
Begitu sampai dikamarku, segera kulihat ada banyak panggilan telepon dari Mahesa. Aku memang sengaja mematikan suara telepon. Karena aku tahu pembicaraanku dengan Ben tidak nyaman apabila diganggu dengan dering suara telepon.
Tapi aku menjadi merasa bersalah, aku merasa menghianati Mahesa. Segera kutelpon dia. Aku tidak ingin dia berpikir yang tidak-tidak.
"Hai Bee!. Dari tadi aku telpon kamu. Kemana aja?"
"Malam sayang, maaf ya tadi aku matikan suara telponnya jadi nggak tahu kalau kamu telpon"
"Iya, kamu kemana aja? Pergi sama siapa? Sampai harus matikan suara telepon"
Sepertinya aku harus berbohong malam ini. Aku menautkan jari tengah dan telunjukku. Sebagai tanda aku telah berbohong dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.
"Aku pergi keluar sama teman-teman yang di Mess. Makan malam. Nggak enak kalau terima telpon kamu pas lagi berisik gitu"
"Hmmm, begitu ya. Makan apa tadi?"
Dan aku bercerita tentang makanannya, bercerita tentang suasana restorannya. Akhirnya aku membelokkan percakapan tentang kami berdua. Betapa aku sangat merindukannya, mengenai perasaan kami.
Dia bercerita tentang kesibukannya hari itu, tentang skripsinya. Aku merasa terkejut bisa bicara lewat telpon sepanjang itu dengan dia, hal yang tidak pernah kami lakukan saat kami tinggal di satu kota. Mungkin karena kami dengan mudahnya bisa bertemu.
Sampai kami berdua mengantuk dan terkekeh saat kami berdua sama-sama menguap dan mengeluarkan suara mengantuk.
"Hahaha, Selamat tidur Bee!. Sepertinya kita berdua sudah sama-sama mengantuk"
"Iya, aku udah ngantuk banget. Badanku juga rasanya capek banget. Selamat tidur Mahesa!. Aku mencintaimu" kataku nyaris berbisik. Segera kututup telepon dan akupun terlelap.
****
Sinar mentari pagi menembus kaca jendela kamar, semburatnya menyinari wajahku. Terasa hangat. Andaikan aku bisa berlama-lama bermalas-malasan ditempat tidur dan nggak punya janji dengan Ben.
Hmmmm, laki-laki itu dan pengakuannya tadi malam cukup mengejutkan aku.
Sebenarnya aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Perasaanku datar, biasa saja. Saat bertemu dia, aku juga merasa biasa saja.
Debar-debar aneh didadaku, perut yang terasa menggelenyar, wajah yang terlihat jengah dan menghangat yang biasa kurasakan saat pertama bertemu seseorang yang aku cintai tak aku rasakan saat pertemuan malam itu.
Hatiku sudah menjadi milik Mahesa. Tidak ada ruang untuknya.
Aku tahu tidak mudah baginya membuat pengakuan, aku menghargai kejujurannya. Tapi bukan berarti aku terjatuh dalam pengakuannya dan memperbolehkan dia kembali masuk kedalam hatiku. Cukuplah sudah tahun-tahun yang lewat bersamanya.
Kuambil teleponku, tiba-tiba aku merindukannya "Selamat Pagi Mahesa!". Aku tahu disana dia sedang tersenyum.
Kami berbicara sebentar sekedar mengatakan rindu dan cinta. Betapa aku merindukan laki-laki ini.
****
Hari ini aku memakai celana khaki dan atasan berwarna putih berbahan katun, sepatu kets putih sederhana, tas kecil yang kuselempangkan. Aku menunggunya diteras, selalu berusaha untuk tepat waktu. Aku tidak suka menunggu dan aku juga tidak ingin orang lain menunggu karena aku.
"Sudah lama menunggu Nes?"
__ADS_1
"Sekitar 15 menit lah"
"Sudah sarapan?"
"Sudah, tadi sarapan roti coklat dengan teh hangat. Kamu?"
"Belum, nanti temani aku sarapan ya?"
"Di dekat kantor kamu itu, ada yang jual lontong sayur yang enak banget"
"Lontong sayur medan?"
"Bukan lontong sayur medan, ini kayaknya lontong sayur padang. Tapi beneran enak Nes"
"Kok tiba-tiba aku merasa lapar lagi ya Ben?" kataku sambil meringis.
"Hahahaha, bukannya makanmu memang banyak dari dulu? Aku sih heran, makan banyak tapi badan bisa kurus begini"
"Hahahaha, iya bisa begitu!"
"Ayok Ben, nanti kesiangan kalau ngobrol terus!"
Kami melaju kearah harmoni, menuju Hayam Wuruk. Kemudian Ben menunjukkan posisi kantorku.
"Kita kesana ya, sekedar mampir"
"Ya iyalah Nes mampir. Masakan mau kerja, ini hari Minggu. Kita makan dulu disitu tuh, yang aku bilang tadi lontong sayur"
"Tuh kan aku bilang juga apa, enak kan?"
Kami berdua makan dalam diam, menikmati lontong sayur yang menurutku sangat enak. Mungkin saat aku masuk kerja besok, ini akan jadi sarapan pagi favoritku. Aku bakalan sering mampir makan disini.
"Setelah ini kita kemana Ben?"
"Aku mau ajak kamu ketempat-tempat favoritmu"
"Tempat-tempat? Tepatnya berapa tempat Ben?"
"Lihat waktunya aja. Selama di Jakarta sebisa mungkin aku ajak kamu keliling Jakarta. Jadi nggak cuma tahu stasiun kereta api pasar senen sama pelabuhan Tanjung priok"
"Mulai deh...ngeledekin!"
Nyaris kucubit pinggangnya, itu salah satu sikap refleksku kalau ada yang menggodaku. Ditangkapnya tanganku sebelum sempat mampir untuk mencubitnya.
Digenggamnya jemariku sambil memandang mataku dengan dalam. Lidahku kelu, netraku hanya bisa memandang manik matanya.
Dibawanya jemariku kearah bibirnya, diciumnya dengan lembut "Aku masih mengingat semua tentangmu Nes"
"Dari kemarin saat kita bertemu, aku ingin menciummu. Merasakan kulitmu menyentuh bibirku. Seperti dulu"
__ADS_1
"Aku masih mengingatnya Anesta. Kelembutanmu dibibirku"
Aku hanya diam terpaku, aku tidak mampu menarik tanganku menjauh dari sentuhan bibirnya. Aku tidak mampu menepisnya.
Aku malah menikmati sentuhan bibir itu dikulitku, bibir yang dulu sering kuusap dengan jemariku.
Ditatapnya kedua mataku, aku tahu dia menginginkan ciuman yang lebih dari sekedar mencium jemariku. Aku tidak bisa menerimanya.
"Ben, kita pergi sekarang!" Kata-kataku cukup ampuh untuk menyadarkan dirinya kembali kedunia nyata, bahwa aku bukan lagi miliknya seperti dulu.
"Ya, kita pergi sekarang!"
Ada perasaan yang canggung setelah kejadian itu, kami sama-sama diam menikmati alunan lagu....
We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time's forever frozen still
So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans
Holding me closer, till our eyes meet
You won't ever be alone, wait for me to come home
And if you hurt me
That's okay baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go
Wait for me so you can come home
Ed Sheeran membiusku, membuatku melayang-layang dengan suara indahnya.
Mahesa, aku merindukanmu saat ini. Hatiku tak pernah mendua. Aku ingin pulang dan kembali dalam pelukanmu.
Mungkin suatu saat kita akan hidup bersama, dan aku akan duduk dalam pangkuanmu dalam malam-malam kita.
Menyentuh wajahmu, sambil menyanyikan kidung indah kita berdua dengan suara lirih. Hingga akhirnya kita berdua tertidur. Aku terlelap dalam pangkuanmu.
Aku tahu, Ben sedang menduga-duga dalam hatinya. Ada keheningan diantara kami berdua. Dia tahu aku tidak nyaman dengan sikapnya.
__ADS_1
"Anesta, maafkan aku atas sikapku tadi. Aku tidak menduga kalau ternyata kamu tidak nyaman dengan sikapku"
"Aku terlalu berlebihan dengan kedekatan kita. Maafkan aku Nes"