
1 minggu kemudian
Di mansion Alexander
Suasana tampak ramai dan riuh, dengan kedatangan seluruh keluarga besar Alexander dan juga Pratama hadir diacara,dimana akan menjadi kenangan bagi seorang gadis untuknya saat di LA nanti.
Entahlah perasaan apa yang ia rasakan? Rasa takut dan sedih akan berpisah,itulah yang dirasakan oleh Aulia.
Menetralkan jantungnya yang begitu berdebar sambil menatap penampilannya didepan cermin. Dress dibawah Lutut dengan warna nude,warna yang sangat cocok untuk warna kulit Aulia apalagi jika dimalam hari seperti sekarang.
Rambut yang ia biarkan tergerai indah dengan sedikit gelombang,membuat aura kecantikannya bertambah kali lipat.
"Kenapa rasanya gugup banget ya?" Tanya Aulia lalu menoleh kearah sepupunya yang tengah menatapnya heran.
"Gugup? Masa sih?" Tania menaruh telapak tangannya di kening Aulia,tidak panas!
"Yaampun Arel,tangan lo sampai dingin banget gini Rel?" Ucap Tania khawatir,takut kenapa napa. Padahal ia tak pernah melihat sepupunya seperti ini. Ya ya kecuali jika sedang fall in love sih hehe.
"Makanya Nia.. Gue tuh nervous banget. Rasanya kayak baru pertama kali aku ketemu keluarga besar gini." Kata Aulia jujur adanya. Memang benar ia tak pernah hadir. Tapi bukan dia yang selalu hadir tapi saudaranya Aurel.
"Mungkin ini cuman pengaruh kamu lupa ingatan itu kali. Semoga ingatan kamu cepat kembali ya Rel."
"Yaudah sekarang kan udah siap dan perfect. Jadi ayo kita menemui semuanya. Pameran utama akan datang.." seru Tania girang dan heboh,sembari berjalan menggandeng lengan Aulia menemui orangtua dan para sepupu sepupunya.
"Daebak.." Teriak Tania dengan suara melengking,membuat siapapun yang mendengarnya mendumel kesal. Namun kini tampak berbeda,karena seluruh mata tertuju pada satu titik utama,siapa lagi kalo bukan Aulia?
__ADS_1
Wajah Aulia tampak lebih cantik dan mempesona setelah dirias dengan natural. Walau hanya naturalisasi,namun aura kecantikannya tak pernah terpudarkan.
"Cantik." Kata mereka kompak namun dengan lirihan. Jangan dibilang Tania ya jika tidak tahu apa yang mereka katakan. Tentu saja ia tahu,dan hal tersebut membuat ia bangga akan bakatnya dalam merias.
Tania yang tadi berteriak seketika melongo tak percaya,kenapa semuanya tampak kompak sekali memuji Aulia? Apa secantik itu sepupunya itu?
"Whoho siapa gitu loh yang dandanin.. Tania gitu loh.." Ucapnya dengan bangga bahkan sampai membusungkan dadanya.
"Dih" Delik para sepupunya dengan geli.
"Aurel,sini nak sama grand ma sebentar." Panggil seorang wanita paruh baya yang sudah terlihat cukup tua.
Aulia berjalan mendekat kearah grand ma dari pihak daddy Jefry yang melemparkan senyuman teduh nan hangat itu.
Pluk
"Yaampun nak,akhirnya kamu kembali. Grand ma sangat sangat merindukan Aurel." Aulia tersenyum kaku kepada wanita paruh baya tersebut.
"Astaga,grand pa juga ingin dipeluk sayang sama cucu gran pa nya." Kekeh san kakek.
Setelah melepas rindu,em entah apalah Aulia pun bingung. Aulia menuju kearah sepupunya,Tania yang sedang asik menuobrol bareng dengan yang lain.
"Eh aku boleh gabung kan?" Tanya Aulia canggung.
Kompak semuanya saling pandang lalu menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
"Ish ngomong apa sih Rel? Biasanya juga lo bar bar banget. Tapi ini beneran lo kan? Kok gue kayak bau bau janggal ya?" Semprot sasha dengan candaannya lalu kemudian tertawa membuat seluruh saudaranya menatapnya dengan geleng geleng kepala.
"Sasha,lo jangan gitu ah. Tau kan kata tante kalo Aurel sekarang orangnya kayak kalem gitu." Lurus mengingatkan dan dapat anggukan dari Sasha dan yang lain.
"Yaelah Lan,bercanda juga. Ya kali gue nanti kena semprot sama tante Sindy." Sontak semuanya tertawa mendengar ungkapan sasha.
"Oh ya Rel,katanya lo pengen ketemu sama kakak ipar? udah ketemu belom?" tanya sambil sesekali melirik ponselnya,seperti menunggu pesan dari seseorang.
"Udah tadi." Jawab Aulia singkat dengan wajah tak tenang. Dan tentu saja hal itu mengundang rasa penasaran semuanya.
"Rel,lo gapapa?" tanya Sasha mencoba hati-hati bertanya.
"Hah? Gue? Ya gue gapapa kali. Ada apa emang?" Tak ada yang menyahut,namun semua mata tertuju pada dirinya membuat ia menghela nafas berkali-kali.
Hufth
Ternyata sangat berat dan sulit tidak mengingat apapun. Selain itu ia merasakan kejanggalan dari semuanya ini. Rasanya ia seperti seseorang yang harus hidup dengan identitas orang lain.
Karena selama setahun ini,dan selama itu ia tidak mengingat apapun tentang masa lalunya yang terhapus dari memorinya.
Dan esok lusa,adalah hari dimana ia memilih untuk pergi menjauh dari seluruh keluarganya. dan pilihannya adalah Los Angeles,negara yang dimana ia akan hidup seorang diri tanpa orangtua dan saudara.
Meski sedikit berat,tapi keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat sekalipun itu mom atau dadnya.
Mungkin,mungkin ya dengan ia memilih sendiri dan mencoba menggali segala informasi dari jauh secara diam-diam,bisa meningkatkan pemulihan ingatannya.
__ADS_1
'Sangat melelahkan ' Batin Aulia