
Aku memenuhi janjiku untuk datang kerumahnya. Tidak hanya bertemu dia, tapi juga bertemu mama dan adik-adiknya. Papanya sudah tiada beberapa tahun yang lalu. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan sore itu.
Setelah pertemuan sore itu, kemudian ada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Aku merasa selalu ingin bertemu dia. Mungkin benar yang dikatakan Emi, aku jatuh cinta. Tapi untuk perempuan yang satu ini, aku tidak berani mengungkapkan perasaanku.
Aku juga pernah menjemput dia disekolah, kulihat dia sedang berbincang dengan seorang teman lelakinya.
"Ngobrol sama siapa Nes?"
"Teman, dia sekelas sama aku"
"Dia suka sama kamu?"
"Maksudnya?"
"Maksudku, teman kamu itu ada perasaan suka sama kamu?"
"Nggak, cuma teman biasa. Kenapa sih nanya kayak gitu? "
"Kesannya akrab sekali"
"Iyalah, kan dia teman sekelasku. Aku berteman sama dia sejak kelas satu lho"
"Oh, aku kira dia suka sama kamu kesannya akrab sekali"
"Nggak usah terlalu cepat menilai orang lain kalau kamu belum benar-benar mengenalnya. Karena bisa jadi penilaian kamu salah dan kamu akan menyesalinya"
"Aku mau cerita Ben. Kamu tau kan mamaku itu seorang janda. Usianya masih dianggap muda saat mama menjadi janda"
Kudengar dia menarik nafas. "Kamu tau bagaimana orang-orang sekitar yang belum benar-benar mengenal mama menarik kesimpulan atas diri mama?"
"Saat mama benar-benar mencari nafkah dengan berjualan pakaian. Orang-orang itu tetap menilai mama mencari nafkah dengan cara yang tidak halal. Karena mama bisa memenuhi kebutuhan kami. Dalam artian kami masih bisa bersekolah dan terlihat baik-baik saja"
Aku biarkan dia terus bicara. Dia belum pernah bicara sepanjang ini padaku. Biasanya aku lah yang terus bicara.
"Aku kadang mendengar kasak-kusuk mereka bicara saat aku lewat mau ke warung. Bahkan ada yang berani terang-terangan datang ke rumah untuk menanyakan pekerjaan mama. Kami taulah maksud orang bertanya dengan niat baik atau tidak. Dan aku mengusir orang itu pergi dari rumahku"
"Jadi, sekali lagi aku katakan padamu. Untuk selanjutnya jangan terlalu cepat menilai orang lain sebelum kamu benar-benar mengenalnya"
Aku menganggukkan kepalaku. Aku merasa mungkin tadi aku cemburu melihat dia bicara akrab dengan laki-laki lain. Tapi aku nggak mungkin mengatakannya. Aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Kita jadi kan, ke kios buku bekas? "
"Jadilah"
"Kok, lewat sini?"
__ADS_1
"Ini jalan yang lebih cepat dari jalan yang kamu lewati kalau naik angkutan Nes"
"Hahaha iya, aku kebiasaan naik angkutan kemana-mana"
"Mau cari buku apa sih Nes?"
"Buku soal-soal. Buat persiapan ujian. Kalau disitu kan harganya miring dibanding ditoko buku yang besar"
"Iya sih. Nanti pulangnya kita makan ya Nes, aku bisa mati kelaparan"
Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Bagiku tidak perlu ada pernyataan.
Dia pun tidak pernah menanyakan apa bentuk hubungan kami. Mungkin dia mengerti, bahwa tidak perlu ada pernyataan cinta tapi dari kedekatan kami dia tau kami adalah sepasang kekasih.
Aku semakin sering main kerumahnya, ngobrol sama mama dan adik-adiknya. Kadang kala jalan bersama dia dan adik-adiknya. Sedekat itu hubungan kami.
Aku semakin yakin kalau aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dia.
Sampai suatu saat setelah kami berdua ikut ujian masuk ke perguruan tinggi. Aku menerima kabar kalau dia lulus masuk Universitas Negeri di Jawa. Hatiku rasanya sakit, aku merasa kehilangan dia.
Selama ini dia tidak pernah mengatakan ke mana pilihannya. Katanya itu kejutan untukku.
Dan dia benar-benar memberikan kejutan.
Segera kupacu motorku kerumahnya. Aku hanya ingin memastikan.
"Aku lulus Ben, minggu depan aku akan berangkat"
"Selamat ya, Nes! "
Sebenarnya aku tidak tau harus bagaimana. Aku harus bahagia untuk dia atau aku harus sedih karena dia akan pergi jauh.
"Siang ini kita bisa pergi keluar nggak?"
"Tunggu sebentar ya, aku tanya mama dulu"
Aku harus menyampaikan perasaanku padanya sekarang. Dan aku tidak mungkin mengatakannya disini.
"Ayo, kita pergi!. Tadi sudah aku pamitkan sekalian. Kata mama pulangnya jangan terlalu sore" kulihat dia sudah berganti pakaian.
***
"Nes, Aku mencintaimu dan nggak ingin kehilangan kamu"
Dia menatap manik mataku, mencari kejujuran dimataku.
"Kenapa baru kamu katakan sekarang Ben?"
__ADS_1
"Menurutku dari kedekatan kita, dari cara aku memperlakukan kamu sepertinya tidak perlu kata-kata pernyataan cinta itu. Aku mengatakannya sekarang karena kamu akan pergi jauh meninggalkan aku"
"Kalau menurutmu pernyataan cintamu bisa menghentikan langkahku untuk pergi. Kamu salah Ben. Aku akan tetap pergi"
"Sebenarnya aku tidak tau harus bersikap bagaimana saat ini Nes?. Aku ikut bahagia kamu bisa mewujudkan keinginanmu tapi aku juga nggak mau kamu jauh dariku"
"Aku tetap akan pergi Ben"
"Aku tau, aku tidak akan mungkin menghentikanmu. Kali ini aku hanya ingin mempertanyakan perasaanmu padaku"
Kugenggam tangannya, aku benar-benar tak ingin melepas kepergiannya. Ternyata cinta bisa membuat aku secengeng ini.
"Aku mencintaimu Ben. Bahkan sejak awal kita bertemu diangkutan siang itu. Aku terpikat pada senyummu" senyumnya mengembang. Dia terlihat sangat cantik.
"Kamu tau nggak Nes, sejak kita ketemu diangkutan beberapa hari aku naik angkut hanya sekedar untuk bisa ketemu kamu"
"Kamu kan tau rumahku. Kenapa nggak main kerumah?. Gengsi ya?"
"Nggak lah, aku belum yakin aja"
"Aku nungguin kamu lho datang kerumah, kadang berharap kamu naik angkutan yang sama denganku"
Siang itu kami habiskan waktu dengan menonton bioskop, berjalan-jalan dimall. Aku membelikan dia buku dari penulis yang sangat dia sukai.
Sebelum berpisah, kucium keningnya. Kuusap lembut pipinya "Aku mencintaimu Anesta"
Ada pertemuan-pertemuan selanjutnya sebelum hari keberangkatannya. Aku tau bagaimana dia berjuang untuk meyakinkan mamanya agar bisa pergi. Aku tau tidak akan ada seorangpun yang bisa menyurutkan langkahnya.
"Besok aku tidak mengantarmu Nes, sepertinya aku tidak akan sanggup"
Sebenarnya aku benci menjadi cengeng, tapi aku harus mengatakannya. Dan dia mengerti.
****
Seminggu setelah dia pergi, aku menerima surat dari dia. Aku sangat terkejut, jaman sudah semakin modern dan dia masih berkirim surat.
Emily justru merasa ini hal paling romantis yang dilakukan seorang kekasih.
"Aku juga mau ah, kirim surat kayak kak Nesta. Bener juga ya kata-kata kak Nesta. Biar ada kenangannya"
Selanjutnya aku menerima surat setiap dua minggu sekali dari dia. Cerita tentang kuliahnya, teman-temannya, kegiatannya. Aku suka membaca surat-suratnya. Cara dia menuliskannya, membuat aku tidak pernah bosan membacanya.
Dia juga mengirimkan kartu ucapan ulang tahun, valentine bahkan untuk mengatakan dia rindu padaku pun lewat kartu.
Dia perempuan yang sangat unik dan menarik menurutku. Dan aku sangat mencintainya.
Hingga suatu waktu, ternyata aku yang menghianati hubungan kami.
__ADS_1