Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Kejujuran


__ADS_3

Selama tiga tahun pacaran jarak jauh dengan Anesta, aku merasakan sangat berat. Terkadang ada godaan untuk punya pacar yang satu kota denganku, hingga saat aku membutuhkan dirinya, dia ada didekatku.


Ada beberapa perempuan yang mendekati aku. Meminta perhatianku. Berusaha untuk mendapatkan cintaku.


Aku selalu menolak mereka dengan sikapku yang biasa-biasa saja. Aku tidak pernah menanggapi cinta yang mereka tawarkan. Bagiku Anesta adalah segalanya. Aku belum menemukan sosok perempuan seperti dia.


Surat-surat dan kartu-kartunya selalu hadir. Juga pembicaraan kami lewat telepon. Walaupun setiap kami bertelepon, aku yang lebih banyak bicara. Dia lebih sering menjadi pendengar.


"Aku lebih suka menuliskannya untukmu lewat surat. Jadi kamu bisa membacanya berulang-ulang, Ben"


Tapi aku tetap merasa kosong, aku ingin dia hadir disampingku. Aku ingin memeluknya erat saat aku sangat merindukannya. Aku hanya bisa menyentuhnya saat dia pulang libur kuliah. 6 bulan sekali kami bertemu.


Saat dia pulang libur kuliah selama satu bulan, aku selalu berusaha untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Sebisa mungkin aku mengurangi acara nongkrong dengan teman-temanku dan mengurangi kesibukanku dikampus.


Satu bulan terlalu singkat untuk aku melepas rindu. Aku pernah juga menyusul dia ke sana. Aku hanya ingin merasakan kehidupannya dan berkenalan dengan teman-temannya yang sering dia ceritakan disurat-suratnya.


Hanya satu minggu aku berada disana. Mengikuti rutinitasnya. Setelah itu aku kembali pulang dan aku merasakan sunyi.


Aku hanya inginkan dia selalu ada bersamaku.


"Ben, aku baru bisa pulang tahun depan ya?"


"Kenapa?"


"Ada kesibukan dikampus yang nggak bisa aku tinggalkan"


"Kenapa kamu lebih mementingkan kegiatan kampus daripada aku?"


"Bukan begitu Ben, aku nggak bermaksud membuatmu merasa tidak penting. Jangan membuat aku jadi dilema begini dong"


"Terserahlah, kalau kegiatan kampus menurutmu lebih penting. Ya sudah tidak apa-apa! " segera kututup telpon.


Aku hanya ingin dia mengerti aku marah dan tidak ingin diduakan bahkan dengan yang namanya kegiatan kampus.


Dia menelponku lagi untuk meminta maaf dan meminta pengertianku. Tapi kemarahanku tidak mudah surut. Aku tidak rela penantianku untuk bertemu harus menjadi sia-sia.


Saat aku dikuasai kemarahanku, hadirlah sosok Tiara. Perempuan yang sudah lama menyukaiku. Aku tergoda dengan perhatiannya, kebaikannya dan cinta yang dia tawarkan.


Kami akhirnya sangat dekat, aku merasa menemukan seseorang yang selalu hadir saat aku membutuhkannya. Tapi aku tau, aku tidak pernah mencintainya.


Akhirnya aku menerima cinta Tiara, dia yang menyatakan perasaannya kepadaku. Dan aku menyambutnya. Aku hanya membutuhkan sosoknya. Mungkin Tiara menyadari bahwa aku tidak mencintainya.


Beberapa bulan pacaran dengannya, aku merasa bersalah telah membohongi Anesta. Biar bagaimanapun sebagai laki-laki aku harus bersikap jujur.


Kuberanikan malam itu menelponnya, untuk mengatakan kejujuran itu. Aku sengaja membandingkan dia dengan Tiara. Agar dia jadi sangat membenciku dan akhirnya bisa melupakan aku.


Saat aku mengatakannya, dia hanya diam mendengarkan. Diakhir telepon dia berkata "Ben, kalau itu yang kamu rasa terbaik bagimu, lakukanlah. Aku tidak akan pernah menghalangi"


Setelah itu dia menutup telepon dan aku menjadi merasa sangat kehilangan. Aku masih sangat mencintai dia.


Aku tidak pernah lagi menerima surat-suratnya, kartu-kartunya juga teleponnya, bahkan dihari ulang tahunku. Aku merasa jiwaku kosong. Bahkan seorang Tiara pun tidak mampu mengisi kekosongan jiwaku.

__ADS_1


Pernah satu kali aku minum-minum sampai mabuk dan malam itu aku nekat menelponnya. Jam 12 malam.


Kudengar suaranya yang masih mengantuk menjawab teleponku.


Oh Tuhan, ternyata aku masih merindukan dia!.


"Ada apa Ben, nelpon tengah malam begini?"


"Aku cuma ingin tau, kau sudah dapat penggantiku?"


"Belum, kenapa?"


"Hahaha, ternyata kamu nggak bisa melupakan aku. Kamu tau Nes, saat ini aku sedang berbahagia dengan pacar baruku"


"Kamu dengar Nes?"


"...."


"Anesta!, aku sedang berbahagia!"


"Ben, aku mau tidur. Selamat malam!"


Kemudian dia menutup telepon, dan aku menangis.


Keesokan hari aku meneleponnya untuk meminta maaf atas perbuatan dan ucapanku.


Dan aku tidak pernah bisa menghubungi dia lagi. Aku merasa sangat bersalah. Aku merasa sudah berbuat jahat padanya.


"Suatu saat kamu akan mencintaiku Ben. Ini hanya masalah waktu. Aku hanya harus bersabar"


Aku tetap pada pendirianku. Aku pergi meninggalkannya.


***


Saat aku tau keberadaan Anesta dan mendapatkan nomer teleponnya yang baru, rasanya berlipat-lipat kebahagiaanku.


Aku bertekad untuk bertemu dia. Aku harus menceritakan semua. Meminta maafnya. Dan aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Bahwa aku masih mencintainya. Aku berharap, andaikan dia mau kembali padaku.


Dan kini dia berada dihadapanku, dengan penampilannya yang baru. Dia terlihat sangat cantik. Aku menyukainya.


Dia tetap Anestaku yang dulu. Hanya penampilannya saja yang berbeda. Tapi cara dia bicara, cara dia menyampaikan sesuatu bagiku tetap sama.


Aku bagaikan seorang terdakwa didepan hakim saat aku menceritakan semua. Dia hanya terus menatapku dan mendengarkan aku bicara tanpa sekalipun memotong pembicaraanku. Aku tau masih ada kemarahan didalam tatapan matanya. Aku menerimanya.


Ada kelegaan saat aku selesai menceritakan semua. Berharap dia mau mengerti apa yang kurasakan.


Dia tetap pada posisinya, memandangku lekat tanpa bicara.


****


Anesta

__ADS_1


Kutatap manik matanya saat dia menceritakan masa lalu kami, saat dia mengambil keputusan untuk berpisah denganku karena perempuan lain.


Aku tau dia jujur mengatakannya. Lalu setelah dia mengatakannya, apa yang diharapkannya?. Apakah dia menginginkan kami kembali bersama?.


"Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya Nes. Aku merasa aku sudah sangat menyakiti hatimu. Hatiku juga sakit menyimpan semuanya selama ini"


"Aku tidak berharap kamu akan cepat memaafkanku. Aku hanya ingin kamu tau Nes, sampai saat ini aku masih mencintaimu"


Kutarik nafasku, "Lupakanlah rasa cinta yang pernah ada, rindu yang pernah singgah diantara kita berdua. Lupakan semua yang pernah terjadi"


"Antarkan aku pulang Ben. Bagiku sudah cukup yang kudengar malam ini"


"Nes, tunggu. Maukah kamu memaafkan aku?"


"Ya"


"Baiklah, aku antar kamu pulang. Besok-besok aku masih boleh ketemu kamu?"


"Untuk apa?"


"Anggap saja aku menemuimu sebagai seorang teman"


"Kalau aku menolak, kamu akan mundur?"


"Aku rasa, kamu sudah sangat mengenal aku Nes"


"Terserahmu saja!"


Aku malas berdebat dengannya, karena aku tau dia pasti akan tetap mendatangiku.


"Besok aku antar ya?. Aku jemput jam 9 pagi"


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Selama perjalanan dia banyak bercerita. Macam-macam ceritanya. Dia seperti memiliki banyak sekali persediaan cerita. Paling banyak tentang keluarganya. Tentang Emi yang sedang kuliah diluar negeri karena mendapat beasiswa. Tentang papa dan mamanya yang sudah mendesak dia untuk segera menikah.


"Bagaimana aku mau menikah Nes?. Pacar aja aku nggak punya"


Kulihat dia mengerlingkan matanya.


"Hmmm, kamu aja yang kebanyakan milih. Aku rasa banyak perempuan yang mau menikah denganmu"


"Ada satu orang yang aku harapkan mau menjadi istriku" kudengar suaranya melembut.


"Harusnya sampaikan saja harapanmu kepada perempuan itu"


"Aku takut dia menolakku"


"Kalau kamu tidak mencobanya, kamu tidak akan pernah tau. Apakah perempuan itu mau menerimamu atau tidak?. Itu salah satu resiko perjuangan kawan!" kutepuk-tepuk pundaknya sambil tertawa kecil.


"Baiklah Anesta, suatu waktu akan kucoba"

__ADS_1


__ADS_2