Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Ujian


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Mahesa lebih berkonsentrasi menyetir kendaraan, sedangkan aku sibuk bermain-main dengan pikiranku sendiri.


"Sa, nanti bisa mampir sebentar ke warung makan yang biasa nggak?. Aku laper, pengen makan soto"


"Tadi belum sarapan?"


"Belum sempat"


Dia cuma menganggukkan kepalanya. Sebenarnya aku belum terlalu lapar, aku hanya berniat memecahkan kesunyian yang hadir diantara kami berdua.


Mahesa meminggirkan motornya diwarung makan favorit kami, seperti biasa aku memesan soto dan teh manis hangat.


Aku sangat suka makan soto. Kuahnya yang panas dan sedikit suwiran ayam, tinggal diracik dengan jeruk nipis, kecap dan sambal. Aku akan mendapatkan rasa favoritku sedikit asam, pedes yang pasti menyegarkan. Aku bisa makan dua mangkok soto porsi kecil.


Mahesa sudah terbiasa dengan makanku yang banyak. Biasanya dia hanya bersiul kecil atau tersenyum lebar. Tapi pagi ini berbeda, tidak ada siulan kecil atau senyuman lebar itu.


"Kok kamu jadi pendiam banget gitu sih? Ada yang dipikir sampai dalem ya?"


"Nggak, kayaknya biasa aja. Aku kelihatan berbeda ya?"


"Iya, lebih pendiam"


"Bukannya aku memang dari dulu nggak banyak bicara"


"Udah, nggak usah mengelak. Akui saja. Mikirin apa sih?"


"Mikirin kamu, mikirin kita"


"Karena aku makannya banyak ya? Nggak sanggup nanti kalau menikah denganku harus menafkahi aku karena makanku banyak. Iya?"


Aku mulai bermain drama, dengan nada yang kubuat agak meninggi, berpura-pura marah. Aku hanya ingin dia tertawa. Itu saja.


"Hahaha, iya! .. Aku takut kamu jadi ibu-ibu gembrot trus tanganku nggak cukup untuk memeluk kamu"


"Hahaha!, udah nggak usah dipikirin. Ntar kalau kita menikah, aku janji deh nggak banyak makan biar nggak jadi gembrot. Kalau kamu pengen peluk aku dengan kuat sampai aku sesak nafas, kedua tanganmu masih bisa melakukannya".


"Janji ya, nggak bakalan jadi ibu-ibu gembrot"


"Iya iya, tenang aja Sa"


"Sudah selesai makannya?"


"Sudah, aku sudah kenyang"


"Dua mangkok soto, kalau belum kenyang namanya keterlaluan... Hahaha!. Yuk, kita lanjut lagi!. Masih lumayan jauh jalannya"


Sesampainya disana, kami memarkirkan motor lalu berjalan ke arah bilik-bilik doa.


Nanti saja menikmati keindahan bunga-bunga disitu setelah berdoa. Biasanya aku akan duduk berlama-lama disebuah kubah mirip sangkar burung, atau dibangku-bangku yang diletakkan didekat bunga-bunga. Suasananya menentramkan hati.

__ADS_1


Pagi ini tidak terlalu ramai yang datang, mungkin karena masih pagi. Jadi kami bisa memilih bilik doa yang tersedia. Aku dan Mahesa memilih bilik doa agak berjauhan. Mungkin agar tidak terdengar satu sama lain apa yang kami ucapkan.


Lumayan lama aku berada dalam bilik doa, karena setelah berdoa aku masih duduk berlama-lama. Menghapus airmataku, agar tidak terlihat Mahesa dan menentramkan hatiku. Kutarik nafas dalam sebelum keluar dari bilik doaku.


Kulihat Mahesa, sudah berdiri diatas, membelakangi aku. Dia menungguku.


Aku ingin memeluknya saat itu, tapi itu nggak mungkin kulakukan ditempat seperti ini.


"Sudah lama menunggu?"


"Nggak juga, belum ada lima menit"


"Mau langsung pulang atau masih mau duduk-duduk dulu?"


"Masih mau disini sebentar lagi. Boleh?". Dia cuma menganggukkan kepalanya.


Kami berjalan pelan-pelan, tanpa bicara. Lalu aku dan Mahesa duduk agak berjauhan dibangku dekat bunga-bunga. Aku suka mendengar kicauan burung yang bersahutan-sahutan.


"Setelah dari sini, mau kuajak ke suatu tempat?"


"Kemana?"


"Jaraknya lumayan jauh, tapi tempatnya bagus. Aku yakin kamu suka. Kita makan siang disana aja nanti"


"Ya udah, kita jalan sekarang aja. Nanti kesiangan"


Tempat yang kami tuju jalannya menanjak terus, melewati persawahan dan kebun bunga. Juga melewati rumah-rumah penduduk. Aku belum pernah melewati daerah itu. Dan aku jadi penasaran dibuatnya.


Begitu sampai ditempat tujuan, aku takjub melihat pemandangan didepan mata. Ada kolam renang dengan air yang berasal dari mata air pegunungan. Ada lembah dan sepanjang mata memandang semua terlihat hijau dan menyegarkan mata.


Aku tersenyum melihat Mahesa. "Aku suka tempat ini".


"Aku tahu, kamu pasti suka. Yuk, kita duduk disana?"


Jarinya menunjuk kearah saung-saung yang disediakan dipinggir kolam renang.


"Kamu mau berenang Sa?"


"Nggak, aku nggak bawa celana untuk berenang. Lagipula airnya dingin kayak air es"


"Ya iyalah, namanya juga air dari gunung"


"Memangnya kamu mau berenang Bee?"


"Nggak, alasannya sama kayak kamu"


"Kita duduk disini aja!" . Kami memilih salah satu saung, dan meletakkan tas kami.


"Pesen pisang goreng sama tahu ya? Mau kan Bee?"

__ADS_1


"Mau dong, suasananya pas banget buat makan kalau disini"


"Anesta.... Anesta...! Ckckck", aku cuma tertawa melihat Mahesa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sa, tadi apa yang kamu doakan?"


"Serius nih pingin tahu?".


Aku menganggukkan kepalaku.


"Kamu dan kita. Aku berharap kamu bisa menjalani ujianmu dengan baik dan bisa lulus dengan nilai yang baik. Aku berharap kamu tidak pergi meninggalkan aku. Dan aku berharap mamamu mau menerima aku dan hubungan kita. Setelah itu aku mendoakan diriku sendiri"


"Kalau kamu, apa yang kamu doakan"


"Kurang lebih sama dengan kamu"


"Semoga harapan kita bisa terwujud ya Bee"


Kami bicara banyak hal disitu, diselingi dengan lelucon kami yang kadang-kadang garing, nggak lucu. Tapi malah seringnya membuat kami berdua tertawa. Kami menertawakan kejadian-kejadian lucu yang kami alami berdua. Mungkin saat kejadian itu terjadi kami malah tidak bisa menertawakannya.


Ada saat motor Mahesa mogok dan aku harus mendorongnya.


"Padahal aku udah dandan cakep waktu itu" kataku sambil pura-pura memberengutkan wajahku.


"Hahaha, maaf ya tuan putri. Kereta Kencananya mogok".


Aku dan Mahesa sering menertawakan diri kami sendiri dan kekonyolan-konyolan yang sudah kami lakukan.


*****


Satu bulan kemudian


Dengan kemeja putih dan bawahan hitam, aku, Dea dan beberapa teman lainnya sudah bersiap duduk didepan sebuah ruangan untuk menghadapi ujian.


Jantung rasanya memompa dengan cepat, membuat debarannya terasa. Tanganku sudah dingin seperti tangan yang direndam didalam air es. Untuk mencairkan suasana yang tegang, ada teman yang mencoba melucu. Biasanya kami sambut dengan huuuuu yang panjang atau dengan tawa kecil.


Aku merasa sudah mempersiapkan diriku dengan baik dan yakin bisa menjawab pertanyaan yang akan diajukan dosen penguji.


Saat nama kami mulai dipanggil, ada ucapan-ucapan dan doa semoga berhasil dari teman-teman sambil kami bersalaman. Aku merasakan keharuan. Ternyata setelah sekian lama bersama, baru kali ini aku merasa dekat dengan mereka.


Ada 4 dosen penguji yang menguji aku pagi ini. Saat aku memperkenalkan diri dan menyebutkan judul skripsiku 'yang panjang' dengan lancar. Aku merasa aku bisa melewati ujian ini.


Aku merasa mantap saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji. Aku menguasai materi dengan baik. Yang paling penting aku bisa menguasai diriku sendiri dengan baik.


Saat aku menjawab pertanyaan terakhir, lalu dosen penguji menyalamiku dan menyatakan aku lulus ujian skripsi. Aku merasa kelegaan yang luar biasa.


Aku melangkah dengan mantap keluar dari ruang ujian. Aku tahu ada seseorang yang sedari tadi menanti kabar dariku.


"Mahesa, aku lulus!"

__ADS_1


__ADS_2