Anak Tunggal Kaya Raya

Anak Tunggal Kaya Raya
Eps.18


__ADS_3

"Mas, dia cuma pingsan saja kan?Dia beneran masih hidup kan?",tanya Nina cemas sendiri melihat tubuh seorang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur yang belum kunjung siuman.


"Dia cuma pingsan, yasudah sana istirahat. Mas akan tidur di ruang tamu",kata Nanang berlalu keluar kamarnya sendiri. Meninggalkan adiknya yang masih penasaran. Namun pada akhirnya ikut menyusul keluar kamar karena takut sendiri.


Karena kamarnya di gunakan perempuan misterius yang di temukan adiknya di danau. Nanang harus tidur di ruang tamu di kursi kayu panjang. Baru saja akan merebahkan dirinya Nina datang menghampiri.


"Mas wanita itu beneran masih hidup?",


"Masih adikku",


"Aku takut Mas",


"Terus kamu apa dik?",


Tertawa kecil,"Heheh.....aku tidur di sini iya mas",


"Yasudah kamu tidur di sini, mas akan tidur di bawah",kata Nanang beranjak dari tempat duduknya. Mengelar karpet dan tidur di bawah sampai sova panjang tempat adiknya tidur.


Sudah tengah malam hujan rintik-rintik juga sudah berjatuhan membasahi seluruh tanaman dan tanah di hutan Kelaras. Namun kedua lelaki ini masih berada di tengah hutan mencari kebenaran Alin yang entah ada di mana. Suasana yang gelap gulita hanya mereka berdua terangi dengan satu cahaya seter headphone milik Jefri. Agar jika headphone Jefri mati masih tetap ada headphone Kris sebagai cadangan cahaya.


"Istirahat Jef, gue beneran capek",kata Kris yang seharian penuh belum istirahat. Kris bahkan masih mengenakan seragam sekolah yang sudah lusuh.


Jefri sebenarnya tidak ingin istirahat tapi melihat Kris, ia memilih untuk menyetujui nya. Istirahat sejenak dengan pikiran yang masih kacau tentang Alin.


Keduanya berteduh sejenak di bawah pohon memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan mencari kebenaran Alin.


"Jefri",ujar Alin siuman. Alin terduduk melihat sekeliling nya, berpikir dirinya tertangkap lagi. Dengan tubuh yang masih lemah Alin memaksakan diri berjalan keluar ruang kamar ini dengan berpegangan pada dinding.


Nina yang belum bisa tidur, iya yang menyadari lebih dulu segera membangun kakak laki-laki nya."Mas, mas, dia bangun mas",


Nanang terbangun melihat ke arah pintu kamar nya yang sudah menampakkan Alin yang sudah berdiri bersandar pada dinding pintu kamar. Sayangnya Alin yang masih sangat lemah tiba-tiba kehilangan keseimbangan pijakan kaki nya.


Syukurlah Nanang cekatan menangkap tubuh Alin sebelum mencium lantai."Seharusnya kamu tidak bangun-bangun, kamu masih lemah",kata Nanang.


"Aku harus pulang, Jefri sedang menunggu ku, dia akan sangat khawatir jika aku tidak segera kembali",kata Alin bernada lemah.


"Iya saya tau, tapi kamu butuh istirahat. Tunggu besok saya akan mengantar kamu pulang",

__ADS_1


"Benar kak, kakak istirahat saja sampai pulih",timpal Nina.


Menyadari tubuhnya memang masih terlalu lemah, terlalu kecapean. Alin dengan terpaksa menuruti keinginan kedua orang ini untuk kembali berbaring di atas tempat tidur. Nina sempat menawarkan makanan pada Alin. Tapi Alin tolak dengan halus. Alin memilih untuk kembali beristirahat dari pada makan terlebih dahulu.


Next.....


"Kris",panggil Jefri membangunkan Kris yang masih tertidur pulas.


Kris terbangun mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali untuk menghilangkan perhatian kabur.


"Sebelah barat ada perkampungan kecil, mungkin Alin bersembunyi di sana",kata Jefri bersiap pergi.


"Lu tidak tidur semalaman?",


Jefri tidak menjawab, ia berlalu pergi lebih dulu meninggalkan Kris yang baru akan beranjak dari tempat nya duduk.


Dari raut wajah Jefri sudah terlihat jelas tidak tidur semalaman. Namun ia tidak memperlihatkan rasa lelahnya. Jefri tetap tenang dan fokus pada tujuan awalnya mencari kebenaran Alin. Sebegitu khawatir Jefri pada Alin hingga ia mengabaikan dirinya sendiri.


Singkat cerita setelah berjalan beberapa menit. Jefri dan Kris di suguhkan dengan sebuah perkampungan kecil yang hanya di huni beberapa rumah warga. Tidak banyak sehingga mudah untuk Jefri dan Kris mencari kebenaran Alin.


Setibanya di rumah paling ujung. Jefri menghentikan langkah kakinya untuk mengetuk pintu pemilik rumah. Tokk....Tokk.....berlahan-lahan pintu rumah ini terbuka menampilkan seorang lelaki berdiri di sana.


Melihat foto yang Jefri perlihatkan padanya,"Mas ini siapanya wanita ini?",


"Saya suaminya",balas Jefri."Istri saya hilang sudah semalaman saya mencari tapi tidak kunjung bertemu. Jika kamu tau segera beritahu saya",minta Jefri yang sangat putus asa.


"Kenapa bisa hilang?",


Menundukkan wajahnya,"Istri saya di culik",


"Jefri",ujar seorang wanita yang segera berlari menghampiri pintu keluar dan memeluk erat Jefri.


Jefri yang terharu bahagia hanya terdiam memeluk erat kembali sesosok wanita yang semalaman ini dirinya cari-cari.


"Mas, dia siapa?",tanya Nina berbisik pada kakak laki-laki nya.


"Suaminya",

__ADS_1


"Oh",


Baru datang menghampiri Jefri,"Jef, kita harus segera pergi",ajak Kris pada Jefri."Mereka berhasil menemukan kita, mereka tau kalau kita mencari Alin",beritahu Kris.


Jefri menyudahi pelukannya, tangannya mengepal geram."Iya",balasnya dingin.


Berpaling pada dua orang yang telah menolong istrinya. Jefri memberikan kartu namanya pada lelaki ini,"Ini kartu nama ku, jika butuh sesuatu hubungi saya. Terima kasih sudah menolong istri saya",


Yang hanya di balas dengan anggukan kepala.


"Tunggu, seragam sekolah ku",kata Alin.


Selepas menunggu beberapa menit Alin keluar dengan pakai yang masih sama. Seragam nya hanya di terlipat di dalam paperback belanjaan.


++++++


++++++++++


Sudah memastikan Alin dalam keadaan aman. Jefri kembali fokus pada motif penculikan yang telah terjadi pada Alin. Motif yang sangat membahayakan Alin sangat lah membuat Jefri marah. Sehingga tepat di hari yang sama Jefri langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari kebenaran para pelaku hidup maupun mati ke hadapan nya.


Tidak butuh waktu lama untuk orang-orang suruhan Jefri menemukan pelaku. Karena kembali lagi pada status keluarga Jefri yang bukan orang sembarang. Pengaruh keluarga cukup berpengaruh.


Next......


Di sebuah ruangan inilah Jefri berhadapan langsung dengan kedua orang dalan dari motif penculikan Alin. Kedua penutup kepala yang menutupi kepala keduanya di lepaskan membuat keduanya bisa melihat jelas kehadiran Jefri di depan mereka berdua terduduk di kursi kayu dalam posisi masih terikat kuat.


Jefri tidak menunjukkan ekspresi wajah apapun selain datar menatap keduanya. Yang ternyata bukanlah orang asing untuk nya ketahuan. Karena mereka berdua adalah Dani dan Stella.


"Sudah ku katakan jangan ganggu keluarga ku",kata Jefri bernada dingin pada mereka berdua.


Menatap tidak mau kala tajam,"CK!!Gue tidak perduli.... Penderitaan keluarga mu adalah kebahagiaan ku",kata Stella bernada tidak kala dingin dan keji.


Jefri tetep terdiam enggan untuk merespon apapun perkataan Stella. Ekspresi wajah Jefri sangat datar, tidak ada yang bisa di bawa dari mimik wajahnya. Entah dia sedang ketakutan, atau dia tidak sedang takut sama sekali.


Dorr....Dorr.....Iya, tanpa memberikan respon apapun justru Jefri membuat terkejut semua orang anak buah nya yang ada di dalam ruangan ini tidak terkecuali Dani yang duduk paling dekat dengan Stella. Dari raut wajahnya Dani tidak bisa menyembunyikan lagi keterkejutan nya dirinya akan balasan yang Jefri berikan.


Apa itu?Dengan menembak Stella tepat di bagian kepala bersamaan sebanyak dua kali tanpa jeda waktu. Hal itu membuat tubuh Stella langsung terkulai lemas bersimbah darah. Dan Dani yang tekena percikan darah Stella hanya bisa terdiam mematung. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan tapi dirinya tidak dapat berbuat apa-apa selain tetap terdiam mematung.

__ADS_1


Pistol itu kini mengarah ke arah Dani dengan mata membulat sempurna menatap lurus ke arah luba pistol itu.


Jefri dengan raut wajah datar nya, mulai mengerakkan jari jemarinya menarik pelatuk cekk.....


__ADS_2