
Tanpa terasa dua minggu telah berlalu begitu sangat cepat. Jefri sebagai siswa kelas 3 SMA kini sudah mulai di sibukkan dengan banyaknya pelajaran persiapan ujian kelulusan di sekolah nya. Membuat ia memiliki waktu yang cukup sebentar ada di rumah.
Setiap kali pulang sore. Jefri hanya pulang untuk ganti pakaian dan makan. Selesainya ia langsung pergi kembali ke luar rumah untuk bekerja di bekelnya.
Begitu terus berminggu-minggu. Membuat Alin sering sendirian di rumah. Walaupun takut tapi lambat laun Alin mulai terbiasa sendirian di rumah nya. Dan hanya sesekali mengganggu Jefri jika ia sedang ketakutan sendirian di rumah.
"Lu serius tidak mau ribut lagi?",tanya Kris.
"Hemm",tengah duduk santai membersihkan busi motor.
"Kalau gitu gue pensiun lah",
"CK!!Gaya lu", menunjukkan layar ponsel di depan Kris."Info",
Membulatkan manik mata hitam nya membesar,"Tawuran coyy",
"Gass",beranjak dari tempat duduk sip berangkat dengan tangan kanan yang sudah menggenggam kunci besi besar.
Menatap heran,"Lu beneran belum sembuh",ucap Jefri."Lu lembur malam ini, cepat kerjakan",pinta Jefri tidak ada bantahan.
"Terus gue tidak lembur iya Jef?",Dion berbinar semangat.
Fokus memasang busi motor di depannya,"Lu bisa pulang kalau sudah selesai service dua mobil itu",kata Jefri.
"Iyaaa....gue lembur juga",
"Aaaahhh.....tawuran",tertunduk lesung tidak bersemangat."Gue mau patah kan tulang mereka",
"Cepat kerjakan",minta Jefri bernada santai namun berat yang terdengar tegas.
++++++
Terlalu bosan setelah selesai belajar. Alin coba melihat-lihat isi tas sekolah Jefri. Baru saja ia membuka resleting tas paling besar Alin langsung di buat terkejut dengan isinya.
Parang, iya di dalam tas Jefri ada parang. Alin mengeluarkan benar itu dan itu memang benar-benar parang.'Buat apa ini?',pikir Alin bertanya-tanya.
Parang itu tertutup rapat wadah kayu seukuran parang itu sendiri. Alin coba membukanya dan lagi-lagi di buat terkejut dengan noda bercak darah yang ada di parang itu.
"Apa ini?",ujarnya segera menutup kembali parang itu dan memasukkannya ke dalam tas Jefri. Alin yang awalnya memiliki maksud baik untuk membantu mengerjakan tugas sekolah Jefri yang mungkin bisa di kerjakan. Seketika Alin urungkan dan memilih menjauh meninggalkan tas ini.
Alin berlalu kembali ke atas tempat tidur. Sembaring memainkan layar ponsel yang menyalah untuk menghubungi seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Jefri yang saat itu tengah beristirahat sejenak menikmati kopi hitam yang Dion belum. Tiba-tiba pandangannya di alihkan oleh suara panggilan telfon suara masuk ke dalam ponsel nya.
Tersambung
"Ada apa Al?",tanya Jefri di seberang sini.
*Parang di tas sekolah mu itu milik lu?",
Terdiam sejenak melihat Kris yang terduduk membelakangi sibuk memperbaiki mesin motor."Bukan itu milik teman ku",
"Aku akan pulang larut malam, sorry. Nanti akan ku jelaskan di rumah".
*Tapi itu ada darahnya Jefri, itu darah orang kan?",bernada takut di seberang sana.
"Bukan Al, kamu jangan takut itu darah hewan".
*Beneran?".
"Hemm. Sudah cepat istirahat jangan terlalu di pikirkan".
*Lu pulang cepat, gue takut".
"Iya",
Menghela nafas berat kembali melihat Kris yang kali itu berbalik badan membuat tatapan keduanya bertemu."Kenapa?",tanya Kris dingin.
"Tidak, ayo cepat selesai besok motor ini mau di ambil sama yang punya",kata Jefri ikut membantu Kris.
"Woy Jef, bantu gue juga. Ini mobil satu juga mau di ambil besok hikss...hikss .....gue sudah gagal rebahan santuy Jefri. Bantu gue",minta Dion sedikit berteriak.
++++++++
Singkat cerita jam 1 malam Jefri telah selesai menutup bekel. Ia dan kedua temannya segera pulang ke rumah masingmasing setelah melakukan meeting sebentar.
Di karena sebentar lagi dirinya dan Dion akan di sibukkan dengan urusan sekolah juga dan persiapan lanjut kuliah. Membuat Jefri harus segera mencari orang untuk membantu Kris jika seandainya dirinya dan Dion tidak bisa datang atau datang terlambat.
Selama belum mendapatkan orang baru, Jefri dan Dion tetap akan sesulit apapun tetap membagi waktu untuk selalu datang tepat waktu ke bekel untuk membantu Kris.
Hampir lupa!Kris emang sahabat dekat Jefri. Tapi Kris satu tahun lebih muda darinya. Kris masih anak kelas dua, satu sekolah dengannya. Jadi tidak heran di saat Jefri dan Dion sibuk mempersiapkan ujian kelulusan sekolah. Kris masih bisa mensantai bekerja dan sering mengabaikan pelajaran nya.
Selain Kris. Vio juga hampir sama dengan Kris. Vio masih siswa kelas dua SMA negeri biasa yang tidak satu sekolah dengan sekolah elit Jefri dll.
__ADS_1
Next....
Setibanya di rumah. Jefri sudah tau kode pintu rumahnya segera masuk ke dalam rumah. Di salam ia berjalan berlahan lebih masuk ke dalam rumah sampai berhenti di depan pintu kamarnya.
Belum juga ia pegang gagang pintu nya. Seseorang di dalam kamar jauh lebih dulu membuka pintu melompat memeluk Jefri. Membuat tubuh Jefri sedikit terhuyung ke belakang.
Reflek merangkul pinggang Alin,"Ada apa?",
"Tau gue tidak bisa tidur",balas Alin melepaskan pelukannya.
"Lagian kenapa kamu pakai buka-buka tas ku?",
"Gue bermaksud mau bantu lu mengerjakan tugas sekolah lu".
"...Tapi parang itu".
"Parang itu milik Kris teman ku. Darah itu darah anjing yang tidak sengaja Kris bunuh pakai parang itu".
"Terus kenapa parangnya kamu bawah?".
"Karena Kris mau gunakan parang itu untuk tawuran, jadi sebelum terjadi sesuatu aku mengambil parang itu darinya",jelas Jefri pada Alin yang menyimak seksama."Sebenarnya masih banyak yang belum ku ambil darinya, iya semoga saja tidak terjadi sesuatu".
"Temen mu ko gitu, serem mainannya. Pakai senjata beneran".
"Kris baik ko, dia cuma....", menjedah kalimatnya membuat Alin terpaku melihat Jefri,"Apa?".
"Cuma cepat tidur be**go sudah jam segini masih belum tidur awas saja besok kamu tidak bisa bangun",omel Jefri mengiring Alin masuk ke dalam kamar.
+++++++
Keesokan harinya Jefri dan Alin menjalani keseharian nya seperti biasa. Walaupun sampai sejauh ini baik Jefri ataupun Alin tidak pernah mengutarakan rasa cinta yang mereka berdua milik. Jefri dan Alin tetap bersikap santai biasanya layaknya kehidupan keluarga pada umumnya.
Bagun pagi dan berangkat bersekolah bersama-sama. Jefri mengantar Alin terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke sekolah sendiri.
Begitu saja hingga berjalan selang satu bulan berlalu. Jefri sudah mendapatkan dua orang yang akan membantu Kris bekerja di bekel selama dirinya dan Dion datang terlambat atau hampir tidak bisa datang ke bekel karena urusan sekolah.
Sementara Dion bisa begitu. Jefri sebagai pemilik bengkel justru sebaliknya. Sesibuk apapun ia dengan urusan sekolah. Jefri akan tetapi menyempatkan datang ke bekel untuk sekedar melihat atau mengambil setoran.
Di jam istirahat sore menjelang solat asar. Jefri dan Kris tengah terduduk santai di kursi tralis besi di teras bekel tempat biasa para pelanggan duduk menunggu.
"Gimana kata dokter?",tanya Jefri membuka obrolan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Baik, lu fokus saja dengan ujian lu. Gue akan jaga diri gue sendiri dengan baik",
"Iya, lihat saja apakah ucapan lu itu bisa di pegang atau tidak",