
Masih jam 8 pagi. Tapi Kris sudah ada di lobi rumah sakit untuk mengantri sesuatu di meja pendaftaran rumah sakit. Adalah rutinitas Kris setiap satu bulan sekali.
Kris selalu pergi ke rumah sakit untuk mengantar nenek nya yang sudah sepuh untuk periksa kesehatan setiap satu bulan sekali. Seperti yang dirinya lakukan sekarang. Kris tengah mengantri untuk mengambil nomer antrian bertemu dokter pribadi neneknya. Sementara itu neneknya Kris sudah duduk di kursi panjang depan meja resepsionis.
Setelah mendapatkan nomer antrian. Kris kembali menghampiri neneknya. Berjongkok tepat di depan neneknya untuk menyamai tinggi neneknya yang tengah duduk.
Memberikan nomer antrian."Aku mau ke toilet sebentar",
"Dapat nomer berapa ini Kris?",tanya Nenek Kris melihat selembar kertas kecil dalam genggaman tangan nya.
"22 nek, aku tinggal bentar iya",
"Iya",
Kris berlalu pergi meninggalkan neneknya kembali sendirian untuk pergi ke toilet rumah sakit yang tersedia. Setelah beberapa menit di dalam toilet. Kris akhir berjalan keluar toilet. Di saat hendak kembali itulah. Kris tanpa sengaja melihat Vio dari kejauhan.
Melihat sahabat yang hanya sendirian di rumah sakit. Kris hendak menghampiri tapi karena teringat akan neneknya. Kris memilih buru-buru kembali menemui neneknya dan mengabaikan Vio.
Next......
Singkat cerita karena izin tidak masuk sekolah. Kris yang sudah selesai mengatakan neneknya kembali pulang ke rumah bergegas kembali keluar rumah untuk langsung pergi ke bengkel tempat nya bekerja.
Sebelum tiba di bekel tempat nya bekerja. Kris terlebih dahulu menghentikan laju motor nya. Untuk menghubungi Jefri di seberang sana. Tuttttuuut....Tuttttuuut......Dua kali Kris menelfon tapi tidak kunjung ada balasan dari Jefri di seberang sana. Kris memilih menyimpan ponsel nya kembali untuk kembali melanjutkan perjalanan nya.
"Bang..",panggil seseorang anak laki-laki yang baru saja membuka pintu kamar tanpa permisi.
Lantas Vio langsung berpaling melihat nya jengkel,"Jun kalau masuk ketuk pintu dulu", tegur Vio sedikit bernada marah membuat Juna sedikit menurunkan perhatian nya.
Vio menghela nafas sabar melihat tingkah laku adiknya."Mau apa?",
"Nanti siang antar Juna latihan silat bang",minta Juna sembari berjalan mendekati Vio.
"Ayah tau?",yang di balas gelengan kepala oleh Juna."Iya nanti Abang antar".
"Makasih iya bang, Juna janji akan bawakan mendali piala juara satu untuk Abang".
__ADS_1
"Kayaknya emang harus gitu karena koleksi mendali perak dan emas mu sudah terlalu banyak".
"Siap Bang",memberikan hormat di barengi senyum sumringah bahagia Juna.
'Abang usahakan sebisa Abang Jun, agar ayah menyayangi mu',pikir Vio terenyuh ingat betul jika ayahnya sama sekali tidak mendukung bakat Juna. Ayahnya selalu memaki-maki Juna yang tidak pernah mendapatkan juara kelas dan hanya membawa kan mendali kejuaraan silat aja. Sehingga membuat Juna sering di kucilkan dari saudara-saudara nya.
Namun Vio selalu mendukung Juna sekalipun itu membuat nya sekarang menjadi asing dengan ayahnya karena keributan di malam itu.
Singkat cerita....
Menjelang malam hari. Sekitar jam 9 siang. Jefri berpamitan untuk keluar rumah melihat bengkel yang semenjak kemarin belum ia urus dengan baik.
Akan tetapi sebelum ia pergi ke bengkel. Jefri pergi terlebih dahulu ke ****** pelatihan silat untuk menemui seseorang. Dan benar saja setibanya di sana Jefri bertemu dengan seseorang yang ia cari-cari sedang duduk seorang diri di salah satu kursi penonton.
Jefri berjalan mendekat tanpa di sadari dan duduk di samping nya."Lu sakit?",tanya Jefri tode poin.
Lantas Vio yang terkejut langsung berpaling melihat ke arah sumber suara. Namun tidak langsung menjawab. Vio terdiam cukup lama sebelum akhir."Gue sehat anjing. Kenapa lu datang-datang mengajukan pertanyaan tidak jelas?".
"Karena lu tidak pandai berbohong",kata Jefri bernada cuek melihat Vio dingin.
"Gue baik-baik saja. Lu jangan sok tau dan lu jangan ikut campur urusan gue.....Gue tau lu sahabat gue tapi tidak harus semua masalah pribadi gue lu ikut campur".
"Jangan ganggu gue",ucap Vio yang justru bernada marah membuat Jefri semakin yakin jika Vio sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Vio berlalu pergi meninggalkan Jefri yang masih tetap terdiam di tempatnya. Hingga Juna adik laki-laki Vio menghampiri Jefri. Seperti Juna memperhatikan sejak jadi. Sehingga ada niatan untuk nya menghampiri Jefri.
Namun belum sempat mengatakan sepatah kata pun. Vio sudah terlalu dahulu datang mengajak Juna pulang. Di kala latihan Juna juga telah usai dan hari sudah menjelang larut malam.
Sepanjang pekerjaan nya. Jefri jadi banyak terdiam melamun memikirkan Vio. Ia sudah berusaha menghubungi dokter pribadi nya untuk meminta bantuan. Akan tetapi belum ada jawaban karena dokter pribadi keluarganya sedang ada merawat pasien gawat darurat. Sehingga mau tidak mau Jefri harus menunggu dengan rasa penasaran sampai mendapatkan panggilan telepon dari dokter pribadi nya. Yang besar kemungkinan dapat membantu nya memberikan informasi apa yang sebenarnya Vio lakukan di rumah sakit itu.
Sebegitu pentingnya Vio untuk Jefri hingga membuat Jefri sangat khawatir. Tentu begitu!! Karena Vio adalah sahabat dekat nya, dan Jefri juga pernah kehilangan dua orang sekaligus di masa lalu nya. Yang meninggalkan luka membekas di hati Jefri. Akan semua yang terjadi di depan matanya di masa lalu.
++++++
++++++++++
__ADS_1
"Jef".
"Hemm?",
"Telfon dari siapa pagi-pagi?",tanya Alin yang sudah siap berangkat ke sekolah.
"Dokter Iyan",
"Kamu sakit?",
Menyimpan kembali ponselnya."Tidak, aku hanya ingin mengobrol dengan nya",
"Ayo berangkat",ajak Jefri membukakan pintu mobil untuk Alin.
Alin yang masih terdiam melihat itu,"Kenapa tidak pakai motor aja sih?",
"Emang tidak takut kepanasan?Kalau mobil kan enak adem",
"Emang panas iya, perasaan enak naik motor",
"Baiklah aku ambilkan motor dulu di garasi".
"Ikut sekalian berangkat",Alin yang berlari kecil mengikuti Jefri dari belakang.
Bahkan saat sudah berjalan beriringan seperti ini pun Alin tetap terlihat seperti bocil SMP di dekat Jefri. Entahlah kenapa? Padahal tinggal 159 menurut kita sudah cukup tinggi. Tapi kenapa tetep terlihat seperti bocil.
Next.....
Jefri akhirnya mengantar Alin berangkat ke sekolah menggunakan motornya. Sekalian juga langsung mampir ke bengkel untuk bantu-bantu memperbaiki kendaraan.
+++++++
Hingga tanpa terasa 3 bulan telah berlalu. Jefri semakin di sibukkan dengan urusan kuliah dan pekerjaan nya. Sementara Alin sudah senggang dan hanya tinggal menunggu informasi hasil ujian kelulusan keluar. Sehingga selama itu angkatan Alin berikan waktu untuk libur di rumah selama satu Minggu.
Selama libur Alin juga sudah kembali ke apartemen milik Jefri. Dirinya yang sering sendirian di rumah. Jadi sering pergi ke rumah orang tuanya sekedar menjenguk. Atau memanggil kedua sahabat nya untuk bermain di rumah. Hanya Linda dan Lina, karena Hima telah pindah Kota lain tepat sehari setelah ujian kelulusan selesai karena kedua orang tuanya bercermai.
__ADS_1