Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Kasih Tak Sampai


__ADS_3

"Selamat pagi Dea!, tumben bangun agak siang?"


"Bukan agak siang, kamunya aja yang kepagian"


"Apa itu, Nes?", sambil menunjuk gelas yang kupegang.


"Teh hangat. Aku buatkan juga buat kamu sama Muli. Tuh dibawah! "


"Ih, baik banget sih Nes. Tumben banget. Aku ambil ya"


"Muli, bangun! Dibuatin Nesta teh hangat tuh! Ntar dingin lho!", teriak Dea sambil menggedor pintu kamar Muli, yang memang selalu kami lewati kalau turun ke lantai bawah.


"De, ngapain sih berisik banget pagi-pagi?. Hari ini aku kuliah siang, malah pagi-pagi udah dibangunin!"


"Itu, dibuatin teh sama Anesta. Aku bawain sekalian ya ke atas!", Dea berteriak dari lantai bawah.


"Tumben banget Nes? Ada angin apa?"


"Angin ****** beliung hahaha!"


"Udah, minum aja! Sayangnya nggak ada camilannya"


"Aku ada roti dikamar, kemarin dibawain sama mamanya Jo. Dibawain banyak banget", Dea naik sambil membawa dua gelas ditangannya.


Pagi ini kami duduk-duduk diteras lantai dua. Menikmati teh hangat dan roti coklat. Sudah lama kami meninggalkan kebiasaan duduk-duduk diteras sambil mengobrol tentang apa saja.


Pagi ini aku rindu kebiasaan itu, makanya begitu bangun tadi aku langsung membuatkan tiga gelas teh hangat.


"Ngerasa nggak sih kita udah lama nggak ngobrol kayak gini? Jalan bareng bertiga ke mall aja udah nggak pernah lagi"


"Makanya tadi aku langsung buatkan teh, kangen aja ngobrol bertiga. Walaupun waktunya sempit karena harus kuliah pagi ya disempatin aja"


"Ntar malam makan bakso yuk, yang dimall itu lho"


"Mahal Li! Akhir bulan ini"


"Aku yang traktir, kalian lupa ya hari ini aku ulang tahun"


"Ya ampun, sampai lupa. Selamat ulang tahun Li!"


Kami berdua memeluknya, seraya mengucapkan doa-doa terbaik untuknya. Ternyata kesibukan kami, membuat kami melupakan hal-hal penting yang biasanya selalu kami ingat.


Biasanya kami akan menyiapkan kue tart kecil dan akan memberikannya tepat jam 12 malam. Lalu kami akan bersama-sama berdoa. Saling berpelukan. Lalu kembali ke kamar kami masing-masing untuk tidur. Tradisi itu kami lupakan hari ini.


"Tadi malam Mahesa sama aku nongkrong di Cafe daerah atas. Cafenya bagus, keren tapi makanannya nggak mahal. Ada live musicnya juga"


"Siapa Mahesa?"


"Pacarnya Nesta"


"Kok aku nggak tau? Pelit ya Nes, nggak mau cerita-cerita"

__ADS_1


"Belum ketemu waktu yang pas Li, untuk cerita ke kamu"


"Trus, Dea kok tau"


"Nah, ceritanya panjang. Aku kenal Mahesa ya gara-gara Dea. Nanti lah aku ceritakan, ini aku mau berangkat kuliah dulu. Mau serahkan bab 2. Sampai ketemu nanti malam ya"


"Okey, bye Nes!"


**********


Beberapa bulan kemudian


"Nes, hari ini jadi daftar ikut ujian skripsi?"


"Jadi lah, tinggal tanda tangan dosen pembimbing aja untuk persetujuan ikut ujian. Persyaratan lain sih udah beres"


"Kamu?", kutanya Dea. Aku khawatir si cantik ini nggak bisa ikut mendaftar karena beberapa hari yang lalu dia mengeluh kesulitan ketemu dosen pembimbingnya.


"Jadi, ini semuanya udah lengkap"


"Aku ketemu dosenku dulu ya, minta tanda tangan ini trus kita daftar. Atau kalau kamu mau duluan juga nggak apa-apa"


"Nggak, aku tunggu kamu aja. Biar bareng"


"Ya udah, tunggu ya De!"


Segera aku beranjak menuju ruang dosen pembimbingku. Hari ini hari terakhir untuk pendaftaran ujian skripsi. Semoga semuanya berjalan lancar.


"De, ayo daftar!", kulihat dia menungguku ditempat favorit kami.


"Sudah dong, ini!", sambil kutunjukkan surat yang ditandatangani dosen pembimbingku.


Segera kami menuju kantor Tata Usaha. Rasanya campur aduk bisa sampai ditahap ini. Aku termasuk yang dimudahkan jalannya saat menyelesaikan skripsiku.


*******


Setelah dari kantor Tata Usaha, kami ke depan perpustakaan. Tempat nongkrong favorit kami.


"Dari mana sih kak?"


"Tadi dari kantor Tata Usaha, daftar ujian skripsi"


"Semoga lancar ya kak"


"Amin, makasih doanya ya"


"Kak Nesta, sepatu baru ya?"


"Iya, kenapa?"


"Barcodenya dilepas dulu dong kak". Mereka mulai tertawa.

__ADS_1


Ya ampun! Aku lupa melepas stiker barcode yang biasa ditempel disol sepatu. Aduh, tadi banyak yang lihat nggak ya?. Mana udah jalan ke ruang dosen sampe kantor Tata Usaha lagi.


"Oh, sengaja ini. Biar kalian- kalian ini tau aku pakai sepatu baru. Gimana, keren nggak sepatu kakak?". Kataku mencoba kalem, padahal sebenarnya sih udah ngerasa malu banget.


Dea yang duduk disebelahku cuma tersenyum, dia sudah sangat hafal dengan kelakuanku.


Kemarin Dea mengantarku membeli sepatu, karena sepatuku yang lama sudah rusak parah. Sepatu yang sudah ku pakai sejak semester satu kuliah.


Untuk urusan belanja, aku lebih suka pergi bersama Dea daripada Mahesa. Karena menurutku hanya perempuan yang lebih mengerti soal fashion.


Kalau tanya Mahesa, paling dia akan komentar "Bagus kok". Maksudnya adalah, "Iya semua bagus biar kita cepat pulang".


Mana ada laki-laki yang betah diajak muterin mall dari pagi sampai sore hanya untuk membeli satu jenis barang?.


Ohya, hubunganku dengan Mahesa baik-baik saja. Kami sering pergi ke Cafe yang aku suka untuk menikmati live music dan memandang kerlap-kerlip lampu kota bawah dimalam hari.


Aku juga sudah berkenalan dengan teman Mahesa 'sang pemilik' Cafe. Orangnya menyenangkan. Kami betah berlama-lama ngobrol, bahkan terkadang janjian untuk ketemu disitu.


Aku belum punya keberanian untuk bicara ke Mama soal hubunganku dengan Mahesa. Mungkin nanti aku akan bicara, sekalian mengabarkan soal pendaftaran ujian skripsi.


Aku berharap mama akan mengerti. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.


********


"Hai ma!, lagi apa?", sore ini kutelpon mama, kuberanikan diri untuk bicara dengan mama tentang Mahesa.


"Lagi nonton infotaiment, gosip artisnya seru Nes. Tumben nelpon jam segini, sudah pulang kuliah?", kudengar suara mama, menjawab telponku.


"Sudah, ini baru pulang. Ma, aku udah daftar ujian skripsi. Bulan depan aku ujian"


"Doakan biar lancar semuanya ya ma?"


"Oh, sudah jadi daftar ujian Nes. Iya, mama doakan semoga jalannya dimudahkan ya Nes".


Aku tahu mama senang mendengar kabar dariku. Sudah lama mama berharap aku segera menyelesaikan kuliahku.


"Emmm, ada yang mau aku bilang ke mama. Mama dengar dulu ya?"


"Sekarang, aku lagi dekat sama seseorang. Nanti kalau aku wisuda, mama kesini aku kenalkan sama dia".


Mama menanyakan siapa dan meminta cerita lengkap.


Aku menceritakan sebisaku siapa Mahesa, termasuk mengatakan kalau dia bukan dari suku batak.


"Kamu kan tau mama tidak setuju kamu punya pacar kalau bukan dari suku kita. Mama kan pernah bilang ke kamu"


"Tapi Mahesa baik Ma, aku merasa nyaman bersama dia"


"Kamu akan mengenal laki-laki lain yang sebaik pacarmu sekarang suatu saat nanti. Perjalanan kamu masih panjang Anesta. Kamu mengerti kan maksud mama Nes?"


Sepertinya nggak ada gunanya berbantahan dengan mama, tidak akan pernah ada titik temunya saat ini. Lebih baik aku diam.

__ADS_1


Mama belum bertemu Mahesa, jadi belum mengenal Mahesa dengan baik. Mungkin kalau mama sudah mengenal Mahesa, semua akan berubah.


Aku hanya mengiyakan semua yang mama katakan. Aku tidak ingin memaksakan keinginanku saat ini. Aku menghargai apapun yang mama katakan.


__ADS_2