Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Bee


__ADS_3

"Hai, udah lama nunggu aku?", terus terang aku merasa canggung. Apalagi dia menjemputku ke kampus.


Aku sudah terlalu lama menjalani masa-masa menjomblo. Jadi terasa aneh aja kalau tiba-tiba ada seseorang yang menjemputku. Semoga aku tidak salah tingkah dihadapannya.


Dan satu lagi, aku sedang tidak ingin teman-temanku tahu soal ini. Aku belum siap untuk ditanyai, digoda atau apalah itu.


Sekarang, aku harus memanggil dia apa?. Honey, Beb, Sayang, Cinta, Pacar atau panggilan sayang apa yang cocok untuk dia.


Status dari teman menjadi kekasih itu terkadang memang membingungkan dan membuat canggung.


"Nggak juga sih, sekitar 15 menit"


"Kok tau aku disini?", satu pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutku kalau salah tingkah.


Pasti dari Dea lah. Memangnya dia cenayang tau keberadaanku tanpa bertanya.


"Dea yang kasih tau, tadi sebelum kesini aku mampir ke kos mu dulu. Kata Dea kamu latihan paduan suara di kampus. Dikasih tau lengkap posisi ruang latihannya. Untungnya nggak sekalian digambar denahnya sama dia". Tuh kan bener Dea yang kasih tau.


"Maaf ya Nes, aku nggak telpon kalau mau temui kamu. Aku mau kasih kejutan"


"Iya, dan aku beneran terkejut. Tapi aku suka dengan kejutannya. Makasih ya", kataku tulus.


"Yuk, mau langsung ke kos atau mau aku antar kemana yang Tuan Putri mau?"


"Oh ya, ehmmm kalau begitu segera siapkan kereta kencana karena saya mau pergi kesuatu tempat yang sangat saya inginkan. Dari tadi saya sudah membayangkannya".


Ah, sedap juga main drama begini. Tuan putri dan pengawalnya yang tampan. Sepertinya suatu saat aku akan menuliskannya menjadi sebuah novel.


"Baik Tuan putri, saya akan mengantarkan kemanapun Tuan putri akan pergi"


"Hahaha, udahan main dramanya. Aku pengen makan!"


"Mau makan dimana?"


"Makan nasi rames dekat kos. Disitu enak, porsi nasinya banyak"


"Hahaha Nes, apa setiap selesai latihan makanmu harus banyak?"


"Seringnya sih begitu, latihan menyanyi itu menguras semua tenagaku. Makanya harus makan yang banyak tapi murah"


"Oke, siapa takut menemani Tuan putri yang makannya banyak", ku lihat Mahesa menahan tawanya dan aku segera mendaratkan cubitan dipinggangnya " Nggak usah ngeledek ya!".


Dia pun tertawa terbahak-bahak "Kamu itu lucu banget, Nes!"


Selama diatas motor kami tidak banyak bicara. Kulihat Mahesa berkonsentrasi mengendarai motor.


Sebenarnya sih dia laki-laki yang nggak banyak bicara. Setiap kami ketemu, aku seperti bermonolog dan dia sekedar menimpali. Terkadang dia yang memulai pembicaraan dan bercerita macem-macem. Kalau sudah begitu kubiarkan saja dan aku hanya memandanginya. Biasanya dia akan menghentikan ceritanya.


Terkadang dia jengah juga kalau kupandangi terus. "Kenapa Nes? Ada yang salah?".


"Nggak ada yang salah, aku suka aja dengerin kamu cerita", kemudian dia akan sekedar tersenyum dan memandangku.

__ADS_1


Kalau situasinya sudah begini, aku bersyukur selalu punya banyak persediaan cerita. Baik cerita tentang teman-temanku yang lucu-lucu atau tentang kegiatanku. Termasuk cerita tentang novel-novel yang aku baca.


"Nes, serius kamu makan segitu banyak?"


"Barbar banget ya makannya?"


"Ehmmm, perutmu bisa menampung makanan segitu banyak?"


"Bisa dong, aku beneran laper"


Dan setelah melihat porsi makanku yang sangat barbar, aku cuma berharap dia tidak berpaling dariku. Perempuan yang badannya mungil dan kurus bisa makan banyak banget.


"Gimana tadi skripsimu setelah ketemu dosen, lancar?"


"Lancar, mulus, kayak jalan tol. Cuma ada sedikit revisi. Lusa aku mau maju untuk bab 2, kemarin sudah aku kerjakan separuh"


"Kayaknya udah pengen cepat lulus ya, Nes?"


"Iya, aku nggak terlalu suka berlama-lama terus minta duit ke mama. Kayaknya aku jadi beban mama. Kalau bisa cepat lulus trus cepat kerja kan lumayan. Paling nggak aku bisa menghidupi diriku sendiri. Syukur kalau bisa bantu mama untuk biaya sekolah adikku"


"Aku nggak berharap yang muluk-muluk kok Sa"


"Kalau aku cuma berharap kamu tidak pergi jauh meninggalkanku, Nes". Digenggamnya satu tanganku yang sedang bebas.


"Aku serius Anesta".


"Ya, aku tahu"


Segera kami beranjak meninggalkan warung makan langgananku, yang semua pelayannya sudah mengenalku.


Jadi kalau tadi Mahesa pakai acara pegang-pegang tangan, aku yakin mereka akan bertanya-tanya kepadaku entah besok atau lusa.


Terus terang aku tidak pernah nyaman berbicara berlama-lama diwarung makan. Sewaktu-waktu aku bisa bertemu teman kuliahku disini. Aku malas harus meladeni pertanyaan mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mahesa, aku tahu kamu serius. Aku juga serius dengan hubungan ini. Tapi saat ini aku nggak bisa menjanjikan apa-apa ke kamu. Kita berdoa saja, aku bisa tetap bekerja disini setelah lulus nanti"


"Kita jalani aja yang ada sekarang. Janganlah rasa khawatirmu membuat kita nggak bahagia"


"Kamu tau nggak? Sampai sekarang aku belum cerita ke mama tentang kamu dan hubungan kita"


"Aku belum siap mendengar 'kemarahan' mama karena nekat pacaran sama kamu" kutarik nafasku.


"Mahesa, aku hanya sedang ingin menikmati hubungan ini apa adanya, itu saja"


Ada jeda yang panjang, dia hanya diam memandangku. Aku tahu dia paham maksudku.


Kemudian...


"Ehm, Ehm! Aku harus memanggilmu apa?"

__ADS_1


"Maksudnya?", matanya terlihat bingung. Dari sikap serius, aku berubah tersenyum jahil padanya.


"Sayang, honey, baby, mas, cinta, atau apa gitu? Biasanya setiap orang yang baru pacaran punya panggilan mesra", aku mulai menggoda laki-laki pendiam ini.


"Ohhhhh, hahaha. Terserah kamu!. Memanggil namaku juga nggak apa-apa"


"Dannnnn, kamu mau memanggilku apa?", aku semakin bahagia menggodanya.


Kulihat dia mulai salah tingkah, menggaruk-garuk kepalanya. Aku pun bertambah bahagia menggodanya.


Tiba-tiba kedua telapak tangannya memegang pipiku dan menahan posisi wajahku agar memandang matanya.


"Panggilan apapun yang ingin kamu sebutkan, terserah. Asalkan kamu bahagia" suaranya lirih dan kemudian dia mencium bibirku dengan lembut.


Aku hanya bisa terperangah, aku tak menyangka responnya seperti itu.


Setelah menciumku, dia berkata "Hmmm, sepertinya kamu bisa memanggilku sayang dan aku akan memanggilmu Bee".


Beberapa detik yang lalu dia telah memporak-porandakan hatiku dengan ciumannya yang lembut dibibirku. Jantungku berdetak sangat cepat. Setelah itu dengan entengnya dia menggodaku.


"Bee? Lebah? Kok itu sih?"


"Bagiku kamu lucu dan menggemaskan, kehadiranmu selalu memberi kemeriahan. Dan yang kedua, aku hanya ingin memanggilmu dengan panggilan yang berbeda saja"


"Okey, aku setuju. Jadi sekarang aku memanggilmu sayang dan kamu memanggilku bee?"


"Kamu tetap memanggilku Mahesa juga boleh tapi aku lebih suka kalau kamu memanggilku sayang"


"Baiklah sayang".


Ah, terasa manis juga terdengar ditelingaku. Atau karena aku sudah terlalu lama tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan sayang.


"Malam ini aku akan begadang lagi mengerjakan skripsiku. Semoga lusa sudah selesai. Aku nggak enak sama dosen pembimbingku kalau belum selesai. Padahal aku yang minta jadwal bimbingan dimajukan"


"Terusss"


"Kita ngobrol lagi besok ya, kan masih ada besok dan besok lagi ketemu aku"


"Ya, aku pulang dulu. Jaga kesehatan, sebisa mungkin nggak begadang ya"


"Oh ya, hari Minggu aku mau ajak kamu ke suatu tempat, semoga cuacanya cerah. Karena tempatnya lumayan jauh"


"Kemana sih?"


"Kalau aku bilang sekarang nggak jadi kejutan lagi"


"Baiklah, aku sabar menunggu". Padahal dalam hatiku nyaris berteriak memaksanya.


"Aku pulang dulu ya, Love you Bee", diciumnya keningku. Dibelainya puncak kepalaku.


Andaikan seindah ini, kenapa tidak dari dulu Tuhan mempertemukan aku dengan dia.

__ADS_1


__ADS_2