
Sayup-sayup Alin membuka kelopak matanya, melihat sekeliling yang yang masih kabur. Hingga Alin bisa melihat jelas sudah ada tangan besar yang melingkar di pinggang nya. Alin coba untuk melepaskan nya namun pemilik tangan ini justru menarik tubuh untuk semakin dekat dalam pelukan nya.
"Lepaskan bego aku lapar",marah Alin berucap sewon.
Jefri tidak merespon apapun selain tetap tidur memeluk Alin yang sudah sangat kesal dan marah. Alin yang kesal hanya bisa terdiam memayungkan bibirnya.
"Al", panggil Jefri bernada berat berbisik di dekat daun telinga Alin
Alin yang mendengar itu langsung reflek menengok ke arah Jefri.
"Ihhh....",di barengi mendorong kasar muka Jefri yang baru saja mencium bibir padahal ciuman itu terjadi juga karena Alin menengok sendiri ke arah Jefri.
"Aduh Al",
Menatap kesal,"Apa?Apa?Apa???",kesal Alin marah-marah tepat di depan muka Jefri.
Jefri justru semakin tergerak merangkul Alin agar lebih dekat dengannya.
Alin yang meronta,"Lepas tidak!?Aku teriak nih!",
__ADS_1
"Teriak aja, siapa juga yang mau menghukum suami yang minta haknya",
Geram dengan dirinya sendiri Alin hanya bisa terdiam mengigit giginya sendiri.
Namun tidak dengan Jefri yang sebaliknya. Jefri justru merasa gemas melihat Alin. Lantas Jefri justru beranjak dari tempat nya berpindah ke atas Alin membuat Alin menjadi benar-benar terdiam dan hanya manik matanya saja yang membelalakkan lebar.
"Jangan macam-macam Jefri aku...",
"Apa?",singkat berat terdengar tegas.
"Aku masih sekolah Jef, ayah dan papa kau pasti bakal marah besar sama kamu",kata Alin menatap manik mata lawan bicara.
Jefri mendekat wajah ke pada Alin yang langsung tergerak kembali menahan dengan telapak tangan kecilnya."Stop...waktu itu kamu bilang bahaya minum pil KB yasudah obatnya aku buang. Jadi kalau kau mau melaku nya lagi bakal jadi semuanya dan aku akan sangat marah pada mau karena kamu tidak menepati janji yang katanya bakal menjaga ku dan mau menunggu sampai lulus sekolah. Pokonya aku akan sangat-sangat membenci mu",di barengi menurunkan telapak tangan dari wajah Jefri.
Pada akhirnya tanpa mengatakan apapun Jefri memilih kembali tidur di samping Alin. Mengatur posisi membelakangi Alin.
Alin yang melihat itu hanya bisa bernafas lega. Namun karena merasa bersalah Alin memilih untuk membuka obrolan terlebih dahulu. Alin mengubah posisi tidur menghadap punggung Jefri.
Menunjuk-nunjuk punggung Jefri dengan jari telunjuk nya."Jefri, Jef, kamu sudah tidur, Jef",
__ADS_1
"Cepat tidur Al",kata Jefri tanpa mengubah posisi tidur nya.
"Kamu marah?",
"Jefri Kamu marah?",
Jefri membalikkan badannya, ia menatap Alin dengan sayup. Yang berarti Jefri sudah tidur akan tetapi terbangun karena Alin. Tapi Jefri tetap menanggapi walaupun sebenarnya dirinya sudah tidur.
Alin yang gemas bergerak mendekati Jefri mengangkat tangan Jefri agar memeluk tubuhnya yang sudah tersandar di dada Jefri.
+++++
++++++++++
"JEFRI",Alin yang langsung terduduk bangun dari tempat nya tidur."Jefri, Jef, Jefri",panggil Alin yang tidak mendapati Jefri tidur di samping nya lagi.
Lantas Alin segera beranjak turun dari tempat tidur untuk mencari keberadaan Jefri. Alin buka pintu toilet kamar ini yang tidak ada seorangpun yang pernah memakai toilet ini. Lantas Alin segera keluar dari kamar ini untuk melihat ke kamarnya mungkin saja. Dengan harapan Jefri pasti ada di sana sedang mandi atau seenggaknya masih tidur. Akan tetapi tetap saja saat sudah memberikan kamarnya Alin tetap tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Jefri.
Alin meraih ponsel milik nya yang dari kemarin tidak Alin peduli untuk menghubungi nomer Jefri. Tapi setelah beberapa kali Alin telfon Jefri tidak kunjung menjawab. Panggilan telepon itu tersambung berdering tapi tidak kunjung di angkat oleh Jefri. Membuat Alin menjadi khawatir.
__ADS_1
"Angkat Jefri, yang di dalam mimpi ku bukan kamu kan, angkat Jefri angkat",gumam Alin yang terlihat jelas semakin khawatir.