
Aku tidak tahu apa yang membuat diriku tetap mendekati Anesta. Apakah karena perasaan cinta atau karena keegoisanku sebagai laki-laki. Aku merasa dia masih milikku saat aku berada disisinya.
Aku begitu menginginkan dia kembali kepelukanku, bagaimanapun caranya. Akan aku coba. Hanya butuh sedikit kesabaran untuk itu.
Saat kemarin aku bisa mencium tangannya, dia tidak menepisnya. Saat itu juga aku ingin menarik dia dalam pelukanku, menciumi wajahnya. Menyentuh bibirnya dengan bibirku. Aku ingin mendekap erat dirinya. Aku merindukannya.
Waktuku hanya sebentar bersama dia. Hanya satu bulan. Kalau Anesta kembali dalam pelukanku, akan aku rayu dia untuk bekerja disini agar kami bisa bersama lagi.
Aku tahu Anesta sudah punya kekasih. Aku juga tahu kalau keluarganya tidak menyetujui hubungan mereka. Mama Anesta yang bercerita padaku. Dan aku tahu peluangku lebih besar untuk diterima keluarga besar Anesta.
Aku berpacu dengan waktu untuk mendapatkan kembali hatinya. Hanya satu bulan.
Aku melaju ditengah kemacetan kota, aku akan pergi ke mess untuk menemui dia. Beberapa hari ini aku merasa begitu bergairah.
***
"Nes, mau mampir sebentar nggak? Kita makan malam dulu"
"Boleh, aku juga udah lapar. Ternyata lembur bisa bikin cepat lapar ya"
"Hah! Jam 7 lembur? Itu sih masih sore Nes"
"Memangnya kalian kalau lembur sampai jam berapa?"
"Jam 9 malam, seringnya lebih dari itu"
"Gila ya! aku nggak pernah sampai jam segitu. Jam 6 sore itu paling lama. Aku lebih suka masuk kerja hari Sabtu atau kalau hari biasa masuknya lebih pagi"
"Hari Sabtu itu, paling enak buat bangun siang Nes"
"Aku nggak bisa kerja sampai malam, kayaknya otakku lelah setelah bekerja dari pagi. Kalau pagi hari rasanya lebih seger"
"Lagipula ya Git, aku tuh kan nggak punya ruangan sendiri untuk melakukan wawancara atau training. Jadi kalau hari sabtu yang lain nggak masuk kerja, aku bisa bebas"
"Kalau hari biasa suka digodain?"
"Ya iyalah, apalagi kalau yang aku wawancara itu cewek bening-bening. Aduh, itu bola mata cowok-cowok dikantor berasa mau keluar"
"Gila nggak, karena groginya sampe ada yang nabrak pintu lho. Padahal cuma dilihatin"
"Hahaha, kasihan banget Nes. Trus, pada protes nggak kamu wawancaranya hari Sabtu?"
"Awalnya sih protes, trus biasa aja. Mereka protes nggak bisa lihat yang bening-bening"
"Hahaha, kelakuan!"
"Makan apa Nes?"
"Terserah aja Git, aku ngikut"
Makan pecel lele aja ya, diemperan. Mau nggak? "
" Ayok, siapa takut! Yang penting porsinya banyak"
"Ck, yang disebelah gue kelas berat juga makannya"
"Hahaha, jangan kaget kalau porsi makan gue banyak"
__ADS_1
***
Begitu turun dari mobil kulihat Ben duduk diteras menungguku. Dia menatapku lekat. Laki-laki bermata coklat dengan sepasang alisnya yang tebal dan sorot matanya yang seolah membiusku.
Dulu aku sering merasa jengah saat dia menatap seperti itu. Ada perasaan bahwa aku begitu istimewa.
Kali ini, ntah mengapa perasaan itu hadir lagi.
"Dari mana Nes?" Pertanyaannya membuatku semakin merasa bersalah. Aku sudah membohonginya dan kali ini aku sudah membuatnya menunggu.
"Salah sendiri dia datang, kan aku tidak menyuruhnya, " bisik hatiku yang lain.
"Dari kantor trus sekalian makan malam"
"Hmmm, nggak mau makan sama aku?"
Aku mulai sebal dengan pertanyaannya. "Siapa sih kamu yang seolah-olah memperlakukan aku ini milikmu"
Aku mengerucutkan bibirku, memutar bola mataku tanpa ingin menatap matanya. Harusnya dia tahu maknanya. Aku nggak suka dengan pertanyaannya.
"Sini, duduk didekatku" pintanya. Aku menggeser sedikit bokongku.
"Sini, lebih dekat. Kayak kita lagi marahan aja" Dia menarik tanganku lalu memeluk bahuku.
"Maaf ya, sudah membuatmu sebal dengan pertanyaanku.
"Jangan marah dong Nes. Aku cuma ingin dekat sama kamu, karena kamu cuma satu bulan disini"
"Kenapa harus begitu?"
"Apanya yang harus begitu?"
"Ada waktu yang hilang saat kita menjadi sepasang kekasih. Aku ingin menebusnya walaupun itu cuma sebentar"
"Tapi kita tidak ada hubungan apa-apa lagi Ben. Kenapa sih kamu harus memaksakan semua seperti yang kamu mau. Aku nggak suka"
"Bisa nggak sih kamu mengerti bahwa kamu dan aku cuma masa lalu"
Dia menarik nafas panjang, lalu memiringkan kepalanya agar bisa jelas menatapku.
"Ya aku mengerti Anesta. Tapi kita masih bisa berteman kan?"
Aku meliriknya dengan sudut mataku, harus bagaimana lagi caranya mengatakan "Aku ingin dia pergi dari hidupku"... Menjauhlah Ben!
"Bolehkan Nes?" pintanya sekali lagi. Aku hanya mengangguk lemah. Bodoh sekali mau menuruti semua pintanya. Kenapa bibir ini merasa kelu untuk bilang tidak.
"Oke, mulai besok kita berangkat dan pulang bareng. Aku jemput"
"Tapi Ben...!"
"Sssttt, jangan protes!" sambil meletakkan jari telunjuknya dbibirku
"Ben, ini nggak adil...!"
"Hmmm, kalau protes terus aku akan mencium bibirmu" katanya kalem
"Kamu tahu nggak, saat bibirmu dalam posisi terbuka seperti itu. Terlihat sexy"
__ADS_1
Kemudian dia semakin mendekat "Aku ingin mencicipinya," bisiknya ditelingaku.
Bola mataku membulat, kutatap tajam manik matanya. Kurang ajar sekali mulutnya.
Dia hanya tersenyum menatapku, menegakkan duduknya. Memegang tanganku, lalu mencium pipiku "Aku pulang ya. Besok aku jemput kamu"
Kemudian dia berlalu dari hadapanku. Laki-laki macam apa sih dia yang dulu membuatku jatuh cinta?.
Apa dulu aku jatuh cinta dengan laki-laki yang salah?
Laki-laki bandel, keras kepala dan seenaknya.
"Huh, dia begitu menyebalkan!"
Aku hanya memandangi mobilnya berlalu pergi.
***
Malam ini aku kangen untuk menumpahkan semuanya ke Dea. Sahabat yang selalu ada untukku.
"Hallo De, aku mau cerita. Dengarkan dan jangan dipotong ya"
Mengalirlah semua ceritaku, tentang Ben dan perasaanku pada Mahesa. Terkadang aku sulit mendefinisikan perasaan yang berkecamuk didada. Dea selalu mengerti.
"Sulit ya menolak permintaannya?"
"Dia akan tetap datang De," kataku nyaris putus asa.
"Ya sudah, nggak apa-apa bersikap biasa saja seperti teman. Bisa kan? Atau kamu sulit menolak pesonanya?" Dea terkekeh panjang.
"Aku mengenalmu Anesta. Kamu takut jatuh cinta lagi pada pesonanya kan?"
Aku memberengut, sahabat macam apa dia ini?
"Nggak De, aku hanya merasa bersalah pada Mahesa"
"Tabahkan hatimu, karena kamu berhadapan dengan laki-laki paling keras kepala. Aku yakin kamu bisa melaluinya Anesta"
***
Aku mematut-matut didepan cermin. Memandangi dress selutut berwarna merah fanta. Kulihat lagi riasan mataku, eye shadow berwarna pink lembut dan blush on berwarna senada. Lipstik berwarna peach dibibirku, cukuplah riasanku hari ini. Tidak terlihat mencolok.
"Pagi Nes, hari ini berangkat bareng kita lagi atau bagaimana?"
"Nggak Se, aku berangkat sama teman"
"Oh, yang kemarin datang ya"
"Iya" berharap Yose tidak menanyakan lebih lanjut. Sepertinya sih tidak, biasanya laki-laki tidak terlalu ingin tahu hal-hal seperti itu.
Kulihat mobil Ben sudah didepan pagar. Cepat kuhabiskan teh ku. Hmmm, dia nggak mau terlambat seperti kemarin.
"Aku duluan ya!"
Aku seperti berlari, tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama.
"Selamat pagi Anesta! Pagi ini kamu terlihat cantik" Aku hanya bisa tersipu, merasa jengah.
__ADS_1
Dibukanya pintu mobil untukku, disentuhnya jemariku.
"Cobaan apa lagi ini?"