Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Merindui Dirimu


__ADS_3

Bertemu dan berbicara dengannya menjadi seperti candu bagiku.


Dia, perempuan yang seolah menyihirku untuk takluk pada pesonanya.


Perempuan yang kini bayang-bayangnya selalu hadir menari-nari dipelupuk mataku.


Anesta, ya perempuan itu yang sudah membuatku jatuh cinta.


Ntah dimenit keberapa saat pertemuan kami, aku merasakan ada yang berbeda.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Mungkin benar adanya cinta pada pandangan pertama, karena setelah pertemuan malam itu aku terus memikirkannya.


Rasanya tidak sabar menanti esok untuk bertemu dengannya.


Sebelumnya, aku tak pernah begini. Bagiku butuh waktu yang lama untuk akhirnya aku jatuh cinta pada seorang perempuan.


Aku pernah punya pacar, dulu saat masa-masa SMA . Hubungan kami bertahan hanya beberapa bulan. Saat menjadi kekasihnya, ternyata kami tidak cocok. Akhirnya kami berpisah diakhir masa SMA.


Dia, perempuan itu juga pernah membuatku seperti ini hingga kuberanikan diri menyampaikan perasaanku. Dari persahabatan menjadi kekasih tidaklah mudah. Akhirnya kami menyerah, lebih baik berpisah.


Dengan Anesta berbeda, tidak pernah ada persahabatan disana. Pertemuan pertama yang langsung membuatku jatuh hati, walaupun aku berusaha menyangkalnya. "Tidak mungkin secepat itu".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tadi kemana sama Anesta?"


"Cuma makan lesehan, makan nasi goreng"


"Lain kali kalau pacaran sama Dea nggak usah ajak-ajak aku lagi. Aku jadi nggak enak sama Anesta"


"Lho, apa dia marah sama kamu?. Kayaknya tadi biasa-biasa aja, malah senyum-senyum terus. Berarti nggak ada yang salah kan?"


"Dia nggak marah sama aku, tapi lain kali pergi sendiri aja yon. Kalau akhirnya ketahuan Maya, ya sudah anggap aja resiko dari perjuangan. Hahaha!"


"Halah, semprul!. Aku pulang dulu. Sudah malam"


"Biasanya juga nginep disini yon"


"Kapan-kapan aku nginep, besok pagi aku sudah janji sama adikku mau ngajak jalan pagi"


Sepulangnya Dion dari rumahku malam itu malah membuat aku nggak bisa tidur. Aku malah terus mengingat-ingat saat-saat bersama Anesta.


Besok aku aku harus menemui dia, memastikan tentang perasaanku. Apakah benar aku merinduinya.


Engkau tau, aku mulai bosan


Bertemu dengan bayang-bayang


Bantulah aku temukan diri


Menyambut pagi membuang sepi


Kupetik gitarku untuk melewati malam, berusaha membunuh bayangannya dimataku.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Udah rapi mau kemana le? Janjian sama teman?"


"Nggak bu, nggak ada janji. Mau pergi ke rumah teman. Ibu juga udah rapi mau pergi?"


"Iya, mau pergi sama bapak. Ada acara syukuran dirumah temannya bapak. Ya sudah hati-hati, pulangnya jangan terlalu larut. Bahaya!"


"Iya bu, pamit ya bu", sambil ku cium tangan ibuku.


Aku nggak sabar ketemu dia. Tadi sebelumnya aku sudah menelponnya. Memastikan dia ada di kos dan kami bisa ketemu. Aku tahu dari nada suaranya, dia ingin bertemu denganku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada rasa yang berbeda saat bertemu dia, saat dia menyebut namaku, aku tau ternyata benar aku merinduinya.


Malam itu aku cukup dikagetkan dengan berita Dion mengajak Dea kerumahnya. Setahuku dari dulu Dion tidak pernah mengajak pacar-pacarnya termasuk Maya kerumahnya bertemu keluarganya. Dion pernah cerita kalau mamanya nggak suka Dion punya pacar sebelum kuliahnya selesai.


Mamanya nggak mau kuliah Dion terganggu dengan urusan percintaan.


Mungkin kali ini Dion serius dengan perasaannya ke Dea. Aku tunggu saja kabar selanjutnya dari Dion. Aku yakin dia akan datang padaku untuk cerita.


Malam itu, kami bicara banyak hal. Aku selalu suka menatap matanya saat bicara. Matanya seperti ikut bercerita kepadaku. Atau aku yang terlalu berlebihan menilainya.


"Untungnya nih, temen-temenku nggak datang. Bisa rame banget. Kita nggak akan bisa ngobrol kayak gini"


"Kan aku udah telpon lebih dulu, memastikan kamu dikos dan bisa kutemui"


"Iya sih, tapi temen-temenku itu kalau datang suka nggak pake janjian. Kecuali nih misalnya kita mau nonton atau mau pergi ke suatu tempat"


"Memangnya kalau datang selalu rame-rame ya nes?"


"Ada yang datang sendiri, biasanya sih itu kalau mau cerita soal dia deketin si A atau cerita soal keluarganya atau soal kuliahnya. Terkadang ada yang lebih suka bicara dengan seseorang yang dinilai tepat. Seringnya kalau sama temenku-temenku ada yang cerita soal dia lagi pendekatan ke cewek, yang ada malah digodain, diledekin. Walaupun bakal didukung juga, tapi kan kasihan"


"Terkadang mereka cerita, kita nggak harus kasih solusi kok. Didengerin aja udah seneng. Katanya sih begitu"


"Kamu juga suka cerita masalah pribadi ketemen-temenmu itu?"


"Kalau itu sih nggak pernah, cuma perempuan yang mengerti soal perempuan hahahaha"


"Ada yang pernah membuatmu jatuh cinta nggak?"


"Siapa? Temen-temenku itu?"


"Nggak pernah, dari awal kenal mereka perasaanku bener-bener cuma berteman"


"Kalau dari awal kenal aku?", aku ingin tahu perasaan hatinya. Aku ingin tahu apakah dia memiliki rasa yang sama denganku.


Kulihat dia salah tingkah, ku tatap matanya mencari jawaban disana. Aku tahu dia punya rasa yang sama.


"Dari awal kenal kamu, aku tahu kamu orang yang menyenangkan dan membuatku nyaman".


Dia belum ingin menjawabnya, mungkin dia harus memantapkan hatinya. Yang penting aku tahu perasaanku akan terjawab suatu saat nanti.


Akhirnya aku berpamitan untuk pulang, kulihat sekali lagi wajahnya sebelum aku pergi. Aku akan merinduinya lagi malam ini.

__ADS_1


Baru saja kurebahkan badanku ditempat tidur, kudengar suara ibu memanggilku.


"Sa, ada Dion diluar cari kamu"


Bergegas kuseret langkahku ke teras, kulihat Dion duduk diteras membelakangiku.


"Hai Yon, ada apa? Tumben malam-malam kesini"


"Ada yang mau aku ceritakan ke kamu soal aku dan Dea"


"Oh iya, tadi aku ketemu Anesta. Katanya kamu ajak Dea kerumah. Udah berani ngajak pacar ke rumah?", aku mencoba menggodanya.


"Itu yang mau aku ceritakan ke kamu malam ini. Aku bingung Sa"


"Perasaan cinta ku ke Dea sangat besar, aku sungguh-sungguh mencintainya. Kali ini tidak sama dengan pacar-pacarku yang dulu. Makanya aku beranikan diri cerita ke mamaku. Aku ingin benar-benar serius menjalani hubunganku dengan Dea. Nggak perlu sembunyi-sembunyi seperti biasanya"


Aku hanya diam mendengarkan Dion bercerita.


"Waktu mama bilang, ingin mengenal Dea. Rasanya seneng banget. Aku seperti punya harapan dan semangat baru"


"Aku langsung telpon Dea menyampaikan kabar soal keinginan mama untuk menemui dia"


Dion menarik nafas, dia seperti berusaha mengingat-ingat saat itu. Ada jeda sesaat sebelum dia mulai berbicara.


"Aku tau Dea sangat antusias bertemu mama sekaligus gugup. Mungkin terlalu cepat"


"Aku hanya berpikir, lebih cepat mama mengenal Dea lebih baik buat hubungan kami"


"Mama menyambut baik kedatangan Dea, bicara banyak hal tentang aku. Dan kemudian mama menyampaikan harapan-harapannya. Apa yang mama inginkan dari aku. Setelah itu seperti bom nuklir mama menyampaikan ketidaksetujuannya soal kedekatan hubungan kami. Mama nggak ingin kuliahku terganggu dengan urusan percintaan".


"Aku terkejut, aku kira dari cara mama menyambut Dea dan bicara banyak hal, mama akan setuju. Ternyata tidak".


Aku tetap diam mendengarkan Dion bicara. Tidak ingin menyelanya dengan pendapatku.


"Aku tau Dea sudah nggak nyaman, lalu aku antar pulang. Kami mampir sebentar disuatu tempat untuk bicara"


"Hatiku sakit saat melihat Dea menangis, sepertinya dia sama hancurnya denganku. Kami terlalu banyak berharap. Ternyata harapan kami tidak terpenuhi"


"Kami memilih untuk berpisah, kalau suatu saat kami bertemu lagi dan memang perasaan kami masih sama, mungkin kami akan kembali bersama"


Kemudian Dion diam, lalu memandangku.


"Ehm, kalau menurut kalian berdua itu jalan yang terbaik, ya sudah, jalani saja"


"Setahuku kamu masih suka menerabas aturan mamamu dengan backstreet"


"Untuk Dea, aku nggak mau karena aku benar-benar serius menjalaninya"


"Aku pulang dulu, Sa. Aku cuma mau cerita"


Malam itu aku susah tidur, mendengar cerita Dion membuatku terus berpikir. Ternyata tidak semua hubungan bisa dijalani dengan mudah dari awal. Kembali aku mengingat Anesta. Kuambil gitarku "Anesta, aku rindu"


Ijinkan lah, kukecup keningmu


Bukan hanya ada didalam angan

__ADS_1


Esok pagi, kau buka jendela


Kan kau dapati seikat kembang merah


__ADS_2