas melihat pisau itu di selipkan oleh Jojo di celananya.
Kemudian Dimas membubarkan semua orang. Aurelie kemudian masuk kekamarnya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, pisau itu tidak ada disana? Aku tidak mungkin salah!" Pikir Aurelie.
Karena lelah, Aurelie akhirnya tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, seperti biasa Aurelie pergi ke kantor untuk bekerja.
"Aurelie kau kesiangan!" Kata rekan kerjanya.
"Aurelie, ada apa denganmu. Kau terlihat seperti orang yang tidak waras. Kau terlihat seperti orang yang tidak mau bekerja lagi." Sapa rekan kerja lainnya.
Kemudian pimpinan mereka datang dan memberikan Aurelie sebuah paket.
"Ini paket untukmu!" Ucap Michael.
"Dari siapa?" Tanya Aurelie.
"Lihat dan baca sendiri." Kata Michael.
Aurelie membuka paket itu, di dalamnya ada sebuah surat juga beberapa foto.
"Apa isi paket itu?" Tanya Lisa.
"Entahlah. Ada sebuah rumah peninggalan leluhurku." Jawab Aurelie.
"Kau mau memeriksanya ke sana?" Tanya Lisa.
"Iya, sepertinya begitu. Aku akan pergi dan melihatnya." Jawab Aurelie.
"Kapan kau akan pergi?" Tanya Lisa.
"Mungkin besok." Jawab Aurelie.
"Boleh aku ikut denganmu?" Tanya Lisa.
"Tentu saja. Aku juga belum perna pergi kesana, mungkin lebih baik jika aku pergi dengan teman." Jawab Aurelie.
Aurelie berpikir untuk pergi ke rumah peninggalan leluhurnya itu sepulang dari kantor. Ia berpikir untuk pergi sepulang ia dari kantor agar ia tiba di rumah itu pagi hari.
"Aku bisa beristirahat dan tidur di perjalanan." Pikir Aurelie.
Selesai ia bekerja, ia langsung menghubungi bus dan pergi ke rumah peninggalan leluhurnya. Sepanjang perjalanan, Aurelie terus merenungkan kehidupannya yang selalu di kelilingi oleh neraka-neraka di dunia.
Sempat ia berpikir, untuk tinggal di rumah peninggalan leluhurnya itu.
"Aku akan memeriksanya dulu. Jika memungkinkan, aku akan tinggal di rumah itu. Aku tidak tau, kalau ada rumah seindah ini. Kedua orang tuaku bahkan tidak pernah menceritakannya padaku. Nenek bahkan tidak memberitahu aku." Ucap Aurelie dalam hatinya.
...----------------...
Di pagi hari yang cerah, Aurelie tiba di kota kecil yang sepertinya tersembunyi dari hiruk-pikuk kehidupan modern. Pohon-pohon rindang menghiasi jalan-jalan dan rumah-rumah kayu memberikan nuansa nostalgia. Dengan pandangan takjub, Aurelie berjalan menuju rumah warisan keluarganya yang telah lama tidak ditempati.
Rumah itu terlihat anggun namun sedikit terlantar. Aurelie merasa campur aduk antara kegembiraan dan kecemasan saat kuncinya berputar dalam kunci pintu depan yang berkarat. Saat langkah kakinya melintasi ambang pintu, ia merasakan getaran aneh yang tidak dapat dijelaskan.
Saat Aurelie menjelajahi rumah warisan keluarganya itu, ia menemukan beberapa barang berdebu yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Namun, pandangannya segera tertuju pada pintu di pojok ruangan, yang jelas-jelas mengarah ke tangga menuju basemen. Seakan ada daya tarik yang aneh, Aurelie terdorong untuk mengetahui apa yang ada di balik pintu itu.
__ADS_1
Bersambung...