Anesta Dan Mahesa

Anesta Dan Mahesa
Waktu Tersisa


__ADS_3

"Hai Bee, hari ini jadi daftar ujian skripsi?


" Jadi", jawabku malas-malasan


"Harusnya seneng dong, kenapa mukanya kayak gitu?"


"Aku lagi nggak bersemangat"


"Lho, bukannya dari kemarin kamu pengen cepat menyelesaikan kuliahmu. Kenapa sekarang nggak bersemangat?" ditatapnya aku dengan penuh selidik.


"Bee, ada apa? Aku yakin pasti ada sesuatu"


"..."


"Bee..."


"...."


Diangkatnya daguku lembut dengan ibu jarinya.


" Bee, lihat aku!, jangan menyimpannya sendiri sayang"


"Tadi aku telpon mama, terus aku cerita soal pendaftaran ujian skripsiku"


Kutarik nafasku untuk mengambil jeda. Rasanya ini bagian terberat yang harus aku sampaikan ke dia. Meskipun aku sudah pernah menceritakan tentang betapa beratnya hubungan kami nanti, tapi menyampaikan sesuatu yang langsung diucapkan mama itu rasanya nggak mudah.


"Bee, bicaralah... Aku menunggu", digenggamnya tanganku.


"Aku sudah ceritakan tentang hubungan kita. Aku ceritakan tentang kamu ke mama, termasuk kamu yang seorang Jawa tulen", ku tarik sedikit sudut bibirku.


"Mama tetap dengan pendiriannya, mama nggak setuju dengan hubungan kita", aku mulai meneteskan airmata yang dari tadi sudah ku tahan. Aku tidak ingin terlihat cengeng didepan Mahesa.


"Hai, sini!", ditariknya tanganku agar duduk lebih dekat disampingnya.


Dihapusnya airmataku dengan ibu jarinya.


"Jangan menangis Bee, dari awal aku sudah tau resikonya berpacaran denganmu. Kalau akhirnya kamu mengatakan ke mama dan mama tidak setuju, bukankah memang kita sudah tau memang itu yang akan mama katakan"


"Aku hanya berpikir mama akan berubah"


"Dia belum mengenal aku Bee, kalaupun seandainya nanti mama bertemu aku belum tentu juga keputusannya akan berubah"


"Kita sudah pernah membicarakan ini, dan aku berjanji akan berjuang bersama kamu. Asalkan kamu memang masih ingin bersamaku Bee"


"Apakah aku laki-laki yang layak kamu perjuangankan?", dia menatapku seolah-olah meminta jawab atas pertanyaannya.


Aku hanya mengangguk, lalu dipeluknya tubuhku.


"Terima kasih Bee". Dilepaskannya pelukannya lalu memandangku.


"Mau ikut denganku?"


"Kemana?"


"Menikmati malam", katanya sambil tersenyum.


Kuanggukkan kepalaku, aku tahu makna menikmati malam bagi kami. Aku dan dia akan pergi naik motor kemanapun tanpa tujuan. Terkadang aku dan Mahesa tiba-tiba berhenti disuatu tempat menikmati jagung bakar atau kacang rebus.


Kadang kami hanya sekedar duduk-duduk ditaman kota, berbincang tentang apapun sampai akhirnya kami berdua kehabisan cerita dan hanya diam saling berpegangan tangan.


Lalu kami akan beranjak meninggalkan taman kota dalam diam sambil bergandengan tangan.


Ntah kemana malam ini kami akan pergi, bagiku berdua diatas motor sambil memeluknya memberi rasa tersendiri.


"Bee, kapan ujian skripsi?"


"Bulan depan, kenapa?"


"Setelah itu?"


"Aku mulai mencari pekerjaan dengan surat kelulusan sementara, bulan depannya aku wisuda"


"Lalu, kalau setelah wisuda kamu belum mendapat pekerjaan. Apa yang kamu lakukan?"


"Aku tunggu sampai dua bulan disini, setelah itu aku harus pulang"


"Mama, sudah pernah bilang kalau dia tidak mungkin terus membiayai hidupku disini"


Mahesa hanya diam mendengarkan, digenggamnya tanganku lalu diciumnya.

__ADS_1


"Aku yakin ada jalan keluarnya Bee. Percaya saja"


Semakin kupeluk erat dirinya. Aku tidak ingin pergi meninggalkannya.


Malam hangat memeluk


Melebur cinta kita


Bias lampu menyapa


Getar hati bertanya


Adakah waktu tersisa


Menjaga kita tetap sejiwa


Dan lagupun mengalun


Nanar Kau pandang daku


Cinta kita terlarang


Membentur batu karang


Adakah waktu tersisa


Menyanggah segala prasangka punya mereka


Ketika norma peradatan


Terpilih sebagai alasan


Mereka ciptakan jurang antara kita


Sampai saat akhir nanti


Kita berusaha bertahan


Sebab cinta datang menolak perbedaan.


Aku dan Mahesa, sering menyanyikan lagu ini. Saat kami berdua melaju diatas motor atau saat kami tampil menyanyi di kafe tempat kami biasa nongkrong.


"Besok kita pergi ke tempat yang dulu aku pernah ajak kamu ya. Tempat berdoa"


"Oke, Jam seperti biasanya kan?"


"Iya, aku jemput kamu"


Mahesa pernah mengajakku ke suatu tempat, diluar kota namun tidak terlalu jauh. Namanya Bukit Doa. Saat itu dia mengajakku sebagai kejutan. Aku memang terkejut sekaligus jatuh cinta dengan tempat itu.


Akhirnya beberapa kali kami ke sana. Tempatnya sejuk dan berbentuk seperti bukit. Disana disediakan ruang-ruang untuk berdoa yang berbentuk bilik-bilik kecil. Bilik-bilik itu berbentuk goa dikaki bukit. Dan setiap bilik diisi satu orang, mereka bisa memanjatkan doa secara pribadi disitu.


Aku suka berlama-lama berada disitu, suasananya menentramkan hati. Mendengar kicauan burung sambil memandangi bunga-bunga membuat aku tidak pernah ingin segera beranjak pulang.


Kalau Mahesa mengajakku kesitu, berarti ada yang sangat membebani pikirannya. Saat ini mungkin aku dan hubungan kami yang sangat dia pikirkan.


Sebenarnya setiap orang bisa berdoa dimana saja, tapi biasanya ada juga orang yang memilih tempat khusus dan merasa dia lebih tenteram berdoa disitu saat dia memiliki beban yang sangat berat.


*****


"Kita pulang ya?", ditepuknya lembut tanganku.


"Iya, aku juga sudah mulai kedinginan"


"Nggak usah terlalu dipikirkan, kamu persiapkan aja dirimu untuk ujian skripsi bulan depan"


"Mungkin aku mengurangi waktu untuk ketemu kamu dulu. Biar kamu fokus belajarnya"


"Kalau aku rindu bagaimana?"


"Ya tinggal telpon, bilang.. Mahesa aku rindu, kamu kesini ya" katanya sambil tertawa.


"Kalau rindunya setiap hari gimana?"


"Serius, kangen setiap hari?"


"Iyalah, setiap hari Mahesa sayang"


"Ya udah, kamu bilangnya setiap hari... Nanti aku datang, kalau perlu aku akan segera berlari menemuimu"

__ADS_1


"Serius?"


"Iya, serius. Kapan aku pernah bohong kekamu?"


"Eh, tapi tunggu... Kalau aku lagi sakit susah juga kalau harus langsung berlari menemui kamu. Diwakilkan bicara lewat telpon masih bisa kan?"


"Hahaha, masih lah!"


"Eh, kok udah nyampe kos. Aku masih pengen ngobrol"


"Besok kan kita ketemu. Ceritanya disimpan buat besok"


"Masih ada besok, dan besok dan besok lagi untuk aku ketemu kamu"


"Aku pulang ya Bee, aku mencintaimu", dikecupnya keningku dan dibelainya puncak kepalaku.


Kupandangi sosoknya hingga tak terlihat lagi oleh mataku. Tanpa sadar aku menitikkan airmata.


"Mama, dia laki-laki terbaik yang aku kenal. Aku hanya ingin dengan dia saat ini, besok, lusa dan sampai kapanpun".


"Kapan mama akan mengerti perasaanku?".


Segera aku beranjak menuju kamarku. Aku belum ingin tidur. Terkadang aku melukis wajahnya dilangit-langit kamarku. Mengingat apa saja yang kami bicarakan. Mengingat perlakuannya padaku.


*****


"Tumben Nes, pagi-pagi udah wangi? Mau kemana?"


"Ke Bukit Doa, De"


"Sama Mahesa?"


"Iyalah, memangnya mau sama siapa lagi?"


"Mungkin sama gankmu. Kayaknya mereka udah lama nggak kesini?"


"Kalau sama mereka kesana doanya minta dikasih pacar yang cantik, cepet lulus padahal males belajar sama kalau main bola sama anak kampung bisa menang hahaha!"


"Ngaco!"


"Mereka memang suka ngaco, De"


"Kamu yang ngaco, Nes!"


"Dih, bener lagi hahaha!"


"Kok, mereka udah lama nggak main kesini Nes?"


"Aku larang, aku mau fokus ngerjain skripsiku. Mungkin besok-besok aku mau main ke kos mereka. Mau ikut?"


"Nggak ah males. Memangnya kamu kalau ke kos mereka ngapain aja sih?"


"Ngobrol, nyanyi-nyanyi, nonton bola, main kartu. Gitu aja sih tapi seru ngobrol sama mereka"


"Cuma kayak gitu kamu bisa berjam-jam disana"


"Kamu kan nggak pernah nongkrong sama mereka jadi nggak tau betapa seru dan lucunya"


Tiba-tiba telponku berbunyi, kulihat nama Mahesa dilayar telponku.


"Pagi! Oh... Kamu udah diteras, iya aku segera turun"


"Mahesa udah datang, aku pergi dulu ya De. Bye Dea!"


"Bye Nes, hati-hati dijalan!"


*****


"Gimana, hari ini siap pergi menjelajah denganku?"


"Siap dong"


"Peluk yang erat ya, biar kita cepat sampai"


"Memang ada hubungannya?"


"Nggak ada, biar kamu meluk aja yang erat. Aku suka"


Kucubit pinggangnya, dan dia pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2