Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Takkan Pernah Habis Kisah Bersama Kalian


__ADS_3

Ternyata sosok orang tua nggak bisa dipisahkan dalam menentukan suatu hubungan akan dibawa kemana. Aku baru menyadari saat mendengar cerita Muli, melihat Dea dan Dion dan kemudian melihat diriku.


Mungkin tidak semua orang tua, menjadi penentu suatu hubungan kasih anak-anaknya. Tapi aku yakin banyak yang seperti itu. Selalu ada kalimat "Orang tua tahu yang terbaik buat anaknya" atau "Orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak".


Aku tidak tahu sampai dimana kebenaran pernyataan ini. Tapi akhirnya banyak anak-anak yang harus mengorbankan perasaan mereka demi kalimat tersebut.


Apakah saat anak-anak itu tetap nekat dan akhirnya mereka hidup berbahagia, mereka tetap dianggap anak-anak yang tidak berbakti kepada orang tua?. Aku tidak mengerti jawabnya. Sekali lagi, aku hanyalah seorang anak. Seorang anak yang berusaha mengasihi orang tua. Aku tidak tahu langkahku bersama Mahesa salah atau benar.


Cepat kuselesaikan ketikanku. Aku sudahi lamunan ku. Aku merasa suatu saat aku akan tahu jawabnya.


"Uh, selesai juga tugasku. Lumayan dapat bab 2 separuh". Kulihat jam didinding. Astaga! hampir jam 2 dini hari.


Segera kubereskan buku-buku yang berserakan. Aku bertekad bisa tidur sebentar, untuk kemudian mandi dan berangkat kuliah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nes, kok tadi nggak ikut kuliah kriminologi? Biasanya kan kita bareng?", sapa Wisnu saat melihatku sedang nongkrong didepan perpustakaan. Ini salah satu mata kuliah perbaikan karena nilaiku C.


"Aku kesiangan, telat bangun", kataku sambil nyengir.


"Pantesan, biasanya rajin ikut kuliah itu"


"Iya, gara-gara ngerjain skripsi sampe jam 2. Kebiasaan buruk, udah mau batas akhir baru semangat ngerjainnya. Nanti aku mau bimbingan jam 11"


"Oh, aku baru masukin judul. Nggak tau disetujui apa nggak?"


Pembicaraanku kalau ketemu teman yang satu angkatan biasanya seputar skripsi. Soal judul, penelitian, dosen pembimbing. Kalau kebetulan judul yang diambil mirip-mirip bisa sekalian barter buku, biasanya untuk bahan skripsi di bab-bab awal.


"Hai Anesta, apa kabar? Makin cantik aja Nes"


"Pliss deh Ar, nggak ada uang receh"


"Hahahaha, tau aja aku lagi cari teman yang mau nraktir aku"

__ADS_1


Aku dan Arga sama-sama anak rantau, cuma beda kampung halaman aja. Si Arga ini nggak tau berasal dari pelosok sebelah mana pulau Sumatra. Katanya yang penting masih ada di peta.


Arga itu lucu banget dan polos, aku suka ketawa lihat tingkahnya.


Aku ingat suatu cerita waktu awal kuliah disini, setelah beberapa bulan kami masuk kuliah Dea ulang tahun, dan dia berbaik hati menraktir kami teman-teman yang dekat dengannya termasuk Arga.


Kalau anak kos yang namanya ditraktir, bahagia tak terkira. Apalagi ditraktir makan di mall di salah satu restoran ayam cepat saji.


Kulihat Arga terlihat kikuk, sepertinya dia belum pernah makan ditempat seperti ini.


"Hei, duduk disini aja dekat aku!". Kulihat Arga tersenyum menghampiriku.


"Kalian mau pesan apa? Mau disamakan aja semuanya?"


"Iya lah Dea, sama kan aja semua. Cepat ya, aku sudah lapar!", ku dengar Arga menyahut


"Nesta, ayam ini enak ya. Belum pernah aku makan ayam kayak gini, dikampungku nggak ada"


"Jual ayam hiduplah. Ada juga yang jual ayam goreng atau ayam bumbu tapi bukan yang kayak gini", semangat sekali Arga menceritakan soal ayam ini kepadaku. Aku cuma nyengir mendengar ceritanya.


"Ayo Ar, kita cuci tangan! Udah selesai makan kan?"


Segera kami bangkit dari tempat duduk untuk ke wastafel. Kulihat Arga agak bingung menyalakan kran yang tuasnya harus diangkat.


"Ar, gini nih caranya, lihat ya!"


Ternyata dia nggak cuma mencuci tangannya, tapi mulutnya pun dibilas dengan air kran. Aku berpikir mungkin karena kebiasaan aja. "


" Sini, keringkan dulu tanganmu pake alat ini!"


Arga pun menurut, setelah tangannya dikeringkan lalu dia taruh mulutnya dibawah mesin pengering.


" Arga, ngapain sih! ", aku berbisik dan lumayan kaget melihat tingkahnya.

__ADS_1


" Tadi kan mulutku kubasahi pake air kran, sekarang ya harus ku keringkan lah" katanya santai.


"Nggak gitu juga kali Ar. Ayo, cepet udah ditunggu! "


Aku nyaris meledak tertawa melihat tingkahnya. Untung cuma kami berdua yang ada disitu. Terbayang betapa malunya kalau ada banyak orang berdiri dekat wastafel. Mungkin sudah kuseret si Arga pergi dari situ.


Ada juga cerita saat kami pergi beramai-ramai nonton bioskop. Arga adalah sosok yang paling menyebalkan saat itu. Karena selama film diputar dia sibuk mengoceh mengomentari film yang diputar. Berisik banget. Akhirnya Tomi yang duduk disebelahnya kasih ultimatum kalau masih berisik, besok-besok kalau nonton bioskop ramai-ramai dia nggak diajak. Ancaman Tomi ternyata berhasil. Film diputar sampai habis, Arga diam nggak bersuara. Kami lihat dia sangat serius menonton.


Begitu keluar dari bioskop, dia nanya "Tadi bagaimana ceritanya ? Aku nggak ngerti". "Lain kali kita nonton film India atau film Indonesia lah. Kalau film kayak gitu aku nggak paham". Dan kami tertawa ngakak saat itu.


Kami sangat suka menonton bioskop, kalau kami lihat ada film yang menarik untuk ditonton biasanya kami akan janjian untuk nonton beramai-ramai.


Ada yang berangkat duluan untuk mengantri tiket, seringnya aku dan Dea yang pergi duluan.


Pernah suatu ketika, ada film yang bagus. Seperti biasanya aku dan Dea menjadi utusan untuk mengantri tiket. Ternyata sampai disana yang antri sudah panjang, dan kursi yang tersisa tinggal sedikit, padahal kami nonton berombongan sekitar 10 orang. Akhirnya hanya aku dan Dea yang nonton. Mereka kami tinggal nonton. Itu saja kami sudah dapat tempat duduk dibagian depan.


Jam yang ditentukan pun tiba, kami berdua cepat-cepat masuk. Duduk manis ditempat duduk kami tanpa memikirkan teman-teman kami. Sebelum film dimulai, dilayar ada tulisan "Anesta ditunggu teman-temannya diluar". Aduh, mereka dapat ide darimana sih bikin pengumuman segala. Kami berdua saling pandang dan nyengir.


"Sudah Nes, kita duduk aja menikmati filmnya. Biar besok kita minta maaf ke teman-teman". Akhirnya kami duduk manis dan menonton film sampai selesai.


Keesokan harinya kami diomelin dan dianggap nggak setia kawan. Kami berdua sering tertawa kalau mengingat kejadian itu.


Setelah kejadian itu, kami masih sering pergi nonton bareng. Akhir-akhir ini aja saat kami mulai disibukkan dengan skripsi, kami jarang bisa nongkrong sama-sama bahkan sekedar makan mi ayam. Betapa aku akan merindukan saat-saat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Arga, Wisnu! Aku pamit dulu mau ketemu Pak Budi. Mau bimbingan dulu!"


"Semoga nggak banyak yang direvisi ya Nes"


"Sukses ya Nes, jangan lupa kalau udah selesai traktir"


"Ya ampun Arga, baru juga bab 1 udah minta traktiran aja. Udah ah, aku pergi dulu!".

__ADS_1


__ADS_2