
Kulihat pantulan diriku dicermin, terlihat sempurna. Setidaknya itu menurutku. Kuperiksa kembali riasan wajahku. Semuanya pas, tidak berlebihan.
Aku tersenyum mengingat perkenalan pertama dengan Mahesa, insiden bedak yang tidak rata. Kalau mengingat itu, aku sering tertawa. Memalukan sekali.
Sesaat setelah persiapanku selesai, kudengar suara telpon berdering.
"Tuan putri, aku sudah dibawah. Kereta Kencana sudah siap" Aku tersenyum sambil menatap layar telponku
"Aku segera turun, tunggu ya"
Kulihat dia duduk membelakangiku. Aku berjalan perlahan, lalu mendekap tubuhnya dari belakang. Kudaratkan ciuman dipipinya.
Dia tersenyum menatapku, diraihnya tanganku.
"Kita pergi sekarang ya, nanti kemalaman"
Menyusuri jalanan, diatas motor berdua sambil memeluknya. Menikmati malam yang mulai merambat turun. Merasakan hembusan angin dikulitku. Semakin kupererat pelukanku. Ada rindu yang membuncah, yang terkadang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Aku mulai bercerita tentang hari-hariku selama sebulan, rutinitasku dan hal-hal lucu selama aku berada di Jakarta. Ada banyak hal yang belum sempat aku ceritakan padanya, karena aku lebih suka mendengarkan dia bicara.
Tapi tidak ada cerita tentang Ben, sampai kapanpun aku akan menyimpannya.
"Mulai minggu depan aku bakalan sibuk banget Sa. Ada training untuk karyawan sekalian persiapan gerai yang baru"
"Aku juga mulai persiapan ujian skripsi, doakan semoga lancar ya"
"Oh ya, kok kamu nggak pernah cerita kalau udah mau ujian?"
"Yang ini bukan cerita ya?"
"Bukan begitu, kemarin-kemarin nggak pernah cerita ke aku soal skripsimu. Tau-tau udah mau ujian aja"
"Bukannya aku cerita kalau aku lagi mengerjakan skripsi?"
"Iya, kamu cuma bilang kamu lagi mengerjakan skripsi. Udah, cuma preambulenya aja. Trus sekarang ngomong ke aku udah mau ujian. Nggak ada cerita tambahannya"
"Maksudnya bagaimana? aku nggak ngerti"
"Gini lho, kalau aku kan suka cerita ke kamu. Aduh, bab tiga susah deh atau Bapak kepala kantornya lagi ke luar kota nggak bisa ditemui. Atau dosen pembimbingku susah banget, banyak maunya. Yang kayak gitu lho"
"Ohhhh, hahaha. Memangnya harus yang kayak gitu diceritakan?"
"Menurutku sih iya"
"Aku nggak terlalu suka menceritakan hal-hal seperti itu ke kamu. Yang penting kamu tahunya beres aja" Aku memberengutkan wajahku, dan dia pun tertawa.
***
Hari Senin, aku langsung sibuk dengan pekerjaan yang sempat tertunda. Mulai membereskan beberapa kontrak kerja yang hampir habis untuk kemudian diperpanjang lagi.
__ADS_1
Ada juga karyawan yang akan diganti karena memang sudah habis kontraknya dan laporan hasil kerjanya tidak memuaskan. Ada juga yang harus diganti karena selain habis masa kontraknya, umurnya sudah melewati syarat yang ditentukan perusahaan kami.
Aku juga mulai menyusun jadwal untuk training di kantor maupun langsung datang ke beberapa gerai.
Jadwal yang dibuat tidak boleh mengganggu jam kerja karyawan yang berada digerai.
Aku sibuk sekali, sampai tidak sempat ngobrol santai dengan teman-temanku.
"Sibuk banget sih Nes, sampai belum sempat cerita selama disana"
"Iya mbak, kerjaannya numpuk ditinggal sebulan. Ada beberapa yang harus langsung dikerjakan, nggak bisa ditunda lagi"
"Ya, padahal kangen ngobrol sama kamu Nes'
"Semoga nanti jam 3 sore, udah nggak terlalu sibuk ya. Jadi bisa ngobrol sambil ngopi"
"Oke Nes, selamat bersibuk ria!"
"Anesta!" Tiba-tiba si bos memanggil namaku.
"Ya pak?"
"Besok kamu bisa ke Disnakertrans. Ini peraturan perusahaan harus dilegalisir. Kamu copy dulu trus bawa ke sana ya. Bisa kan?"
Mana mungkin aku menjawab tidak, walaupun aku masih punya setumpuk pekerjaan. Kupandangi meja kerjaku. "Aku harus mulai darimana?"
***
"Nes, hari Sabtu ini kita ke salon ya trus nongkrong sebentar di mall. Sabtu lalu kamu lembur"
"Sabtu ini lembur lagi De, ada beberapa kasir baru yang harus aku ajari"
"Sabtu lalu wawancara, sabtu ini training. Aku kan kangen Nes. Nggak enak kalau ke salon nggak bareng kamu. Jangan kerja terus dong Nes"
"Aku kan trainingnya jam 8. Aku usahakan jam 12 udah selesai ya"
"Kalau belum selesai?"
"Aku nggak tahu De. Nanti aku kabari. Jangan cemberut dong"
Hanya Mahesa yang nggak pernah protes dengan kesibukanku. Dia tahu kalau aku menyukai semua itu.
"Yang penting makan teratur Nes" untuk hal yang satu ini, Mahesa agak cerewet mengingatkan. Beberapa kali aku harus sakit dan sempat dirawat dirumah sakit karena makan nggak teratur.
"Aku tahu kamu bahagia dengan pekerjaanmu dan kamu menikmatinya. Kalau kamu senang aku pun ikut senang"
***
Disela-sela kesibukan yang kujalani. Beberapa kali mama menelponku, seperti biasa menanyakan keadaanku. Lalu dilanjutkan menanyakan hubunganku dengan Ben.
__ADS_1
"Hanya teman biasa ma, nggak lebih"
"Seharusnya kalian bisa lebih dari teman biasa"
"Kadang kala kamu terlalu keras kepala Nes, kamu tidak memikirkan kedepannya seperti apa hubunganmu sama Mahesa"
"Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri dan perasaanmu"
"Aku harus bagaimana Ma? "
"Putuskan Mahesa. Tulangmu tidak setuju kamu sama dia. Kamu juga anak perempuanku yang paling besar" Dan itu diulang terus-menerus.
"Kamu boru panggoaran, carilah yang satu suku sama kita. Pikirkan itu! "
Seperti biasa aku lebih banyak diam, tidak terlalu menanggapi pembicaraan mama.
Harus berapa kali aku menyampaikan ke mama tentang perasaan cintaku pada Mahesa.
Apakah kami bisa memilih lahir dari rahim ibu yang satu suku agar kisah cinta kami tidak seperti ini. Aku sungguh tidak mengerti dengan pola pikir mama yang kuanggap masih kolot.
Padahal ada juga temanku yang diperbolehkan menikah dengan laki-laki yang bukan suku batak. Mengapa mama tidak bisa berpikir modern?
Selalu menekankan soal adat istiadat, supaya tidak hilang. Menurutku itu semua bisa dipelajari. Tergantung dari diri kita sendiri.
Terkadang aku lelah dengan semua ini. Ingin kuakhiri saja semuanya. Biarlah aku mengorbankan perasaanku dan menyakiti diriku sendiri. Mungkin itu lebih baik.
***
Beberapa bulan kemudian Mahesa lulus dan diwisuda. Aku menghadiri wisudanya bersama dengan keluarga.
Mereka selalu menyambut hangat kehadiranku. Keluarga Mahesa sangat menyayangiku. Inilah salah satu alasan aku sulit berpisah dengan Mahesa.
Aku seperti menemukan keluarga baru yang sayang padaku.
Aku suka dengan kehangatan keluarganya. Aku bahagia mereka mau menerima aku apa adanya. Ibu dan bapak bahkan sudah menganggap aku seperti anaknya.
Terkadang malam minggu aku lebih suka main ke rumah Mahesa, ngobrol bersama ibu.
Yang dibicarakan macam-macam, dari mulai gosip tetangga sampai gosip artis. Semua kami bahas, sambil bercanda.
Suatu kali ibu pernah menanyakan soal hubunganku dengan Mahesa. Apakah kami berdua benar-benar serius menjalaninya. Saat ibu menanyakan hal itu, aku terkejut. Tidak menyangka.
"Mahesa sangat mencintaimu, Nduk. Ibu hanya tidak ingin anak ibu kecewa dan sakit. Ibu berharap kamu mengerti"
*Tulang : saudara laki-laki dari mama
Boru panggoaran: anak pertama perempuan, yang namanya dipakai sebagai nama panggilan orang tuanya.
Nduk : panggilan sayang seseorang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Biasanya untuk memanggil anak perempuan*.
__ADS_1