Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Love at the first sight


__ADS_3

"It was love at the first sight, at the last sight, at ever and ever sight"


-- Vladimir Nabokov --


Semarang, tahun 2000


"Nes, capek nggak?"Dea mengintip dari sela-sela pintu kamar kosku. Wajahnya terlihat takut-takut.


"Iya, baru pulang dari desa KKN De. Nih, mandi juga belum?"


Aku yang tadinya masih dalam posisi berbaring akhirnya bangun dan menegakkan tubuhku. Sungguh tubuhku rasanya remuk redam setelah harus melakukan perjalanan selama berjam-jam.


***


Aku dan teman-temanku baru pulang dari menyerahkan laporan hasil KKN kami ke Bapak Kepala Desa. Kami ada tujuh orang tergabung dalam satu kelompok dan ditempatkan di satu desa. KKN adalah kuliah kerja nyata, merupakan mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa sebagai salah satu syarat kelulusan. Biasanya mahasiswa yang mendekati semester akhir yang mengambil mata kuliah ini.


Desa KKN kami yang jauh letaknya dari Semarang membuat kami harus berangkat pagi-pagi agar bisa pulang sore hari ke Semarang dan tidak kemalaman di jalan. Apalagi angkutan desa yang sangat terbatas dan dibatasi waktu membuat kami harus cermat berhitung waktu tempuh.


Kami harus naik bis dari Semarang selama beberapa jam dan melewati jalan yang sedikit berkelok-kelok membuat kepalaku menjadi pusing. Setelah itu dilanjutkan dengan naik angkutan desa dan harus melewati jalan yang masih berbentuk makadam. Sungguh, saat ini aku merindukan untuk berbaring saja dan tidur sampai pagi.


Walaupun lelah namun kami tadi merasa begitu bahagia bisa berkumpul kembali setelah beberapa minggu berpisah. Satu bulan bersama selama KKN membuat kami bertujuh menjadi dekat malah ada yang kepincut satu sama lain dan akhirnya berpacaran. Ternyata satu bulan bersama-sama membuat banyak kenangan diantara kami bertujuh dan perpisahan terasa menyedihkan. Tadi ketika kami bisa berkumpul dan mengenang semuanya, kami menjadi tertawa dan merasa lucu. Bahwa beberapa minggu berpisah sudah membuat kami merasa sangat rindu.


***


Kembali kepada Dea yang saat ini sudah berada di kamarku, melihatku dengan pandangan mata yang memohon.


"Bisa minta tolong?"katanya lagi dengan pelan.


"Apaan? Nemenin ke Mall?" tanyaku sok tahu, karena yang kutahu memang itu kebiasaannya.


Dea suka banget jalan ke mall, kalau sehari nggak ke mall kayaknya badannya sakit semua.


Eh, tapi biasanya kan dia pergi sama pacarnya.


"Nggak, begini. Ehm, aku nggak enak mau ngomongnya. Gimana ya?"


"Masak beberapa jam nggak ketemu aku, kamu bingung mau ngomong apa?Cepetan, aku mau mandi trus tidur!" Aku menepuk-nepuk tempat tidurku yang terlihat nyaman dimataku. Walupun kasurnya keras namun saat ini aku sangat merindukannya.


"Aku harus mulai cerita dari mana ya?" Wajahnya kulihat berwarna merah jambu, dengan bibir dimiringkan ke kanan dan ke kiri. Nyaris lucu dengan wajah bulat, matanya yang besar dan kulitnya yang putih.


"Aku kan punya kenalan di tempat KKN, trus kami dekat. Trus aku suka sama dia dan dia juga suka sama aku." Oh, aku mencium aroma perselingkuhan.


Sekarang mukaku yang jadi terlihat lucu, antara bingung dan kaget. "Trus pacarmu bagaimana?"


"Aku masih pacaran sama Jo, tapi aku juga nggak bisa bohongi hatiku untuk nggak tertarik sama Dion."


"Dion tahu kamu punya pacar?" Dea mengangguk.


"Eh, dia juga punya pacar. Kami masih dengan pacar masing-masing. Tapi kami nggak bisa untuk nggak saling tertarik. Gimana dong?"


"Ini sih namanya Kisah Kasih Nanggung, teman KKN ku juga ada yang kayak gini. Trus bingung sendiri kayak kamu."


"Makanya aku mau minta tolong sama kamu, nanti malam Dion mau datang tapi ngajak temannya. Tolong temani ya temannya Dion?"


Apalagi ini?Mereka yang selingkuh kenapa aku yang jadi repot harus ikut membantu menutupi perselingkuhan mereka. Apalagi aku tidak mengenal Dion dan temannya. Bagaimana kalau laki-laki itu tidak menyenangkan dan 'tulalit' alias nggak nyambung kalau diajak bicara. Aku memang mudah berteman dengan siapa saja namun sebenarnya aku sedikit pemilih dalam berteman. Sebisa mungkin aku menghindari orang-orang yang nggak nyambung kalau diajak bicara dan pengetahuannya hanya seluas tempurung kepalanya saja. Kalau kebetulan bertemu dengan orang seperti itu aku memilih diam dan mendengarkan dengan perasaan sebal perkataannya.


"Aduh De, aku dari tadi berharap bisa langsung tidur. Aku udah kangen kasurku." Wajahku sengaja aku buat memelas agar dia menjadi jatuh kasihan dan membatalkan rencana gilanya.


"Bantuin dong ya, sekali ini," pintanya sambil tersenyum lebar.


Aku nggak pernah tega menolak permintaan sahabatku. Dan aku tahu dia tidak akan sekali ini minta tolong, pasti ada permintaan tolong yang kedua, ketiga dan seterusnya dari si cantik ini.


***


Oh ya, aku akan memperkenalkan sedikit diriku. Namaku Anesta, seorang mahasiswi di sebuah universitas negeri. Sekarang aku berada di semester akhir, berharap tahun depan bisa menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana lalu bekerja. Harapanku nggak muluk-muluk.


Hidup jadi anak kos, dengan uang kiriman dari mama yang sangat pas untuk biaya hidup satu bulan terkadang sangat menyedihkan dan semakin memacu keinginan untuk segera lulus.


Mama seorang janda memiliki tiga anak yang semuanya kuliah. Cukup berat perjuangan mama.


Makanya aku harus segera menyelesaikan kuliahku, agar tidak menjadi beban mama.

__ADS_1


Di kos ini kami tinggal bertiga dengan satu ibu kos. Ada Dea teman satu fakultas, bahkan dia juga sahabatku sejak awal kami jadi mahasiswa baru. Ada juga Muli, yang kuliah di fakultas lain.


Perkenalanku dengan Dea biasa aja, tapi saat ngobrol kayaknya kami berdua cocok. Jadilah kami bersahabat sekitar 3 tahun.


***


"Nes, udah hampir maghrib!Cepat siap-siap, dandan yang cantik! Kata Dion sih temannya cakep."Dea melongokkan kepalanya ke kamarku dan melihat aku masih berbaring bermalas-malasan. Aku ingin tidur. Bodo amat sama temannya Dion yang cakep itu! Aku membenamkan mukaku ke bantal, merasa sebal dengan Dea namun tak kuasa melawan. Aku tak ingin menyakiti hatinya. Baiklah, sekali ini!


"Iya, 5 menit lagi. Aku masih malas!" teriakku membalas perintahnya.


"Ih, cepetan!" Dea menarik tanganku supaya aku cepat bangun.


Maafkan kasur, aku harus pergi meninggalkanmu sementara. Aku berkata dalam hati sambil telapak tanganku mengusap-usap tempat tidur.


Segera kuseret langkahku ke kamar mandi


"Iya Tuan Putri, aku segera mandi biar Tuan Putri nggak malu." Aku sengaja bersikap dramatis, mungkin saja Dea menjadi mengubah keputusannya dan membatalkan pertemuanku dengan temannya Dion. Kalau itu terjadi aku pasti memeluknya erat dan mencium pipinya. Ah, madu!


Itu hanya tetap menjadi angan-anganku saja, Dea malah semakin membesarkan bola matanya demi melihat aku bersikap dramatis.


***


"Nes, Dion udah datang tuh!" Kudengar Dea berteriak dari bawah. Kamar kos kami berada di lantai dua. Jadi sering ada teriakan-teriakan ajaib kalau ada tamu atau teman yang mencari. Suara kami bisa naik menjadi sekian oktaf kalau sudah berteriak seperti itu.


"Yah, gimana mau dandan cantik kalau tiba-tiba bohlam lampu putus," gerutuku.


Aku mencoba berkali-kali, lampu tetap tidak mau menyala. Akhirnya aku berhenti mencoba dan berdandan hanya dengan mengandalkan cahaya matahari yang sebentar lagi akan terbenam.


Biarinlah, besok-besok belum tentu ketemu lagi


Yang penting wangi dan pakai bedak.


***


Kuintip Dion dan temannya dari jendela ruang tamu. Mereka lagi ngobrol dengan Dea di teras. Laki-laki yang akan menjadi partner untuk 'menutupi perselingkuhan' itu terlihat tampan dengan kaos putihnya. Aku tersenyum lebar, tidak sia-sia pengorbananku.


"Sini Nes!Kenalin ini Dion sama Mahesa!" Dea tersenyum lebar, ekspresi wajahnya sumringah. Kalau sedang jatuh cinta, aku bahkan bisa melihat binar-binar di mata Dea yang terlihat berkilau seperti berlian. Hmm...


Sedikit berbasa-basi bertukar cerita soal KKN dan menanyakan mereka di fakultas apa.


Ternyata Mahesa bukan teman satu kampus Dion, dia kuliah di universitas swasta. Mengenal Dion karena mereka bersahabat sejak Sekolah Dasar. Lucu juga ya bisa berteman dari kecil sampai sekarang. Sedangkan aku tidak pernah punya teman yang seperti itu karena bapak selalu berpindah-pindah kota karena pekerjaannya.


"Nes, nanti kami ngobrol di kos sedangkan kalian berdua pergi terserah kemana kalian ingin pergi pakai motor Dion ya?" Dea mengatur segala sesuatunya. Kedua alisku berkerut, terganggu dengan rencana Dea.


Kupandang Mahesa meminta persetujuannya. Kami baru kenal dengan Mahesa, aku takut dia keberatan.


"Iya, pergi sekarang!"perintahnya.


Ih, nggak sopan banget memang si Dea dan Dion mengusir kami seolah-olah kami ini nyamuk pengganggu. Aku hanya bisa pasrah dan berharap si ganteng ini menjadi teman yang menyenangkan. Supaya tidak sia-sia pengorbananku.


***


"Kita mau kemana?" Aku bertanya to the point, aku sedang malas berbasa-basi.


"Enaknya kemana ,Nes?" tanyanya dengan suara yang pelan.


"Cari warung makan lesehan ya, aku lapar belum makan sejak siang."


"Ya udah, mau di daerah mana?"


"Terserah aja deh, yang penting tempatnya bersih."


Dengan mengendarai motor Dion, kami melaju ke daerah Gajah Mada.


"Aduh, mana ini motornya kayak gini lagi!" rutukku dalam hati. Ciri khas motor cowok yang tempat duduknya tinggi banget, kalau duduk dibelakang suka "melorot".


Masak baru kenal duduknya udah nempel-nempel. Kupegang jok belakang dengan kuat untuk mempertahankan posisiku biar nggak melorot.


Semoga dia tidak menyadari betapa aku menjadi sangat tegang karena hal ini.


***

__ADS_1


"Mm Sa, ngapain sih kita disuruh pergi?Enakan ngobrol berempat di kos." Aku bertanya dengan suara keras, takut kalau dia tidak mendengar karena suaraku seperti tenggelam oleh angin.


"Si Dion tuh biar nggak ketahuan udah selingkuh sama teman kamu. Takut dia sama pacarnya. Kan pacarnya mata-matanya banyak."


"Lagian pakai acara selingkuh segala, kan malah bingung sendiri mereka berdua." Aku menjawab dengan nada tak suka. Aku membenci perselingkuhan.


"Ya begitulah! Pacarnya Dion galak lho."


"Ih, kok Dion mau?Kayaknya si Dion itu anaknya kalem."Mahesa hanya mengedikkan bahunya.


"Pesan apa?" tanyanya.


"Kayaknya makan nasi goreng enak ya. Aku pesan nasi goreng pedas, pake telur dadar trus minumnya teh anget." Aku menyebutkan pesananku lengkap. Aku sudah sangat lapar.


"Ya udah, aku juga pesan itu."


Sambil menunggu pesanan tiba-tiba Mahesa berkata, "Bedak kamu nggak rata."Dia menunjuk wajahku. Senyumnya mengembang melihat aku salah tingkah.


Ih, gimana nggak salah tingkah kalau yang ngomong cowok yang baru kenal, cakep pula. Kalau yang ngomong teman-teman cowok yang sering nongkrong sama aku sih, aku nggak perduli.


"Ehm, iya ya. Tadi bohlam dikamarku putus. Mana disuruh cepat-cepat turun sama Dea. Nggak konsen mau dandan, ini juga udah maksimal biasanya nggak pernah bedakan," kataku sambil nyengir. Aku mengusap-usap wajahku berharap bedakku menjadi rata, dan tampilanku agak mendingan. Sebenarnya aku malu, namun aku harus menegarkan hati dan terlihat percaya diri.


Sambil makan kami ngobrol apa saja. Dari mulai soal remeh temeh sampai hal-hal yang agak berat.


Menurutku Mahesa orang yang menyenangkan, dan enak diajak bicara hal apapun.


Bagiku dia jadi salah satu cowok potensial yang bisa dijadikan kandidat sebagai pacar. Terutama saat melihat senyumnya, alamak manisnya.


Kalau teman-teman cowok ku bilang "termasuk senyum yang kadar glukosanya terlalu tinggi",


Kadang mereka suka berlebihan saat mendeskripsikan sesuatu.


***


Dari awal aku melihat senyumnya saat memperkenalkan diri, aku seperti terbius. Aku seperti merasa jatuh cinta dengan senyumannya.


Senyumnya selain manis juga terlihat tulus. Ah, aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya.


Dan sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Love at the first sight kalau kata orang-orang dan aku menyukai perasaan itu.


Ini yang kedua kali aku merasakan perasaan itu. Sebelumnya dengan pacar pertamaku. Aku jatuh cinta pandangan pertama dan juga dengan senyuman yang menurutku manis.


***


"Kamu laper atau doyan?Cepat sekali makannya?" katanya dengan senyum mengembang. Aku menjadi merasa malu, andaikan aku bisa tenggelam ke dasar bumi. Tadi persoalan bedak sekarang persoalan makan. Harusnya aku bisa bersikap lebih kalem. katanya calon pacar potensial? Bagaimana mungkin kalau aku nggak bisa menjaga sikap?


Kadang aku tuh nggak bisa bersikap seperti cewek pada umumnya, kalau makan bisa kalem, pelan-pelan.


"Dua-duanya. Aku suka nasi goreng dan juga lagi laper banget."Aku menjawab sekenanya saja.


"Aku punya teman nongkrong delapan orang yang semuanya cowok. Biasanya kalau malam minggu aku jalan sama mereka. Kalau makan sama mereka nggak bisa yang model cewek kalem-kalem gitu. Makan harus cepat biar nggak ditinggal." Aku mencoba menerangkan agar dia maklum dengan sikapku.


"Oh begitu, memang nggak ada ceweknya ya?"


"Nggak, ceweknya cuma aku."


"Kenapa mau jalan dengan mereka?"


"Mereka anaknya asyik . Aku bisa ngobrol apa saja sama mereka, kecuali soal 'fashion'. Nggak ngerti mereka kalau soal itu."


Ya iyalah, teman-temanku itu kebanyakan dari fakultas teknik yang sangat nggak perduli dengan penampilan. Jangankan soal pakaian, mereka rajin mandi aja sudah bagus


Tidak terasa kami ngobrol sudah lama banget, sudah jam setengah sepuluh malam.


Pembicaraan kami terasa menyenangkan. Terus terang aku berat berpisah darinya.


"Yuk, pulang udah malem nggak enak sama ibu kos kamu. Nanti dikira aku bawa lari anak orang lagi."


Dalam hati aku berharap semoga masih ada esok, bertemu dengan dirinya.

__ADS_1


Aku memang jatuh cinta.


__ADS_2