Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Pulang ke Medan


__ADS_3

Dua tahun kemudian


"Jadi ambil cuti Bee?"


"Jadi dong, aku sudah rindu untuk pulang"


"Berapa lama?"


"Sekitar dua minggu. Nggak lama"


"Berarti semua ijin cutimu dihabiskan?"


"Nggak, masih ada sisa dua hari. Kan ada tanggal merah juga?"


"Yakin dengan kepulanganmu?"


"Iya, aku udah berapa tahun nggak pulang Sa?. Terakhir ketemu mama saat wisuda"


"Minggu depan aku ada pertemuan di Bali selama seminggu. Jadi minggu depan kita berpisah sementara"


"Iya, hanya sebentar juga"


"Mau dibawain oleh-oleh apa dari Bali?"


"Nggak tahu. Terserah kamu aja"


"Dibawain makanan kayak biasanya?"


"Nggak usah, nggak tahan lama. Aku kan belum pulang"


"Kamu mau dibawain apa Sa?"


"Nggak usah, yang penting kamu pulang dan kembali padaku"


"Kok gitu ngomongnya?"


"Apanya?"


"Yang kembali padaku? Kok gitu?"


"Ntahlah!" katanya sambil mengedikkan bahunya.


"Aku nggak tahu Bee" Katanya lagi seolah-olah menegaskan pernyataannya diawal.


"Firasat!" serunya lagi.


Sore ini kami sedang duduk berdua menikmati kopi dan pisang goreng disebuah restoran yang dikelilingi kebun kopi.


Letaknya cukup jauh dari kota, tiba-tiba saja ada keinginan untuk menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan kicauan burung-burung yang terbang kembali ke sarangnya.


Sore sangat indah dihabiskan berdua dengan seorang kekasih, sambil menikmati suara-suara nyanyian alam yang mungkin akan sulit didapatkan saat berada dikota.


Langit mulai menunjukkan warna keemasannya, sebentar lagi pekat akan turun menutupinya. Dan kami belum ingin untuk beranjak pulang.

__ADS_1


***


Mahesa sudah bekerja sebagai marketing disebuah perusahaan swasta. Beberapa bulan setelah dia lulus kuliah dan mencoba melamar pekerjaan dibeberapa perusahaan, akhirnya dia diterima disalah perusahaan swasta nasional.


Butuh waktu dua bulan untuk dia bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Mahesa yang pemalu dan tidak terlalu banyak bicara memperoleh pekerjaan yang mengharuskan dia untuk banyak bicara.


Bertemu dengan orang-orang dan menawarkan suatu produk, pada awalnya adalah suatu siksaan buat Mahesa.


Dia selalu mengeluhkan banyak hal padaku saat itu. Setiap hari kami harus bertemu, karena dia membutuhkan aku jadi tempat berbagi keluh kesahnya.


Aku selalu mendengarkan apapun yang dia keluhkan. Walaupun terkadang aku sudah terlalu letih karena baru pulang dari luar kota. Aku selalu berusaha ada untuk dia.


Semakin lama mendengarkan keluhan yang sama setiap hari, membuat aku menjadi muak. Aku marah saat keluhannya terdengar cengeng ditelingaku.


"Berhentilah mengeluh! Apa ada gunanya keluhanmu itu? Bisa membuat kamu menjadi maju atau hanya membuat kamu jalan ditempat?" Kulihat wajahnya cukup terkejut dengan kemarahanku.


"Nggak usah terus menerus mengasihani diri sendiri. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Kalau kamu nggak nyaman, berhenti dan tinggalkan pekerjaanmu"


"Kalau kamu memilih tetap bertahan, bekerjalah semaksimal mungkin. Sesekali mengeluh aku akan dengarkan. Tetapi kalau setiap saat kamu mengeluh, aku bosan mendengarnya! "


Mahesa hanya diam menatapku. Tidak ada kemarahan disana. Dia memaklumi diriku yang terkadang agak keras menyampaikan unek-unek yang ada dipikiranku. Bertahun-tahun sudah dia mengenalku.


Kulihat ada senyum tipis dibibirnya. "Besok aku akan membawa cerita yang berbeda untukmu"


"Aku tunggu ceritamu yang berbeda, kalau kisahmu masih sama. Lebih baik simpan sendiri"


Akhirnya setelah malam itu, Mahesa datang dengan ceritanya yang berbeda. Kisah yang lebih optimis. Sesekali dia mengeluh, bagiku tak apalah. Yang penting dia sudah berubah.


Benar saja, ada hasil manis yang dia peroleh. Dia terpilih sebagai salah satu karyawan terbaik diperusahaannya.


"Bee, aku terpilih jadi salah satu karyawan terbaik. Terima kasih ya"


Wajahku sumringah mendengar kabar itu. Aku bahagia dengan keberhasilannya. Aku bahagia dengan kerja kerasnya.


"Selamat ya, aku tahu kamu bisa. Tunggu dulu, terima kasih untuk apa?"


"Untuk kemarahanmu malam itu dan untuk dukunganmu selama ini"


"Maafkan aku malam itu ya, aku hanya nggak ingin kamu tidak menggunakan potensi dirimu dengan maksimal. Terbuktikan kalau kamu bisa"


"Terima kasih Bee, kamu selalu ada untukku"


Dia memegang tanganku erat, seperti tak ingin melepasnya.


***


Kulihat jam tanganku, sebentar lagi aku akan boarding. Tidak sabar untuk segera bertemu mama dan adik-adikku.


Mahesa sudah berada di Bali, dia berangkat kemarin. Ada pertemuan nasional disana. Sementara kami terpisah jarak dan waktu. Tadi disempatkannya menelponku, diantara kesibukannya. Menanyakan keadaan dan keberadaanku.


"Kalau sudah sampai kabari ya. Semoga liburanmu menyenangkan. Bee, aku mencintaimu" Aku menjawabnya dengan memberi ciuman mesra. Aku rindu.


***

__ADS_1


Penerbangan memerlukan waktu sekitar dua jam lebih. Aku sudah sampaikan ke mama tidak perlu menjemput ke bandara.


"Mama tunggu dirumah aja, yang penting mama masak makanan kesukaanku ya. Daun ubi tumbuk sama ikan teri disambal" pesanku tadi pagi.


Aku sudah rindu masakan mama dan rindu bau tubuhnya. Aku merindukan adik-adikku, ngobrol sampai larut malam dengan mereka, sambil menepuki nyamuk-nyamuk yang hinggap dikulit kami. Aku rindu rumah.


***


Begitu tiba di Medan segera kukabari Mahesa, kalau aku sudah sampai. Aku tidak mau dia resah menunggu kabarku.


Kulihat mama sudah menanti didepan pintu bersama adik-adikku. Tak sabar untuk memeluk anaknya yang sudah lama merantau.


Segera diciuminya dan dipeluknya aku dengan berjuta kerinduan. Ada tangisan haru disudut matanya. Akhirnya anak perempuannya pulang.


"Sudah mama siapkan semua, makanlah. Pasti kau sudah lapar"


Kulihat hidangan diatas meja makan yang membangkitkan selera. Nggak sabar untuk segera menyantapnya.


Kami makan sambil bicara tentang apa saja. Aku lebih suka mendengarkan mama dan adik-adik cerita silih berganti saling menimpali. Aku bahagia bisa berada dirumah lagi, berkumpul dengan keluargaku.


"Nes, nanti malam tulang, nantulang, uda sama tantemu mau datang. Sudah rindu mau ketemu"


Kebetulan keluarga mama semua berada di Medan. Hubunganku dengan keluarga mama sangat akrab. Aku suka kalau kami berkumpul dengan keluarga mama. Selalu ada cerita-cerita lucu.


***


Paling seru adalah saat menghabiskan malam pergantian tahun.


Dalam keluarga batak, pergantian tahun berarti berkumpul dengan keluarga dirumah, sambil menyanyikan kidung pujian, dan ucapan syukur sudah bisa melewati satu tahun dalam kehidupan.


Lalu berdoa agar diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjalani satu tahun kedepan.


Kami juga berkumpul untuk saling berbicara menyampaikan harapan-harapan. Ada juga nasihat-nasihat yang disampaikan orang tua, bahkan kritikan pun bisa disampaikan malam itu. Berharap kedepannya bisa lebih baik lagi.


Biasanya yang mulai bicara anak-anak lalu dilanjutkan dengan orang tua.


Seperti biasa anak-anak akan meminta maaf untuk kesalahan yang sudah dilakukan dan berharap ada kenaikan uang jajan. Aku sering tertawa mengingatnya.


Walaupun tiap tahun disampaikan tapi biasanya tidak ada peningkatan uang jajan. Dan kami tidak pernah putus asa menyampaikan hal yang sama setiap tahun.


Ada juga acara makan bersama. Biasanya masing-masing keluarga membawa makanan untuk disantap bersama-sama.


Kami anak-anak kecil adalah yang paling berbahagia malam itu. Bisa berkumpul bersama sepupu sambil memasang lilin dan bermain kembang api. Makan bermacam-macam kue sampai perutmu menjadi buncit karena kenyang.


***


Saat mama menyampaikan soal kedatangan keluarga besar nanti malam. Dalam hati, aku merasa pasti mereka akan bicara soal hubunganku dengan Mahesa. Aku berharap, mereka mengerti.


Keterangan tambahan :


Tulang : Saudara laki-laki dari mama


Nantulang : Istri dari tulang

__ADS_1


Uda : Dalam bab ini berarti ipar dari mama atau suami dari tante


Tante : adik perempuan dari mama


__ADS_2