
🌹🌹🌹🌹
" maaf tuan beliau......ucap dokter tertahan sebab tangan Roy sudah mencengkram kerah kemejanya
" Tuan , tenang lah ucap Deni
Roy tak bisa mengontrol emosinya. setelah Deni menegurnya baru lah . Roy me lepaskan tanganya" katakan !!! bentaknya " kenapa istriku belum juga sadar ucap Roy datar
" papa bisa kecilkan suaramu ucap Rendra tak kalah datarnya
" coba jelaskan Dok ucap Rendra lagi
"maaf boy ucap Roy
Doker pun menjelaskan semuanya
deg
detak jantung Roy seakan berhenti
seperti halnya Rendra pun sama
ia sudah menduga akan seperti ini
" ia, dok saya mengerti , apakah mama saya bisa selamat ucap Rendra sendu
" itu tergantung dari beliau sendiri, karena kondisinya pun sangat memprihatinkan 'ucapnya bahkan ia tak bisa menjelaskan panjang lebar takut sang Tuan marah ia tak ingin mendapatkan resiko lebih besar nantinya ia hanya berusaha agar pasien bisa sadar
walaupun berusaha seperti apa pun jika Allah berkendak lain , kita bisa apa.
" kalo begitu saya permisi Tuan ucap dokter sembari membungkuk
" ia jawab Roy
sedangkan Rendra sudah terisak tanpa suara degan memeluk legan tangan mamanya ia begitu sangat rapuh jika ia harus kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya
Roy pun merasakan hal yang sama seperti putranya hanya saja ia tak menangis , haruskah ia bisa menerima, haruskah ia kuat dan banyak lagi kata harus membuat ia kuat .
" kuatkan hati mu boy, ada papa di sini yang menjaga mu. kita hanya bisa berdoa agar mama bisa cepat sadar ucap Roy sembari mengelus rambut juga punggung Rendra
__ADS_1
Namun Rendra tak menjawab hanya isak tangis lah sebagai jawaban namun terdegar sangat pilu
kemudian Roy beralih ke sisi ranjang lalu duduk di kursi yang dekat melisa ia meraih tangan yang tertancap selang infus
" Mel istri ku bangun, aku ada di sini menunggumu dan juga putra kita, apa kau tau . aku sangat merindukan semua omelan mu , masakan mu, perhatianmu, walaupun itu semua hanya perasaanku saja namun aku sangat nyaman. aku sangat mencintai mu . sadarlah istriku, bisik Roy degan tubuh gemetar menahan rasa sakit sembari mencium kening istrinya cukup lama bersamaan degan air mata yang sudah keluar tanpa permisi
keduanya sama sama hanyut dalam kesedihan hingga Rendra kembali terlelap
sedangkan Roy kembali terjaga hinga pintu terbuka menampakan seorang masuk
" Tuan hari ini ada miting yang meneruskan perihal masalah kemaren ucap Deni
" baik lah, bagaimana apa kau sudah tau ???'
" ia, Tuan ternyata orang yang sama , kita harus lebih hati hati dan lagi mereka entah bersembunyi dimana. laporan yang anak buah mereka berikan ternya palsu . mereka memilih mati ucap Deni
" baik lah ayo kita berangkat, sementara kau ketatkan ke amanan posisi kan beberapa Bodyguard untuk penjaggan, juga siapkan beberapa hidagan untuk putraku. setelah miting selesai aku akan segera kembali dan ya jangan ada satu orang pun masuk kedalam walaupun itu dokter sekali pun ucap Roy tegas sembari melangkah ke luar rumah sakit degan wajah dingin
Sementara Melisa di alam kesadarannya " wah indah sekali taman ini, bunganya pun sangat cantik aku sangat menyukainya sembari menciumi satu persatu bunga tersebut dan menari nari ia begitu sangat menikmati indahnya bunga yang bermekaran bahkan ia lupa kalo dirinya sedang dimana
sementara Rendra pun sudah mulai mengerjap ngerjapkan matanya tetepi begitu susah untuk membuka kedua matanya karena ia cukup lama menangis
Akhirnya Deni pun kembali ke tempat duduk yang di tempati tadi " bagaimana Tuan apakah sudah beres semua, apakah saya kembali ke kantor ucap Deni melangkah mendekati Roy
" ia, sisanya kau bereskan semua !! ucap Roy lalu ia berjalan menuju sang pujaan hati yang masih betah memejamkan matanya
" baik Tuan saya permisi ucap Deni berlalu meninggalkan keluarga kecil tersebut
" papa dari mana tanya?? Rendra sembari beranjak
" papa habis dari kantor. apa boy butuh sesuatu ??? katakan ujarnya
" ah iya, dimana hp dan leptop ku . aku tidak bisa seperti ini terus pah. aku tidak ingin membuat mama sedih ucap
Rendra
" itu di laci boy, kok makanannya belum di makan sih boy?? apa makanannya tidak enak ucap Roy yang melihat makanan masih tersusun rapi di meja " kalo tidak enak nanti papa ganti ucap Roy lagi
" nanti pah, setelah aku mandi ucap Rendra berlalu menuju ke kamar mandi sembari membawa pakean ganti
__ADS_1
Roy duduk di kursi di dekat ranjang Yang di tempati Melisa
" istri ku sayang, kenapa kamu masih betah memejamkan mata indahmu hem. apa kau tau aku sangat merindukan mu. apa lagi putra kita ia begitu rapuh melihat mu seperti ini ia mencoba untuk kuat seperti ku namun nyatanya hanya melihat dari fisiknya saja tetapi hatinya tak bisa. apa kau tega melihat aku dan putra kita begitu terpuruk seperti ini . tolonglah cepat sadar istri ku sayang bisik Roy di teling Melisa
satu minggu sudah Melisa di rawat namun sama sekali belum ada perubahan , Roy dan Rendra masih setia menemaninya bahkan keluarga Melisa pun sudah datang serta Tisa dan juga nenek imah
sementara Roy bener bener gusar bagaimana caranya agar sang istri bisa sadar kembali
" ah ia Revan, kenapa aku bisa melupakan cecunguk itu sih gerutunya sembari mencari kotak nama Revan
telfon pun terhubung
" Hello van , kau terbang ke negara B sekarang. aku berada di mansion Sekarang
" baik lah , setelah jam kerjaku habis ucap Revan di sebrang
" oke
tanpa bertanya lagi Roy langsung memutuskan telfon nya . lalu ia memilih untuk meneruskan membuka dokumen yang masih menupuk di meja . ia bekerja di rumah
Roy merasa jika di rumah sakit tidak yakin Akan aman walaupun penjaggan sangat ketat tetapi bisa saja ia pasti akan ke colongan . dan lagi ia harus bolak balin ke kantor
ia tak akan mengulangi ke salahan
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung