Anak Tunggal Kaya Raya

Anak Tunggal Kaya Raya
Eps.9


__ADS_3

"Al",


"Alin",


"Alllinn",


Jefri berteriak-teriak memanggil-manggil nama Alin yang tidak kunjung ada balasan dari seseorang yang ia cari.


Di saat sibuk mencari di seluruh ruangan itulah Jefri mendapatkan panggilan telepon dari nomor salah seorang sahabatnya, Vio.


*JEFRI!!GUE DAN ALIN DI KEJAR-KEJAR GENG WOLF",bernada tinggi yang bercampur dengan suara motor juga yang melaju dengan sangat cepat.


*Cepat datang Jefri, aku takut",kata Alin yang di seberang sana bagian memegangi ponsel Vio sementara itu Vio yang fokus menyetir motor untuk menghindar dari kelompok geng Wolf yang mengejar.


"Serlok",Jefri yang langsung tode poin.


Tak butuh waktu lama Alin langsung mengirimkan lokasinya pada Jefri. Yang bergegas pergi saat itu juga menyusul Alin dan Vio yang dalam bahaya.


Baru ia turun dari lantai apartemen nya, memasuki are parkiran bawah tanah apartemen. Jefri sudah di sambut oleh beberapa kelompok anak buah geng Wolf bersenjata.


Namun Jefri tetap tenang berdiri di tempat nya, tanpa banyak bicara itulah Jefri langsung menghajar mereka yang keroyok dengan seperti detik.


Terlalu brutal menghajar mereka membuat Jefri tidak butuh waktu lama untuk menghajar kelompok ini. Sehingga setelah membereskan kekacauan ini. Jefri langsung tancap gas mengendarai motor nya meninggalkan parkiran ini.


"Vio mereka makin dekat",beritahu Alin yang benar-benar sangat panik ketakutan.


"Pegangan saja Al honda bapak tidak akan terkalahkan",


Alin hanya mengikuti saja memegangi jaket Vio dengan kedua tangan nya erat.


Brummmmm..........entah sudah berapa lama Alin dan Vio berkendara tidak tentu arah. Yang jelas Vio tetap akan mengendarai motor hingga Jefri dapat menyusul dirinya. Karena akan besar kemungkinan dirinya akan kalah jika memaksa melawan kelompok yang jumlahnya banyak ini.


Brommm.....Bromm......Di lain sisi Jefri dengan kecepatan maksimal fokus berkendara ugal-ugalan dengan motor H2 yang ia kendarai untuk secepatnya menyusul sahabat dan istrinya yang dalam bahaya.


Menerabas angin dingin sore menjelang malam. Sampai memasuki jalanan menanjak berkelok-kelok pun Jefri tetap tidak mengurangi kecepatan sedikit pun. Walaupun sisi kirinya tebing terjal dan sisi kanannya tebing bebatuan tinggi. Hingga tibalah saat nya ia mengeluarkan parang yang ia bawa dari wadahnya.


Kecepatan motor nya mulai ia kurangi, dengan tangan kiri yang sudah siap mengayunkan parang dalam genggaman nya. Dan tangan kanan tetap fokus menyetir motor.

__ADS_1


Sett....brugkk....grobakk.....Gaya brutal dengan tetap raut wajah datar Jefri menghajar mereka semua dengan parang yang ia bawa satu persatu tanpa perduli yang ia serang tadi masih hidup ataupun mati. Karena setiap serangan yang Jefri lakukan membuat mereka yang kena langsung tumbang. Bahkan sampai jatuh masuk jurang di sisi kiri, juga ada yang menabrak tebing di sisi kanan hingga tidak sadarkan diri lagi.


Hingga tibalah dua pengendara di depan yang langsung menghentikan motornya saat menyadari apa yang sedang terjadi di belakang nya.


Puas dengan pembantai yang telah di lakukan, saat hanya tinggal menyisakan dua musuh yang telah turun dari atas motor nya. Jefri pun mengikuti apa yang kedua musuh nya lakukan.


Ia menghentikan motornya, membuka kaca helm yang bersimbah bercak merah darah. Yang membuat kita dapat melihat dengan jelas sorot mata dingin Jefri yang tetap datar dan tenang.


"Hebat!!",bertepuk tangan kagum."Omongan itu ternyata benar, aku kagum",kata salah seorang pria ini.


Namun baru ia beberapa langkah mendekati Jefri. Keduanya langsung mendapatkan perlawanan dari Jefri yang sangat brutal. Sekalipun berdua keduanya di buat hampir terpojok dengan kebrutalan Jefri yang ingin segera membereskan kekacauan ini.


Brakk.....Memukul pipi salah seorang pria dengan punggung kakinya yang mendarat mulus.


Membuat Jefri yang setelah melakukan itu tidak sadar akan satu orang lainnya yang menikamnya dari belakang mengunakan belati.


Saat itu terjadi Jefri tetap terdiam dengan sorot mata yang sama datar dan dingin. Orang ini melepaskan genggaman nya mengambil langkah sedikit mundur ke belakang.


Sementara Jefri berbalik badan untuk melihat orang yang melukainya nya. Sikap tenang Jefri melepaskan helmnya membuat kita kebenaran melihat jelas betapa datar dan tenangnya raut wajah tanpa ekspresi Jefri.


Jefri tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikitpun. Sampai ia mencabut pisau belati yang menancap di punggung nya pun raut wajah datar Jefri tetaplah sama.


Langkah santai Jefri yang berjalan mendekati orang yang hanya tinggal sendirian ini membuat berjalan mundur hingga tersungkur terduduk. Yang membawanya sangat-sangat dekat dengan Jefri.


"A..ampun lepaskan aku",memohon sampai mengatupkan kedua tangan nya memohon.


"Siapa yang menyuruhmu?",


"A..ak...aku..", karena sangat-sangat ketakutan bicara orang ini menjadi berbelit-belit. Membuat Jefri yang lelah menunggu langsung saja menghantam kepala orang ini dengan helmnya berkali-kali membuat orang ini bersimbah darah tergeletak di depan nya.


Jefri merogoh kantong celananya mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang di seberang sana.


"Hallo",


*Jefri kami .....,"memotong ucapan Alin.


"Al bisa kamu suruh Vio berhenti aku ingin bicara dengan nya".

__ADS_1


*Iya",masih terdengar suara Alin di seberang sini."Berhenti sebentar",


"Ooo bentar-bentar menepi",balas Vio yang juga masih terdengar oleh Jefri.


Sesaat kemudian.


*Sudah lu bereskan?",


"Ya....lu antar istri gue pulang ke rumah orang tua nya lewat jalan lain. Bilang padanya gue akan menjemput nya nanti",


*Okey....lu tidak terluka kan?",tanya Vio seakan sudah mengetahui nya.


"Tidak, cepat antar istri gue. Gue tidak mau dia sakit karena lu",


*Idihh....bensin gue nihh...semoga aja nutut".


"Gue transfer",


*Wahhh...siap", panggilan langsung di akhir sepihak oleh Vio di seberang sana.


Namun Jefri masih harus menghubungi seseorang lagi di seberang sana. Dan selama seseorang kedua yang ia hubungi datang. Jefri akan tetap ada di sini sendirian menunggu seseorang itu sampai.


"Kata Jefri gue di suruh antar lu ke rumah orang tua lu. Jefri juga berpesan akan menjemput lu nanti",kata Vio pada Alin istri sahabat nya.


"Jefri baik-baik saja? Soalnya kelompok tadi tiba-tiba saja hilang di belakang kita",


Terdiam sejenak,"Jefri baik-baik saja, tapi karena masih ada urusan jadi Jefri mau kamu ke rumah orang tua mu dulu".


"Hemm...iya",respon Alin yang terlihat kurang yakin akan ucapan Vio.


"Sudah ayo....gue sampai panggil aku kamu gini kalau sampai Jefri tau di pecat gue jadi sahabat nya",candaan Vio berharap Alin sedikit terhibur.


Yang telah Jefri tunggu pun telah sampai. Di saat itulah mereka yang berdua puluh orang pria langsung melaksanakan tugasnya masing-masing. Yaitu membereskan kekacauan ini, bagi yang sudah mati akan mereka bereskan dan bagi yang masih hidup mungkin akan mereka bunuh atau mereka kembali ke keluarganya. Namun dalan keadaan cacat. Begitu saja mereka semua adalah badan intelijen pembersih tempat kekerasan kriminal terjadi.


Jefri menunggu sampai semua pekerjaan mereka semua selesai. Dan dari banyaknya korban hanya satu yang masih hidup itu pun sedang sekarat. Tapa rasa kemanusiaan Jefri masih dengan raut wajah datarnya menyuruh salah satu dari mereka untuk membunuhnya saja dan secepat membereskan kekacauan ini.


"Kami telah selesai Tuan. Semua barang bukti sekecil apapun telah selesai kami bereskan. Keesokan harinya pun kami akan mengutus beberapa orang lain untuk membersihkan lagi sampai semua benar-benar semakin bersih",kata pria dewasa ini pada Jefri.

__ADS_1


"Iya, kalian bisa pergi",minta Jefri pada mereka.


__ADS_2