
"Aku sih mau pulang ke kos, tapi kalau kamu mau pergi kemana, ya aku temani"
"Beneran mau nemenin? Kalau ke antartika juga mau?"
"Aku rasa kalau saat ini kamu belum segila itu"
"Hahahaha, iya juga sih belum sampai tahap itu"
"Nah kan, berarti tempatnya masih seputaran kota ini"
"Temani aku makan siang, makan bakso. Mau?"
"Ya mau dong, tapi ada syaratnya?"
"Apa?"
"Harus enak, hahaha"
"Dijamin non, pasti enak. Apalagi kalau makannya sama saya. Enaknya dobel"
Kami makan didaerah barat, jauh dari kampusku. Tempatnya agak masuk ke dalam. Kalau aku pergi sendiri kesitu, pasti lupa nggak tau jalannya. Aku itu orang yang paling payah mengingat jalan. Mungkin karena selama ini aku selalu duduk manis dibonceng jadinya sering nggak perhatikan jalanan. Pokoknya sampai aja.
"Nes, udah sampai", dia menepuk pelan kakiku.
"Jauh juga ya, yakin nih enak"
"Enak, aku sering kesini sama teman-temanku"
"Teman apa pacar?", aduh aku keceplosan! . Udah pengen ku tampar mulutku. Ngapain sih aku nanya kayak gitu?.
Ditatapnya mataku lalu dia tersenyum "Sama teman nes? Kenapa, cemburu ya?"
"Eh, nggak lah. Ngapain cemburu sih", debaran dijantungku iramanya mulai aneh. Terlalu kencang.
"Kita makan dibawah pohon itu aja ya, adem kalau disitu"
"Mau pesan apa nes?. Ada bakso urat, komplit atau biasa?"
"Terserah aja, aku ngikut kamu". Cewek banget aku ini. Kalau ditanya jawabnya suka terserah. Abis itu nyesel, seringnya sih gitu. "Aduh, coba tadi pesan yang itu".
Baksonya memang enak, pengen nambah mangkok ke dua tapi aku malu. Tadi aja Mahesa memandangiku terus sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Kenapa ngelihatin terus? Ada yang aneh ya?"
"Nes, kalau makan tuh pelan aja. Kayak orang mau berangkat perang aja. Kamu tuh makannya sama aku bukan sama temen-temen kamu yang kalau makan harus cepet-cepet kalau nggak cepet ntar ditinggal. Tenang aja nes, aku tungguin kok" senyumnya semakin lebar. Ah, dia menggodaku.
"Hahaha iya sih. Kebiasaan. Gimana lagi dong?. Aku kira kamu cinta makanya ngelihatin terus"
Aduh, bener-bener deh mulutku ini minta ditampar. Lancangnya keterlaluan. Begini nih kalau kecepatan mulut sudah mengalahkan kecepatan berpikir. Akhirnya yang keluar dari mulut suka asal.
Mahesa memandangiku, senyumnya mengembang.
"Kalau iya, bagaimana? Yang didepanku ini mau menerima nggak?"
Aku mulai salah tingkah. Ini akibat mulutku yang nggak bisa direm. "Kalem nes, kalem" hatiku berkata.
"Ya, kalau belum siap jawabannya. Aku bersedia menunggu kok" dan senyumnya semakin mengembang.
Uh, dia membuatku semakin salah tingkah. Dan sepertinya dia menikmatinya. Kulihat senyumnya semakin lebar.
Untungnya pembicaraan itu nggak berlanjut. Aku bisa aja menjawab 'aku menerima', atau 'aku juga mencintaimu'. Tapi kayaknya waktunya belum pas. Aku harus memantapkan hatiku dulu. Bahwa aku benar mencintainya.
"Kita pulang yuk, aku masih ada tugas"
"Ya udah, bentar ya aku bayar dulu. Abis itu aku antar pulang. Tapi ngobrol sebentar dikos mu boleh kan? Ada janji sama seseorang nggak nes?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Eh, makasih ya tadi udah traktir bakso. Enak banget baksonya. Sering-sering ya, soalnya itu salah satu perbaikan gizi buat anak kos"
"Hahaha begitu ya. Oke deh, nanti aku traktir lagi. Kalau cuma nraktir bakso kecil lah itu"
"Mau ngomongin apa sih? Kayaknya serius banget"
"Nggak ada yang khusus sih, seneng aja ngobrol sama kamu. Nggak tau ya, kayaknya pengen ketemu kamu terus. Kalau kamu merasa terganggu bilang ya nes. Aku nggak mau kamu jadi nggak nyaman"
"Aku seneng-seneng aja ketemu kamu. Nggak, aku nggak merasa terganggu. Apalagi kalau sering-sering traktir aku. Hahahaha....bercanda kalau yang ini"
"Takut kamu nggak mau datang lagi, ntar kamu kira aku bakal minta traktir terus"
Kami ngobrol panjang, dia mulai menanyakan keluargaku. Semua tentang aku. Dan aku nggak merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaannya. Aku ceritakan semua apa adanya. Rasanya nyaman aja ngobrol dengan dia.
"Kalau kamu udah lulus kuliah, kamu bakal balik ke kotamu atau masih tetap disini?"
__ADS_1
"Aku belum tau, dan aku belum memikirkannya. Yang penting skripsiku selesai. Aku ujian. Udah itu aja dulu. Kenapa?"
"Aku takut nggak bisa ketemu kamu lagi nes"
Kenapa Mahesa mendadak sendu begini sih?. Bikin aku jadi salah tingkah lagi. Ah, Mahesa kamu sukses membuatku melayang.
"Udah deh, nggak usah dipikirin. Skripsiku aja masih Bab 1 nggak selesai-selesai. Sampai bosen aku memandangi tulisan Bab 1. Kapan aku mulai bab berikutnya?"
"Ya, semoga cepat selesai ya Nes. Lega kalau udah menyelesaikan satu rencana dalam hidup"
"Iya, yang terutama aku nggak jadi beban lagi buat mama. Kalau udah kerja kan bisa bantu mama. Kemarin tuh aku pengen kerja. Mama nggak boleh, nanti kuliahmu nggak selesai-selesai, gitu katanya"
"Padahal kalau aku kerja kan lumayan bisa bantu. Tapi maunya mama begitu. Aku nurut aja. Nggak lancar jalannya kalau orang tua nggak merestui. Bukan begitu saudara Mahesa?" aku mulai menggoda dia.
"Hahaha iya iya betul"
Kami ngobrol lumayan lama. Sampai dia akhirnya pamit pulang.
"Nes, aku masih menanti jawabanmu. Kamu menerima aku atau tidak"
Astaga! Aku kira tadi bercanda. Ternyata dia serius dengan pernyataan cintanya. Aku anggap tadi hanya lelucon untuk menggodaku.
Kupandangi matanya, aku harus yakin dia benar-benar serius dengan ucapannya. Bagiku, cinta bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk main-main. Ada pengorbanan dan perjuangan didalamnya.
"Seberapa lama kamu sabar menanti jawabanku?"
"Selama apapun akan ku tunggu. Aku serius dengan ucapanku nes?"
"Tapi kenapa secepat ini?. Kamu baru mengenalku"
"Aku merasa nyaman didekatmu Anesta, dan aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak tau kapan tepatnya perasaan itu hadir. Ntah dimenit keberapa saat kita bertemu. Yang ku tahu pasti aku nggak mau kehilangan kamu"
"Beri aku waktu, aku akan menjawab disaat waktu yang kurasa tepat. Aku juga nyaman didekatmu. Tapi aku harus memantapkan hatiku dulu, bahwa perasaan ini benar"
"Akan ku tunggu nes, sampai kapanpun itu"
Dipandangnya mataku, dia seperti mencari jawab disana. Diusapnya pipiku dengan ibu jarinya, dan aku terhanyut dengan belaian matanya diwajahku.
"Aku pamit nes, besok atau lusa kita bisa ketemu kan?"
Aku mengangguk, lidahku kelu untuk menjawab Ya. Dia seperti menyedot habis semua kekuatanku.
__ADS_1
Begitu Mahesa menghilang dari pandangan mataku. Bergegas aku menuju kamarku. Aku hanya ingin memejamkan mata, memutar memori yang ada dikepalaku.
Aku tahu jawaban apa yang akan aku berikan kepadanya. Aku akan berkata "Ya Mahesa aku mencintaimu". Itu saja.