
Pagi ini ada gairah yang berbeda, aku akan pulang. Usai sudah training satu bulan yang harus kujalani. Sejauh ini hasilnya memuaskan.
Pak Zein mengatakan aku cepat beradaptasi dan puas dengan hasilnya. Semoga aku bisa menerapkan ilmu yang kupelajari selama sebulan. Mungkin hari Senin aku mulai menyusun jadwal training untuk karyawan yang ada di gerai dan di dapur.
Hari-hari ke depan akan sangat sibuk. Karena aku juga harus rajin datang ke semua gerai untuk melihat hasilnya.
Aku nggak mau lelahku tidak membuahkan hasil maksimal.
Bicara berjam-jam didepan kelas, harus menyampaikan sesuatu yang tidak menarik menjadi menarik sehingga mereka mau terus fokus memperhatikan, menurutku tidaklah mudah. Dan itu sangat melelahkan.
Aku orangnya sangatlah moody, aku harus bisa menaklukkan diriku sendiri untuk menjaga moodku tetap bagus. Agar bisa tetap berada dijalur yang benar.
***
Aku selalu menikmati perjalanan dengan naik kereta. Memandang hamparan sawah yang menghijau atau kadang kala sudah menguning.
Menikmati pemandangan laut, rumah-rumah nelayan, tambak-tambak dan pohon-pohon mangrove.
Aku sering merasa takjub, betapa negeri ini sangatlah kaya, dan selalu bersyukur bahwa aku menjadi bagiannya.
***
Tak terasa sudah hampir sampai, tadi aku sempat tertidur. Sepertinya kelelahan. Segera kusiapkan barang bawaanku. Hanya satu koper kecil dan tas berisi oleh-oleh. Dari dulu barang bawaanku selalu praktis apabila bepergian. Nggak mau repot.
Aku membelikan Mahesa satu kemeja dan t shirt yang menurutku akan terlihat keren saat dipakai.
Tadi dia mengabari sudah menunggu di stasiun. Nggak sabar untuk bertemu.
Memasuki stasiun terdengar lagu seolah-olah mengucapkan selamat datang. Hatiku berdebar. Sebentar lagi kami bertemu.
Kulihat dia menantiku diruang tunggu, ingin segera berlari menghambur memeluknya. Dia memandangku sambil tersenyum hangat.
Andaikan ini seperti di film-film mungkin aku sudah melompat dan mendekap tubuhnya. Tapi ini bukan film, ini kenyataan. Berapa pasang mata yang akan menyoroti kami.
Aku hanya mampu berjalan dengan langkah lebar-lebar, tak sabar. Kemudian menyambut uluran tangannya.
Hanya senyuman, tanpa kata-kata, kami berjalan bergandengan tangan menyusuri ruang tunggu hingga ke parkiran. Disana motor kesayangannya sudah menanti.
"Kalau begini aku nggak bisa meluk kamu dong, ada koper diantara kita"
"Hahaha, iya ya. Trus gimana?"
"Ya udah nggak apa-apa, meluknya ditunda dulu sampai nanti malam"
"Nanti malam mau kemana Nes?"
"Ngobrol di Cafe yang biasa ya"
"Nggak capek?"
"Nggak, kan tadi cuma duduk di kereta. Sampai kos aku istirahat, trus nanti malam kamu jemput aku ya" Dia mengangguk.
Walaupun tak dapat memeluknya, aku masih bisa mencium wangi tubuhnya. Akhirnya aku bisa berada didekatnya lagi.
***
Tadi Ben menelponku, menanyakan keadaanku, sedikit obrolan basa-basi. Lalu kemudian menutup telpon.
Dia meminta ijinku agar masih diperbolehkan bicara denganku sesekali. Memintaku untuk tidak memblokir nomornya atau aku mengganti nomer telponku seperti dulu.
Terkadang dia rindu untuk bicara denganku.
__ADS_1
Aku memahami dirinya, dia pernah jadi bagian dalam hidupku.
***
"Kita ngobrol sebentar ya Bee. Boleh? Kamu capek?"
"Boleh dong, aku juga masih kangen"
"Bee, kamu disana baik-baik aja kan?"
"Iya. Kok nanya begitu?"
"Nggak apa-apa. Malam sebelum kamu berangkat aku merasa gelisah. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu"
Malam itu ada sesuatu antara aku dan Ben, aku nggak mungkin menceritakannya. Sampai kapanpun lebih baik aku menyimpan semua.
Tak mungkin menyakiti hati Mahesa dengan ceritaku. Sampai sekarang perasaanku masih sama padanya. Jadi nggak penting aku menyampaikan cerita yang bisa merusak hubungan kami.
"Semuanya baik-baik saja, saat ini aku sudah ada disini. Kamu bisa melihat semuanya masih sama kan?"
"Iya. Rasa khawatirku nggak beralasan ya?"
"Mungkin kamu rindu, udah nggak sabar untuk ketemu"
"Hahaha, mungkin begitu ya"
"Kamu istirahat dulu Bee, nanti malam kita ketemu lagi" Aku mengangguk mengiyakan.
Diciumnya keningku, dibelainya puncak kepalaku.
"Bee, aku mencintaimu"
***
Lembayung senja perlahan turun, matahari lambat laun mulai tenggelam. Rembulan mengintip malu-malu. Belum saatnya menampilkan cahaya keindahannya.
Sedari tadi aku hanya berbaring tanpa mampu memejamkan mata. Rasa bersalah itu seperti menghantui. Mengapa aku harus menyambut ciumannya?
Mengapa aku terlena dan mabuk dengan suasana yang saat itu terjadi.
Dari tadi kucoba mengenyahkan bayang-bayang kejadian malam itu. Sulit.
Maafkan aku, Mahesa...
Ku dengar suara langkah kaki menaiki tangga. Mungkin Dea. Lalu suara pintu kamar terbuka. Ya benar Dea.
"De.." Aku memanggilnya
"Nes, sudah pulang?" kudengar langkah kakinya mendekati kamarku.
"Hai Nes! Kenapa?" Dia langsung mengerti, ada sesuatu yang terjadi.
"Aku mau cerita"
Kusampaikan semua peristiwa malam itu, tak ada yang tersisa. Dea mendengarkan sambil menyentuh tanganku. Seketika air mataku runtuh. Aku tak pernah begini sebelumnya. Tak pernah bermain-main dengan suatu hubungan.
Dea memeluk tubuhku, meredam isak tangisku. Dibelainya punggungku sambil berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
"Nes, kalau menurutmu itu akan merusak hubunganmu dengan Mahesa... Jangan pernah kamu katakan padanya"
"Berhentilah selalu merasa bersalah, hatimu tidak berubah kan? Hanya untuk Mahesa?"
__ADS_1
"Malam itu kamu hanya terbawa suasana. Kamu hanya perempuan biasa Anesta, terkadang juga bisa berbuat kesalahan. Tapi bukan berarti kamu nggak kembali ke jalur yang benar"
"Hapus air matamu. Sekarang yang perlu kamu pikirkan bagaimana supaya keluargamu menerima Mahesa. Ben adalah masa lalu, jadi nggak terlalu penting"
"Mama menginginkan dia menikah denganku Dea"
"Dan kamu akan menyerah?"
"..."
"Anesta?"
"..."
"Jawab aku Nes?!"
"Aku nggak tau De, terkadang aku lelah. Sudah satu tahun nggak ada perubahan. Mama tetap keras dengan pendiriannya"
"Aku mengagumi Nes. Kamu perempuan dengan pendirian yang sangat kuat. Aku nggak bisa seperti kamu"
"Sampai kapan begini terus De?"
"Kamu yang bilang prosesnya akan sangat panjang, kamu siap menjalaninya asalkan laki-laki itu layak diperjuangkan. Saat ini Mahesa masih kuliah, sebentar lagi dia lulus. Sabarlah. Ada saatnya Nes"
"Maksudmu?"
"Kalau saat ini Mahesa belum apa-apa Nes, tunggu dia saat sudah memiliki pekerjaan. Mungkin semuanya akan berbeda saat kamu bicara dengan mama nanti"
"Aku mengerti De"
"Sabar, nikmati saja yang ada sekarang. Soal kamu dan Ben lupakan saja. Peristiwa tadi malam, anggap suatu kesalahan dan tak akan mengulanginya lagi"
"Makasih De, buat semuanya" kataku sumringah.
"Cuma makasih. Oleh-olehnya mana?"
"Hahaha, ada tuh. Aku beliin kamu tas. Semoga kamu suka'
"Suka Nes..." Dipeluknya erat tubuhku
"Mahal ya Nes?"
"Nggak juga sih, itu aku beliin yang KW tiga. Hahaha!"
"Bagus begini bahannya. Bohong kalau KW tiga"
"Ya iyalah, mana mungkin aku kasih sahabat sendiri tas KW tiga"
"Makasih ya Nes. Aku kangen. Nggak ada yang diajak ngobrol. Muli sibuk sama skripsi dan pacar barunya"
"Oh ya, Muli udah punya pacar baru?"
"Iya, wajahnya biasa aja. Nggak ganteng kayak Bayu. Tapi kelihatan baik dan dewasa banget. Kalem lagi. Cocoklah sama Muli"
Kami asyik bercerita seperti bertahun-tahun nggak ketemu. Aku selalu bersyukur dalam hidupku memiliki Dea, Muli dan Mahesa.
"Eh, ntar aku mau siap-siap dulu. Malam ini aku mau pergi sama Mahesa"
"Ya udah sana, nanti keburu dia datang"
Cepat kusambar handuk, harus segera mandi dan berdandan. Aku nggak mau Mahesa menunggu.
__ADS_1