
Cekk.... Pistol itu tidak meluncurkan apapun. Isi dari pistol itu sudah tidak ada lagi. Sehingga apa yang baru saja Jefri lakukan hanya semata-mata untuk menggertak Dani saja. Karena dua butir peluru tela Jefri gunakan untuk membunuh Stella saja. Lalu bagaimana dengan nasib Dani?
Jefri melempar pistol itu asal. Sebelum ia berjalan mendekati Dani."Bereskan sampai ini",suruh Jefri yang langsung di laksanakan oleh parah anak buahnya bergegas membawa pergi tubuh tidak lagi bernyawa Stella dari ruangan ini.
"Apa alasan mu hingga aku harus melepaskan mu?",tanya Jefri pada Dani.
Dani terdiam cukup lama menatap Jefri yang saat ini benar-benar berdiri di depan nya."Lebih baik kau membunuh ku, jika pun aku bebas hal yang sama akan ku lakukan kembali",
Menatap tajam Jefri,"Karena jika bukan aku yang bersama Alin, maka tidak ada seorangpun yang boleh bersama Alin".
"Baiklah jika itu mau mu",kata Jefri yang kini mulai mengayunkan pedang katana dalam genggaman tangan nya. Mengangkat ke atasnya sebelum ia ayunkan mengarah pada leher Dani yang secepatnya memejamkan kelopak matanya kuat-kuat.
Menyadari tak kunjung ada apa yang dirinya rasakan. Dani kembali membuka kelopak matanya yang ternyata pedang itu tidak sekalipun menyentuh dirinya. Pedang itu kembali turun dalan genggaman tangan Jefri .
"Aku mau kita bertanding pedang",ajak Jefri."Tidak adil jika aku harus membunuh mu dalam keadaan terikat....Aku mau kita saling bertarung pedang",kata Jefri masih dengan terfokus melihat lawan bicara nya dengan tatapan dingin dan raut wajah datarnya."Jika kau menang aku mati di tangan mu, jika aku yang menang kau mati di tangan ku",
"Setuju",kata Dani.
"Lepaskan dia",
Di sinilah posis keduanya sekarang. Berdiri berhadap-hadapan dengan jarak lima jengkal kaki memegang pedang katana nya masing-masing.
Dan satu orang pria, Diko di atara keduanya mulai menghitung mudur."3, 2, 1",
Tingg...Kedua pedang saling beradu duwel yang sempat membuat Dani cukup kewalahan sebelum akhir berhasil mengimbangi permainan Jefri.
Slingg....membulat manik mata nya sempurna bersamaan dengan pedang katana Jefri yang sangat dekat sekali dengan pipinya hingga meninggalkan bekas luka gores di sana.
Dani segera mengambil ancang-ancang mudur menjauh dari Jefri. Lawannya yang tetap terlihat tenang walaupun sudah bertarung cukup lama sekali dengan nya.
Menghela nafas berat sebelum kembali menyerang Jefri. Sling.....Dani yang berhasil melukai lengan tangan Jefri tidak memberikan sedikitpun Jefri cela untuk berhenti sejenak. Serangan bertubi-tubi terus Dani layangkan agar Jefri kewalahan, kala di tangannya.
Jefri semakin terpojok dengan serangan brutal Dani. Ia hampir kala di kala seragam kedua kalinya hampir saja melukai bagian vitalnya, hati. Tapi syukurlah serangan itu hanya menyisakan goresan yang cukup dalam.
Jefri terdiam sejenak memegangi dada kirinya, ia lihat telapak tangan kirinya yang sudah bersimbah darah. Tidak lama, karena setelah itu ia genggam erat kembali gagang pedang katana nya. Jefri kembali berlari menyerang Dani dengan gerakan yang berbeda.
Serangan Jefri yang kali ini lebih mendominasi pertarungan. Setiap serangan berhasil membuat Dani terpojok dan kewalahan. Sepertinya Jefri benar-benar serius bertarung.
__ADS_1
Hingga akhir di serangan akhir Jefri berlari lebih cepat mengayunkan pedang nya. Begitu juga Dani seett....
Next.....
"Nyonya",seru kepala art.
Alin yang tengah terduduk hanya terdiam berpaling melihat ke arah sumber suara."Makan malam sudah siap Nyonya",beritahu kepala art ini.
"Nanti aku makan",kata Alin terfokus melihat lorong pintu utama rumah."Kamu bisa pergi",suruh Alin.
Di keesokan harinya Alin terbangun dari tidur nyenyak di atas tempat tidur.'Siapa? Jefri!',ujar Alin bergegas beranjak dari tempat tidur untuk segera mencari kebenaran Jefri.
Semalaman dirinya duduk sendirian menunggu Jefri di lantai bawah rumah. Di ruang tamu utama, namun saat pagi sudah ada di tempat tidur. Yang berarti Jefri sudah pulang semalam ke rumah.
Alin tergopoh-gopoh membuka pintu kamar mandi. Berharap akan menemukan Jefri di sana. Pertama kali membuka pintu ruang ganti, Alin langsung terdiam membeku. Terpaku tepat di depan pintu.
Tersenyum tipis."Kalau mau....",
"Suttt....",Alin melangkah mendekat menghentikan ucapan belum terselesaikan Jefri."Lihat ini. Kau terluka pasti karena aku",Alin yang terfokus pada luka di jahit di dada kiri dan luka gores di lengan tangan Jefri.
Jefri mendongak perhatian Alin untuk melihat nya. Menghapus setitik bui bening yang mengalir membasahi pipi Alin."It's oky, aku cuma laper saja sekarang",
"Ihh..",
"Serius Al, aku laper sekali. Dari kemarin aku belum makan apapun".
Menyadari ada benarnya perkataan Jefri. Alin yang masih bersalah,"Cepat pakai pakaian mu, aku ambilkan makanan",kata Alin sebelum berlalu pergi meninggalkan Jefri.
Jefri yang hanya emang masih telanjang dada, yang hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang nya. Ia hanya terdiam mematung menatap kepergian Alin bersamaan dengan pintu yang tertutup menyadarkan nya dari lamunan.
Next......
Tiga jam kemudian. Jefri dan Alin tengah duduk santai di ruang keluarga menonton film Narnia kesukaan Alin. Di temani oleh camilan kripik dalam rangkulan nya.
Di hari ini Jefri memutuskan untuk tidak masuk kuliah begitu juga dengan Alin yang izin tidak sekolah. Jefri melakukan nya agar bisa menemani Alin istirahat setelah peristiwa kemarin. Yang mungkin saja membuat Alin terluka dalam.
__ADS_1
"Jef",
"Hemm.."
"Ke rumah ayah Yuk",
"Astaga!Ayah ku kemana iya?",
"Jefri",beranjak duduk menatap Jefri jengkel.
"Aku lupa Al".
"Ayah sendiri lupa bagaimana dengan ayah ku",
"Itu juga lupa",balas Jefri santai.
"........".
"Hhhhahahh.....bercanda Al. Aku ingat ayah ku ada di luar negeri urusan bisnis. Dan ayah mu sudah jauh lebih baik. Ayah mu sudah bisa jalan",
"Hemm",
"Al...Alinnn",goda Jefri pada Alin yang masih terdiam ngambek."Marah sama suami itu dosa Al. Menurut Al bin ab....",
"Dah, dah, sana berangkat kuliah".
Beranjak mendekati Alin memeluknya erat dari belakang, menyadarkan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Alin."Aku libur Al"
"Jangan gini Jef....JEFRI", sedikit meninggikan nada bicaranya di akhir kalimat. Alin berpaling melihat lawan bicara nya."Nanti ada yang lihat Jef".
"Terus kenapa?Kita sudah menikah, yasudah biarkan".
Menghentikan,"Malu Mas Jefri",
"Hemm",Jefri beranjak dari tempat duduk nya. Ia mengangkat tubuh Alin tiba-tiba membuat Alin sangat-sangat terkejut.
Berpegangan erat merangkul leher Jefri."Turunkan, turunkan, jatuh Jef, Jefri!!",
__ADS_1
Jefri tetap tidak menggubris, ia tetap dengan santainya mengendong tubuh Alin keluar ruang keluarga dan pergi ke lantai atas kamarnya berada.
Sepanjang perjalanan Alin yang sudah lelah memilih terdiam pasrah. Meronta-ronta juga percuma tenaga justru akan terkuras habis karena Jefri yang memiliki tenaga lebih besar darinya.