
We love the things we love for what they are
-- Robert Frost --
Sepulangnya Mahesa dan Dion dari kos ku, malah bikin aku nggak bisa tidur. Raut wajah Mahesa berputar-putar di kepalaku seperti komidi putar. Menyenangkan, membuat bergairah dan menjadi candu. Susah menghilangkannya dari otakku. Dia seperti merasuki.
Aku jadi senyum-senyum sendiri dari tadi di kamar sambil mendengarkan lagu. Sebentar kubenamkan wajahku ke bantal. Berharap wajahnya hilang dari otakku, berharap aku bisa mengusirnya. Aku tidak mau menjadi gila karenanya.
Aduh, aku kalau suka sama seseorang merasa jadi norak dan memalukan. Padahal ini cuma sekedar suka.
"Nes, udah tidur belum? Aku masuk ya?" Terdengar suara Dea sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku yakin sedari tadi dia sudah didera rasa penasaran.
Dea itu orangnya nggak sabaran, selalu ingin tahu cerita lengkap aku dan Mahesa. Aku yakin dia akan bertanya dari A sampai Z, mirip petugas sensus. Ah, bocah! padahal aku masih menikmati perasaanku. Aku sedang ingin sendiri.
"Masuk aja, pintunya nggak dikunci kok!"
Dea melihatku duduk menghadap ke pintu, siap menerima kehadirannya di kamarku, "Tadi kemana sama Mahesa?" Tuh kan...tuh kan...apa kubilang! Tanpa basa-basi langsung bertanya ingin tahu. Aku cuma bisa senyum-senyum mendengar pertanyaanya. Biar dia penasaran!
"Ih, kok malah senyum-senyum...jawab dong!" Dea duduk disampingku menggoyang-goyangkan tubuhku. Terus mendesak ku untuk bercerita. Kalau keinginannya untuk mendengarkan ceritaku belum tercapai, dia pasti menggunakan segala jurus termasuk memaksa tidur di kamarku.
"Cuma ke warung makan lesehan, makan nasi goreng, ngobrol macam-macam. Udah gitu aja, nggak ada yang istimewa dalam percakapan kami," jawabku kalem.
"Ngobrolnya seru nggak?Dia nyambung nggak kalau diajak ngobrol?Aku takut kamu nggak cocok ngobrol sama dia."
"Lho memangnya kenapa pake takut?"
"Kan aku yang minta kamu jalan sama dia, trus kamu kan paling sebel sama cowok yang kalau diajak ngobrol nggak nyambung. Aku kan merasa bersalah kalau kamu sebel sama dia." Dea mencebik, tangannya sibuk memilin-milin tali pengikat sarung guling. Oh, aku paham maksudnya...
"Mukaku kelihatan sebel nggak?" Aku tersenyum lebar, seharusnya dari senyumku dia tahu bahwa aku suka bicara dengan Mahesa.
"Ya nggak sih, cuma aku takut aja. Soalnya kan pernah tuh ada temennya Yani yang main ke sini ngajak kamu ngobrol. Malah kamu marah-marah dan kamu tinggal pergi begitu saja."
"Oh, iya hahahaha. Cakep-cakep diajak ngobrol nggak nyambung. Bikin males dan mules, ya aku tinggal aja!"
"Tenang aja Mahesa tadi enak kok diajak ngobrol. Nggak usah khawatir gitu lah!" Mataku berkedip-kedip jenaka.
"Eh, Mahesa cakep ya ,Nes?" Mendadak Dea bicara seperti itu. Aku jadi bingung harus menjawab bagaimana. Aku tahu Dea pasti akan menggodaku, karena sekarang saja aku merasakan wajahku memanas.
"..."
"Nes, cakep nggak menurut kamu?"
"..."
"Hellow Nes, ditanya kok diem aja. Malah senyum-senyum sendiri." Dea menggerakkan kepalanya di depan wajahku, ingin melihat perubahan ekspresi ku. Aku tertawa saat melihat tingkahnya. Dasar Dea!
"Iyaa, cakep banget dan sekarang aku mau tidur mungkin aja bisa mimpi tentang dia." Tanganku bergerak menggebah dirinya supaya segera keluar dari kamarku. Kalau nggak begini, Dea bisa betah berlama-lama berada di kamarku, padahal aku ingin tidur. Tubuhku mulai terasa letih.
"Ih, norak! Nih, peluk tuh guling biar komplit berasa meluk Mahesa." Refleks Dea melempar guling yang sedari tadi berada dalam pelukannya. Dea terlihat gemas.
Aku cuma bisa tertawa ngakak, sambil menangkap guling yang dilempar Dea. "Udah, aku mau tidur. Aku capek banget De. Badanku tuh rasanya kayak dipukuli orang sekampung."
"Memangnya pernah dipukuli orang sekampung?"Dea tetap tidak mau beranjak. Aku nyaris menyeretnya keluar kamar. "Dasar bocah nggak pengertian banget!" rutukku di dalam hati.
Dea bisa membaca kalau aku menginginkannya segera keluar meninggalkanku, "Aku masih pengen dengerin ceritamu Nes," Dea mencoba bernegosiasi, mungkin aku bisa mengubah keputusanku. Aku melihatnya dengan pandangan galak. Kayak nggak ada hari besok aja !
"Ceritanya besok aja ya, kan besok dunia masih belum kiamat."
"Pelit banget sih, lima menit aja ceritanya." Dea menunjukkan kelima jarinya, berusaha merayu.
"Bukannya yang seharusnya cerita itu orang yang baru jadian. Cerita kencan pertama, sudah ngapain aja?" Aku sambil tersenyum jahil menggodanya.
"Mau tau aja!" Dea membuang mukanya, tersenyum malu. Kalau aku lagi nggak capek, sudah habis dia ku goda.
"Tapi kayaknya lebih seru dengerin cerita orang yang lagi jatuh cinta ,Nes," katanya nggak mau kalah.
"Siapa bilang aku jatuh cinta?" Aku mengelak. Memangnya kalau aku bilang Mahesa cakep berarti aku jatuh cinta? Memangnya kalau aku senyum-senyum membayangkan kejadian tadi sudah dipastikan aku jatuh cinta?Dea ini suka sok tahu.
"Ya ampun Nes, kita itu bersahabat sudah berapa tahun sih sampe aku nggak tau tanda-tandanya. Dari tadi senyum-senyum sendiri, mukanya bahagia banget. Kayak muka abis dapat transferan. Tau nggak!"
"Kelihatan ya, kalau aku lagi kayak orang jatuh cinta?" Sekarang aku jadi bimbang. Beneran aku jatuh cinta?Masak sih?
"Kamu tuh ya Nes, kayak buku yang terbuka, mudah dibaca." Dea masih terlihat bersemangat melanjutkan ceramahnya.
"Udah ah, ceritanya besok aja!Aku mau tidur dulu!" Aku menarik tangannya supaya Dea keluar dari kamarku. Kayaknya memang harus dipaksa, nggak bisa menunggu kesadaran sendiri.
"Ya udah, besok janji bakal cerita. Paket komplit lho!" Dea masih bicara sambil kepalanya sedikit mengintip ke kamarku.
"Pake minum sama sambel atau lalapan nggak?"tanyaku iseng. Aku suka menggodanya.
__ADS_1
"Kamu kira Ayam Penyet!" Dea berteriak dari depan pintu kamarnya. Ku dengar suaranya menggerutu, aku tak tahu dia bicara apa. Segera ku matikan lampu dan tertidur.
***
Hari Minggu biasanya aku bangun agak siang. Apalagi kemarin rasanya badanku lelah sekali ditambah lagi tidur larut malam. Kalaupun mataku sudah terbuka tapi biasanya aku masih bermalas-malasan di tempat tidur.
Jam sembilan Dea sudah mengetuk pintu kamarku dan suaranya sangat berisik memanggil-manggil namaku.
"Nes, bangun dong, aku mau ngomong sesuatu!" teriaknya dari luar. "Kamarmu sudah aku kepung nih!"teriaknya lagi.
Nih bocah nggak beres banget, memangnya dia lagi main polisi-polisian.
"Haduh, nggak bisa nanti ya!Aku masih males ninggalin tempat tidur!" Aku berteriak lebih keras. Pokoknya aku nggak mau kalah sama Dea.
"Nggak bisa Nes, penting banget, ini demi hidup dan matiku!" Mulai deh berlebihan. Kebiasaan si Drama Queen. Seriusan tuh dia sampe segitunya.
"Apaan sih? Sampe ganggu tuan putri lagi tidur! Ini hari minggu, hari dimana aku bisa bangun agak siang!"
Aku tetap tidak mau bangun membukakan pintu. Dea tetap berteriak dari luar sambil mengetuk pintu kamarku. Berisik sekali. Hari Minggu pagi yang sangat heboh. Akhirnya aku bangun dan menyeret langkahku untuk membukakan pintu kamar. Dea tersenyum manis sedangkan aku memasang ekspresi tak suka.
"Sorry deh ,Nes." Dea mulai duduk di tempat tidurku
"Nes, jam sepuluh kita ke mall ya? Aku mau beli baju, cari baju yang pantes ke rumah Dion."
"Ngapain ke sana? Mau melamar?"Aku terkejut, secepat itu langsung ke rumah Dion. Padahal urusan dengan pacarnya aja belum beres.
"Nes, memangnya aku mau kawin!" Dea protes dengan pernyataan ku.
"Tadi Dion telpon katanya dia cerita tentang aku ke mamanya trus mamanya jadi penasaran pengen ketemu aku. Rencananya malam ini Dion mau ajak aku ke rumahnya. Kan aku pengen cari baju yang pantes buat ketemu mamanya Dion."
"Trus nasib si Maya maya itu gimana? Bukannya itu pacarnya Dion?Mamanya nggak kenal sama itu cewek? Kok aku jadi bingung." Kalau mamanya Dion sudah kenal Maya pasti nggak secepat ini dong ingin kenal Dea. Aku tak mengerti.
"Kalian kan juga baru jadian?"
"Nggak tau deh Nes, aku tadi nggak nanya. Pokoknya Dion tadi pagi telpon aku ceritanya begitu. Ntar aku tanya Dion. Sekarang aku tanya kamu, mau nemenin ke mall nggak?"
"Baju satu lemari penuh gitu masih kurang?Pasti ada yang pantas untuk menemui mamanya Dion. Cari aja dulu!"
Sebenarnya sih karena aku males aja, aku pengen menikmati hari liburku dengan tidur.
"Ya sudah, aku pergi sendiri aja!" Dea mengerucutkan bibirnya.
***
Setelah dari pagi sampe sore di mall demi mendapatkan "baju yang pantas" buat ketemu mamanya Dion, kaki mulai terasa pegal seperti mau patah.
Untung akhirnya Dea sadar juga kalau temannya ini sudah nggak sanggup dan pengen pulang.
"Pegel ya? Ya sudah kita pulang. Udah ketemu kok baju yang pas." Senyumnya lebar banget. Apalagi melihat wajah sengsaraku.
"Ya iyalah, dari pagi sampe sore, lihat tuh udah berapa kantong belanjamu!" kataku sambil menunjuk kata belanja yang berada di tanganya.
"Iya, semoga mamanya Dion suka ketemu aku." Dea menggandeng tanganku.
"Trus, kalau suka gimana? Mau diterusin? Nasib pacar kalian gimana?"
"Dipikir nanti aja itu Nes, yang penting acara malam ini sukses. Doakan ya?"
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala, bisa banget begitu ya. Suatu hubungan yang menurutku rumit dibuat jadi enteng.
"Ya terserah aja sih, kalau ada apa-apa berani tanggung resikonya lho!"
***
Dea itu pada dasarnya sudah cantik, nggak perlu waktu lama buat dandan juga nggak perlu make up yang berlebihan. Sederhana saja sudah bikin dia kelihatan cantik.
Beda banget sama aku, wajah biasa aja dan nggak bisa dandan. Kebanyakan bergaul sama temen cowok sampe membuat aku jadi "buta" sama yang namanya make up.
Sekarang sih udah mendingan mau pake lipstik atau lipgloss ke kampus, kalau dulu pake bedak aja suka lupa.
Tapi ada aja kakak senior yang suka dan mau jadi pacarku. Walaupun aku selalu mengirimkan sinyal penolakan. Biasanya mereka suka nanya ke Dea macam-macam. Sampai mengungkapkan isi hati mereka tentang aku ke Dea.
"Kasihan tuh si Edo, tadi dia curhat susah banget deketin kamu."
Atau pernah juga "Nes, Mas Bayu titip salam terus, katanya kamu jangan terlalu cuek."
"Nes, kumpul-kumpul sama teman-teman mu itu dikurangilah. Jadinya kamu itu nggak peka sama cowok-cowok lain yang naksir kamu."
Kalau Dea mulai protes biasanya aku cuma nyengir atau ketawa ngakak.
"Salah sendiri, cowok-cowok yang naksir itu kurang usaha buat dekatin aku."
__ADS_1
"Gimana mau deketin kamu? Didatangi ke kos, tuh delapan bodyguard mu udah nongkrong di teras mau ngajak jalan. Lagian punya temen jomblo semua, ya kamu jadi ketularan."
Dea tuh suka berisik, bukannya kemarin-kemarin aku nggak punya pacar. Pernah pacaran tapi jarak jauh.
Dia tinggal di Medan, jadi ketemunya kalau pas aku pulang. Pernah sih sekali dia datang ke Semarang, kebetulan saudaranya ada yang tinggal di Semarang. Ketemu beberapa hari, rasanya seneng banget. Secara kami jarang banget bisa ketemu.
Tapi kesibukanku akhir-akhir ini, dan aku mulai mengerjakan tugas akhir membuat aku memutuskan untuk nggak pulang dulu.
Fokus untuk menyelesaikan tugas akhir biar cepat lulus.
Akhirnya kami putus, ada perempuan lain yang membuat dia jatuh cinta. Dia merasa diperhatikan.
Aku merasa dia bukan yang terbaik begitu juga aku untuknya. Jadi aku menikmati masa-masa menjomblo.
***
Kembali ke Dea, yang sudah duduk manis menunggu Dion.
"Ntar cerita yang lengkap ya, aku tunggu lho. Aku rela nggak tidur dulu nungguin kamu."
"Iya Nes, beres ntar aku ceritain semua. Yuk, tuh Dion sudah didepan!"
"Bye Dea, hati-hati ya!"
***
Lima belas menit kemudian, Mahesa menelpon ku.
"Lagi apa?" tanyanya
"Bengong aja dikamar sambil dengerin lagu."
"Aku kesitu ya, main?"
"Iya datang aja." kugigit bibirku kuat, berharap ini bukan mimpi.
Jantungku mulai terasa berpacu dengan cepat, perutku langsung terasa tidak enak. Duh, aku kalau tegang pasti begini.
Oh Tuhan, aku jatuh cinta! Sudah lama aku tidak merasakan hal ini. Terakhir kali rasa ini ada lima tahun yang lalu. Aku menikmatinya, menikmati rasa deg-degan, perut yang tiba-tiba mules, dan perasaan yang melambung.
***
Tidak lama Mahesa datang, kusambut dengan senyum termanisku.
Malam ini dia terlihat tampan dimataku. Walaupun hanya memakai jeans dan t shirt, sederhana saja. Aku menyukainya.
"Aku pengen ngobrol sama kamu Nes, boleh ya?"
"Boleh dong, mau ngobrolin apa sih?"
"Ya macem-macemlah, ngobrol sama kamu itu seru. Nyambung diajak ngomongin apa aja. Eh, Dea mana?" Senyumnya yang manis tak lepas dari wajahnya dari mulai saat menyapaku.
"Tadi dijemput Dion, mau ketemu mamanya Dion."
"Serius Nes?" Raut wajahnya berubah menjadi terkejut.
"Iya, kenapa sih?"
"Enggg, nggak apa-apa,"katanya ragu.
***
Kami bicara banyak hal. Dari mulai musik, perkuliahan, olah raga kesukaan kami yaitu sepak bola, hobi, sampe ngomong politik. Seperti saat awal kami ketemu dan ngobrol di warung lesehan.
Sudah kayak TV channel, semua ada dan terasa mengasyikkan, bahkan kami nggak canggung saling melemparkan joke-joke receh.
Kayaknya waktu berlalu begitu cepat, waktu sudah menunjukkan jam sembilan.
"Aku pulang ya Nes, besok pagi ada kuliah juga."
Lama dia menatapku, "Besok-besok aku boleh datang lagi kan Nes? Ngobrol sama kamu. Ada yang marah nggak?"
Wajahku mendadak terasa panas ketika Mahesa berkata seperti itu.
"Iya, datang aja nggak apa-apa. Nggak ada yang marah kok." Semoga dia tidak menyadari betapa gugupnya aku
Aku melepas kepergiannya, dan semakin tidak sabar menanti kepulangan Dea. Sepertinya kami punya banyak cerita malam ini.
Aku menunggu di kamarku sambil membaca novel Sidney Sheldon kesukaanku.
Tidak lama kudengar langkah kaki Dea di tangga. Dea masuk ke kamarnya dan kudengar isak tangisnya. "Ada apa dengan anak itu?"
__ADS_1