Anak Tunggal Kaya Raya

Anak Tunggal Kaya Raya
Eps.21


__ADS_3

Kelulusan telah di umumkan. Kini Alin dan teman-teman telah lulus dari sekolah. Di suasana siang hari di suatu cafe sederhana dekat pantai. Alin, Lina dan, Linda terduduk bersama. Begitu juga Hima yang ikut bergabung karena harus mengurus ijazah nya di sekolah. Sehingga Hima memiliki kesempatan juga untuk bertemu ketiga sahabat nya.


"Sekarang lu tinggal di mana Him?",tanya Linda pada Hima yang banyak diam melamun memainkan sedotan minuman pesanannya.


"Gue tinggal sama kedua adik gue",


"Tunggu!!Lu tidak tinggal sama salah satu dari orang tua lu??",tanya Alin sedikit emosi terkejut.


"Tidak",balas Hima."Gue tinggal di rumah yang mereka berdua beli untuk aku dan adik gue".


"Hima",seru Alin melihat sedih Hima.


"It's Okay Al. Selama adik-adik gue bahagia gue juga akan bahagia",kata Hima tersenyum tipis.


"Kalau ada apa-apa hubungi salah satu dari kita Him. Insyaallah kita akan datang membantu",kata Linda.


"Siap".


Alin berjalan berlahan menyusuri lorong apartemen rumahnya sebelum akhir berhenti tepat di depan pintu apartemen nya. Setelah pintu terbuka. Alin bergegas menutup kembali, tidak lupa untuk melepaskan sepatu sebelum berlalu masuk lebih ke dalam rumah.


Menyadari suasana rumah masih sepi. Berpikir Jefri belum pulang. Alin pun berlalu seperti biasa masuk ke dalam rumah. Berganti pakaian sebelum akhir mengambil peralatan menyedot debu.


'Di rumah pakai sabu di sini tinggal sedot-sedot-sedott',pikir Alin tersenyum lebar menyadari betapa mudahnya pekerjaan beberes rumahnya.


Di tengah-tengah itu tiba-tiba pintu utama rumah terbuka yang menampilkan seorang lelaki di sana."Iyaa, sudah pulang".


"......",


"Aku belum masak apapun untuk nanti malam",


"Aku baru pulang juga, hehehe.....",


"Santai saja",respon Jefri sebelum berlalu meninggalkan Alin.


Sementara Alin masih melanjutkan pekerjaan nya. Akan tetapi sesaat kemudian Jefri justru kembali membawa peralatan mengepel lantai. Ia juga berjalan mendekati Alin untuk mengambil Alih mengunakan alat penyedot debu ini."Biarkan aku melakukan nya. Kamu bagian yang masak".


Sempat tercengang mematung hingga akhir Alin reflek menyungging di sumringah bahagia di barengi anggukan kepala menyetujui.


Jefri benar-benar melakukannya. Ia membersihkan seisi rumah ini dengan sangat baik sekali. Hingga rumah ini benar-benar terlihat rapi dan bersih.


Sementara yang di dapur sangat sibuk membuat menu makan malam untuk nanti seenak mungkin. Dan Alin melakukan kegiatan dengan seneng juga bahagia. Karena Jefri memahami sepenuhnya tentang pekerjaan rumah tangga. Dan ia mau turun tangan membantu langsung pekerjaan rumah tangga. Suatu hal sederhana yang membuat Alin sekarang sangat bahagia.


++++++


"Lin", panggil Vio pada Linda yang tengah fokus antri untuk membayar buku di meja resepsionis.

__ADS_1


"Apa?".


"Setelah ini jalan-jalan ke taman sebentar, bisa?".


"Okay",


Sesuai dengan ajakan Vio tadi. Kini keduanya sudah tengah berjalan beriringan di jalanan setapak taman yang di terangi lampu remang-remang kuning kemesraan.


Baik Vio ataupun Linda banyak diam sepanjang perjalanan ini. Keduanya hanya fokus memperhatikan suasana sekitar taman yang masih sangat ramai. Walaupun hari mulai beranjak malam.


"Lin",


"Apa?", menghentikan langkah kakinya berbalik melihat lawan bicara nya.


"........Besok libur kamu ada kegiatan?",


"Tidak, aku kan sudah lulus sekolah. Jadi kesibukan ku hanya kerja".


"Berarti besok kamu kerja".


"Tidak kan besok libur Vio".


"Ah....astaga. Hhhahahhh",menggaruk-garuk tengkuk kepalanya yang tidak gatal sembaring tertawa renyah.


"Pantai",jawab Vio."Melihat sun...Sule....".


"Apasih Vi, sunset",ujar Linda di barengi memukul pelan bahu Vio di barengi tertawa renyah."Dasar be**go!!".


"Aku lupa namanya apa, sorry, sorry".


"Hhhhahahh.....".


"Udah Lin Udah, ketawa mu bahaya".


Terdiam menatap datar Vio,"Bahaya kenapa?".


"Karena terlalu manis, jadi bahaya kalau kamu tertawa", mendekat berbisik di daun telinga Linda."Banyak orang yang kecantol".


Mendorong pelan Vio agar menjauhinya."Apasih aneh".


"Hemm...",Vio tersenyum tipis sembaring tergerak merangkul bahu Linda."Lanjut lagi...sekalian aku antar pulau",kata Vio melanjutkan perjalanan sembaring tetap merangkul bahu Linda.


Singkat cerita selepas meyelesaikan pekerjaan nya. Kris berniat akan langsung pulang ke rumah toh dirinya juga sudah mulai bekerja full time bukan part time lagi seperti dulu. Iya, selepas lulus sekolah sekarang. Kris memilih untuk tetap bekerja di bekel Jefri. Toh jika pun mau merantau dirinya tidak akan tega meninggalkan neneknya sendirian rumah. Di usia neneknya yang sudah menginjak 75 tahun, kecil kemungkinan hal-hal tidak terduga bisa saja kapan pun terjadi.


Sehingga Kris memilih untuk tetap bekerja di bekel Jefri. Dan fokus merawat nenek tersayang nya di rumah di masa-masa tua nya.

__ADS_1


Next.....


Kris mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang melewati jalan kota yang tidak terlalu ramai ini. Hingga sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya. Kris menepikan motor nya terlebih dahulu sebelum mengangkat panggilan telepon dari wanita tersayang nya. Nenek.


Tersambung.


"Ada apa Nek?".


*Tolong mampir belikan nenek buah melon, sepertinya kalau di makan dingin-dingin pakai susu yang kemarin kamu belikan".


Kris yang terkenal dingin dan minim senyum atau hampir tidak pernah sama sekali tersenyum. Tapi hanya dengan mendengar ucapan neneknya saja melalui panggilan telepon suara Kris memperlihatkan senyum manis.


"Baik Nek, nanti aku bawakan".


*Iya, hati-hati di jalan",pesan Nenek Kris di seberang sana sebelum mengakhiri panggilan telepon nya sepihak.


Dari sinilah kita akan dapatkan melihat sekilas foto wanita lain dalam wallpaper layar handphone Kris sebelum mati.


+++++++


+++++++++++


"Pagi",sapa Jefri pada Alin yang baru saja membuka kelopak matanya. Alin tersenyum tipis membalas sapaan hangat dari Jefri.


Tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Jefri tergerak merangkul Alin kembali agar terkunci pegerakan nya di dalam pelukannya.


Menyadari itu,"Jef, aku lapar. Dan jika aku lapar aku harus masak".


"Masih jam 7 Al, tidak mau lanjut lagi?".


"Jefri Abdi...".


"Baiklah, mandi bareng setelah itu ayo cari makan di luar",ajak Jefri tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh Alin seperti tidak membawa beban beranjak turun dari atas tempat tidur.


Alin yang sempat di buat melongo kaget langsung merubah raut wajah menjadi datar kesal jengkel."Seperti tidak ada beban dalam tubuh ku. Apakah aku terlalu suci untuk memilih dosa yang membuat berat badan ku naik",gumam Alin yang masih dapat di dengarkan Jefri.


Bagaimana tidak berpikir demikian?Jefri selalu mengendong Alin tanpa memperlihatkan wajah kerepotan sedikitpun. Bahkan tidak pernah ada raut wajahnya keberatan di sana. Jefri selalu terlihat santai seperti tidak membawa beban apapun. Dan itu selalu membuat Alin jengkel. Apalagi setelah banyaknya makan dan cemilan yang selalu dirinya makan. Dengan postur tubuh yang tetap itu-itu saja tentu semakin membuat Alin jengkel. Dan jengkelnya lagi saat Alin coba memeriksa kesehatan nya. Hampir semua dokter bilang dirinya sehat. Postur tubuh yang tetap ideal ini karena Alin pintar menjaga pola hidup sehat. Sehingga sebanyak apapun Alin makan dirinya akan tetap memiliki postur tubuh ideal.


Next......


Di kedai makanan sederhana inilah Jefri dan Alin tengah menikmati menu makan paginya. Yang di temani semangkuk bubur ayam. Dan teh hangat juga kopi hitam milik Jefri.


"Jef setelah ini jalan-jalan yok?",


"Iya habiskan dulu makanan mu",kata Jefri bernada hangat seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2