Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Andaikan saja


__ADS_3

"Hai Mahesa, bagiku cinta tidak semudah itu. Tidak hanya aku dan kamu. Andaikan sebegitu mudahnya sudah kukatakan jawabannya kepadamu tadi sore"


"Hai Mahesa, tahukah kamu hubungan kita terlarang. Ada perbedaan yang akan membuat kita harus berjuang"


"Waktu akan menguji, apakah kamu laki-laki yang layak untuk kuperjuangkan cintanya. Atau laki-laki yang akhirnya akan pergi dari sisiku karena tidak sanggup berjuang bersamaku".


Aku terus berkata-kata dalam hatiku. Sampai akhirnya aku merasa lelah.


"Mamaku tidak akan setuju dengan cinta kita Mahesa", bisikku lirih dan aku pun menangis.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Kami berbeda suku, menurutku tidak ada yang salah dengan itu. Lihatlah pelangi terlihat indah dengan warna-warninya. Tapi bagi mamaku itu salah. Itu nggak boleh.


Aku harus mencari laki-laki yang satu suku denganku kalau ingin menjadi seseorang yang spesial dalam hidupku.


Aku dari suku Batak dan Mahesa seorang Jawa tulen. Di mataku semua itu malah saling melengkapi. Tapi tidak bagi mamaku.


"Kamu anak perempuan pertama dikeluarga kita, kamu juga anak paling besar. Kamu yang akan membimbing adik-adikmu dalam semua hal termasuk mengenai adat kita. Carilah suami yang satu suku dengan kita jadi kalian berdua bisa membimbing adik-adikmu", itu salah satu pesan mama saat aku pulang liburan setahun yang lalu. Selain pesan untuk segera menyelesaikan kuliahku.


"Tenang aja ma, nggak usah khawatir gitulah. Aku belum tertarik untuk punya pacar saat ini, aku lagi fokus menyelesaikan kuliahku"


"Mama kan hanya mau bilang jauh-jauh hari, jadi kalau ada yang mendekatimu bukan laki-laki batak, kamu sudah tau mama tidak akan setuju"


"Iya iya, aku ingatlah pesan mama. Doakan saja aku cepat lulus ya ma"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nes, aku masuk ya? Anesta!", kudengar suara ketukan dipintu kamarku.


Tak kusadari, aku sampai tertidur. Ternyata aku kelelahan.


"Nes, lagi ngapain sih? Dari tadi dipanggil nggak nyahut"


"Masuk aja De, pintunya nggak dikunci kok"


"Aku kirain kamu pergi, kok kamarmu gelap tapi aku lihat sepatumu ada didepan pintu"


"Iya, aku ketiduran sampai nggak tau diluar udah gelap banget"


"Padahal rencananya sore ini mau mengerjakan tugas trus lanjut menyelesaikan Bab 1 skripsi. Eh, malah ketiduran"

__ADS_1


"Udah makan belum, Nes?"


"Ya belumlah, perutku udah mulai bunyi minta diisi"


"Mandi dulu Nes, trus kita beli nasi goreng yang diujung gang. Aku pengen makan bareng kamu. Kayaknya udah lama kita nggak keluar makan bareng"


"Ya udah aku mandi dulu ya, bauku udah asem!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nes, pesan nasi goreng juga atau yang lain?"


"Pesen kwetiau goreng aja De, yang pedes ya kayak biasanya".


"Tadi jadi ke perpustakaan nggak De? Ketemu buku yang dicari?"


"Jadi. Makanya aku pulang udah sore banget sampai perpustakaannya udah mau tutup. Buku yang aku maksud sih ada, malah dapat buku lain untuk referensi"


"Besok aku perpustakaan daerah juga lah, buntu nih. Kayaknya aku muter-muter disitu aja"


"Tapi besok aku nggak bisa temani kamu, aku diajak Jo cari kado buat mamanya"


"Iya aku tau, kan tadi udah bilang"


"Iya iya, kayaknya penting banget".


"Tadi aku pulang dijemput Mahesa di kampus. Dia nungguin aku di pintu depan, tempat yang kita biasa lewat. Kok dia bisa tau ya aku bakal lewat situ. Kenapa tadi aku lupa nanya?"


"Eh, trus kami pergi makan bakso di daerah barat, jauh banget. Aku nggak tau tempat pastinya pokoknya baksonya enak. Trus, seperti biasalah kami ngobrol dan..."


"Stop Nes, langsung ke intinya aja. Yang penting bagian mana?". Dea tau aku bakal ngomong muter-muter kalau yang hal yang mau aku sampaikan itu akan membuatku salah tingkah.


"Intinya, Mahesa menyatakan perasaannya kalau dia cinta padaku. Dan aku nggak tau harus bagaimana"


"Cie cie, yang lagi seneng. Selamat ya"


"Apanya yang selamat, justru aku nggak tau ini bakalan selamat sampai ke akhir atau justru bakal segera karam"


"Maksudnya gimana sih? Bukannya kamu juga seneng sama dia? Bukannya kamu juga cinta sama dia? Dan setahuku saat ini kamu masih menjomblo"


"Iya, aku suka sama dia. Aku pengen jadi pacarnya. Tapi mamaku pasti nggak setuju. Apa yang harus kuharapkan dari hubungan yang nggak direstui dari awal"

__ADS_1


"Makanya tadi aku belum menjawab pertanyaannya. Aku belum memantapkan hatiku De"


"Kalau menurutku sih, jalani aja dulu yang sekarang. Kalau kamu memang suka ya udah terima aja. Soal mama kamu dipikir nanti aja, belum tentu juga kalian bakal menikah"


"Perjalanan kita masih panjang nes untuk sampai ke tahap itu. Memang kamu mau menikah sebulan lagi?"


"Ih, ngaco. Ya nggak lah. Mikirin tugas sama skripsi aja dulu"


"Aku tuh kalau menjalani suatu hubungan itu serius De, kalau bisa ya harus sampai diakhir. Nggak bisa pikirin nanti aja, gimana nanti"


"Tuh, buktinya sama pacar kamu akhirnya putus juga kan?. Ya berarti memang gimana kedepannya aja Nes. Siapa yang tau setelah mama kamu kenal Mahesa trus jadi luluh. Trus jadi merestui kalian berdua"


"Itu sih dia yang mutusin, aku kan tetap berusaha menjaga hubungan kami tetap berjalan sebagaimana adanya"


"Dibilangin, masih ngeyel aja deh Nes. Terserah kamu lah. Sekarang semua keputusan tuh ada ditangan kamu. Kamu tau yang terbaik yang harus kamu lakukan. Kalau aku jadi kamu sih, aku terima cintanya"


"Ya, ntar aku pikirin lagi deh gimana baiknya. Terus terang aku nggak mau kehilangan dia untuk saat ini De"


"Makasih ya, udah mau dengerin. Makasih buat sarannya"


"Ya nggak cuma makasih aja sih, bayarin nasi gorengnya juga lah"


"Semprul!, ini tanggal tua De buatku. Ntah kapan mama bakal transfer uang lagi. Tau sendiri mama kalau transfer sering telat"


"Iya, aku bercanda Nes. Hahahaha. Sensitif banget kalau ngomongin traktiran"


"Yuk pulang Nes, aku udah ngantuk. Rasanya capek banget hari ini"


Kami berjalan kaki menuju kos. Biasanya sambil berjalan kami masih mengobrol tentang apa saja. Tapi kali ini kami memilih diam, larut dengan pikiran kami masing-masing. Mungkin karena Dea sudah kelelahan dan mengantuk dia tidak berminat lagi untuk mengobrol.


Sedang aku asyik bermain-main dengan pikiranku. Semuanya diawali dengan kalimat 'andaikan'.


Andaikan aku terima cintanya, apa yang akan terjadi?.


Andaikan aku menolak cintanya, masih kah kami bisa bertemu.


Andaikan mama menolak sampai kapanpun, apa yang akan kulakukan.


Sepertinya, aku akan tidur saja. Tugas kuliah kusingkirkan dulu. Aku sudah tidak berminat untuk mengerjakannya.


Mungkin esok pagi, aku memiliki semangat baru menyelesaikan tugasku.

__ADS_1


"


__ADS_2