
Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau darimana.
Aku mencintaimu dengan lugas, tanpa banyak soal atau rasa bangga.
-- Pablo Neruda --
Namaku Mahesa, seorang mahasiswa yang kuliah di universitas swasta. Aku anak orang biasa saja. Bapakku hanya pegawai biasa di perusahaan milik perorangan. Ibuku seorang ibu rumah tangga. Tidak ada yang istimewa dalam keluargaku. Semuanya biasa saja.
Kebetulan aku bersahabat dengan Dion, anak orang kaya, temanku sejak Sekolah Dasar. Belum lagi rumah kami yang tidak terlalu jauh membuat hubungan perkawanan kami terasa dekat.
Persahabatan kami seperti persahabatan laki-laki pada umumnya. Temen bolos sekolah, temen curhat. Tapi aku jarang curhat ke Dion. Aku orang yang tertutup. Aku lebih sering menyimpan sendiri masalahku. Seringnya kalau cerita ke teman laki-laki malah tidak mendapat solusi, jangankan mendapat solusi, didengarkan saja sudah bagus. Mereka kadang malah tertawa riuh, mentertawakan kita. Sungguh bukan jalan yang baik. Aku tidak pernah punya teman perempuan yang dekat denganku. Maksudku murni bersahabat dengan teman perempuan, seringnya kedekatanku selalu disalahartikan.
Dengan wajahku yang tampan banyak perempuan yang suka. Aku bukan bermaksud untuk GR karena menganggap diriku tampan. Banyak yang mengatakan seperti itu, bukan satu dua orang yang mengatakan soal ketampanan ku. Aku hanya memberikan gambaran tentang diriku disini, agar kalian bisa mengenal aku. Perempuan-perempuan itu sering menitip salam lewat Dion atau lewat temanku yang lain. Kadang-kadang juga mereka menitipkan surat atau benda-benda yang manis untukku. Sungguh aku jadi merasa serba salah. Kalau mereka memberikannya secara langsung biasanya aku menolak secara halus dengan pura-pura mengalihkan pembicaraan atau pura-pura tidak melihat. Sebenarnya risih diberikan benda-benda seperti itu juga surat-surat yang penuh dengan kata-kata manis.
Tapi ada juga beberapa surat yang kusimpan, bukan karena aku suka dengan penulisnya tapi karena isi surat itu berbeda. Ada sajak yang dituliskan untuk melengkapi isi suratnya.
Kalau surat atau benda-benda itu dititipkan lewat temanku biasanya aku tidak menanggapi. Mereka akan memberikan kepadaku sambil tertawa, "Jangan diambil semua stock perempuan cantik di sekolah, kita dibagi satu." Mereka berseloroh. Aku hanya diam dan kadang ikut tertawa. Entahlah! aku tidak mudah memberikan harapan kepada perempuan-perempuan itu. Aku tidak mudah menggoda, merayu atau mengumbar kata-kata manis.
Jadi kadang merasa heran dengan teman-temanku yang bisa dengan mudahnya gonta-ganti pacar. "Apa mereka tidak merasa lelah?"
Dari kemarin Dion sudah cerita soal Dea, teman perempuan yang dikenalnya saat KKN. Perempuan yang membuatnya jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kali. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pacaran. Saat Dion menceritakan soal itu terus terang aku terkejut karena Dion sudah punya pacar dan seingatku kemarin waktu Dion akan pergi KKN, satu makhluk yang paling sibuk ikut menyiapkan keperluan Dion selain mamanya adalah pacarnya. Dion yang menceritakan semua bahwa Maya membelikannya buku supaya Dion tidak bosan juga membelikan beberapa kaos. Aku tak habis pikir dengan tingkah Dion.
"Gila ya, trus pacarmu bagaimana?Sudah lama kan kamu pacaran sama Maya?" Aku bertanya dengan raut wajah yang tak suka. Bukan aku ingin ikut campur urusan Dion, tapi karena dia menceritakan tentang hal ini, aku jadi merasa perlu untuk bertanya dan memberikan pendapat.
"Ini soal hati Sa, nggak bisa dibohongi." Dion menjawab dengan mimik wajah yang terlihat tidak senang.
"Kenapa nggak kamu putusin dulu si Maya?"
"Sulit, aku belum berani ngomong."Dion membuang pandangannya, dia menghindari kontak mata denganku. Dia tahu aku tidak setuju dengan caranya.
"Ah, pengecut kamu Yon!Bukan begitu caranya selingkuh sana sini!" Aku tetap ngotot dengan pendapatku.
"Udah, nggak usah sok alim. Aku bakal pilih salah satu kok, tapi bukan sekarang. Waktunya nggak pas Sa." Nada bicaranya sedikit tinggi. Kulihat Dion menghela napas, menurunkan emosinya yang sempat memuncak.
"Sa, aku mau ajak kamu ketemu sama Dea malam minggu besok. Bisa ya?" Dion terlihat kikuk dan aku terkejut dengan ajakannya. Yang benar saja! Untuk apa aku harus ketemu gadis itu?
"Kenapa nggak pergi sendiri aja, kayak obat nyamuk dong nemenin kamu pacaran." Aku melancarkan protes, keberatan dengan idenya.
"Kalau sudah sampai kosnya Dea, kamu bawa motorku pergi. Aku takut ada temennya Maya yang lihat motorku parkir di kos Dea. Kamu tahu kan kalau si Maya banyak mata-matanya. Aku khawatir kalau Maya nekat dan mengganggu Dea. Jadi, nanti kamu pergi sama temennya Dea ya?" pintanya sekali lagi. Mendengar permintaan Dion, aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal, karena aku bingung dengan idenya. Sangat diluar dugaan!
"Apalagi sih ini Yon?Kalian udah atur ini semua?Dea sudah tahu kamu punya pacar?" Sungguh aku tak habis pikir dengan cara berpacaran Dion. Apa enaknya kalau pacaran dengan rasa ketakutan seperti itu.
"Iya, sebenarnya Dea juga sudah punya pacar. Dia juga masih berhubungan dengan pacarnya, belum diputusin. Katanya menunggu waktu yang pas." Dion memandangku. Aku hanya bisa membalas tatapan matanya tanpa tahu harus berkata apa selain menyumpah-nyumpah di dalam hati.
"Gila ya kalian berdua ini!Trus kalau temennya Dea nggak mau jalan sama aku gimana?" Akhirnya kusemburkan juga kemarahanku. Memang menurutku mereka berdua sama gilanya. Aku dan temannya Dea yang tidak tahu apa-apa dipaksa terlibat oleh mereka berdua.
"Udah tenang aja, nanti Dea yang ngomong. Itu sahabat dekatnya katanya."Dion menepuk pundakku seolah memberi isyarat "tidak perlu pusing memikirkan ini dan itu pokonya kamu ikut aja". Sinting!
Aku tetap tidak habis pikir dengan mereka berdua. Menurutku mereka berdua pasangan yang aneh, mungkin karena aku bukan tipikal laki-laki yang mudah selingkuh, jangankan selingkuh untuk memulai suatu hubungan saja aku harus berpikir panjang. Untuk menerima seorang perempuan masuk ke dalam kehidupanku banyak hal yang jadi pertimbangan ku.
"Bisa nggak ,Sa?"desak Dion, aku tahu dia harap-harap cemas menunggu jawabanku. Ada rasa kasihan terselip dihatiku kalau harus mematahkan usahanya. Akhirnya aku pun mengangguk. Aku hanya bisa berharap semua rencana mereka berdua berjalan lancar.
__ADS_1
"Makasih ,Sa. Ya sudah aku pergi dulu, mau jemput ibuku dirumah temannya. Ketemu besok ya!" Sekali lagi Dion menepuk pundakku, kali ini ada senyuman di wajahnya. Tidak terlihat keruh seperti tadi. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sambil melihat kepergiannya.
***
Sejak sore aku sudah berada di rumah, menunggu Dion menjemputku. Ini bukanlah kebiasaan ku.
Biasanya kalau malam minggu aku sudah pergi dengan teman-temanku, sekedar nongkrong main gitar atau main play station di rumah teman.Yang pasti aku jarang ada dirumah.
"Tumben Le, masih dirumah?Biasanya sudah pergi main ke rumah temanmu." Ibu berjalan menghampiriku yang sedang duduk di teras menunggu Dion. Ibu terlihat rapi dan wangi, mungkin ibu akan pergi dengan teman-temannya.
Ibu ku biasa memanggilku dengan "tole" artinya anak laki-laki. Dalam suku Jawa panggilan seperti itu sangat umum, apalagi aku anak paling kecil dalam keluargaku. Mereka dengan senang hati membubuhkan nama panggilan kesayangan untukku. Terkadang aku merasa tidak pernah beranjak dewasa saat mereka memanggil dengan panggilan kesayangan.
"Lagi nunggu Dion ,Bu. Mau diajak ke rumah temannya."
"Oh ya sudah, ibu tinggal dulu ya. Ibu mau besuk Bu Retno. Sekarang lagi dirawat di rumah sakit." Ibu berjalan menjauh, menemui beberapa temannya yang sudah menunggu di lapangan tempat pertemuan mereka sebelum akhirnya berangkat bersama-sama ke rumah sakit dengan menyewa mobil angkutan umum.
Aku menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya Dion datang juga. Dia tidak turun dari motor hanya memberi isyarat padaku sambil berkata,"Langsung ya ,Sa!" Aku berjalan menghampirinya dan duduk diboncengan. Seribu satu pertanyaan memenuhi otakku. Aku juga mengkhawatirkan kalau teman Dea tidak mau pergi bersamaku.
***
Sampai disana, Dea sudah menunggu kami, duduk manis di teras kos. Dia menyambut kedatangan kami dengan menyapa ramah. Aku melihat senyumnya saat mengerling ke arah Dion. Hmm...
"Eh, kenalin ini temanku Mahesa. Yang pernah aku ceritakan." Dion mengenalkan aku dengan Dea. Aku mulai menilai Dea, dia perempuan yang ramah dan percaya diri. Aku heran perempuan secantik Dea mau punya pacar seperti Dion.
Mendengar kata-kata Dion yang mengatakan kalau dia pernah menceritakan tentang aku ke Dea, aku menjadi agak curiga, jangan-jangan si Dion cerita macam-macam dikasih bumbu penyedap biar ceritanya semakin mantap.
Soalnya anak itu mulutnya agak bocor. Kadang ceritanya tidak bisa dipercaya.
Pernah kami bolos sekolah dengan beberapa teman ketika itu kami kelas dua SMA. Kami membolos karena bosan dengan sekolah. Hari itu kami bolos beramai-ramai, naik motor konvoi ke luar kota. Cuma sekedar nongkrong di taman, bukan sesuatu yang penting banget, tapi saat itu rasanya sangat menyenangkan. Bolos sekolah seperti memacu adrenalin menantang keberanian dan strategi supaya tidak ketahuan pihak sekolah. Dasar bodoh! yang namanya bolos ramai-ramai seperti itu pasti rawan untuk ketahuan pihak sekolah.
Benar saja, akhirnya soal bolos bareng ini sampai juga ketelinga kepala sekolah. Kami kena marah dan harus menerima hukuman diskors selama tiga hari tidak ke sekolah.
Dasar anak malas, kami merasa senang saja kalau diskors. Tidak perlu bangun pagi dan harus belajar di sekolah. Padahal kalau seandainya kami diberi hukuman di suruh membuat karya essai itu lebih baik. Kami pasti akan kapok untuk bolos sekolah. Siapa yang sanggup harus memeras otak demi menulis karya tulis?
Setelah sekarang aku baru menyadari bahwa betapa tidak mendidiknya hukuman skors atau hukuman fisik yang diberikan pihak sekolah. Seringnya tidak menimbulkan efek jera. Buktinya banyak anak yang mengulangi kenakalan yang sama.
Oh ya, sebelum kami diskors, terlebih dahulu orang tua kami harus datang ke sekolah dan menerima pemberitahuan soal skorsing ini.
Dion ketakutan, karena bapaknya galak sekali. Mulailah Dion membuat drama, tangannya dibebat dengan kasa dan diberi obat merah, supaya bapaknya menjadi jatuh iba dan tidak memarahinya.
Kami cuma tertawa-tawa saat melihat Dion dengan dramanya.
"Nggak bakalan ada yang percaya Yon!"
"Yang penting usaha dulu,"katanya percaya diri.
Benar saja, tak ada yang percaya dengan dramanya yang murahan banget.
Habislah Dion kena marah bapaknya, jadi anak pingitan di rumah selama tiga hari. Kayak besok mau dikawinin.
***
__ADS_1
Sebenarnya aku termasuk siswa yang pandai di sekolah, selalu masuk ranking tiga besar. Aku juga tidak terlalu banyak tingkah, pendiam dan agak tertutup. Makanya banyak guru yang tidak percaya kalau aku termasuk salah satu anak yang bolos. Termasuk orang tuaku.
Untunglqh bapak dan ibu tidak marah, mereka berdua orang tua yang sangat sabar. Mereka cuma menasihati, tidak ada gunanya bolos begitu.
***
Kembali ke cerita malam minggu kami.
Aku penasaran juga dengan teman Dea yang akan ku ajak keluar nanti. Seperti kencan buta saja.
Berharap dia perempuan yang menyenangkan diajak bicara dan nggak malu-maluin.
"Sebentar ya aku panggil Nesta, tadi sih lagi siap-siap." Dea berjalan ke belakang rumah.
Kudengar Dea memanggil dengan suara yang keras, mungkin sekitar 4 oktaf. Lumayan memekakkan telinga.
Kulihat dia, Anesta, ya gadis itu. Berkaos putih bercelana jeans biru. Lengkap dengan tas kecil yang dislempangkan di bahu, rambut ikalnya dikuncir. Dia terlihat biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Tapi aku yakin dia perempuan yang menyenangkan. Dari caranya menyapa yang nggak malu-malu, jabatan tangannya yang mantap, dan yang paling lucu adalah bedaknya yang belepotan nggak rata.
Aku nyaris tertawa melihat wajahnya yang belepotan, tapi kayaknya kok kasihan banget kalau aku menertawakannya di depan Dion dan Dea. Nggak tega.
Aku tahu selama duduk di motor, duduknya tidak tenang. Kulirik sekilas betapa kuat dia berpegangan pada jok motor, takut melorot.
Aku cuma bisa tersenyum melihat tingkahnya.
Selama dijalan, dia aktif mengajakku bicara. Dari mulai pertanyaan-pertanyaannya soal Dion dan Dea, dan pertanyaannya tentang aku.
Biasanya aku tidak terlalu suka dengan perempuan yang terlalu banyak bertanya. Menurutku terkesan cerewet. Mungkin karena aku orangn yang tertutup, jadi nggak terlalu suka kalau ada orang yang berusaha ingin tahu tentang aku.
Dengan Anesta berbeda, aku cukup nyaman dengan kecerewetannya. Cukup nyaman menjawab semua pertanyaannya. Seperti...
"Eh, kamu bisa main gitar nggak?" atau
"Kamu suka nonton bola nggak?, favoritmu kesebelasan apa?"
***
Sesampainya di rumah makan lesehan, kami memesan menu yang sama. Nasi goreng pakai telur dadar.
Katanya dia sudah lapar sekali. Terbukti begitu nasi gorengnya datang langsung disantap dengan cepat dan dihabiskan tanpa ampun.
Aku suka dengan gayanya yang nggak malu-malu termasuk yang nggak bisa makan dengan kalem. Dia apa adanya banget.
Dan dia termasuk perempuan cerdas yang diajak bicara apapun bisa nyambung. Termasuk membicarakan humor-humor recehku.
Aku suka memandang matanya, bukan karena bulu matanya atau riasan matanya atau bola matanya. Aku suka matanya memancarkan kejujuran dan kecerdasan.
Tapi aku belum berani mengatakan kalau aku suka padanya. Hanya tertarik.
Aku nggak mudah untuk jatuh cinta.
__ADS_1