Anak Tunggal Kaya Raya

Anak Tunggal Kaya Raya
Eps.11


__ADS_3

Malam pun tiba. Alin dan Jefri duduk bersama di meja makan untuk makan malam bersama. Di sela-sela beres-beres meja makan setelah selesai makan Alim nyeletuk,"Yang kemarin kamu kan yang hajar mereka",


"Kemarin?",


"Anak-anak nakal yang kejar motor ku sama Vio kemarin itu kamu kan yang hentikan mereka",


"Iya",


"Kamu lawan mereka sendirian?Kamu tidak terluka?",


"Kata siapa tidak terluka, aku terluka",


"Serius?Kamu kenapa tidak bilang, mana coba lukanya?",Alin meraba-raba kaos yang di kenakan Jefri sampai membuka-buka kaos yang akhirnya memperlihatkan perut berotot Jefri.


"Jef mana?".


"Aku akan terluka kalau kamu terluka",


Melepaskan kasar tangan yang memegangi kaos Jefri."Anjing lu, sudahlah gue ngantuk",kesal Alin berlalu pergi saja meninggalkan Jefri.


Jefri sendirian diam-diam tidaklah langsung tidur, ia harus belajar terlebih dahulu. Ia juga harus memeriksa pemasukan keuangan bekelnya yang masih dirinya sendiri yang mengatur semuanya. Membuat nya harus tidur larut malam seperti biasanya.


++++++++


+++++++++++++


Beberapa bulan pun berlalu. Tanpa terasa akhirnya tahun tinggal menghitung hari saja. Jefri sendirian telah lulus sekolah SMA nya. Sekarang ia sudah berkuliah yang masih satu kota dengan tempat tinggal nya. Sementara Alin baru naik kelas tiga.


Di karena hari libur internasional satu Minggu. Jefri mengajak Alin untuk berjalan-jalan keluar kota ke tempat yang nyaman untuk melupakan sejenak hiruk pikuk padatnya perkotaan.


Villa dekat dengan pegunungan adalah tempat yang Jefri pilih untuk dirinya dan Alin melepaskan rasa penat.


Alin yang baru sampai langsung berkeliling Villa menikmati suasana sejuk hawa dingin udara pegunungan yang tidak tercemar sama sekali.


Saat itulah tanpa Alin sadari Jefri yang sudah ada di belakang Alin memeluk erat pinggang Alin,"Jef, nanti ada yang lihat Jef, malu",ucap Alin pada Jefri.


Mengabaikan ucapan Alin Jefri justru mencium pipi Alin gemas."Kenapa malu di villa ini hanya ada kita berdua",kata Jefri membuat Alin berdegup merinding.


Jefri yang terbawa suasana, langsung di hentikan oleh Alin."Jef, Jefri!!Tidak bisa Jef", melepaskan diri dari Jefri dan menjaga jarak aman.


"Kenapa?Kita suami istri, kamu juga sudah menerima aku, jika pun tidak aku tidak akan pernah mau menceraikan kamu",kata Jefri bernada santai menatap lawan bicara.


"Aku masih sekolah, tunggu satu tahun lagi",balas Alin berharap Jefri mengerti.


Jefri hanya terdiam menatap Alin dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Karena Jefri secara sikap tenang tapi tatapan nya.


"Sudahlah ayo cepat beres-beres dan makan, aku lapar Jef",kata Alin mengalihkan topik pembicaraan berharap suasana dingin ini menghangat.

__ADS_1


Jefri hanya terdiam membuat Alin akhir menarik pergelangan tangannya. Agar tidak lagi menatapnya dengan tatapan aneh.


Singkat cerita setelah mengangkat barang-barang dan meletakan di kamar peristirahatan. Di malam ini Jefri dan Alin pun berlalu turun ke lain bawah untuk makan malam bersama sebelum melakukan kegiatan lain.


Sesudah nya Jefri mengajak Alin untuk berkeliling-keliling sebentar melihat suasana malam di pegunungan ini. Yang saat Alin di bawa ke suatu tempat mata Alin langsung di suguhkan dengan pemandangan indah gemerlap cahaya perkotaan yang dapat Alin dan Jefri lihat dari atas bukit ini. Cahaya beraneka warna itu benar-benar sangat cantik seperti bintang.


"Beautiful perfect",ucap kagum Alin melihat indahnya cahaya beraneka warna itu.


Sekian lama di atas sana, Jefri dan Alin kini sudah dalam perjalanan turun kembali. Karena hari sudah menunjukkan jam 10malam juga. Dan hawa dinginnya semakin menusuk kulit.


Alin yang saat itu hanya mengenakan dress dan sweater rajut membuat nya masih merasakan hawa dingin malam ini.


Tanpa mengatakan apapun Jefri yang entah sejak kapan melepaskan jaketnya, ia sudah mengenakan jaket yang ia kenakan pada Alin. Agar Alin tidak lagi kedinginan.


Menyadari itu Alin hanya bisa terdiam kagum, dengan sikap dingin dan cuek suaminya yang tetap memiliki sisi perhatian yang memberinya rasa aman.


Alin mendekat merangkul pinggang Jefri,"Thanks",yang di balas dengan rangkul yang sama.


Keduanya melanjutkan perjalanan, berjalan beriringan dengan kedua tangan yang saling merangkul memberikan kehangatan.


++++


"Jef, kamu sudah tidur?",tanya Alin yang tidur menghadap Jefri yang tidur membelakangi nya.


Tanpa mengatakan sepatah katapun Jefri membalik posisi tidurnya menghadap Alin."Kenapa?",


"Kamu bakal...",Alin menghentikan ucapan fokusnya terlalu terpaku melihat Jefri yang menatap begitu sangat dalam.


Jefri mendekat kan wajahnya pada Alin hingga akhir ia tergerak bangun menindih tubuh Alin."Boleh iya?",tanya Jefri bernada sangat lembut nan tenang.


Alin tau memang tidak apa jika melakukan nya sekarang, tapi di satu sisi ia juga tidak boleh melakukan. Ia masih berstatus pelajar dan ia masih belum berkeinginan sedikitpun sampai harus putus sekolah hanya karena hamil. Karena sampai sejauh ini belum ada satupun orang yang tau dirinya sudah menikah.


Alin memegang pipi Jefri,"Sorry Jef",


Berubah lemah Jefri memilih menjatuhkan dirinya di atas Alin. Menidurkan dirinya di sana.


Berat emang, tapi Alin tetap terdiam tangannya justru tergerak mengelus-elus surai rambut Jefri yang lumayan gondrong.


Bayi besar ini benar-benar tertidur dalam posisi yang sama hingga keesokan pagi nya. Ia baru menggeliat bangun mengangkat kepalanya melihat raut wajah Alin yang masih Dani tertidur pulas.


"Atiss sial",umpat Jefri bernada rendah saat ia bangun dan menyadari celananya sudah dalam keadaan basah.


Bersamaan dengan itulah Alin baru terbangun karena merasakan sesuatu gerakan Jefri yang bangun untuk duduk di samping nya.


"Ini kenapa basah?"


Sudah duduk di samping Jefri,"Kamu ngompol atau aku yang ngompol",

__ADS_1


"Ihh jorok",


"Itu aku",


"Kamu yang ngompol...??".


"Bukan ngompol Alin",


"Terus apa kalau bukan ngompol, ihh jorok lah aku mau mandi duluan. Kamu lepaskan saja seprainya nanti aku cuci kan jorok",Alin berlalu pergi meninggalkan Jefri yang masih terduduk.


"Tapi Al ini bukan....", menghentikan ucapan di kala Alin sudah berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Next......


Alin yang sedang duduk sendirian di dekat kolam renang iseng-iseng browsing-browsing tentang masa pubertas. Hingga muncul artikel pubertas pada laki-laki. Alin baca artikel itu dengan seksama sebelum beberapa menit kemudian Alin alihkan perhatian nya melihat ke arah Jefri duduk di tepi kolam.


Entah apa yang Alin pikirkan Alin memilih terdiam berlalu pergi dari tempat bersantai nya.


+++++++++


Singkat cerita masa libur telah berakhir. Jefri dan Alin kembali kehidupan normal masing-masing. Jefri sibuk kuliah dan kerja, Alin sibuk sekolah.


Hingga di malam harinya Jefri baru bisa bersama dengan Alin kembali. Setelah ia baru saja selesai melakukan aktivitas nya di luar.


Jefri yang sangat-sangat letih memilih untuk segera mandi menyegarkan diri sebelum ia makan dan beristirahat.


Saat makan malam itupun Alin yang biasanya menemani justru tidak dengan hari ini. Alin memilih untuk duduk diam saja di atas tempat tidur memainkan layar ponsel nya. Hingga Jefri datang dan ikut bergabung merebahkan dirinya di samping Alin duduk.


Alin kembali tidur menghadap Jefri yang tidur terlentang menghadap langit-langit kamar."Gimana tadi?",


"Hemm",


"Ee...Jef",


Jefri menghela nafas berat ia berbalik mengubah posisi tidur menghadap Alin."Cepat tidur Al",


Tapi Alin tetap terdiam membalas menatap sorot mata Jefri yang menatap nya. Membuat sudut bibir Jefri terangkat tersenyum tipis.


Jefri mendekatkan wajahnya mencium kening Alin sekilas, perhatian Jefri turun membuat nya kembali bisa melihat balasan tatapan mata Alin padanya yang menghangatkan.


Perhatian yang di berikan Alin membuat Jefri berbalik mencium nya. Mencium hingga ******* bibir nya. Penuh hasrat sampai menindih kembali tubuh Alin. Ciuman Jefri yang lembut berangsur-angsur turun ke leher jenjang Alin.


Alin yang mulai gusar panas menjalar ke seluruh tubuhnya, ubun-ubun kepalanya serah panas mengembung terbakar hasrat. Jantung berdebar cepat membuat nafasnya tersengal-sengal. Pahala Jefri hanya menyentuh are sensitif, namun sentuhan itu lembut.


Mengigit bibir bawahnya,"Jef...",meremas surai rambut Jefri yang entah sadar ataupun tidak Jefri sudah berhasil melucuti sebagian besar pakaian Alin.


Argh.... ******* Alin yang membuat nya langsung menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan nya.

__ADS_1


"Sudah basah Al aku masukkan iya?",tanya Jefri terbawa hasrat. Wajah bayinya sudah berkeringat basah membuat sebagian surai rambut Jefri menutupi matanya, lepek.


__ADS_2