Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
It's Me


__ADS_3

"Mau pesen apa nes?"


"Kweetiau goreng aja deh sama es teh manis ya"


"Ya udah aku sama aja, tapi pesennya teh tawar aja. Kalau minumnya sambil lihat kamu jadi terasa manis"


"Ih, apaan sih receh banget hahaha! "


"Receh banget ya nes, tapi aku nggak ada recehan. Gimana dong? Hahaha! "


Semoga Mahesa nggak menyadari wajahku yang mulai memerah. Biasanya kalau digombalin gini aku suka salah tingkah. Trus ngomong belepotan nggak jelas arahnya. Malu-maluin banget.


Pernah tuh, pertama kali jalan sama cowok yang aku suka. Digandeng waktu nyebrang jalan, rasanya kaki tuh lemes banget kayak nggak sanggup jalan gitu. Malah kesandung-sandung. Untungnya tuh cowok nggak ngerti betapa salah tingkahnya aku.


Sambil nunggu pesanan datang kami ngobrol. Obrolan yang ringan banget, seperti biasa tentang kampus. Tentang teman-temannya dan teman-temanku.


Mahesa menatapku lama "Aku mau tanya soal Dion dan Dea. Kamu tau ceritanya nes?"


Aku mengangguk. "Dea cerita tadi malam, sepulang dari rumah Dion"


"Dion juga cerita tadi malam, setelah antar Dea ke kos"


"Kita bisa apa? Mamanya Dion nggak setuju dengan hubungan mereka"


"Dion juga ngomong gitu. Patah hati banget dia. Baru kali ini dia sampe segitunya nes. Bertahun-tahun berteman sama Dion belum pernah lihat dia sedih kayak gini"


"Ya udahlah, waktu yang akan menyembuhkan semua luka. Aku yakin kalau mereka berjodoh, ada aja kok jalannya"


"Mungkin ya, karena aku biasa jalan sama cowok mikirnya lebih praktis. Ya udah, kalau nggak bisa. Iya gue sakit, tapi gue nggak mungkin begini terus. Aku tuh nggak pernah yang kalau putus sampe sedihnya berhari-hari. Aku yakin Dea dan Dion juga begitu kok. Mereka pacaran kan belum lama. Cuma pas KKN. Ntar juga terbiasa nggak barengan lagi"


"Bukannya aku nggak punya hati ya, atau mikir masalah cinta-cintaan ini ringan. Bagiku masalah yang dihadapi didepan jauh lebih besar"


Aku nyerocos tanpa jeda, kubiarkan Mahesa diam memandangiku. Sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara, pakai nyinggung soal aku putus cinta lagi. "Mulutku nih, kayak nggak ada remnya".


Untunglah pesanan kami segera datang, aku dan Mahesa disibukkan dengan aktifitas mencampur saos dan sambal. Jadi aku nggak begitu kelihatan salah tingkah.


"Iya nes, aku cuma turut prihatin aja sama mereka berdua. Saat mereka ketemu seseorang yang bisa membuat mereka jatuh cinta, nyaman dan cocok ternyata ada aja rintangannya. Gimana kalau itu terjadi dengan kita?"


Aku nyaris tersedak mendengar kata 'kita'. Cepat-cepat kusambar gelasku.

__ADS_1


" Aduh, kenapa siang ini begini banget ya". Dari tadi menguji kekuatan mentalku.


"Maksudku, kalau kamu jadi Dea atau aku diposisi Dion. Kita tetap pasrah dengan keadaan atau malah hubungan ini kita perjuangkan dan tunjukkan ke orang tua kita kalau kita serius"


"Tergantung sih, kalau laki-laki tersebut memang layak diperjuangkan ya aku akan berusaha. Dan harus mau berjuang bersama-sama. Kalau cuma salah satu aja yang berjuang, apalagi misalnya cuma aku yang berjuang ya aku nggak mau. Mending mundur. Ngapain capek sendiri"


"Iya juga sih Nes, kamu ada benarnya"


"Dalam hal ini, Dion dan Dea kan memilih mengakhiri segalanya. Dion nggak mau berjuang untuk Dea, meyakinkan mamanya kalau mereka serius. Ya udah, dihormati aja keputusannya"


"Prosesnya panjang banget, nggak bisa sehari dua hari trus boleh. Banyak yang akhirnya menyerah. Yakinkan dulu dalam hati kuat nggak ngikuti prosesnya?"


"Aduh, kenapa aku yang ngomong terus ya Sa. Aku cerewet banget ya?"


"Nggak, aku malah suka dengan cara kamu menyampaikan pemikiran kamu. Bebas, nggak ada beban trus logis. Nggak cuma pake perasaan"


"Yeah, beginilah aku adanya Mahesa. Kalau mau berteman denganku, ya kamu akan dengar bawelnya aku dan kalau ngomong kadang suka to the point. Aku nggak bisa basa basi"


"Aku suka kok mengenal kamu. Kalau ingin mengenal kamu lebih jauh boleh?"


Aku cuma bisa mengangguk. Ada senyum yang mengembang. Ya Tuhan, aku nyaris pingsan.


"Iya, tapi aku ada acara setelah ini jadi nggak bisa ngobrol lama-lama"


"Acara apa? Penting ya?"


"Dibilang penting nggak juga, cuma aku udah janji jadi nggak enak kalau ngebatalin. Nggak apa-apa ya? Kapan-kapan kita ngobrol lagi"


Selama perjalanan kami lebih banyak diam, aku menikmati debaran jantungku, dan menikmati wangi parfumnya.


"Ya udah Nes, aku langsung aja ya. Kamu kan ada acara lagi. Sibuk banget ya kamu ini"


kulihat ada rasa kecewa dimatanya. Dan aku bahagia tau hal itu.


"Ah, jangan-jangan dia suka padaku?"


"Iya, aku juga mau siap-siap dulu sebelum dijemput. Bye Mahesa!"


Segera aku berlari kekamarku. Aku ada janji nonton film dengan gankku. Janji yang kami buat seminggu yang lalu. Belum dipastikan mau nonton film apa, ntar sampai dibioskop baru milih filmnya. Kebiasaan kami ya begitu. Suka nggak jelas.

__ADS_1


Pernah tuh, sampai bioskop bingung mau nonton film apa. Kayaknya nggak ada film yang menurut mereka oke. Akhirnya aku ajak nonton drama romantis. Eh, pada mau. Sepanjang film suasananya hening banget, nggak ada tuh yang ngobrol. Begitu keluar dari gedung bioskop "Filmnya sedih banget sih nes".


Aku ketawa ngakak, "Cowok-cowok garang, macam kalian ini ternyata bisa meleleh juga nonton film drama! "


Aku kira setelah nonton mereka bakal protes diajak nonton film drama, ternyata mereka malah larut. "Tissue mana tissue!"


"Nes, mau pergi lagi ya? Kirain jadi mau cerita", Dea sudah berdiri diambang pintu kamarku.


"Iya, mau nonton sama anak-anak. Mau ikut?"


"Soalnya aku udah janjian seminggu yang lalu sama mereka. Nggak enak kalau ngebatalin. Ceritanya bisa nantikan sepulang aku nonton?"


"Iya nggak apa-apa, nanti malam aku juga mau pergi. Sampai ketemu nanti malam ya. Kamu utang janji cerita ke aku"


"Beressss, aku siap-siap dulu. Nggak enak kalau mereka lama nungguin aku"


"Biasanya juga nggak dandan nes"


"Walau nggak dandan paling nggak wangi sabun lah. Masak aku nggak mandi? Gerah nih, keringetan"


Aku sih biasanya nggak pernah dandan kalau pergi sama temen-temenku yang semuanya cowok. Cuma semprot cologne, pake bedak tipis tanpa lipstik.


Kalau lagi niat aku pakai sepatu, seringnya sih pakai sandal jepit swallow kesayanganku. Seringnya sandal jepit itu kupakai kalau nggak beli makan ke warung dekat kos, ya ku pakai pas jalan sama mereka.


Kalau sama Dea aku nggak berani jalan pakai sandal jepit, bisa kena omel "Ih, nggak banget deh nes jalan sama kamu pakai sandal jepit. Aku nggak mau ya ntar di mall dilihatin orang"


Biasanya aku cuma ketawa ngakak kalau Dea mulai ngomel. Memang niatku cuma godain dia.


"Eh, Nesta mana temanmu si Dea yang cantik itu?, Sudah rindu kali aku sama dia" si Robin ini makhluk yang paling rajin nanyain Dea kalau main ke kos ku.


"Ada, dikamar. Sok nanyain, ntar ketemu orangnya juga kamu diem aja. Malu-malu! "


"Nes, andaikan kau secantik Dea"


"Nggak bakalan mau aku sama kamu rob. Lagian maleslah aku jalan sama kalian. Dijajani nggak, cuma digodain!".


Kalau udah ledek-ledekan begitu, nggak boleh ada yang sakit hati.


"Yok ah, langsung jalan aja. Nanti filmnya mulai lagi, kita kan juga belum jelas mau nonton apa".

__ADS_1


__ADS_2