
Selama didalam mobil beberapa kali dia melirikku sambil tersenyum.
"Kamu kenapa sih Ben?"
"Nggak apa-apa, biasa aja"
"Senyum-senyum gitu. Ada yang salah ya dengan wajahku?" kuputar jari telunjuk mengitari wajahku.
"Kamu cantik Anesta"
Aku hanya ber-ohhh panjang. "Makasih Ben"
"You're welcome" Jawabnya sambil tersenyum jahil.
"Nanti siang, boleh makan siang bareng kamu?"
"Nggak usah, ada kemungkinan aku harus ke lapangan melihat beberapa gerai kami"
"Aku telpon ya?"
"Ben, kalau aku bilang nggak usah ya nggak usah. Aku kayak dikuntit kalau begini. Aku nggak suka!" kataku sebal
"Oke, oke. Tapi nanti pulang kerja aku jemput. Tunggu aku, nggak boleh pulang sama laki-laki manapun selain aku"
"Kamu kenapa sih? Itu temanku. Nggak usah posesif deh!"
"Aku kan udah bilang pengen bareng kamu selama beberapa hari kedepan sampai kamu pulang. Aku nggak posesif Nes"
"Itu tadi apaaaa, bukan posesif namanya? Melarang aku pulang dengan laki-laki lain. Udah deh!"
"Nggak!"
"Pliss deh Ben. Kesel!" Kutekuk wajahku, aku nggak suka caranya memperlakukan aku seolah-olah kami masih sepasang kekasih.
Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya, badannya diputar menghadap ke arahku.
Diciumnya pelipisku, sambil tangannya membelai lembut rambutku.
"Maafkan aku," katanya.
Aku tak kuasa menghentikan semuanya, terasa begitu cepat. Sangat sulit menghentikan pesonanya.
***
Hari-hariku seperti suatu rutinitas, pergi dan pulang kerja bersama Ben. Dilanjutkan dengan makan malam. Hari Sabtu dan Minggu, dia akan mengajakku pergi ke suatu tempat. Ntah sekedar jalan di mall, berkunjung ke museum, melihat pertunjukan musik, menonton bioskop. Dan sekali diajak nongkrong bareng teman-temannya.
Setelah berada dikamarku yang nyaman, aku segera menghubungi Mahesa. Betapa rasa rinduku untuk dia sangatlah besar.
Kami bercerita apa saja, aku lebih suka mendengarkan dia bicara.
Aku merindukan suaranya. Merindukan saat-saat disampingnya, hanya keheningan yang melingkupi kami, dia menggenggam tanganku dan kepalaku rebah dibahunya. Rasanya damai.
Selama kami berjauhan, dia banyak bicara. Kadang aku tersenyum senang atau tertawa terbahak-bahak dengan leluconnya.
Mahesa dan Ben adalah dua lelaki yang memiliki sifat sangat berbeda, menurutku seperti bumi dengan langit.
***
"Bee, lusa jadi pulang?"
"Jadi dong, nggak terasa udah hampir sebulan. Kayaknya waktu berlalu begitu cepat"
__ADS_1
"Hmmm, aku merasa waktu berjalan lambat"
"Udah kangen ya?"
"Iya, nanti aku jemput di stasiun ya"
"Mau dibawain oleh-oleh apa?"
"Nggak ada, aku cuma mau kamu"
Rasanya aku ingin segera berlari kedalam dekapannya yang hangat. Tunggu aku Mahesa, aku akan kembali.
***
Aku mulai merasa frustrasi, ntah harus bagaimana lagi mendapatkan dirinya.
Sebulan bersamanya, bertemu dirinya setiap hari ternyata membuat aku menyadari bahwa aku masih mencintainya, bukan hanya perasaan keegoanku sebagai laki-laki.
Dan dia, Anesta, menganggap hubungan kami hanya pertemanan biasa. Aku belum bisa mendapatkan hatinya kembali.
Aku ingin dia memandangku seperti bertahun-tahun yang lalu. Aku ingin dia tersenyum padaku seperti dulu. Aku ingin dia mengagumi semua yang ada padaku seperti dulu.
Tapi aku tak pernah mendapatkannya lagi. Hatinya sudah membeku. Cintanya bukan untukku.
Malam ini, saat terakhir aku bersamanya. Besok dia pergi, ntah kapan lagi kami bisa bertemu. Aku hanya berharap dia memberikan sedikit hatinya untukku.
***
"Aku mau ajak kamu pergi makan malam"
"Setiap malam seperti itu kan?"
"Suatu saat kita ketemu lagi Ben"
"Tapi nggak tau kapan waktunya."
Dia mengajakku ke suatu restoran aku tidak tahu persis letaknya.
Restoran dengan nuansa kebun, yang langsung membuatku jatuh cinta.
Pepohonan yang rindang, gemercik air, lampu-lampu yang berpijar temaram. Desau angin menambah romantisnya suasana.
"Suka tempatnya?" Senyumnya mengembang, senyum yang dulu membuat aku terpana.
"Suka. Seperti kebun didalam kota"
"Hmmm, berarti aku nggak salah memilih tempat ini untuk menghabiskan malam denganmu." Dia terlihat sumringah
"Apa yang kamu inginkan Ben?"
"Mendapatkan kembali hatimu"
"Mengapa kamu nggak pernah mengerti Ben?"
"Apa yang tidak aku mengerti?"
"Diriku bukan lagi milikmu, demikian juga hatiku"
"Aku mengerti, aku hanya menginginkannya kembali. Berharap kamu kembali kedalam pelukanku"
Saat ini lebih baik diam, nggak ada gunanya berdebat dengan Ben. Dia tidak akan pernah mau mengerti.
__ADS_1
Kami bicara seperti biasa, dia menceritakan banyak hal. Laki-laki tampan, cerdas, dengan pesonanya yang kuat, mengapa aku menolak kehadirannya dalam hatiku?.
Semakin aku memandang binar matanya, ada sesuatu yang menyelusup didalam hati.
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benakku. Benarkah perasaanku?
Benarkah keputusanku, untuk tetap bersama Mahesa.
Andai aku bersamanya, aku tidak perlu berjuang untuk apapun.
***
Sepanjang perjalanan pulang, sesekali dia menggenggam tanganku.
"Ijinkan aku Nes, hanya malam ini. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi" Aku tak menjawab tapi juga tak menepisnya. Aku tahu ini tidak benar, tapi juga tak kuasa menolaknya.
Hanya malam ini, ya hanya malam ini.
"Anesta!" Aku melihat kearahnya sebelum membuka pintu mobil
"Ya" Kupandangi wajahnya, ada kesedihan disana. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba hadir dalam hati.
"Terima kasih sudah mau bersamaku selama satu bulan ini. Maafkan kalau terkadang membuatmu tak nyaman. Maafkan buat semua kesalahanku. Sampai saat ini, aku masih mencintaimu"
Aku terus menatap manik matanya, kuangkat tanganku menyentuh wajahnya. Aku ingin menghapus kesedihannya dengan belaianku.
Diciumnya bibirku, perlahan dan sangat dalam. Tanpa kusadari aku membalas ciumannya. Kami terhanyut dalam ciuman yang panas. Ada gejolak yang membara, tak ingin menghentikannya. Lalu direngkuhnya tubuhku dalam pelukannya, erat. Membelai rambutku dengan sentuhannya.
"Kembalilah padaku Anesta"
Aku menangis dalam pelukannya. Dilema.
"Ben, terima kasih sudah membuatku bahagia dan merasa istimewa. Terima kasih buat hari-hari kemarin dan hari ini. Terima kasih buat cintamu. Maafkan aku"
Kulepaskan pelukanku, "Akan ada perempuan lain yang layak menerima cintamu"
"Besok aku akan pergi, aku pamit" kucium pipinya "Selamat malam Ben!"
Hatiku hancur memandang kepergiannya. Seperti ada yang hilang dari hati. Seperti ada yang merenggutnya.
Ben, suatu saat kamu akan menemukan penggantiku.
***
Kupacu mobilku, melintasi malam. Aku ingin menghempaskan rasa sakit dihati. Aku tak kan pernah mendapatkan dia kembali. Jiwa ini terasa kosong. Sama seperti dulu, saat kami berpisah.
Aku seperti berada di titik nadir, jatuh berharap bisa bangkit lagi.
***
Malam ini, aku merasa gelisah. Hatiku tidak tenang. Padahal besok Anesta akan kembali, pulang dalam pelukanku.
Apakah kegelisahanku karena menanti kepulangannya? Ataukah ada sesuatu disana?
Berharap semua baik-baik saja. Sungguh, aku merindukan perempuan itu. Anestaku!
***
Cepat kubereskan semuanya, cukuplah sudah tangisku. Cukuplah sudah resah hatiku. Besok aku akan pulang. Menemui sekeping hatiku yang tertinggal. Memeluknya kembali dalam pelukan penuh cinta.
Mahesa, tunggu aku! Besok aku akan datang untukmu.
__ADS_1