Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Keputusan


__ADS_3

Kudengar suara mobil lalu orang-orang yang berbicara ramai sekali. Sepertinya keluarga besarku sudah datang. Suara tante-tanteku memanggil namaku, aku yang masih berada dikamar segera beranjak ke ruang tamu untuk menemui mereka.


Ada tulang, nantulang, tante dan uda juga sepupuku. Rumah terasa meriah dengan suara tawa.


"Anesta, kenapa baru pulang? Nggak rindu kau sama tantemu ini?"


"Udah gadis kau ya, dulu tante yang gendong-gendong kau waktu masih kecil" Tanteku yang paling kecil selalu mengulang-ulang narasi yang sama setiap bertemu aku.


"Apa kabarmu Nes, bagaimana pekerjaanmu?" Kalau tulang seringnya bicara lebih serius. Kadang-kadang juga bercanda, dan kalau sudah bercanda sampai membuat perutmu sakit karena nggak bisa berhenti tertawa.


Aku lihat mama senang melihat keluarganya berkumpul.


"Ayo, makanlah dulu kita. Sudah aku masak yang banyak buat kalian" Begitulah kebiasaannya. Yang datang kerumah ntah itu teman atau sanak saudara sebisa mungkin diajak makan bersama.


Mama akan sangat senang kalau masakannya habis. Katanya nggak sia-sia aku capek masak.


Selesai makan biasanya acara lanjut dengan minum kopi atau teh. Ngobrol macam-macam. Bertukar cerita tentang apa saja. Kali ini kudengar namaku dipanggil.


Aku yang sedang sibuk berbenah dibelakang, segera meninggalkan pekerjaanku.


"Anesta, duduk dulu disini. Biar adik-adikmu yang rapikan semua, ada yang mau Tulang tanyakan"


Hatiku berdebar kencang, aku tahu mereka akan membicarakan soal hubunganku dengan Mahesa.


"Ya Tulang" Aku segera duduk bersila. Satu lagi kebiasaan kami bila sedang berkumpul lebih suka duduk lesehan menggelar tikar atau karpet. Lebih leluasa.


"Ada yang mau tulang tanyakan. Benar sekarang kamu lagi dekat sama seseorang?"


Aku tahu pasti yang dimaksud Mahesa "Ya tulang"


"Suku Jawa?" Aku mengangguk.


"Terus terang kami tidak setuju. Kami berharap kau bisa mencari yang sama dengan kita. Carilah suku batak"


Aku hanya diam, tanpa berhasrat memotong perkataan tulang. Aku sangat menghormatinya.


"Kau tau Anesta, kamu itu boru panggoaran, namamu pun jadi panggoaran opungmu. Kau lihat di nisan opungmu, ada namamu disitu"


"Kau itu boru paling besar dikeluarga. Kau jadi contoh buat adik-adikmu. Kalau dalam hal ini aja kau memilih laki-laki Jawa yang sama sekali tidak tau adat kita, bagaimana kau bisa mengajari adik-adikmu" Suara tulang mulai meninggi. Dan aku tetap dengan sikapku, mendengarkan dengan takzim.


"Apa dia mengerti soal sinamot yang harus dia kasih kalau mau menikah denganmu? Apa dia mengerti soal adat pemberian marga karena dia bukan laki-laki batak? "


"Semua tidak mudah Anesta" Lalu tulang mengakhiri kata-katanya yang panjang.


"Dia cinta kau Nes?" Tanteku bertanya. Aku mengangguk.


"Kau juga cinta dia?"

__ADS_1


"Iya Tante"


"Kau sulit untuk meninggalkan dia?"


"Iya tante, aku hanya berpikir saat ini aku merasa dia laki-laki yang terbaik yang pernah aku kenal"


"Apapun resikonya akan kutanggung. Tidak akan ada kata penyesalan yang keluar dari mulutku"


"Mungkin jalanku tidaklah mudah, suatu waktu mungkin aku akan terjatuh. Tapi aku tidak akan pernah menyalahkan siapapun karena keputusan itu aku yang ambil, atas kesadaran. Dia laki-laki yang kupilih untuk menemaniku"


Saat aku bicara yang ada hanya hening. Aku hanya menyuarakan isi hatiku. Aku juga punya hak untuk bicara karena aku yang akan menjalaninya. Bagaimana mungkin aku hidup dengan laki-laki yang tidak aku cintai?.


Mengapa semua orang seolah-olah mendikte hidupku, seperti aku tak punya hati?.


"Ada mantan pacarnya dulu yang masih menghubungi dia. Kalau lagi tugas ke sini dia datang ke rumah" Kata mama memecah keheningan.


"Laki-laki itu masih berharap Anesta mau kembali. Tapi Nesta nggak mau"


"Aku lebih suka Anesta kembali sama mantan pacarnya itu daripada Mahesa. Sudah satu suku sama kita, nggak susah lagi kita soal adat"


"Aku tidak mencintainya ma, ada sesuatu antara aku dan dia yang tidak perlu aku ungkapkan"


"Aku lebih mengenal Ben, aku tidak mau kembali bersamanya"


Mama memandangku. Saat ini aku tidak perduli kalau dianggap tidak sopan.


***


"Nes, mama mau bicara"


Malam itu tinggal aku dan mama yang belum tidur, aku menduga mama memang menunggu waktu yang tepat untuk bicara berdua saja denganku.


"Ya ma, mau bicara apa?"


"Nes, pikirkan lagi hubunganmu dengan Mahesa. Mama tetap tidak setuju"


"Mama tetap ingin kamu menikah dengan yang satu suku dengan kita. Percayalah Nes, suatu saat kamu akan menyesalinya"


" Mama, sudah lebih dulu merasakan bagaimana suatu pernikahan tidak hanya cinta tapi ada hubungan keluarga didalamnya" Kulihat mama mulai menangis.


"Dengarkan mama Nes, tinggalkan Mahesa. Mama meminta kesedianmu"


"Berjanjilah pada mama Nes" Aku tak mampu berkata-kata. Rasanya hatiku hancur melihat mama menangis karena aku.


Aku juga tidak berani menjanjikan apa-apa malam ini kepada mama. Aku nggak tahu harus bagaimana.


***

__ADS_1


Sulit rasanya untuk memejamkan mata, sedangkan mama sudah tidur satu jam yang lalu. Kuhapus air mata mama sebelum dia jatuh tertidur.


Anak macam apa aku ini yang sudah membuat mama menangis?.


Kupandangi wajahnya yang tertidur pulas disebelahku. Maafkan aku ma.


Malam ini aku mengambil suatu keputusan, berharap aku tidak menyesali keputusan yang telah kubuat.


***


"Nes, ingat pesan mama tadi malam ya. Mama berharap kamu bisa mengerti nak" Mama mulai menangis sambil mengusap wajahku lalu memelukku. Aku hanya mengangguk dalam pelukannya.


"Aku pamit Ma. Tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting mama sehat" Kupeluk mama sekali lagi, kuhapus air mata dipipinya. Ada keharuan didalam hati. Aku tak pernah suka ada tangis saat melepas kepergianku.


***


Mahesa tidak bisa menjemputku dibandara. Ada pekerjaan yang penting, katanya. Dia berharap aku mengerti. Kami akan bertemu nanti malam.


Didalam taxi aku memikirkan kembali keputusan yang kuambil. Sekali lagi aku menimbang semuanya. Aku tahu ini sangat berat. Kutarik nafas panjang, cukuplah sudah tangisku tadi malam. Aku yakin bisa melewati semuanya.


***


Mahesa datang dengan wajahnya yang segar dan senyumnya yang menawan.


Kupandangi wajah laki-laki yang sudah mengisi hari-hariku selama beberapa tahun. Ingin kupeluk erat dirinya.


"Bee, aku rindu" Digenggamnya kedua tanganku.


"Ada sedikit oleh-oleh buat ibu sama bapak. Ini aku belikan kaos buatmu, aku beli dari Parapat. Waktu kami main ke Danau Toba"


"Bagus kaosnya Bee. Makasih ya"


Kemudian kami bicara banyak hal, tapi malam ini Mahesa lebih banyak bercerita tentang pekerjaannya dan dirinya. Aku lebih suka mendengarkan dia bicara.


"Bagaimana kabar mama dan adik-adik?"


"Semuanya sehat. Ada yang ingin kuceritakan padamu" kataku, lalu mengalirlah cerita dari mulutku tentang pertemuan keluarga kami yang membahas hubunganku dengannya.


Mahesa diam mendengarkan, sesekali diusapnya punggungku. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya runtuh. Kubayangkan wajah mama yang menangis malam itu.


"Mahesa, tinggalkan aku. Maafkan aku harus mengakhiri semuanya. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita"


Keterangan tambahan


Marga : Nama keluarga dalam suku batak


Opung : Kakek atau nenek

__ADS_1


Boru : Anak perempuan


Sinamot : Harga atau uang yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan saat pernikahan


__ADS_2