
🌹🌹🌹🌹
" ah sudah lah, cepat kau priksa dia ucap Roy yang sudah tersulut emosi
" hah, baik tuan' Revan melangkah menuju melisa yang sedang berbaring * hem sedikit ada kemajuan si bos, hihihi dalam hati
" hai fokus lah, jangan berfikir yang macam macam ucap roy sangat kesel melihat Revan yang masih berdiri
" Baik tuan, ucap Revan, revan pun mengeluarkan alat untuk memeriksa
Roy keluar menuju soffa untuk merebahkan tubuh rendra lalu menyelimuti nya yang sudah di ambilkan oleh Deni
Roy kembali ke dalam ruang pribadi " bagaimana kondisinya ucap Roy
" nyonya hanya banyak pikiran mengakibatkan pingsan, ucap dokter Revan sebenarnya revan mempunyai pertayan pertayaan tapi tak mampu untuk di ucapkan " saya sudah menuliskan resep, kalo begitu saya keluar tuan , permisi membungkuk lalu melangkah
Roy mendekat ke ranjang dan mendudukan badanya di sebelah melisa yang asik memejamkan matanya terlihat sangat pucut
tiba tiba melisa merancau
" jangan... jangan... tolong jangan mendekat, aku mohon his his his jangan mendekat tolong , lepaskan aku lepaskan aku lepaskan aku, apa salah ku his his his , bersek, bajingan, melisa terus saya mengucapkan kata kata dan mengulanginya
" Begitu terluka nya dirimu, atas perlakuan ku sehinga kau menjadi seperti ini, maaf kan aku maaf . aku akan menebus semua yang telah aku perbuatan kepadamu aku akan membayar semua rasa sakit yang kau alami saat ini tak terasa Roy juga menitikan air mata tanganya mendekat mengelus kepala dan juga pipinya
melisa tersadar saat kepala dan pipi nya di sentuh , melihat siapa yang menyentuhnya melisa terperanjat " kau 'degan suara bertriak kau kenapa ada disini, pergi pergi pergi
rendra mendegar sang mama bertriak pun panik "paman dimana mama ucap rendra ke Deni
" di dalam, mari saya antar tuan
Rendra menuruti walau bingung
melisa bangun duduk meringkuk di ujung ranjang menjauh dari Roy takut berbuat seperti dulu lagi
" Tenang lah, aku tidak akan bertindak seperti dulu lagi ucap Roy sembari menenangkan melisa
tapi tetap saja melisa tidak mau menurutinya perlahan Roy melangkah untuk mendekat
__ADS_1
karena sangat takut melisa yang melihat gunting di sebelahnya pun diambil " jika kau tetap melangkah , akan ku sayat tanggan ku ini agar aku tak bisa melihat mu lagi ' melisa yang sudah tak tau harus berbuat apa * maafin mama sayang jika mama tiada setidaknya
kau telah bertemu degan ayahmu walau tidak bersama mama
" oke , aku akan menjauh tapi buanglah benda itu ucap Roy sembari mundur beberapa langkah
" mama ' ucap rendra yang sudah masuk kedalam ruangan pribadi lalu berlari menuju ranjang yang di tempati sang mama " mama kenapa, mama ngak usah takut ada ren yang mau jagain mama ucap rendra lalu menenangkan mamanya
melisa lalu mendekap tubuh sang putra " mama tidak papa ko sayang 'walau masih ada getar di badannya mendekap tubuh sang putra begitu erat
* aku tau kau adalah ayah ku nammun jika kau menyakiti mamaku aku tak bisa membiarkan kau mendekatinya * ucap rendra dalam hati sembari melirik Roy tajam
Roy yang di lirik sang putra pun seakan tak bisa berbuat apa
" sayang kita pulang , tapi tunggu dimana tas mama. ah ya bibi dan juga nenek dimana
Rendra hanya geleng
" ayo kita keluar mama tak mau berurusan degan dia ' menunjuk Roy " *walau jalan sejauh apa pun aku tak sudi untuk meminta bantuan dengan nya pria brengsek bajigan dalam hati
Deni pun binggung apa yang harus ia lakukan lalu melirik ke arah tuanya
" em nyonya ...
" kau antarkan ucap Roy yang pasrah karena tak tau harus bagaimana walau dalam hatinya ingin mengantarkan dan meluruskan semua masalah tapi tak mampu melihatnya terpuruk
" Baik tuan, mari nyoya saya antarkan sembari memberikan jalan untuk keluar
Disisi lain
tisa dan juga nenek imah pun sudah pulang karena tadi di beri tahukan oleh bayu untuk pulang duluan , pada akhirnya pasrah
kembali ke melisa
melisa sudah keluar gedung dan berhenti di depan jalan untuk mencari taksi
Deni bukan hanya di suruh untuk mengantarkan keluar gedung tapi mengantarkan sampai ke rumahnya
__ADS_1
walaupun melisa tidak mau menangkapi Roy tapi roy tidak akan menyerah karena sudah cukup selama ini melisa menghindarinya degan cara apa pun akan ia lakukan
" nyoya mari saya antar , bus yang tadi mengantar anda sudah 1 jam lebih mendahuluinya ucap deni
" ah maaf tuan, saya naik taksi saja ' melisa menolak secara halus " ayo sayang sembari menggandeng tangan sang putra
tapi deni tidak menyerah menghalagi melisa menaiki taksi " maaf nyonya ini demi kebaikan nyonya dan putra nyonya ucap Roy
" saya tidak perduli, minggir saya mau lewat ucap melisa yang sudah nampak emosi
dari kaca gedung Roy melihat semuanya " segitu bencinya kau kepada ku mel, kenapa kau buat aku menanggung rasa bersalah ini berlarut larut , setidaknya kau berikan aku ruang untuk menjelaskan 'tak terasa air matanya mengalir bigitu saja sakit sakit yang dirasakan saat ini dadanya begitu sesak orang yang selama ini di cari secara terang terangan menghindar bahkan nampak jelas ketakutan
deni pun pasrah, ia tak mau kalo nyonya mbuat nekat toh bisa mengikutiya
" Baik lah, pak tolong antarkan nyonya ketempat tujuan degan aman
setelah berjalan
Deni berlari menuju mobil yang sudah ada bodyguard , ikuti taksi itu ucap deni memberikan intruksi
deni merogoh saku celana untuk mengambil benda pipih
telfon terhubung
" hello tuan, saya sedang mengikiti nyonya karena nyonya tidak mau saya antarkan ucap deni
" bagus, kau ikuti terus. aku segera menyusul. kau tambahkan lagi bodyguard ucap roy
" baik ....
telfon pun terputus begitu saja
deni nampak kesel * dasar bos laknat
bodyguard yang didekatnya pun akan tertawa tapi ia tahan
BERSAMBUNG
__ADS_1