Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Akhir semua ini


__ADS_3

"Bee, kamu yakin dengan keputusanmu?"


"Iya. Aku sudah lelah berjuang, aku ingin berhenti. Lupakan semua angan-angan itu Mahesa"


"Aku nggak bisa Bee, aku nggak bisa menerimanya. Ini nggak adil buatku"


"Terkadang hidup memang nggak adil Sa, aku belajar untuk menerimanya. Pergilah sayang. Tinggalkan aku. Maafkan aku" Sekali lagi kuucapkan maaf dari bibirku.


"Mengertilah, aku sudah lelah"


"Baiklah Bee, malam ini aku akan pergi. Tapi suatu saat aku akan kembali. Mempertanyakan keputusanmu lagi"


Mahesa pergi meninggalkanku. Langkahnya gontai. Aku hanya memandang kepergiannya dari kejauhan.


Cepat aku berlari ke kamar, runtuh sudah air mata yang tertahan. Hatiku hancur. Aku merasa kalah. Ntah butuh waktu berapa lama untuk aku bisa kembali menerima seseorang mengisi hatiku.


Pergilah Mahesa, aku berharap suatu hari nanti kamu dapat penggantiku.


***


Sudah dua minggu Anesta menghindar dariku. Setiap aku datang ke kosnya dia selalu belum pulang. Aku tunggu sampai batas waktu yang diperbolehkan menerima tamu. Dirinya tak pernah terlihat.


Dea bilang, Anesta keluar kota beberapa hari, ada tugas merekrut karyawan untuk wilayah Solo.


Tapi hari-hari lain pun dia tak pernah bisa kutemui. Aku tahu dia pasti berpindah-pindah dari satu gerai ke gerai lainnya. Dan mengakhiri jam kerjanya disitu.


Begitu banyak gerai makanan perusahaan itu tersebar dibeberapa mall, stasiun kereta dan bandara. Aku tak mungkin mengunjunginya satu per satu.


Anesta menolak semua telponku dan pesanku tak satupun pernah dibalas. Aku nyaris gila dibuatnya.


Pernah aku ke kantornya, dia tidak berada disitu. Sedang ke lapangan kata temannya. Aku tidak mungkin setiap hari datang mencarinya ke kantor. Selain malu, aku juga punya tanggung jawab dengan pekerjaanku. Dimanakah dirimu sayang?.


Anesta, hatiku merasa sepi. Semua terasa tidak benar buatku. Dulu, kamu adalah tujuanku untuk menggapai cita-cita. Memang terdengar kekanak-kanakan. Tapi seperti itulah yang kurasakan. Kehadiran dirimu sangat berarti dalam hidupku, Nes.


***


Setiap telponku berdering dan kubaca namanya tertera dilayar. Segera kumatikan telpon atau kubiarkan berdering hingga lelah. Aku tak pernah membalas pesan-pesannya yang mencariku.


Aku tahu dia datang ke kantor, ke kos bahkan pernah ke beberapa gerai untuk mencariku.

__ADS_1


Aku menghindar darinya. Aku ingin dia bosan dan pergi tanpa pernah mencari sosokku lagi.


Aku juga sedang mencari pekerjaan ke kota lain. Kota ini terlalu banyak kenangan tentangnya. Aku harus pergi, cepat atau lambat.


Aku mulai sering melamun. Menangis dimalam hari, saat mengingat dirinya.


Ternyata semua tak semudah yang kupikirkan.


"Aku harus bagaimana De?" kataku suatu kali ke Dea. Dua hari setelah malam itu, aku ceritakan semua ke Dea.


"Aku nggak bisa kehilangan dia. Keadaan yang memaksaku untuk melepasnya."


"Aku nggak bisa melihat air mata mama walaupun diriku harus hancur"


"Jalani apa yang sudah menjadi pilihanmu Nes. Mungkin butuh proses yang panjang. Aku yakin kamu bisa"


***


"Ah, kenapa harus gerimis malam ini? Mana aku nggak bawa payung" Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan jam 9 lewat. Sebentar lagi mall akan tutup. Aku harus segera pulang.


Tadi aku harus melihat persiapan gerai yang akan launching produk baru. Belum semua gerai menjual produk baru yang kami buat.


Kuulurkan tanganku, titik-titik hujan membasahi kulitku. Hanya gerimis kecil. Lagipula sudah lama tidak bermain dengan hujan. Biarkan malam ini, badanku sedikit basah.


Kuterobos gerimis, jalanan sudah lengang. Sepi. Orang-orang lebih suka berdiam didalam rumah daripada dijalanan menikmati gerimis. Dingin mulai terasa menggigit. Aku berjalan semakin cepat, tinggal satu belokan lagi menuju gang ke kos ku. Sebentar lagi aku akan sampai. Mandi dan kemudian tidur, bergelung dalam selimut yang hangat.


Begitu dibelokkan kudengar seseorang memanggil namaku "Anesta!"


Aku mengenal suaranya. Dia yang selalu ingin ku tolak kehadirannya bahkan dalam mimpiku sekalipun.


Aku berhenti dibawah siraman gerimis, aku terlalu rindu untuk menghindar. Kubalikan badanku dan melihat dia berdiri dihadapanku.


"Aku menantimu Anesta. Jangan menghindar lagi dariku"


Kupandangi wajahnya diantara rintik hujan yang membasahi.Aku menangis.


Diusapnya air mataku "Menikahlah denganku Anesta. Aku menginginkanmu hidup bersamaku"


Pertahananku runtuh. Aku tahu... Aku tak bisa hidup tanpanya. Diantara isak tangis, kuanggukkan kepalaku. "Aku mau menikah denganmu"

__ADS_1


Diciumnya keningku, ada senyuman diwajahnya. "Aku tahu Anesta, aku akan memilikimu lagi"


***


Setahun kemudian


"Kamu cantik Anesta" senyum menghias wajahku. Kupandangi kebaya warna peach yang melekat ditubuhku. Kupandangi riasan wajahku, sempurna. Ada untaian melati disanggulku.


Aku perempuan yang sedang berbahagia. Sebentar lagi akan mengikat janji suci pernikahan. Berjalan dialtar bersamanya.


"Anesta, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang. Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan kita"


Aku menitikkan air mata. Kedepan hari-hariku tidak akan sama lagi. Apapun yang kuhadapi, ada seseorang yang akan selalu menemaniku.


***


Aku melihat mama menghapus air mata disudut matanya. Akhirnya mama luluh dengan perjuangan kami.


Masih kuingat luapan kemarahan mama ditelingaku saat aku menyampaikan keinginan kami untuk menikah.


Masih kuingat saat Mahesa datang meminta restu keluarga besarku. Hatinya yang luas menerima semua perkataan yang sedikit menyakitkan. Tak ada sakit hati, dia mengerti bahwa keluargaku terlalu menyayangiku dan menginginkan yang terbaik untukku.


Kami berjuang meyakinkan keluargaku bahwa kami serius dengan hubungan ini.


***


Flash back


Aku menunggunya disudut jalan, diantara gerimis yang membasahi tubuhku. Dia tidak akan mungkin bisa menghindar lagi.


Tekadku sudah bulat harus menemuinya malam ini. Aku berharap ini jadi awal yang indah buat hubungan kami.


Kulihat dari kejauhan dirinya berjalan bersama rinai hujan. Aku ingin berlari menyongsongnya, mendekap erat dirinya.


Satu kata yang akhirnya terucap dari bibirku.


"Menikahlah denganku Anesta. Aku menginginkanmu hidup bersamaku"


Tamat

__ADS_1


__ADS_2