Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Museum


__ADS_3

"Kali ini aku memaafkanmu, Ben"


"Sudahlah, aku nggak mau acara jalan-jalan kita menjadi rusak karena hal ini"


"Oke, kamu akan membawa aku kemana?"


"Kita ke museum. Tempat yang paling kamu suka" dia menampilkan senyum terbaiknya.


Ternyata dia nggak pernah lupa apa saja tempat wisata favoritku. Selain alam terbuka, aku juga sangat menyukai museum.


Tapi aku nggak suka kalau harus mendaki gunung. Aku alergi dingin dan bisa bersin seharian kalau udara terasa dingin, belum lagi hidungku yang meler mengeluarkan ingus. Uhhh, bukan sesuatu yang ingin aku rasakan.


Aku juga nggak terlalu suka ke suatu tempat yang membutuhkan tantangan besar, salah satunya ya mendaki gunung.


Kalau ke suatu kota, biasanya akan kucari museum. Aku belajar mengenal peradaban daerah tersebut, bagaimana suatu daerah terbentuk dan apa yang melatarbelakanginya. Aku sangat suka belajar sejarah. Menurutku sangat menyenangkan. Aku seperti mencari dan mendapatkan kepingan-kepingan puzzle.


***


Pernah suatu waktu, aku dan teman-temanku mengikuti kegiatan kampus didaerah kaliurang. Kegiatan itu diikuti beberapa kampus dari Jogja, Solo, Semarang dan Purwokerto.


Seperti biasa, kami suka menjelajahi daerah baru. Nggak pernah betah harus berdiam diri dikamar atau penginapan. Besok jadwal acara kami mulai padat sampai beberapa hari kedepan. Jadi kalau ada waktu kami sempatkan berjalan-jalan. Mungkin bisa menemukan sesuatu yang menarik.


Setelah berbasa-basi dengan beberapa teman sekamar, ada yang dari Sekolah Tari di Solo dan dari Universitas Jendral Sudirman. Aku bergegas keluar kamar untuk mencari teman-temanku. Semoga mereka masih menunggu. Aku melihat mereka sedang asyik mengelilingi meja buffet yang terdiri dari beberapa hidangan selamat datang. Ada bubur kacang hijau yang hangat, singkong goreng, pisang goreng, mendoan dan dua macam minuman yaitu wedang jahe dan wedang uwuh. Wedang uwuh minuman hangat yang terdiri dari rempah-rempah terasa manis dan sedikit pedas.


Dua minuman yang sangat cocok dihidangkan ditempat berudara sejuk seperti kaliurang.


Pantas saja mereka betah duduk disini, rupanya ada perbaikan gizi anak kos. Kulihat mereka tertawa bahagia sekali.


"Hai Nes, sini!"


"Ooo, pantesan ya pada betah. Banyak makanan rupanya"


"Ya iyalah, kapan lagi?"


"Aku kira tadi sudah ditinggal pergi"


"Lama banget sih Nes, cuma naruh tas aja"


"Kan aku harus berbasa-basi dulu sama teman sekamar. Masak abis naruh tas langsung aku tinggal pergi"


"Anak mana aja temanmu?"


"Ada anak Tari Solo sama Unsud"


"Oh, aku sama anak Jogja"


"Eh, Nes! Tadi ada yang bening-bening. Kamu sih lama, dari tadi dia berdiri disini terus" maksud kata bening-bening adalah cowok ganteng.


"Halah, kalau sama yang bening-bening aja nggak bakalan dilewatkan. Makanya betah ya"


"Iyalah, anak UPN pertambangan" kata Sita setengah berbisik.


"Wooo, cepet banget infonya!"

__ADS_1


"Husss, jangan keras-keras tho Nes!. Malu!"


"Disini banyak anak UPN Anesta" Riris menjawil lenganku.


"Nggak usah bikin malu ya"


"Iya iya. Nanti kasih tahu yang mana orangnya ya"


"Beres, asal mulutmu itu dijaga. Awas lho kalau ngomong keras-keras!" sepertinya ancaman Riris nggak main-main.


"Aku kan orang batak yang sudah terkontaminasi kalian. Sudah jadi kalem"


"Heleh, kamu itu kalau lagi bersemangat ya hilang kalemnya"


"Yuk, kita jalan! Aku bosen disini terus. Bisa buncit nanti perutku"


Kami pergi beramai-ramai menjelajah daerah sekitar, tidak hanya aku-Sita-Riris tapi juga ada beberapa teman yang lain ikut serta.


"Heh, Nes! Itu orangnya" Sita berbisik ditelingaku, sambil menunjuk dengan pandangan matanya. Pantesan pada semangat, ternyata beneran ganteng.


"Berminat nggak Nes?"


"Berminat apa?"


"Pendekatanlah"


"Siapa? Aku?. Nggak! "


"Kenapa?"


"Sini ya aku kasih tahu. Cowok ganteng itu nggak perlu cari-cari perhatian yang mau juga banyak makanya mereka kalem-kalem nggak kebanyakan tingkah"


"Kalau cowok jelek itu biasanya sok cari perhatian makanya kebanyakan tingkah. Gitu Nes"


"Hayo, lebih makan hati mana?"


"Teori darimana tho Ris?"


"Lho, kok teori?. Ini kenyataan. Fenomena. Masak kamu nggak pernah melakukan pengamatan?"


"Halah, sudah tho nggak usah kebanyakan teori. Nih, aku tantang ya Ris. Kalau kamu bisa deketin si ganteng itu, minimal tukeran no telpon dan alamat aja. Aku traktir makan pecel Yu Sri sampai kenyang"


"Terlalu murah itu"


"Mampunya itu kok"


"Ya berarti nggak usah nantangi aku"


"Buat hiburan Ris. Berani nggak?"


"Ya, aku terima tantanganmu" dan kami berjabat tangan, sambil tertawa terbahak-bahak.


Nantinya aku kalah dan harus mentraktir Riris makan pecel Yu Sri sampai dia kenyang. Tak kusangka Riris nan ayu dan berbadan langsing itu menghabiskan 3 pincuk pecel dan beberapa lauk tambahan.

__ADS_1


Pulang dari acara traktiran, aku langsung ngomel-ngomel karena harus menguras celenganku. Sedangkan Riris tertawa bahagia.


***


Kembali ke cerita aku dan kawan-kawanku menjelajah daerah kaliurang dekat penginapan kami.


Tidak kami perdulikan gerimis yang menetes membasahi jaket, kami tetap berjalan. Bagi kami ini seperti suatu petualangan.


Sampailah kami disuatu tempat yang mirip pintu masuk kedalam goa, dimana banyak ranting-ranting pohon yang menjulur menutupi pintu. Terkesan misterius dan angker. Kami menatap pintu itu dan mengumpulkan nyali untuk masuk. Sebenarnya kami ini penakut, tapi karena beramai-ramai seolah-olah terlihat berani.


"Silahkan mbak kalau mau masuk" tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara seorang bapak yang sangat ramah. Sita nyaris berteriak karena terkejut.


"Ini tempat apa pak? Kami boleh masuk? Serem nggak pak?"


"Ini namanya Museum Ulen Sentalu. Sekitar dua jam lagi tutup. Kalau mau lihat-lihat silahkan, nanti ada pemandunya"


Kami pun bersemangat masuk kedalam dengan terlebih dahulu membayar tiket masuk.


Selama didalam kami dipandu oleh pemandu yang sangat cantik. Menceritakan dengan lengkap isi dari museum. Didalam museum akan dijumpai beberapa benda peninggalan putri-putri keraton Jogjakarta. Termasuk surat-surat, foto-foto, pakaian juga puisi-puisi.


Aku betah berada didalam, mendengarkan cerita yang meluncur dari bibir pemandu yang cantik dan berkebaya. Aku suka melihat benda-benda sejarah, membaca surat-surat dan keterangan yang tertulis disana. Diakhir perjalanan kami disuguhi minuman seperti jamu yang terasa manis. Rasanya sore kami terasa indah dengan melakukan perjalanan yang bermakna.


Beberapa tahun kemudian aku kembali lagi kesana, tidak bersama teman-temanku. Suasananya sudah berbeda, lebih modern. Tidak ada lagi penampakan pintu seperti memasuki mulut goa yang penuh dengan sulur-sulur. Tapi ternyata aku lebih menyukai suasana masa lalu, tampilannya yang misterius. Dan aku juga merindukan teman-temanku. Ternyata perjalananku terasa berbeda tanpa mereka.


***


Ben, mengajakku ke Museum Gajah. Yang berisi benda-benda arkeologi, patung-patung, arca-arca. Dan bermacam-macam lagi benda sejarah, etnografi, geografi. Aku menyukainya.


Seperti biasa aku akan mengamati dengan sungguh-sungguh setiap tulisan yng tertera. Aku tahu Ben tidak menyukai museum, dia melakukannya demi aku.


Aku sangat menghargai usahanya untuk menyenangkanku.


Kadang sambil mengamati benda-benda itu, sekilas aku melirik wajahnya yang tampak bosan. Aku pun tersenyum.


"Udah bosen ya Ben?"


"Nggak, aku betah kok nemenin kamu" dia berbohong.


"Sebentar lagi ya?".


Dia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Setelah ini kita kemana?"


"Ada satu museum lagi yang mau aku tunjukkan ke kamu"


"Nggak usah ke museum lagi"


"Serius?"


"Iya, kita makan trus antar aku pulang ya?" kulihat dia kecewa. Mungkin dia masih ingin berlama-lama bersamaku.


"Aku nggak mau kecapekan dan besok nggak fit masuk kantor"

__ADS_1


"Oke, kalau begitu Nes!"


__ADS_2