
Suasana sore itu sangat dami sekali. Bahkan lebih damai dari biasanya. Apalagi setelah tadi siang hujan deras sekali. Sehingga membuat aroma tanah sore terasa sangat harum.
Singkat cerita di sore hari ini. Alin tengah terduduk santai di ruang keluarga yang mengarah langsung ke halaman belakang belakang rumah. Yang berarti mengarah langsung ke taman rumah. Alin duduk dengan di temani semangkuk Salat buah dingin dan juga satu buku psikologi yang ada dalam genggaman tangannya.
"Sedang apa Al?",tanya suara Jefri yang langsung membuat Alin menengok kaget. Menyadari itu Jefri berjalan mendekat menaruh tas dan jas kerjanya di sova kosong."Kenapa?",
"Kamu datang-datang tidak salam, kaget aku",
Jefri yang sudah berjongkok di depan Alin,"Aku sudah salam berkali-kali kamu tidak jawab, saat aku tanya kamu malah kaget".
Menyeringai tanpa rasa bersalah,"Hehehehe....",
"Sedang melamun apa?",
"Mikir mau di kasih nama apa Beby Bom",balas Alin sembaring menggenggam punggung tangan Jefri yang mengelus perut buncit Alin.
"Kamu maunya nama apa?",
"Aku....kalau baby girl namanya Azara, baby boy Argentigor".
Jefri tersenyum tipis sebelum akhir ia berkata,"Jika perempuan Abdi Azara Agathis, kalau laki-laki Abdi Argentigor Agathis",
Alin ikut menyungging senyum bahagia, tidak sabar menunggu hari persalinan datang. Agar bisa cepat-cepat bisa merangkul dan memeluk baby Bom.
Menyeringai menahan sakit sembaring memegangi perut buncitnya. Jefri yang sadar akan itu,"Kenapa Al?",
"Sakit Jef, apa aku mau lahiran?",
Hingga salah seorang asisten rumah yang datang menghampiri ke ruangan ini. Iya yang melihat ke arah majikan,"LOH TUAN NYOYA SUDAH PECAH KETUBAN ITU",ujarnya kaget.
Sementara Alin hanya diam, sulit untuk mengatakan apapun dengan menahan rasa sakit sekarang.
Jefri yang mulai panik,"Ambisi koper persalinan di atas, dan suruh supir siapkan mobil", seutuhnya bernada tegas.
Art wanita yang ikut panik pun segera berlari keluar ruang keluarga melaksanakan perintah majikannya.
Menggenggam lengan tangan Jefri,"Jef mau apa kau?"
"Gendong kamu Al, kamu harus segera ke rumah sakit",
"Bentar-bentar, nanti jatoh, aku jalan sendiri saja".
"Mana mungkin aku menjatuhkan kamu dan anak ku, sudah diam kamu harus segera ke rumah sakit",kata Jefri tak mau lagi ada bantahan.
Pada akhirnya Jefri mengendong tubuh Alin keluar rumah dan memasukkan Alin ke dalam mobil untuk segera pergi rumah sakit. Saat itu Alin ada di belakang bersama salah satu kepala art rumah nya. Sementara Jefri yang mengemudikan mobil.
Walaupun dengan kecepatan tinggi Jefri begitu sangat lihai mengemudikan mobil. Ia begitu sangat fokus mengemudi walaupun di belakang istrinya sedang sangat kesakitan.
Singkat cerita Alin telah sampai di rumah sakit. Dan saat ini sedang di bawa ke ruang persalinan bersama beberapa perawat dan doktor. Jefri dan satu art nya berjalan berlarian mengikuti Alin.
"Dok boleh saya ikut masuk?",
"Baiklah Tuan",
Jefri ikut masuk ke ruang persalinan mengenai pakaian medis. Kini ia sudah ada di samping istrinya menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
"Jefri sakit banget, Jefri",ucap Alin yang berlinang airmata.
"Tunggu sebentar lagi iya Bu, pembukaan terakhir ibu tarik nafas",kata dokter yang membantu persalinan.
Sementara di luar Tuan Han yang saat itu ada di luar kota langsung pulang. Begitu juga dengan Papa Hendri dan Mama Saliva dan putra bungsu nya Liam.
Baru keluarga besar ini singgah mereka langsung di buat bahagia dengan suara tangis bayi di dalam sana. Tangis harus pun pecah untuk mama Salvia yang langsung memeluk suaminya.
Begitu juga Liam yang langsung mendapatkan rangkulan bahu dari Tuan Han. Sejak sudah menjadi keluarga, Tuan Han begitu sangat akrab sekali dengan Liam adik Alin.
Next.......
Selepas persalinan Alin di bawa ke ruang rawat inap ibu hamil. Di sana bayi sehat ini sudah dalam pelukan ibunya. Anak Jefri dan Alim lahir dengan selamat dan sehat. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk di inkubator. Dan Alin dapat memeluk bayi yang tertidur pulas itu ke dalam pelukan nya sendiri.
Tuan Han, Papa Hendri, Mama Saliva, Liam, dan Jefri yang berdiri di samping anaknya yang sedang terlelap tidur dalam rangkulan ibunya.
"Wajahnya mirip bang Jefri",celetuk Liam.
"Matanya mirip seperti ibunya",timpal Mama Saliva.
"Masak iya, perasaan mirip bang Jefri deh semuanya",kata Liam yang sebenarnya mau menggoda Alin. Seorang kakak yang saat ini menata dirinya dengan sorot mata tajam.
"Santai kak, santai",ucap Liam .
"Akan ku gantung kau",
"Udah jadi ibu kak, tidak boleh galak-galak".
".....".
"Makannya jangan nakal sama kakak ku",
"Iya, iya maaf, maaf...",kata Liam berharap mamanya segera menyudahi mencubit lingkar perutnya.
Hingga saat dirinya sudah terlepas Liam langsung berlari bersembunyi di belakang papanya. Tingkah Liam sangat membuat Jefri, Han, dan juga Alin tertawa renyah melihat nya.
"Baby boy mau di kasih nama siapa?",tanya Tuan Han pada Alin.
Melihat dulu ke Jefri,"Abdi Argentigor Agathis, nanti di panggil Tigor",kata Alin.
"Hendri",seru Tuan Han."Cucu kita namanya Tigor",
"Udah tau",
"Mau mengulangi lagi sama menginginkan kalau kita sudah tua Hen",
"Tidak, aku masih kuat gendong Tigor nanti",
"Aku jamin patah pinggang mu Hen",
"Tak, tak",
"Lihat, sudah tau sama-sama tua masih saja saling ejek",timpal Mama Saliva geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua bapak-bapak tua di depannya ini.
Di malam harinya. Semua anggota keluarga telah pulang. Hanya tinggal Jefri, Alin, dan Arky yang tidur di dalam boks bayi inkubator sampai ranjang pesakitan Alin, yang berdekatan dengan jendela.
__ADS_1
Melihat punggung Jefri yang membelakangi nya,"Sudah Jefri jangan di lihatin terus, biarkan Tigor tidur",tegur Alin.
Masih di posisi yang sama,"Tigor kalau di lihat-lihat mirip aku banget Al".
"Iya kan....astaga! Lebih baik kamu kupas kan aku buah apel. Aku lapar Jefri",
Berbalik padan tersenyum sumringah,"Iya, iyah iya, Tigor kan anak ku. Makannya mirip",ucapan Jefri benar-benar membuat Alin akhir tergelak tawa. Namun tanpa suara, masih ingat jika Tigor sedang tidur.
Jefri mengupas apel sembaring duduk di atas ranjang pesakitan bersama Alin yang sudah duduk setelah bersandar.
"Makasih Al, sudah membuat ku jadi ayah",
Tersenyum tipis."Ayo Jef lapar. Kupas buah satu saja tidak selesai-selesai".
Tertawa kecil sembaring melanjutkan mengupas buah apel yang tidak kunjung selesai. Sehingga Alin menunggu sambil ngemil roti.
+++++++
Setelah beberapa hari di rumah sakit. Kini Alin dan anaknya Tigor telah di perbolehkan pulang. Tigor yang lahir dengan sehat sesampainya di rumah langsung di sambut oleh kehadiran sahabat-sahabat Jefri dan Alin. Namun karena alasan demi kesehatan Tigor, Alin yang mengendong Tigor harus di bawa ke kamarnya untuk beristirahat. Dan hanya tiga sahabat Alin saja ikut menemani sementara sahabat-sahabat Jefri tetap di bawah. Dan mereka hanya melihat sekilas dari kejauhan wajah Tigor.
Jefri yang baru kembali setelah mengantar istri, anak, dan sahabat-sahabat nya ke kamar. Berlalu duduk ikut bergabung bersama sahabat-sahabat nya.
Duduk santai di sova yang tersedia di ruang tamu"Ko bisa mirip lu Jef?",ekspresi wajah heran Satria yang membuat Vio kesal.
"Dia yang buat ya jelas mirip pembuatan nya be**go",semprot Vio."Tidak seperti lu yang buat di sana-sana tapi pakai pengaman, mana berani",lanjutnya mengejek.
"Dari pada lu belum pernah",ejek balik Satria.
"Mana lu tau?",semprot Vio yang langsung mendapatkan dorongan bahu dari Dion."Sudah lu apain anak orang, sampai Alin tau habis lu".Tegurnya.
"Belum gue apa-apain, Linda mau nya saat kita sudah Akat", sembaring merubah ekspresi wajahnya menjadi muram.
Namun tidak dengan sahabat-sahabat nya yang tergelak tawa.
"Kalau lu?",tanya Jefri tertuju pada Kris.
"Gue....",
"Tidak usah bilang masih jomblo ajing, cewek lu sempurna kayak gitu tidak lu akui",semprot Satria.
"Bukan tidak mengakui, gue hanya mau menjaga dia dari laki-laki kayak lu",kata Kris membuat Satria terbungkam."Mana rela gue barang yang belum gue sentuh disentuh dirimu",
"Si anjing",umpat Satria.
Sementara laki-laki keasikan ngobrol di bawah mem-bully Satria yang belum kunjung bertaubat. Di lantai atas para perempuan sedang terkagum-kagum memperhatikan wajah lucu dan tampan Tigor yang sedang terlelap tidur.
"Tigor anteng Al",kata Lina.
"Iya, aku pikir Tigor akan banyak nangis setiap malam seperti yang aku tonton tutorial di YouTube. Tapi setelah lahir, Tigor banyak diam, anteng, kalau lapar pun tidak terlalu rewel".
"Sepertinya sih Tigor benar-benar mirip ayahnya",
Linda yang terfokus melihat Alin,"Emang saat kau kecil tidak seperti itu",
"Hemmm......mama ku bilang tidak",kata Alin begitu jujur.
__ADS_1
Membuat ketiga sahabat tergelak tawa tanpa suara takut membangunkan Tigor. Hehehehe....Bayi kecil yang banyak tidur.