
Singkat cerita Jefri benar-benar membawa barang bawaan milik Alin yang sudah Jefri kemas ke dalam bagasi mobil. Di pagi hari ini Jefri pergi mengantar Alin berangkat sekolah menggunakan mobil karena ia harus langsung pergi ke rumah ayahnya.
Selesai mengatakan Alin. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit. Akhir sampailah Jefri di kediaman rumah keluarga Abdi. Di sana Jefri langsung menemui ayahnya yang memang sedang menunggu kedatangan nya di ruang keluarga.
Jefri berjalan masuk ke dalam rumah mansion mewah ini dan terhenti di ruang tengah tamu. Ia duduk di sova kosong depan ayahnya duduk.
"Ada keributan apa?",
"Tidak ada yang serius, tapi aku tidak mau melibatkan Alin. Aku dan Alin akan tinggal di sini sampai aku selesai membereskan nya",kata Jefri pada ayahnya.
"Lekas bereskan, jangan sampai menantuku terluka",Han beranjak dari tempat duduk,"Ayah mau pergi urusan bisnis di luar negeri selama beberapa Minggu",
Masih terduduk membiarkan ayahnya pergi menjauhi nya."Hati-hati",pesan Jefri pada ayahnya yang belum sepenuhnya pergi jauh dari tempatnya duduk sekarang.
Han tersenyum tipis kembali. Karena sedingin dan sekeras apapun ego keduanya. Baik Han ataupun Jefri sebenarnya saling menyayangi satu sama lain. Sekalipun itu sangat jarang sekali keduanya tunjukkan.
Selepas kepergian Han. Jefri kembali keluar rumah untuk mengabaikan barangnya sendiri di bagasi mobil. Sekalipun banyak pekerja di rumahnya. Jefri lebih suka melakukan semuanya sendirian sejak remaja. Sehingga hampir semua pekerja di rumah nya, jika tidak di minta maka mereka hanya akan terdiam menunduk kepada. Karena jika lancang Jefri tidak segan-segan untuk membentak mereka memarahi mereka.
Kamar Jefri ada di lantai atas. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan tapi tetap terlihat rapi dan bersih saat ia sampai. Sehingga saat baru sampai itulah Jefri langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sebelum ia bersiap-siap untuk berangkat kuliah.
Next.......
Singkat cerita jam pulang sekolah telah tiba. Alin bermaksud akan keluar jalan-jalan sebentar bersama teman-teman nya. Tapi karena sudah janji dengan Jefri. Alin memilih mengurungkan niatnya dan pulang bersama Kris yang sudah menjemput dan menunggu nya di luar gerbang sekolah.
"Bang Kris bukan....",Alin yang baru menyadari yang menjemput nya bukan lagi Vio.
"Vio sedang ada urusan",
"Hemm",
Alin pun beranjak naik ke atas jok belakang motor Kris. Sembaring mengenakan helm yang Kris berikan untuk nya kenakan.
Memperhatikan Kris yang seperti seorang anak sekolah,"Abang masih sekolah?",
"Masih",
"Sudah pulang",
"Iya, gue pulang lebih awal dari lu",balas Kris yang mulai fokus menyetir motor yang tengah ia kendarai untuk mengantar Alin pulang.
"Oh",
Sepanjang perjalanan Kris lebih banyak diam dari pada Vio. Membuat Alin sangat-sangat canggung jika harus memulai obrolan terlebih dahulu untuk yang kedua kalinya. Sehingga di sepanjang perjalanan sampai pekarangan rumah pun Kris tetap banyak diam. Kris hanya mengatakan,"Gue duluan",dua kalimat sebelum berlalu pergi meninggalkan Alin.
"Aaa.... lihat dia seperti lihat Jefri. Uhh mengesalkan",gumam Alin berjalan masuk ke dalam rumah mansion mewah ini.
__ADS_1
Di lain sisi Stella benar-benar melakukan pertemuan kembali dengan seorang pria yang ia temui di bar kemarin. Setelah melakukan pertemuan singkat sebelum berlalu pergi meninggalkan tempat pertemuan ini.
+++++
"Bi",panggil Alin pada asisten rumah ini.
Asisten ini berjalan mendekat sembaring tetap menurunkan pandangan nya,"Ada yang bisa saya bantu Nona?",
"Ayah dan Jefri belum pulang?",
"Tuan besar ada dinas keluar negeri, Tuan muda masih belum kembali Nona",
"Hemm, baiklah bi",
"Nona mau makan apa biar saya buatkan makan malam?",
"Tidak perlu, aku akan buat sendiri",kata Alin pada asisten rumah ini."Bibi boleh pergi",minta Alin.
"Baik Nona, permisi",pamit asisten rumah ini dengan sangat sopan.
Alin merasa sedikit berbeda setiap di sini, di satu sisi harus menyesuaikan diri. Dan dirinya sangat-sangat kesepian di rumah sebesar istana ini. Alin berkeliling pun juga hanya membuat capek karena itu sudah sering sekali Alin lakukan setiap kali ke sini.
Pergi ke dapur menyibukkan dirinya di sana adalah cara terbaik untuk mengatasi rasa bosannya. Hingga Jefri yang kedatangan tidak di sadari Alin benar-benar membuat nya sangat terkejut.
Jefri masih berdiri tegak membawa jaket juga tas ransel yang masih di bawa,"Kenapa masak?",
"Kan emang biasanya gini",balas Alin enteng toh biasanya juga gini."Aku bosen, kalau tidak masak iya ngapain lagi".
"Sudah sini cuci tangan mu dan ayo makan",ajak Alin yang duduk di kursi meja dapur yang lumayan luas sekali ini.
Jefri menurut saja meletakkan tasnya di atas meja mencuci tangan dan ikut duduk di samping Alin yang sibuk mengambil kannya alat makan.
"Satu piring",
Tersenyum tipis,"Cuci piring nya biar tidak banyak",
Jefri tidak membalas apapun, ia langsung menyendok makanannya untuk segera ia makan. Begitu juga dengan Alin yang melakukan hal yang sama.
Selepas makan Alin yang masih di dapur terduduk tenang menunggu Jefri selesai mencuci bawah kotor berkas makanan. Selesai nya Alin baru berlalu pergi meninggalkan dapur bersama Jefri. Berjalan beriringan membawa jaket Jefri dalam pelukan nya.
"Jef kamu kenapa tidak bilang kalau ayah sedang keluar negeri",masih berjalan beriringan.
"Kenapa?Mau jalan-jalan ke luar negeri juga?",
"Tidak",
__ADS_1
"Besok kamu bakal jemput aku?",
"Maaf Al tidak bisa",
"........".
"Tapi aku akan pulang cepat",
"Janji iya",
"Iya",
"Besok kamu diantar supir dan di jemput supir rumah, jadi kalau mau ngajak teman mu ke sini juga tidak papa. Asal satu....",
Terdiam melihat Jefri,"Suruh mereka untuk tidak mengambil foto ataupun video. Aku tidak mau publik tau privasi keluarga ku".
"Aku akan ambil ponsel mereka selama di sini, jadi tenang",
Mengelus lembut surai rambut Alin gemas.
Tengah malam Jefri tiba-tiba terbangun, ia berlalu keluar kamar tanpa Alin menyadari nya. Jefri pergi dengan membawa ponsel nya yang layarnya menyalah.
Selepas di luar kamar Jefri mengangkat panggilan telepon suara yang masuk ke dalam ponsel nya.
*Jef, bekel kita di bakar Jefri. Sialan",kata Dion di seberang sana bernada kesal marah. Terdengar masih sangat jelas walaupun sangat ramai sedang banyak suara orang di seberang sana.
"Lu dan Iqbal gimana?",
*Gue dan Iqbal baik-baik saja, tapi bekel kita. Rugi besar Jefri!!",
"Nyawa kalian berdua lebih berharga dari pada bekel itu. Bekel akan kita urus besok, jika api sudah padam lu ajak Iqbal pulang dan beristirahat",
*Tap.....",
"Dion!!",tegas Jefri.
*Okey-okey gue akan pulang",
Setelah Dion mematikan panggilan telepon suara ini sepihak dari seberang sana.
Lagi-lagi walaupun terkesan cuek. Jefri tetap menyuruh seseorang bawahan pergi ke sana untuk sekedar mengamati situasi yang sedang terjadi di sana.
Walaupun tidak bisa beristirahat dengan tenang setelah mendapatkan kabar seperti itu. Jefri tetap berusaha bersikap tenang, ia berlalu kembali ke dalam kamar dan beristirahat kembali di samping Alin.
Sementara itu di tempat kejadian. Bekel Jefri yang benar-benar emang sudah hangus terlelap si jago merah tanpa sisa berserta kendaraan klien nya. Sehingga Dion dan Iqbal yang melihat itu hanya bisa mengelus jidat saja. Sebelum berlalu pergi untuk pulang beristirahat di rumah masing-masing dengan perasaan gusar dan bingung harus di ganti dengan pada kendaraan bagus yang sudah hangus itu.
__ADS_1