
"Kenalkan, nama saya Zein. Saya yang akan mentraining kamu nanti tentang gambaran perusahaan yang baru, juga tentang beberapa produk baru."
"Oh iya pak, saya Anesta. Bapak bisa panggil saya Nesta"
"Kamu boleh kok panggil saya mas Zein. Kayaknya usia kita nggak terlalu jauh ya."
"Sepertinya sih begitu pak"
"Tapi terserah kamulah mau panggil saya apa? Yang enak menurut kamu aja" Dia melihat keraguan diwajahku.
Aku tidak terbiasa memanggil seseorang yang baru kukenal apalagi levelnya berada diatasku dengan sebutan "mas".
Pak Zein baru saja bergabung dengan perusahaan kami. Dia membawahi Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Jadi HRD di perusahaanku dibagi dalam dua divisi yaitu, Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Divisi Personalia yang lebih mengurusi administrasi karyawan.
Untuk staff HRD dikantor cabang, kami harus bisa melakukan dua hal tersebut. Kami harus bisa mengerjakan pengembangan sumber daya seperti melakukan pelatihan-pelatihan dan juga kami harus melakukan tugas-tugas personalia.
Pekerjaan staff HRD itu menyenangkan menurutku. Karena tidak hanya berhubungan dengan benda mati seperti kertas-kertas yang berisi perjanjian kerja tapi juga berhubungan dengan manusianya.
Ada saat mereka datang hanya untuk "curhat" masalah pribadinya.
Pernah seorang karyawan datang padaku, meminta waktuku mendengarkan cerita tentang masalahnya dengan kekasihnya. Masalahnya itu membuat performa kerjanya menurun.
Saat dia menceritakan masalahnya, aku mencoba memposisikan diriku sebagai seorang kakak, agar dia lebih bebas bercerita. Tapi keputusan yang kuambil tetaplah keputusanku sebagai seorang staff HRD bukan keputusan sebagai seorang "kakak".
***
"Nes, hari ini kita training di training center ya. Nanti ada waktunya kamu akan saya ajak berkeliling ke beberapa gerai kita yang sudah menerapkan image perusahaan yang baru"
"Baik Pak!"
"Oke, yuk bareng saya ke training centre. Sekalian kamu bisa lihat staff lain mentraining beberapa karyawan baru. Kemarin kita baru merekrut karyawan"
"Oh, boleh pak. Saya malah senang dapat ilmu baru"
"Atau kamu mau sekalian ikut mentraining anak baru? Saya juga ingin lihat cara kamu kalau melakukan training di cabang"
"Wah, berarti sekalian mau mengevaluasi kinerja saya pak?"
"Hahaha, kamu ini. Saya yakin kamu udah bagus, saya cuma ingin lihat saja. Bisa saja ternyata cara kamu menyampaikan berbeda dengan staff disini. Bisa saja menarik, jadi bisa kita pakai disini. Kadang kala ilmu itu kan harus dibagi Nes"
__ADS_1
"Aduh, saya sih merasa nggak ada yang istimewa dari cara saya menyampaikan suatu modul" Terus terang aku nggak terlalu percaya diri saat seorang atasan langsung melihat aku berbicara didepan kelas.
Tapi sepertinya pak Zein bersikeras aku harus melakukannya.
Semoga pak Zein tidak terkejut dengan caraku menyampaikan modul, yang lebih banyak bercanda daripada serius.
Saat harus mentraining karyawan baru khusus ditempatkan didapur atau gerai, aku terbiasa menyampaikan dengan bahasa yang sederhana dan santai. Juga ada sedikit humor-humor receh.
Kalau aku menyampaikan dengan cara yang terlalu serius, aku khawatir mereka akan mengantuk mendengarkan aku bicara. Apalagi pada jam-jam rawan mengantuk.
Terkadang aku malah lebih suka melakukan dialog dengan mereka. Sesekali melemparkan pertanyaan yang tanpa mereka sadari itu adalah teori yang tadi aku sampaikan. Aku hanya ingin tahu sampai seberapa jauh pemahaman mereka.
Begitu kami tiba di training center yang tidak jauh letaknya dari kantor pusat. Cukup berjalan kaki sekitar 300 meter. Aku melihat beberapa kelas sedang penuh dengan karyawan baru yang sedang ikut pelatihan.
"Kita masuk dikelas yang ujung ya. Disitu khusus pelatihan untuk produk baru. Jadi kamu sekalian belajar produk dan belajar cara menyampaikannya. Ini modul untuk kamu bawa Nes"
Ada sekitar dua jam aku harus duduk mendengarkan. Aku yang terbiasa bergerak aktif merasa nggak betah harus duduk manis. Akupun mulai mengantuk. Andaikan Pak Zein tidak duduk disampingku. Mungkin aku akan menguap yang lebar, tanda aku bosan.
Seperti biasa kalau sedang bosan, aku akan mencoret-coret buku tulisku dengan gambar-gambar garis dan lengkung. Hingga menjadi gambar yang menyatu.
Aku benar-benar bosan setengah mati, dengan cara penyampaiannya yang seperti orang membaca modul. "Kalau hanya seperti itu, baca sendiri juga bisa" rutukku dalam hati.
Untunglah penderitaanku segera berakhir. Rasanya aku ingin segera beranjak pergi dan berjalan ke di divisi personalia yang selalu sibuk dan nggak bikin ngantuk
"Hehehe, kok pak Zein tahu?" kataku sambil nyengir, malu kepergok sedang mengantuk.
"Kelihatan dari mukamu yang bosan dan dudukmu yang gelisah. Apalagi itu tuh, kamu susah payah menahan mulutmu untuk tidak terbuka lebar. Hahaha! Saya juga ngantuk dengan cara Tio menyampaikan. Atau karena ada saya dia jadi kaku begitu"
"Mungkin saja pak"
"Eh, setelah ini kamu yang jadi trainernya ya. Tentang produk kita yang lama, ke anak-anak baru itu. Kita pindah kelas Nes"
Jantungku rasanya berdebar, seperti saat aku sedang jatuh cinta. Bukan karena aku nggak bisa menyampaikan tentang produk kami tapi karena kali ini ada Pak Zein yang duduk melihatku.
Seperti biasa aku membuka kelas dengan salam, setelah itu memberikan keterangan tentang produk perusahaan kami sambil disisipi sedikit lelucon dan istilah-istilah lucu yang diciptakan karyawan yang lama di kantor cabang kami, agar mudah mengingat nama produk kami.
Produk makanan kami cukup banyak variannya, kalau untuk karyawan baru dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengingat produk-produk tersebut.
Dengan adanya istilah-istilah lucu, memudahkan untuk mengingat terutama untuk produk yang slow moving atau kurang laku.
Aku mendengar tawa dari semua peserta saat aku menyebutkan istilah-istilah lucu yang mewakili beberapa produk kami. Kulirik sekilas Pak Zein, ingin tahu bagaimana reaksinya. Aku melihat Pak Zein tersenyum lebar. Semoga beliau tidak marah dengan cara penyampaianku.
__ADS_1
"Hahaha Nes, kamu bisa melucu juga ya?. Saya suka cara kamu"
"Terima kasih pak. Itu untuk memudahkan karyawan baru sih pak dan biar mereka nggak mengantuk saat mendengar saya berbicara"
"Iya, boleh juga idemu. Nanti catat ya istilah-istilah itu, bisa jadi masukan untuk kami disini Nes"
"Iya, nanti saya catat pak. Saya sempat takut lho bapak marah dengan cara saya."
"Nggak lah. Ya udah, trainingnya cukup sekian dulu. Besok kita sambung lagi. Kalau kamu ada keperluan ke divisi personalia silahkan Nes"
"Iya pak, saya memang ada keperluan ke sana. Soalnya dua hari lagi penggajian. Mau ngecek kantor cabang kami udah beres belum data-datanya"
"Oke Nes, sampai ketemu besok pagi ya. Kamu langsung kesini aja"
"Baik pak!"
***
Aku menghabiskan waktu sampai sore di sana. Waktu berjalan begitu cepat.
"Nes, nggak pulang? Ditanyain sama Sigit tuh mau barengan nggak ke mess?"
"Eh, iya mbak Vi. Bilangin ke dia aku bareng"
Kudengar telponku berbunyi, kulihat nama Ben tertera dilayar.
"Hallo Ben!"
Ternyata dia ingin menjemput, sekalian mengajakku makan malam.
"Maaf Ben, aku pulang bareng temanku. Ini udah di halaman parkir" Aku berbohong.
"Oke Ben, lain kali ya kita bareng" sambil kugigit bibirku. Aku merasa bersalah.
Aku segera turun ke bawah mencari Sigit, karena Divisi IT ada dilantai satu.
***
Anesta berbohong untuk menghindariku. Aku tahu itu. Kenapa dia tidak jujur saja mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Dia tidak nyaman didekatku. Aku sangat mengenalnya, aku tahu dari gerak-geriknya. Dari caranya memandangku.
Aku memandangi Anesta dari dalam mobilku. Sedari tadi aku menunggunya dihalaman parkir kantornya. Dia tidak muncul dan aku meneleponnya. Dia menolak aku.
__ADS_1
Baiklah Anesta, aku akan tetap mendekatimu sama seperti dulu.