Anak Kembar

Anak Kembar
Part 4


__ADS_3

***


Sukaina POV


Aku bermimpi aku berada disebuah taman yang begitu luas nan indah. Aku duduk berteduh dibawah rindangnya pepohonan.


Aku berjalan menyisiri bagian taman yang sangat indah itu sambil menikmati suasana yang indah dan udara pagi yang segar. Aku melihat dari kejauhan ada seorang wanita bersama anak-anak kecil duduk dan menangis disebuah taman yang tak kalah indah. Entah perasaanku memintaku untuk menghampiri mereka namun saat ku ingin melangkah ternyata terdapat sebuah jurang penghalang antara aku dan mereka. Wanita itu begitu familiar,aku merasa mengenalnya tapi aku tidak ingat kapan itu.


Bahkan aku tidak mengingat siapa aku dan namaku. Saat ku menoleh kebelakang aku melihat dua orang pria dan seorang wanita menuju ke arahku. Salah seorang lelaki itu masih terlihat muda mungkin sekitar umur 20an keatas. Mereka memanggil nama 'Aurel' dengan pandangan mengarah padaku. Aku begitu bingung dengan apa yang kulihat dan kudengar. Kemudian mereka mendekati ku lalu berhambur memelukku dan menangis.


Aku berusaha mengembalikan ingatanku tapi usahaku tetap saja sia-sia. Tidak ada yang kulakukan selain aku ikut menangis bersama mereka. Air mata itu berhasil mengalir deras dipipiku. Rasanya aku ingin bangun tapi tidak bisa. Aku akhirnya pasrah terhadap takdir,aku yang tidak tau siapa aku sebenarnya kuserahkan semuanya hanya kepada Allah.


......................


Mami Aurel masih dalam keadaan seperti kemarin,duduk disamping putrinya. Suaminya begitu sedih melihat istrinya yang seperti itu.

__ADS_1


Dia khawatir dengan kesehatan istrinya karna sudah 2 malam sehari dia belum juga makan. Pak Jefri terus berusaha membujuk istrinya agar mau makan. Karna jika seperti ini malah justru membuat keadaan makin memburuk.


"Mi,ayo makan dulu,bukannya mami ingin Aurel sadar? Princes pasti sedih melihat mami seperti ini". ucap Papinya sendu.


"Nggak Pi,pokoknya mami nggak mau makan sampe princes sadar. Titik". tegas maminya.


Arka sedih melihat keadaan maminya yang seperti itu. Dia pun mencoba untuk membujuk maminya.


"Mam..makan ya mam? Mami bukannya ingin princes cepet bangun? kalo gitu mami harus makan,biar princes cepet bangun ok?". Bujuk Arka. Walaupun dia tau itu mustahil tapi dia begitu yakin demi kesehatan mami tercintanya. Karna dimatanya hanya Aurel dan maminya adalah dua wanita yang terpenting dalam hidupnya.


Drett Drett


Handphone Aurel bergetar pertanda ada panggilan masuk. Mami aurel mengambil ponsel aurel yang terletak diatas nakas,terlihat nama 'Lisa' lalu maminya menggeser tombol hijau dan mengangkatnya.


"Halo,Rel kok kamu nggak ada kabar? Aku khawatir banget tau nggak?" ucap lisa bablasan dari seberang telepon.

__ADS_1


"Hmm maaf ini temannya Aurel ya? maaf ya nak princesnya lagi dirawat dirumah sakit" kata mami sindi.


"Rumah sakit?rumah sakit mana tante? Emangnya Aurel sakit apa ya tante? " tanya Lisa panik.


" Gimana kalo kamu kesini aja,nanti tante jelasin disini dan nama RSnya nanti tante sharelock kekamu ya" Ucap tante sindy lembut walau dibalik itu dia begitu terpukul dengan keadaan putrinya.


"Makasih tante. Assalamualaikum" ucapnya mengakhiri sambungan telepon.


"Sama-sama sayang. Waalaikumussalam" jawab ibu sindy.


Tante Sindy segera mengirim letak lokasinya. Sebenarnya Lisa sudah tau rumah sakit itu karna aurel sering sekali mengajaknya kesana. 30 menit kemudian Lisa sudah sampai. Dia langsung mencari ruang aurel dirawat.


"Assalamualaikum. Aurel...." ucap Lisa menangis,dia tak tega melihat sahabatnya dalam keadaan seperti ini. Mami sindy memberikan ruang untuk lisa berbicara berdua dengan aurel meskipun aurel belum sadar tapi mami sindy yakin kalau aurel mendengar apa yang mereka katakan.


Lisa duduk disamping Aurel dan menggenggam erat tangan Aurel. Air matanya jatuh tanpa aba-aba. Dia menangis melihat sahabatnya dengan kondisi yang menyedihkan.

__ADS_1


"Rel.. cepat sadar ya,aku kangen banget sama kamu,aku kangen sama masa-masa bahagia kita. Rel kamu harus kuat dan bertahan. Semua orang menyayangimu dan menunggumu." Ucap Lisa menangis. Lalu dia segera menyeka air matanya karna ia tak ingin membuat tante sindy makin sedih. Namun justru sebaliknya tante sindy bahagia melihat banyak yang menyayangi putrinya. Dia bersyukur bisa memiliki keluarga yang bahagia seperti ini.


__ADS_2