Anak Kembar

Anak Kembar
Part 32


__ADS_3

Hari Minggu,hari yang Aulia tunggu tunggu pun tiba. Hari dimana ia akan pergi meninggalkan keluarganya demi menuntut ilmu.


Semua keluarga ikut mengantarkan Aurel dibandara Soekarno-hatta.


"Mom,Arel berangkat ya? Mom sehat sehat ya? Jangan sampai sakit oke?" Kata Aurel membuat wanita paruh bayar itu tak kuasa menahan tangisnya yang sedari tadi ia tahan.


"Hiks..hiks..princes harus tetap kabarin mommy ya? Mommy gak akan tenang nak" Aulia menepuk nenek punggung wanita itu dengan lembut.


"Princesnya papy tetap jaga kesehatan dan jangan lupa untuk terus kabarin papi tentang perjalanan kamu ya sayang?"


Mereka membiarkan keluarga itu saling peluk pelukan dulu. Tak lupa juga Arka dan Atha.


"Rel,cepat balik! Nanti kakak bakal kasih hadiah kalo kamu bisa cepet kuliahnya." Bisik Arka pelan hanya didengar oleh keduanya


"Hadiah?"


"Boleh minta apa aja kak?" Aulia tersenyum smirk,sekarang ia tahu apa yang akan ia minta nanti. Melihat sentuman adinya seketika Arka bergidik ngeri. Namun Arka tetap mengangguk membenarkan,apa aja akan ia kasih.


"Oke. Ingat janji kakak ya! Awas aja ingkar!" Celetuk Aulia dengan senyuman penuh arti membuat Arka meneguk saliva nya. Kenapa ia baru tahu adeknya itu tersenyum seperti itu?


"Kak Thallaa, Aurel pengen peluk dulu hehe.." seru Aurel.


Arka memberenggut kesal. Giliran pada nya,Aurel tak sama sekali minta dipeluk.


"Ayo sini sayang." Ucapnya merentangkan kedua lengannya dan dirinya langsung melompat kepelukan sang kakak.


Pluk


"Kak Atha,mau gak kasih hadiah ke Arel?" Ucap Aurel membuat Atha menaikkan alisnya


"Hadiah apa hm?"


"Cuman satu macam kok."

__ADS_1


"Kasih keponakan yang lucu lucu hihi." Bisik Aulia dengan cekikikan lantas berlari meninggalkan sang kakak yang wajahnya yang sudah memerah seperti tomat.


"Aureelll..." Teriak para gadis anda langsung berhambur memeluk sepupu mereka itu.


"Astaga,lo pada mau bikin gue mati ya!?" Pekik Aulia


"Aaaa tapi kita bakal kangen bangett ihh.." Ucap Lisa dan Rina yang kebetulan juga ikut mengantar kepergian sahabat mereka.


"Astaga,gue juga bakal sekali kali kesini. Jadi jangan gini dong," ucapnya memelas. masalahnya tubuhnya sudah sangat sesak dan tercekik.


"Lo gak kangen apa sama kita"


"Bukan gak. Tapi ini kalian hampir bikin gue mati njirr." Langsung saja keduanya melepas pelukannya.


"Lo kesakitan ya? Maaf ya Rel. Habis kita juga pengen peluk lo."


"Oke,oke. Yang penting kita masih disatu langit yang sama kan? Jdi jangan pikir yang aneh aneh. Emang kalian pengen aku mati cepet?"


Aulia melirik arlojinya,kurang lima menit waktu ia check in terlebih dahulu.


"Mom,py aku duluan ya?"


"Hati hati nak. Jangan lupa kabarin kami semua ya?" Aurel hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis.


Lalu ia menoleh kearah sahabatnya untuk pamit. Tubuhnya berbalik membelakangi mereka semua.


Tes


Air mata menetes bebas dipipi Aulia. Memejamkan matanya kuat sambil menghirup nafas. Kemudian berjalan kembali,tapi ia menoleh kebelakang dan


Deg


"Hai Lia!" Sapa seorang pria dengan senyuman merekah.

__ADS_1


"Kalian si-siapa? Dan kamu--?"


"Lia,ini aku Levin,saudara kamu." Kata Levin.


Seketika ingatannya kembali teringat dengan perkataan bunda Rita


'Sayang,cepet pulang ya? Bunda punya kejutan buat kamu.'


'Kejutan? Kejutan apa bun?'


'Nanti salah satu keluarga kamu akan jemput kamu. Jadi selesai belajar langsung pulang ya sayang?'


'Siap Bunda.' Jawab Aulia dengan tangan memberi tanda hormat


"K-kamu ka-kakak aku?" Tanya nya terbata bata.


"Yes. Dan ini--"


"K-kenapa wajah kamu--" Aulia tak melanjutkan ucapannya. Rasanya ia tak sanggup,apakah ini adalah Aurel yang sebenarnya?


Dua hari sebelum hari keberangkatan nya,Aulia memang sudah mengingat semuanya. Tapi ia belum bisa mengatakan semuanya. Lidahnya terasa kelu untuk bicara. Tapi yang menjadi Alasannya adalah,kenapa wajah Aurel sangat mirip dengannya? Padahal mereka tidak sedarah?


Melihat keterdiaman Aulia,Aurel mendekat kearah Aulia. Lalu ia mengusap bahu saudarinya itu dengan lembut.


"Kita akan jelaskan Semuanya. Tapi--kita harus berangkat dulu. Nanti ketinggalan pesawat."


Mendengar hal itu,Aulia tersadar. Lantas iapun segera melanjutkan jalannya kembali.


"Kalian juga mau berangkat?" Tanya Aulia setelah semuanya duduk dengan Aurel duduk ditengah tengah keduanya.


"Iya. Kita pasti bakal jelasin kok ntar pas sampe."


"Hmm."

__ADS_1


__ADS_2