Anak Tunggal Kaya Raya

Anak Tunggal Kaya Raya
Eps.34


__ADS_3

Menjelang sore Jefri sampai di depan rumah. Ia yang masih sangat lemah tetap memaksakan diri untuk berjalan sendiri masuk ke dalam rumah. Diko yang khawatir memilih untuk mengikuti Jefri dari belakang untuk memastikan majikan nya benar-benar sampai di kamar nya dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah memastikan Jefri sudah berbaring di atas tempat tidur. Diko pun izin pergi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan nya.


Selepas kepergian Diko Jefri yang masih sangat lemah karena kehabisan banyak darah hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Dengan raut wajahnya yang masih sedikit pucat. Sebenarnya Jefri harus rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit. Tapi Jefri tetap memaksa pulang walaupun dirinya tau masih sangat membutuhkan perawatan medis.


Sampai akhirnya menjelang malam hari. Alin yang sudah sampai di rumah langsung berjalan kembali ke kamar dengan harapan Jefri sudah ada di kamar sekarang.


Cklek......pintu kamar yang terbuka dari luar."Jefri",seru Alin berjalan mendekat.


Alin langsung menunduk dirinya di samping Jefri tertidur, meletakkan tangannya di kening Jefri untuk memastikan apakah Jefri sedang demam dengan raut wajah sepucat ini.


'Badannya dingin, tapi kenapa pucat sekali?',pikir Alin yang beberapa saat kemudian hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun di urungkan oleh Jefri yang menggenggam tangan nya."Ambil obat penambah darah di laci",minta Jefri bernada rendah.


Alin yang langsung faham akan maksud Jefri,"Bentar aku buatkan bubur dulu",kata Alin melepaskan genggaman tangan Jefri.


Alim kembali keluar kamar untuk membuat bubur agar Jefri bisa makan sedikit sebelum minum obat.


Singkat cerita Alin kembali ke kamar menaruh bubu dan minuman di atas meja samping tempat tidur. Sementara Ia beranjak berusaha membangun Jefri agar duduk.


"Sebenarnya kamu habis ngapain?",tanya Alin yang melihat Jefri seperti orang menahan sakit saat akan duduk.


"Tunggu, tunggu, bentar!",saat Jefri sudah duduk Alin langsung mengangkat kaos depan Jefri membuat Alin bisa melihat perut Jefri yang sedang di balut perban luka.


Alhasil Alin langsung terdiam tidak bertanya apapun lagi. Alin hanya duduk sembaring menyuapi Jefri bubur sebelum menyuruh Jefri minum obat. Alin lebih fokus memulihkan kesehatan Jefri dari pada mengajak Jefri berdebat karena pulang-pulang dalam keadaan terluka parah seperti ini.


+++++++++


+++++++++++++++


Pagi hari nya Jefri yang sudah siuman beranjak dari tempatnya tidur untuk duduk. Keadaan sudah jauh lebih baik. Walaupun luka di perut masih sedikit nyeri. Karena perkelahian nya kemarin dengan Dani cukup menguras banyak sekali tenaganya. Sekalipun Jefri memenangkan pertarungan. Ia tetap mendapatkan luka yang cukup parah dari pertarungan yang tidak hanya sekedar untuk keselamatan Alin, tapi juga pertarungan untuk melindungi keselamatan keluarga nya.

__ADS_1


Kenapa begitu?Apa jangan-jangan sebelum Alin memiliki hubungan dengan Jefri. Dani emang sudah bermusuhan dengan Jefri?


Alin yang sudah siap mengenakan seragam sekolah masuk ke dalam kamar. Menaruh nampan berisikan semangkuk bubur di atas meja dekat tempat tidur.


"Aku berangkat sekolah dulu di antar pak Mahen. Kalau kamu butuh apa-apa panggil saja bibi",Alin mencium kening Jefri sekilas sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar ini.


Masih melihat Alin yang berjalan keluar kamar,"Hati-hati",pesan Jefri.


Next....


Walaupun masih sakit. Jefri tetap berangkat kuliah di siang harinya. Bahkan sepulang dari sekolah Jefri masih menyempatkan diri untuk melihat bekel. Dan ikut membantu-bantu memperbaiki beberapa mobil dan motor yang rusak.


Hingga hari menjelang sore. Jefri baru rehat duduk sejenak di kursi teralis besi panjang. Memperhatikan teman dan karyawan yang masih sibuk memperbaiki kendaraan.


"Kris dan Reza di panggil ke mana?",tanya Jefri pada Dion yang duduk di kursi kecil membelakangi nya.


Masih di posisi yang sama karena fokus memperbaiki."Daerah D.......katanya ada mobil penjabat mogok di sana",


"Iya juga iya, biasanya penjabat mobil rusak dikit langsung di jual. Iya....maklum iya makan uang rakyat",timpal Dino ikut memperjelas topik obrolan.


"Sudah kalian berdua sampai ada yang dengar viral kalian berdua",Jefri beranjak dari tempat duduknya berjalan lebih masuk ke dalam bekel.


"Paling juga ujung-ujungnya di suruh minta maaf di sosial media",sahut Dino yang masih menjawab saja.


Beberapa menit kemudian Jefri kembali keluar dari dalam bekel dengan pakaian yang sudah berbeda dan tangan yang penuh oli kini sudah kembali bersih. Di saat itu Kris dan juga Reza juga sudah kembali dari tempat mereka selesai bekerja.


Mereka berlima akhir saling menunggu sembaring berbincang-bincang. Terutama Dino yang sudah selesai bebersih begitu sangat akrab sekali mengobrol dengan Reza dan Iqbal yang usianya yang lebih tua dari dirinya. Bahkan Reza sendiri sudah memiliki istri dan satu orang anak laki-laki. Sementara Iqbal masih lajang.


"Jadi kamu sudah 24 tahun",yang di respon senyum dan anggukan oleh Reza dan Iqbal."widihhh....",kata Dino menatap Reza dan Iqbal bergantian.


"Ya gitulah, si Reza sudah ada bocil kematian satu",kata Iqbal.

__ADS_1


"Serius Re!?",


Tertawa renyah,"Haha....iya bang, laki-laki baru 2 tahun",kata Reza.


"Uwah pantes kau kelihatan dewasa banget dengan muka bocil mu Re. Udah jadi bapak-bapak ternyata",kata Dion yang sangat akrab sekali cara bicara nya. Hingga akhir berpaling melihat Jefri yang sibuk memainkan ponsel nya."Kau kavan Jef, kavan bocil nya jadi Jef??",nada menggoda Dino yang sudah mengetahui jika Jefri sahabat sebenarnya sudah nikah.


Mendongak perhatian nya,"Kavan-kavan",balas Jefri.


"Keburu di ambil orang nyesel kau",


"Tidak ada yang bisa mengambil bekas ku",balas Jefri cuek dingin.


"Nyesel bercanda dengan mu. Tidak peka banget kalau sebenarnya diriku ini pingin ada ponakan",ucap Dino berwajah datar badmood karena Jefri. Walaupun Jefri terlihat tidak melakukan apapun selain menjawab tanggapan Dino.


Singkat cerita bekel pun tutup mereka berlima akhir pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga Jefri yang langsung kembali pulang ke rumah ayah mertuanya setelah membelikan makanan persenan Alin.


"Ayah mau kemana?",Jefri berpapasan dengan ayahnya di ruang tengah.


Tuan Han dengan terburu-buru,"Ada urusan bentar",


Jefri berbalik badan mengikuti arah jalan ayahnya,"Ayah akan menemui dia?", pertanyaan yang langsung membuat Tuan Han menghentikan langkah kakinya.


"Iya",


"Baji**ngan yang telah membunuh bunda pun masih ayah puja-puja",kata Jefri menatap miris dingin pada punggung ayah nya.


Tuan Han berbalik badan melihat ke arah Jefri berdiri tidak terlalu jauh darinya."Walaupun begitu dia juga istri ayah",


"Aku tidak perduli, mau dia istri ayah, mau dia anak dari istri ayah, aku tidak perduli. Baji***ngan itu tetap lah baji***ngan yang sudah membuat bunda ku meninggal. Sekali ayah tetap pergi jangan harap aku menganggap ayah ada",kata Jefri penuh emosi kekesalan akan kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Aku lebih suka terlihat asing dengan mu seperti dulu",kata Jefri berbalik badan berjalan pergi meninggalkan ruang utama rumah ini.

__ADS_1


Meninggalkan Tuan Han yang hanya bisa terdiam menunduk kepada penuh penyesalan akan kesalahan yang telah dirinya perbuatan di masa lalu. Karena kesalahan nya keluarga nya menjadi hancur, dan dirinya merasa sangat gagal menjadi seorang ayah dan suami yang baik.


__ADS_2