Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Tak Akan Terganti


__ADS_3

Menyusuri malam diatas motor berdua sambil memeluk dirinya. Terlintas tanya dalam benakku "Sampai kapan kita bisa menikmati saat-saat seperti ini?"


"Kita mau kemana sih? Masih jauh ya?", suaraku seperti terbawa angin. Semoga dia mendengar.


"Lumayan jauh, kita ke daerah atas ya?", jawabnya setengah berteriak.


Suhu udara sangat dingin, aku menyesal hanya memakai cardigan tipis. Kalau aku tahu bakalan ke daerah atas pasti kupakai jaket yang lumayan tebal. Padahal sepanjang perjalanan aku sudah memeluknya, ternyata tidak membuat badanku menjadi hangat.


"Kedinginan ya Nes?", sepertinya dia tahu yang aku rasakan.


"Iya, masih jauh ya?"


"Nggak juga sih tinggal dekat lagi. Harusnya tadi aku bilang ke kamu ya kita mau ke atas?"


"Kan kejutan!"


"Jadinya kamu kedinginan gara-gara kejutan"


Kemudian dia meminggirkan motornya. "Kenapa Sa? Kok berhenti?"


"Nih, pakai jaketku kalau kamu kedinginan"


"Eh, jangan! Kamu tuh yang didepan lebih terasa dingin. Lagian udah dekat kan?"


Aku nggak mau dia sakit atau masuk angin hanya karena meminjamkan jaketnya untuk kupakai.


"Yuk jalan!, biar cepat sampai"


Sekitar 10 menit akhirnya kami sampai. Dan begitu sampai dipelataran depannya, aku langsung menyukai tempat ini.


Hanya Cafe kecil, tidak terlalu ramai. Sayup-sayup kudengar suara live music memperdengarkan lagu dari band ternama di tanah air. Pilihan tempat nongkrong yang bagus, menurutku.


"Kita duduk didalam ya? Diluar dingin"


"Tapi aku suka duduk diluar, bisa lihat lampu-lampu kota bawah. Menurutku pemandangannya cantik"


"Begini aja, kita duduk didalam, cari tempat yang duduknya dipinggir. Jadi masih bisa lihat pemandangan kota bawah"


Didalam tidak terlalu ramai, jadi kami masih bisa mendapatkan tempat yang kami inginkan. Sambil memandangi kerlap-kerlip lampu kota bawah dimalam hari menurutku sangat menyenangkan.


Aku pernah mengatakannya bahwa saat pagi dan malam hari memiliki keindahannya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kok bisa tau tempat ini sih?"


"Belum pernah ketempat ini, atau belum pernah ke kota atas?" dia balik bertanya.


"Belum pernah ketempat ini, kalau ke kota atas sih sering"


"Memangnya kemana aja kalau ke kota atas?"


"Ke kos temen-temenku, kan aku punya beberapa teman yang tinggal didaerah sini"


"Dan mereka nggak pernah ngajak kamu nongkrong disini"


"Ya jelas nggak pernahlah. Kumpulan mahasiswa kere seperti kami nongkrongnya diwarmindo"


"Apa itu warmindo?"


"Warung makan indomie"


"Ohhhh, hahahaha anak kos sekali ya kalian ini"


"Karena kami anak kos kere, kalau punya duit ya mungkin nggak pernah juga berkunjung ke warmindo", kataku sambil tertawa.


"Tapi aku pernah nyaris bangkrut juga makan disitu"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Aku kalah taruhan bola, nraktir temen-temenku makan disitu. Mereka itu bener-bener nggak punya perasaan. Makannya ganas banget. Kapok aku taruhan bola sama mereka".


"Kamu itu yaaa, perempuan kok sukanya taruhan bola?", katanya sambil memencet hidungku dengan gemas.


"Ih, apaan sih! Susah napas tau!"


"Eh, kamu belum cerita tau Cafe ini darimana?"


"Kenapa? Suka ya sama tempatnya?"


"Iya, aku suka tempatnya nggak terlalu besar dan ditata bagus. Ada live music nya pula"


"Disini makanannya juga enak, tapi harganya ramah dikantong mahasiswa" timpalnya


"Jadi, Cafe ini punya teman aku. Anak orang kaya yang disuruh berbisnis sama papanya. Dia maunya punya Cafe dengan konsep yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Ada musik akustik dengan mengundang band-band indie buat tampil disini. Konsepnya anak muda banget"


"Temenku itu suka musik, tapi papanya lebih suka dia punya bisnis daripada main musik. Makanya pakai live music segala. Dia sering kesini kok, nanti kalau ada dia aku kenalin ya"


Aku menikmati suasananya, aku menikmati musiknya, dan aku menikmati makanannya.


Benar kata Mahesa, makanannya enak dan ramah dikantong mahasiswa.


Kapan-kapan pengen kesini ngajak Dea, tempatnya mudah diingat. Kalau sama temen-temenku yang cowok itu sebisa mungkin menghindari tempat ini, kecuali ditraktir. Soalnya kalau makan barbar banget. Bikin bangkrut.


Aku langsung mengingat saat mentraktir mereka sekali, karena kalah taruhan bola. Setelah itu aku bersumpah dalam hati nggak bakalan mau ikut taruhan bola lagi sama mereka.


"Siapa tadi yang meragukan kemampuan kita melawan anak kampung? ", kuingat saat itu Robin meledekku terus.


"Biasanya kan kalian nggak pernah menang kalau lawan mereka" kataku.


"Hari ini dewi fortuna berpihak pada kami Nes, mungkin tau bakalan ada yang nraktir kami makan di warmindo. Ya kan".


Robin memang menyebalkan. Ku ingat setelah dia bicara aku langsung mencubit pinggangnya.


"Aduh Nesta, masak nggak kamu lihat tadi gocekan kaki ku. Itu bagian dari strategi sampai bisa terjadi gol bunuh diri", Aldo menimpali.


"Lagi apes aja itu anak kampung" kataku.


"Lagipula harusnya kamu bangga Nes, kami bisa menang. Baru kali ini lho dalam sejarah kami bisa menang lawan anak kampung"


"Udahlah Nes, anggaplah mentraktir kami sore ini sebagai sedekah". Dan mereka tertawa bahagia. Aku jadi merindukan anak-anak sableng itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Besok jadi bimbingan skripsi lagi Bee?"


Kok dia inget ya jadwal bimbinganku?


"Jadi dong, doakan semoga lancar ya"


"Udah selesai ngetiknya?"


"Belum, tinggal sedikit lagi. Nanti pulang dari sini aku lanjut ngetik. Gampang itu, kemarin aku udah coret-coret bikin garis besarnya tinggal ditambah-tambah sedikit"


"Aku ganggu ya?, bikin kamu jadi begadang lagi"


"Nggak ganggulah, diajak ketempat kayak gini. Aku suka kok. Udah ah, nggak usah bahas skripsi dulu. Nikmati aja suasananya, musiknya, trus makanannya"


"Dan ada kamu disini".


"Iya, ada aku. Makasih ya udah diajak kesini"


"Eh, bentar ya Sa. Tunggu disini", aku beranjak dari tempat dudukku. Aku ingin menyanyi.


*Tak pernah kuduga,

__ADS_1


bahwa akhirnya


tergugat janjiku dan janjimu


Meski waktu datang


Dan berlalu sampai kau tiada bertahan


Semua takkan mampu mengubahku


Hanya kau yang berada direlungku*


Hanyalah dirimu


Mampu membuatku jatuh dan mencinta


Kau bukan hanya sekedar indah


Kau tak akan terganti


Aku menyanyikan salah satu lagu yang aku suka. Lagu lama dan menurutku liriknya benar-benar menyentuh. Aku selalu suka menyanyikannya


\=\=\=\=\=\=\=


"Suaramu bagus Bee", dia memandangku dengan tatapan mata yang susah kumengerti.


"Makasih ya, berarti nggak sia-sia aku rajin latihan paduan suara"


"Hahahaha, dan abis itu makannya jadi banyak"


"Yang bagian itu bisa nggak disimpan aja?, malu hahaha! "


"Ehmmm, lagu itu untuk aku?"


Aku menatap matanya, "Ya, buat kamu"


"Thank's Bee" ucapnya tulus.


"Kita pulang yuk, udah malam. Aku masih harus selesaikan tugasku"


"Iya, kalau bisa nggak pake begadang ya"


"Iya iya, semoga malam ini nggak begadang"


\=\=\=\=\=\=\=\=


Rasanya waktu pergi tadi perjalanan terasa jauh dan lama. Begitu pulang perjalanan terasa cepat. Rasanya masih ingin berlama-lama memeluknya. Sepanjang perjalanan kami masih mengobrol. Walaupun suara kami timbul tenggelam dibawa angin.


"Makasih ya, buat malam ini. Udah ngajak aku ketempat yang keren"


"Iya, kapan-kapan kita kesitu lagi ya kalau kamu memang suka"


"Bee, makasih buat lagunya. Aku suka"


Dilepaskannya pegangan tangannya dari tanganku, dibelainya puncak kepalaku.


"Bee, aku mencintaimu", dikecupnya keningku.


"Aku pulang ya"


"Bye Mahesa!"


Kutunggu kepergiannya hingga tak terlihat lagi, setelah itu segera aku berlari menuju kamarku.


Masih ada esok lagi Mahesa.


"

__ADS_1


__ADS_2